Professor Morello dimakamkan
pada hari ketiga kematiannya. Ratusan orang mendatangi pemakamannya, termasuk
para siswa dan bahkan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Lokasi pemakaman
di sebelah Taman Biologi penuh sesak dengan orang yang berpakaian serba hitam.
Sebagian masih ada yang terisak.
Menurut
Professor Delaware, Professor Morello pernah berkata padanya dengan nada
bercanda bahwa, jika dia mati, dia ingin dimakamkan di sebelah Taman Biologi.
Katanya juga, Taman Biologi sudah seperti rumah keduanya, tempat dia
mengabdikan sebagian besar ilmunya untuk riset dan pemeliharaan tumbuhan
langka.
Nisan
bertuliskan nama Silvana Morello yang terbuat dari kayu Mahoni berusia ratusan
tahun dipasang di atas gundukan tanah makam. Tidak ada bunga yang ditebarkan di
atasnya. Masih menurut Professor Delaware, hal itu juga diinginkan oleh mendiang
Professor Morello.
Professor
Ishaq Kamran Malik memimpin doa untuk mengantar Professor Morello pada awal
kehidupan abadinya. Setelahnya, Professor Malik menyampaikan ceramah singkat
tentang kematian. Bahwasanya, kematian bisa datang kapan saja, tidak bisa
ditolak, dan tidak mengenal keadaan apapun. Kematian adalah hal yang berada di
area yang menguasai manusia, sehingga manusia tidak bisa bertindak apa-apa
terhadap kedatangannya. Professor Malik juga mengingatkan untuk senantiasa
mempersiapkan yang terbaik dalam menghadapi kematian. Ceramah singkat ini cukup
untuk membuat nyaris semua orang terisak.
Tidak
lama setelah Professor Malik menyelesaikan ceramahnya, hampir semua orang
meninggalkan area pemakaman. Yang masih tinggal hanya Professor Delaware,
Professor Malik, Professor Douglas, serta Dr. Rhenald Gozali, ketua Komite
Sekolah.
“Kematian
Silvana jadi kehilangan besar. Untuk kita. Untuk dunia sains. Figurnya tidak
tergantikan. Guru terbaik yang pernah kulihat.” kata Dr. Gozali, menatap sedih
makam Professor Morello.
“Beliau
menjadi guru yang paling disukai siswa pada tahun pertamanya mengajar, mirip
seperti Professor Hartmann,” ucap Professor Malik sambil mengusap-usap janggut
panjangnya yang mulai memutih.
“Dan
sangat baik dalam mengajar. Tidak banyak guru yang bisa memahamkan siswa akan
materi yang mereka pelajari sebaik Silvana, bahkan di CIS sekalipun,” timpal
Dr. Gozali. “Selena tidak sebaik Silvana dalam hal itu.”
“Apa
Anda akan mencari guru Metabiologi baru dari luar, Professor Delaware?” tanya
Professor Malik.
Kepala
Sekolah menoleh pada Dr. Gozali. “Bagaimana menurut Anda?”
Dr. Gozali
menatap ke lembah di kejauhan. “CIS punya standar sendiri. Kita tidak bisa
menerima sembarang orang. Apalagi guru yang hanya mengejar nilai saja.”
“Seperti
Doberville? Kudengar para siswa sering mengeluh tentangnya yang cuma peduli
tidak lebih dari nilai dan kelulusan.”
“Petunia
Doberville? Ah, ya. Guru Bahasa Inggris itu. Aku juga mendengar hal yang sama
dari staf komite. Aku lebih senang kalau Adam Coltrane juga mengajar Tingkat
Dua dan Tiga, tapi dengan usianya sekarang, well...
Coba kau ajukan Barry Mulvaney pada Dinas Pendidikan, dia lebih baik.” Dr. Gozali
lalu menoleh pada Professor Douglas. “Kau masih di sini, Alastair? Tidak
biasanya, kau selalu buru-buru kembali ke ruanganmu untuk mengerjakan proyekmu
itu.”
