Saturday, 30 December 2017

The Crest of Five, Episode 8



Empat orang polisi wanita berkacamata hitam baru saja mau masuk ke dalam ruangan Professor Morello saat seorang polisi lain mencegat mereka.
“Hei, kalian!” panggil polisi itu. Keempat polwan berhenti dan menatap orang yang memanggilnya. Salah satu dari mereka menguap.
“Ada apa?” tanya salah satu polwan yang bertubuh tinggi kurus. Dia melirik name tag di dada si polisi. “Yadi?”
Polisi bernama Yadi menatap keempat polwan dengan skeptis. “Siapa yang memberi kalian tugas?”
Polwan yang tadi menguap langsung menyahut dengan suara tinggi. “Tentu saja Komisaris Polisi Dedy Hermawan! Kau pikir siapa lagi?”
“Tapi...” Yadi tampak ragu. “Sepertinya aku belum pernah melihat kalian sebelumnya. Kalian dari satgas mana?”
Polwan tinggi kurus menoleh polwan berkulit coklat gelap di belakangnya dan mengangguk. Polwan di belakang itu maju dan mengacungkan sebuah pena di depan Yadi.
“Apa it—”
BLITZ.
Lampu kilat menyala dari pena itu. Sorot mata Yadi terdisorientasi, tubuhnya terhuyung sesaat. Polisi berkulit gelap memerhatikannya dengan khawatir sebelum Yadi menatap mereka berempat dengan bingung.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya agak linglung.
Polisi tinggi kurus kembali menjawab. “Kami dapat tugas untuk memeriksa ruangan korban. Kompol Dedy Hermawanmemerintahkan itu pada kami.”
“Oh,” timpal Yadi. “Baiklah, selamat bertugas.” Lalu dia pun berlalu. Keempat polwan menghela nafas lega.
“Untung kau bawa Forgetflash, Mudiwa. Antisipasimu tepat.” kata polisi kurus tinggi.
Mudiwa berkomentar, “Iya, dong. Cewek cantik pastilahsenantiasa siap setiap keadaan, hohoho!”
Maribel menepuk dahi. “Terserah kaulah. Ayo masuk.”
The Great M tanpa diduga melakukan rencana gila untuk memeriksa ruangan Professor Morello dengan menyamar menjadi polisi. Ide Maribel ini mudah saja diwujudkan, utamanya karena sokongan dana yang dimiliki Maribel dan Malvina, meski awalnya Malvina terkesan enggan mengeluarkan uang untuk ini. Khususnya untuk membeli Forgetflash yang menghabiskan uang saku Malvina untuk seminggu.
Meski sudah beberapa kali masuk ke dalam ruangan ini, Maribel tetap terkesan dengan isinya. Suasana klasik yang dibangun dari perabotan yang hampir sepenuhnya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi, ditambah nuansa alami dari tanaman hijau yang menghiasi hampir tiap sudut ruangan.
Biar begitu, Maribel juga merasa sedih, karena ruangan ini menguatkan memorinya akan guru favoritnya. Hatinya sesak, mengetahui gurunya itu tidak akan pernah datang lagi ke kelasnya untuk mengajar.
“Maribel? Hei!” Malvina melambaikan tangan di depan wajah Maribel. Maribel tersadar dari lamunannya dan mengerjap-ngerjap.
“Eh, apa? Oh, iya, iya, perdon!” ujarnya. “Ayo telusuri!”
“Tunggu sebentar,” cegat Morena. “Sebenernya kita mau apa menggeledah ruang ini lagi? Kan kemarin sudah, dan polisi juga tidak menemukan apa-apa. Padahal kan mereka pakai peralatan yang lebih canggih dari kita.”
Mudiwa menunjukkan Forgetflash dan sebuah detektor berbentuk seperti pistol bermoncong antena parabola.
Maribel menggaruk belakang kepalanya. “Iya, tapi para polisi kan nggak tahu kebiasaan Professor Morello. Bisa jadi ada sesuatu yang kesannya biasa saja untuk mereka, tapi bukan sesuatu yang normal untuk kita.”
“Misalnya?” tanya Malvina.
