Saturday, 6 January 2018

The Crest of Five, Episode 9


Professor Morello dimakamkan pada hari ketiga kematiannya. Ratusan orang mendatangi pemakamannya, termasuk para siswa dan bahkan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Lokasi pemakaman di sebelah Taman Biologi penuh sesak dengan orang yang berpakaian serba hitam. Sebagian masih ada yang terisak.

Menurut Professor Delaware, Professor Morello pernah berkata padanya dengan nada bercanda bahwa, jika dia mati, dia ingin dimakamkan di sebelah Taman Biologi. Katanya juga, Taman Biologi sudah seperti rumah keduanya, tempat dia mengabdikan sebagian besar ilmunya untuk riset dan pemeliharaan tumbuhan langka.

Nisan bertuliskan nama Silvana Morello yang terbuat dari kayu Mahoni berusia ratusan tahun dipasang di atas gundukan tanah makam. Tidak ada bunga yang ditebarkan di atasnya. Masih menurut Professor Delaware, hal itu juga diinginkan oleh mendiang Professor Morello.

Professor Ishaq Kamran Malik memimpin doa untuk mengantar Professor Morello pada awal kehidupan abadinya. Setelahnya, Professor Malik menyampaikan ceramah singkat tentang kematian. Bahwasanya, kematian bisa datang kapan saja, tidak bisa ditolak, dan tidak mengenal keadaan apapun. Kematian adalah hal yang berada di area yang menguasai manusia, sehingga manusia tidak bisa bertindak apa-apa terhadap kedatangannya. Professor Malik juga mengingatkan untuk senantiasa mempersiapkan yang terbaik dalam menghadapi kematian. Ceramah singkat ini cukup untuk membuat nyaris semua orang terisak.

Tidak lama setelah Professor Malik menyelesaikan ceramahnya, hampir semua orang meninggalkan area pemakaman. Yang masih tinggal hanya Professor Delaware, Professor Malik, Professor Douglas, serta Dr. Rhenald Gozali, ketua Komite Sekolah.

“Kematian Silvana jadi kehilangan besar. Untuk kita. Untuk dunia sains. Figurnya tidak tergantikan. Guru terbaik yang pernah kulihat.” kata Dr. Gozali, menatap sedih makam Professor Morello.

“Beliau menjadi guru yang paling disukai siswa pada tahun pertamanya mengajar, mirip seperti Professor Hartmann,” ucap Professor Malik sambil mengusap-usap janggut panjangnya yang mulai memutih.

“Dan sangat baik dalam mengajar. Tidak banyak guru yang bisa memahamkan siswa akan materi yang mereka pelajari sebaik Silvana, bahkan di CIS sekalipun,” timpal Dr. Gozali. “Selena tidak sebaik Silvana dalam hal itu.”

“Apa Anda akan mencari guru Metabiologi baru dari luar, Professor Delaware?” tanya Professor Malik.

Kepala Sekolah menoleh pada Dr. Gozali. “Bagaimana menurut Anda?”

Dr. Gozali menatap ke lembah di kejauhan. “CIS punya standar sendiri. Kita tidak bisa menerima sembarang orang. Apalagi guru yang hanya mengejar nilai saja.”

“Seperti Doberville? Kudengar para siswa sering mengeluh tentangnya yang cuma peduli tidak lebih dari nilai dan kelulusan.”

“Petunia Doberville? Ah, ya. Guru Bahasa Inggris itu. Aku juga mendengar hal yang sama dari staf komite. Aku lebih senang kalau Adam Coltrane juga mengajar Tingkat Dua dan Tiga, tapi dengan usianya sekarang, well... Coba kau ajukan Barry Mulvaney pada Dinas Pendidikan, dia lebih baik.” Dr. Gozali lalu menoleh pada Professor Douglas. “Kau masih di sini, Alastair? Tidak biasanya, kau selalu buru-buru kembali ke ruanganmu untuk mengerjakan proyekmu itu.”