Professor
Douglas menoleh sedikit ke arah Dr. Gozali. “Aku sedang kehilangan minat.
Kapan-kapan saja kulanjutkan.”
“Bukankah
tidak baik menunda-nunda pekerjaan? Apalagi saya yakin Anda bisa melakukannya
dengan cepat,” kata Professor Malik.
Alastair
mendelik pada Professor Malik. “Kecuali kau bisa menjelaskan bagaimana
seseorang yang sedang tidak punya niat bisa mengerjakan sesuatu dengan benar,
sebaiknya tidak perlu protes. Masih ada dua bulan dari batas waktu yang
diberikan LIPI, dan kalau aku berminat, aku bisa menyelesaikannya kurang dari
48 jam.”
Professor
Malik tahu untuk tidak berargumen lebih jauh lagi.
“Tidak
biasanya, Alastair. Biasanya kau selalu semangat mengerjakan hal-hal seperti
itu.” cetus Dr. Gozali.
“Semangat?
Ya, benar.” Professor Douglas mendengus. “Mungkin sehari dalam setahun.”
Hening
beberapa saat, hanya dipecahkan oleh desir angin yang menggesek dedaunan.
“Jadi,
bagaimana soal jadwal Metabiologi sementara ini?”tanya Dr. Gozali.
Professor
Delaware menunduk, menatap nisan Professor Morello. “Dikosongkan sementara,
sampai aku menemukan guru baru. Tentunya kita tidak bisa menambah beban kerja Halimah
Astihawa. Anak-anak Tingkat Satu selalu menyulitkan. Kecuali...”
“Kecuali apa?”
“Ada
guru pengganti sementara,” Professor Delaware menjawab agak gugup. “Setidaknya
supaya siswa masih dapat pembelajaran. Jangan sampai tidak sama sekali.”
Dr. Gozali
menatap Professor Delaware heran. “Memangnya ada yang cukup kapabel?”
“Er...”
Professor Delaware ragu-ragu.
“Sabilah
Al Samarqandi,” kata Alastair. “Asisten Professor Morello, perawat tanaman
Taman Biologi.”
“Sabilah?
Apoteker muda itu?” tanya Dr. Gozali.
“Yes.”
“Well,” Dr. Gozali membenarkan posisi
topi capingnya. “Aku juga awalnya berpikir untuk menyarankannya sebagai
pengganti Silvana. Tapi, kau tahu, dia juga punya tugas untuk merawat Taman
Biologi. Bukan pekerjaan mudah. Dan sejauh ini dia melakukannya dengan baik.”
“Lalu,
bagaimana kalau—”
“Ngomong-ngomong,
mungkin kau bisa bertanya padanya soal siapa orang yang cocok untuk mengisi pos
Metabiologi. Lagipula, dia paling dekat dengan Silvana. Barangkali dia tahu.”
Dr. Gozali memotong kalimat Professor Delaware. “Lebih cepat hal ini
diselesaikan, lebih baik. Aku pergi dulu.” Dan dia berlalu.
Kepala
sekolah menghela nafas, lalu berpaling pada Professor Douglas yang menatap
perbukitan di kejauhan.
“Kalian
bisa pergi.” kata Professor Douglas.
“Oh,
baiklah.” Professor Delaware mengangkat bahu. Dia membalikkan badan dan pergi.
“Saya
juga permisi dulu, Professor Douglas.” ucap Professor Malik.
Profssor
Douglas tetap dalam diamnya. Pandangannya tetap menatap bukit di seberang
lembah saat Professor Malik meninggalkan area pemakaman. Sejenak, dia
mengalihkan pandangannya pada Taman Biologi yang menjulang gagah di sebelahnya.
Kaca-kacanya tampak sedikit buram, seolah ikut merasa sedih karena ditinggal
pengurus terbaiknya. Kini tinggal asistennya saja yang akan merawat taman itu.
Professor
Douglas menghela nafas berat dan menatap makam Professor Morello.
“Mau bagaimana lagi,” gumamnya.


0 comments:
Post a Comment