“Kode enkripsi,” Maribel mengetuk-ngetuk dagunya. “Professor biasa melakukan itu untuk merahasiakan nilai dari para siswa. Mungkin saja beliau menulis pesan rahasia atau sejenisnya sebelum beliau di...” Maribel tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menggigit bibirnya.
“Sudahlah, Maribel. Jangan terus dipikirkan.” Morena menepuk bahu Maribel.
“Eh, lalu bagaimana kalau ternyata kita tidak dapat apa-apa?” tuntut Malvina.
Maribel menelan ludah. “Artinya taruhan kita gagal.”
Tidak ada dari mereka yang suka mendengar hal itu. Tindakan yang mereka lakukan  sudah cukup berisiko, mereka tidak ingin usaha ini sia-sia saja.
“Ayo berpencar,” kata Maribel pada akhirnya. “Kita cari sesuatu yang berbau enkripsi.”
Tapi, setelah setengah jam menggeledah, mereka tidak menemukan apapun, kecuali arsip nilai terakhir yang belum sempat dienkripsi dan sukses membuat Malvina dan Morena terguncang.
Maribel terduduk pasrah di kursi kerja Professor Morello. Kedua tangannya tertangkup di depan mulutnya. Perasaannya tidak menentu. Sementara, Malvina uring-uringan.
“Ayolah! Aku sudah mengeluarkan setengah uang sakuku bulan ini cuma untuk melakukan pemeriksaan konyol ini! Aku nggak mau uangku terbuang sia-sia!” keluhnya. Morena dan Mudiwa diam saja, menatap Maribel dan Malvina bolak-balik dengan gelisah.
Maribel tidak menjawab. Dia tidak peduli soal uang yang dikeluarkannya, yang membuatnya putus asa justru ketidakmampuannya menemukan apapun yang bisa memberi petunjuk tentang kematian Professor Morello. Apapun.
Frustrasi, Maribel menendang kolong meja kerja Professor Morello. Tiba-tiba, laci kecil mencuat keluar dari kolong meja itu, menghantam perutnya keras-keras. Maribel melenguh kesakitan.
“Maribel? Kamu kenapa, sayang?” tanya Mudiwa kaget. Dia menghampiri Maribel, lalu matanya teralih pada laci yang mencuat terbuka, heran. Malvina dan Morena cuma menatap Maribel tidak mengerti.
Maribel memegangi perutnya, meringis dan memaki-maki dalam bahasa Spanyol sebelum kembali menggunakan bahasa Indonesia. “Laci sialan ini tiba-tiba terbuka sendiri! Nggak kira-kira, pula!”
Baru saja Maribel mau mendorong laci itu kembali tertutup, dia melihat sesuatu yang asing di dalamnya.
Amigos! Coba lihat ini!” serunya. Di dalam laci itu, terdapat selembar kertas kuning cerah kecoklatan agak tebal, seperti perkamen. Maribel mengambil kertas itu dan melihat isinya. Keningnya berkerut.
“Apa ini?”
Di dalam kertas itu tertulis sebaris kata-kata aneh—kalau itu bisa disebut kata-kata. Paduan antara huruf, simbol dan angka tersusun berantakan tanpa spasi maupun pola. Beberapa huruf ada yang digaris silang.
“Hei, ini kode enkripsi!” seru Maribel penuh kemenangan. “Ternyata benar, Professor memang meninggalkan petunjuk!”
“Tapi...” Morena tampak ragu. “Kamu yakin itu emang petunjuk?”
“Kalian pernah lihat Professor menggunakan kertas ini sebelumnya?” Maribel mengacungkan kertas itu. Ketiga temannya menggeleng. “Lalu hanya ada satu kalimat di sini. Data macam apa yang hanya terdiri dari satu kalimat? Dan laci ini. Tidak ada benda lain di dalamnya selain kertas ini. Kalau bukan sesuatu yang penting, lalu apa?”
Maribel mengatakannya dengan berapi-api. Ketiga temannya masih agak ragu, tapi mereka tidak mau merusak suasana hati Maribel.
“Oke, lalu bagaimana kita memecahkannya?” tanya Malvina. “Hanifah sendiri tidak bisa memecahkan enkripsi Professor Morello, ingat?”