Professor Douglas menoleh sedikit ke arah Dr. Gozali. “Aku sedang kehilangan minat. Kapan-kapan saja kulanjutkan.”

“Bukankah tidak baik menunda-nunda pekerjaan? Apalagi saya yakin Anda bisa melakukannya dengan cepat,” kata Professor Malik.

Alastair mendelik pada Professor Malik. “Kecuali kau bisa menjelaskan bagaimana seseorang yang sedang tidak punya niat bisa mengerjakan sesuatu dengan benar, sebaiknya tidak perlu protes. Masih ada dua bulan dari batas waktu yang diberikan LIPI, dan kalau aku berminat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari 48 jam.”

Professor Malik tahu untuk tidak berargumen lebih jauh lagi.

“Tidak biasanya, Alastair. Biasanya kau selalu semangat mengerjakan hal-hal seperti itu.” cetus Dr. Gozali.

“Semangat? Ya, benar.” Professor Douglas mendengus. “Mungkin sehari dalam setahun.”

Hening beberapa saat, hanya dipecahkan oleh desir angin yang menggesek dedaunan.

“Jadi, bagaimana soal jadwal Metabiologi sementara ini?”tanya Dr. Gozali.

Professor Delaware menunduk, menatap nisan Professor Morello. “Dikosongkan sementara, sampai aku menemukan guru baru. Tentunya kita tidak bisa menambah beban kerja Halimah Astihawa. Anak-anak Tingkat Satu selalu menyulitkan. Kecuali...”

“Kecuali apa?”

“Ada guru pengganti sementara,” Professor Delaware menjawab agak gugup. “Setidaknya supaya siswa masih dapat pembelajaran. Jangan sampai tidak sama sekali.”

Dr. Gozali menatap Professor Delaware heran. “Memangnya ada yang cukup kapabel?”

“Er...” Professor Delaware ragu-ragu.

“Sabilah Al Samarqandi,” kata Alastair. “Asisten Professor Morello, perawat tanaman Taman Biologi.”

“Sabilah? Apoteker muda itu?” tanya Dr. Gozali.

Yes.”

Well,” Dr. Gozali membenarkan posisi topi capingnya. “Aku juga awalnya berpikir untuk menyarankannya sebagai pengganti Silvana. Tapi, kau tahu, dia juga punya tugas untuk merawat Taman Biologi. Bukan pekerjaan mudah. Dan sejauh ini dia melakukannya dengan baik.”

“Lalu, bagaimana kalau—”

“Ngomong-ngomong, mungkin kau bisa bertanya padanya soal siapa orang yang cocok untuk mengisi pos Metabiologi. Lagipula, dia paling dekat dengan Silvana. Barangkali dia tahu.” Dr. Gozali memotong kalimat Professor Delaware. “Lebih cepat hal ini diselesaikan, lebih baik. Aku pergi dulu.” Dan dia berlalu.

Kepala sekolah menghela nafas, lalu berpaling pada Professor Douglas yang menatap perbukitan di kejauhan.

“Kalian bisa pergi.” kata Professor Douglas.

“Oh, baiklah.” Professor Delaware mengangkat bahu. Dia membalikkan badan dan pergi.

“Saya juga permisi dulu, Professor Douglas.” ucap Professor Malik.

Profssor Douglas tetap dalam diamnya. Pandangannya tetap menatap bukit di seberang lembah saat Professor Malik meninggalkan area pemakaman. Sejenak, dia mengalihkan pandangannya pada Taman Biologi yang menjulang gagah di sebelahnya. Kaca-kacanya tampak sedikit buram, seolah ikut merasa sedih karena ditinggal pengurus terbaiknya. Kini tinggal asistennya saja yang akan merawat taman itu.

Professor Douglas menghela nafas berat dan menatap makam Professor Morello.

“Mau bagaimana lagi,” gumamnya.

0 comments:

Post a Comment