Maribel mendadak patah semangat. Memang benar, tidak ada satupun siswa CIS yang bisa memecahkan kode enkripsi Professor Morello. Sementara, mereka tidak mungkin meminta bantuan Professor Toro, guru Sistem Informasi dan Teknologi CIS. Mereka akan dicurigai.
“Aku akan cari orang yang bisa membongkarnya,” kata Maribel. “Kau tidak perlu mengeluh, Malvina. Aku tidak akan meminta bantuanmu kali ini.”
Tidak ada yang merespon. Mereka tahu persis, kalau sudah begini, Maribel tidak bisa dihentikan lagi.
Maribel menghela nafas dan mengecek jam tangannya. “Sebaiknya kita segera pergi. Jangan sampai ketahuan oleh polisi lain. Sepatu Anti-Pelacak ini tidak bisa mencegah jejak kita tidak terbaca terlalu lama.”
***
Di sisi lain, The K-Rocks tidak berniat sama sekali untuk menyelidiki kematian Professor Morello. Tentu saja mereka sedih atas kematian guru favorit mereka itu, tapi mereka lebih suka menyerahkannya pada pihak kepolisian. Mereka datang ke sekolah di hari yang sama dengan teman sekelasnya, tapi hanya untuk melihat tempat kematian guru mereka sesaat, sebelum mereka berkeliling sekolah tanpa tujuan sembari membicarakan serial drama Korea terbaru. Sampai kemudian, di taman kecil di dekat koridor barat sekolah,
“Apa ini?” Tiffany memungut sesuatu dari balik rerumputan, saat dia mau membenarkan tali sepatunya. Dia menatap benda bulat keperakan di tangannya. “Kancing?”
Katrijn berdecak sebal. “Ngapain sih memungut benda-benda seperti itu? Kurang kerjaan sekali.”
“Nggak salah juga, kok,” timpal Susanti. Dia ikut mengamati kancing itu. “Eh, sepertinya aku pernah melihat kancing itu. Di jas staf sekolah, kalau tidak salah.”
Jeongmal?” Tiffany menatap kancing di tangannya dengan skeptis. “Kok kelihatannya murahan? Beda jauh dari punyanya Lee Sung-Ho.”
Katrijn tiba-tiba merebut kancing itu dari tangan Tiffany.
“Hei! Apa-ap—”
Opsluiten, Tiffany,” potong Katrijn. Dia mengetuk-ngetuk kancing dengan jari tangannya beberapa kali, lalu merengut.
“Ini sih perak asli,” konfirmasi Katrijn. “Seenggaknya lapisan luarnya. Jelas-jelas bukan barang murahan!”
“Padahal kamu tadi protes soal memungut barang-barang nggak penting,” gerutu Susanti.
“Tahu dari mana itu perak?” tanya Tiffany.
Katrijn berdecak tidak sabar dan menunjukkan gelang di tangan kanannya. “Karena aku punya benda yang terbuat dari perak asli. Persis. Ngerti?”
“Oh...”
“Dan benar katamu, kancing perak seperti ini cuma dipakai staf sekolah,” lanjut Katrijn. Dia mengibaskan rambutnya yang dikepang tinggi di sebelah kiri. “Setahuku, pakai—”
“Hei,” panggil sebuah suara dari belakang mereka.
The K-Rocks terlonjak dan spontan berpaling ke belakang. Alexandreina Lusescu berdiri sekitar lima meter di belakang mereka. Raut mukanya dingin mengancam, seolah siap menggilas ketiga orang di depannya menjadi bubur. Sorot matanya ganas. Seragam putih-hitam ala Staf Keamanannya robek-robek di bahu kanan, lutut dan betis kirinya—dia tidak pernah mau menjahitnya karena alasan tertentu.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Berkeliaran di sekolah saat kepolisian sedang menyelidiki kasus pembunuhan?” tanyanya dingin.
Tiffany agak gemetaran. “Ti... tidak kok, Nona Lusescu... kam—”
“Panggil aku Alexa! Berapa kali harus kutegaskan itu, copil?!” bentak Alexa. Tiffany dan Susanti langsung ciut.
“I... iya, A... Alexa...” cicit Tiffany terbata-bata.
Katrijn memutar-mutar bola matanya. “Oh, ayolah! Kami nggak ngapa-ngapain di sini! Ngapain juga sih mengurusi orang? Kurang kerjaan sekali.”
Alexa menatap Karen dan melangkah mendekatinya sampai jarak setengah meter. “Ngapain? Aku bertugas menjaga keamanan di sini, bodoh. Termasuk menjaga makhluk-makhluk menyebalkan tidak berguna seperti kalian. Dan kau bilang itu kurang kerjaan? Kau mau bernasib seperti Professor Morello?”
“Professor Morello? Hah!” Katrijn memutar-mutar bola matanya. “Dia mati gara-gara kau nggak becus menjaga gerbang dari penyusup, kan? Dan kau masih berani mengaku sebagai penjaga sekolah ini? Aku heran kenapa kau nggak langsung dipecat saja.”
Tiffany dan Susanti saling berpegangan tangan ketakutan. Alexa dan Katrijn saling menatap dengan tajam. Alexa mengepalkan tinjunya kuat-kuat.
“Tidak ada penyusup masuk, dasar kau—”
Ja, ja, paling-paling kau akan mengeluarkan hinaan basimu lagi,” potong Katrijn. “Kau memang punya otot untuk menghajar penyusup, tapi kau tidak punya otak untuk menjawab kalimatku. Hah!”
Alexa mendekatkan wajahnya ke wajah Katrijn, sampai kedua hidung mereka nyaris bersentuhan. “Mungkin kau benar soal itu.Lalu bagaimana dengan kau sendiri, yang tidak punya keduanya? Kau seharusnya berada di kelas Scooter saja. Kudengar mereka tidak pernah lolos dari hukuman setiap guru di sini.”
Katrijn naik darah. “Berani-beraniny—”
Alexa mengacungkan sebuah remote kecil di depan wajah Katrijn. Katrijn spontan terdiam.
“Kalau aku masih melihatmu dalam sepuluh menit ke depan, kau akan tahu akibatnya. Tidak perlu sombong, kelasmu cuma diunggulkan karena keberadaan Heisenberg dan Tuanzebe saja. Jadi statusmu sebagai penghuni Kompas tidak ada artinya di mataku.” ancam Alexa. Dia menatap The K-Rocks dengan sebal, lalu beranjak pergi. Saat Alexa lenyap dari pandangan, Tiffany dan Susanti menghela nafas lega.
“Nyaris saja,” ujar Tiffany, lalu dia menatap Katrijn dengan kesal. “Kamu jangan cari masalah sama Alexa, dong! Tahu sendiri kan orang itu seperti apa?”
Katrijn merengut heran. “Kenapa malah menyalahkanku? Kita kan nggak salah apa-apa! Kenapa dia harus bertingkah?”
“Ya, ya, ya, terserah deh! Sudah cukup ributnya!” Susanti menyela. “Sekarang apa? Kancing itu mau diapakan?”
“Oh, kancing ini?” Katrijn mengeluarkan kancing tadi dari saku celananya. “Benda ini harusnya nggak lepas dari jasnya. Pakaian staf sekolah dipesan khusus dari daerah—apa namanya? Bandung. Dan strukturnya sangat kuat. Nggak mungkin bisa terlepas begitu saja kalau bukan dengan paksa.”
“Maksudmu itu kancing dari pakaian...” Tiffany menelan ludah. “Pem—pembunuh Professor Morello?”
“Aku nggak tahu darimana kamu dapat pikiran begitu, tapi logis, sih.” Katrijn mengibaskan rambutnya.“Mungkin Professor sempat bergulat dengan orang itu lal—”
The K-Rocks bertukar pandang satu sama lain. Pikiran mengerikan muncul di benak mereka.
“Jangan, jangan berpikiran begitu.” Kata Tiffany, gugup.
“Iya. Itu, itu nggak mungkin. Jangan mikir aneh-aneh!” sahut Susanti.
“Sepakat.” Timpal Katrijn. “Mending kita pergi dari sini, deh. Suasananya malah jadi nggak enak.”
Dan mereka pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

***

0 comments:

Post a Comment