Empat
orang polisi wanita berkacamata hitam baru saja mau masuk ke dalam ruangan
Professor Morello saat seorang polisi lain mencegat mereka.
“Hei,
kalian!” panggil polisi itu. Keempat polwan berhenti dan menatap orang yang
memanggilnya. Salah satu dari mereka menguap.
“Ada
apa?” tanya salah satu polwan yang bertubuh tinggi kurus. Dia melirik name tag di dada si polisi. “Yadi?”
Polisi
bernama Yadi menatap keempat polwan dengan skeptis. “Siapa yang memberi kalian
tugas?”
Polwan
yang tadi menguap langsung menyahut dengan suara tinggi. “Tentu saja Komisaris
Polisi Dedy Hermawan! Kau pikir siapa lagi?”
“Tapi...”
Yadi tampak ragu. “Sepertinya aku belum pernah melihat kalian sebelumnya.
Kalian dari satgas mana?”
Polwan
tinggi kurus menoleh polwan berkulit coklat gelap di belakangnya dan
mengangguk. Polwan di belakang itu maju dan mengacungkan sebuah pena di depan Yadi.
“Apa
it—”
BLITZ.
Lampu
kilat menyala dari pena itu. Sorot mata Yadi terdisorientasi, tubuhnya
terhuyung sesaat. Polisi berkulit gelap memerhatikannya dengan khawatir sebelum
Yadi menatap mereka berempat dengan bingung.
“Apa
yang kalian lakukan di sini?” tanyanya agak linglung.
Polisi
tinggi kurus kembali menjawab. “Kami dapat tugas untuk memeriksa ruangan
korban. Kompol Dedy Hermawanmemerintahkan itu pada kami.”
“Oh,”
timpal Yadi. “Baiklah, selamat bertugas.” Lalu dia pun berlalu. Keempat polwan
menghela nafas lega.
“Untung
kau bawa Forgetflash, Mudiwa. Antisipasimu tepat.” kata polisi kurus tinggi.
Mudiwa
berkomentar, “Iya, dong. Cewek cantik pastilahsenantiasa siap setiap keadaan,
hohoho!”
Maribel
menepuk dahi. “Terserah kaulah. Ayo masuk.”
The
Great M tanpa diduga melakukan rencana gila untuk memeriksa ruangan Professor
Morello dengan menyamar menjadi polisi. Ide Maribel ini mudah saja diwujudkan,
utamanya karena sokongan dana yang dimiliki Maribel dan Malvina, meski awalnya
Malvina terkesan enggan mengeluarkan uang untuk ini. Khususnya untuk membeli
Forgetflash yang menghabiskan uang saku Malvina untuk seminggu.
Meski
sudah beberapa kali masuk ke dalam ruangan ini, Maribel tetap terkesan dengan
isinya. Suasana klasik yang dibangun dari perabotan yang hampir sepenuhnya
terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi, ditambah nuansa alami dari tanaman
hijau yang menghiasi hampir tiap sudut ruangan.
Biar
begitu, Maribel juga merasa sedih, karena ruangan ini menguatkan memorinya akan
guru favoritnya. Hatinya sesak, mengetahui gurunya itu tidak akan pernah datang
lagi ke kelasnya untuk mengajar.
“Maribel?
Hei!” Malvina melambaikan tangan di depan wajah Maribel. Maribel tersadar dari
lamunannya dan mengerjap-ngerjap.
“Eh,
apa? Oh, iya, iya, perdon!” ujarnya.
“Ayo telusuri!”
“Tunggu
sebentar,” cegat Morena. “Sebenernya kita mau apa menggeledah ruang ini lagi?
Kan kemarin sudah, dan polisi juga tidak menemukan apa-apa. Padahal kan mereka
pakai peralatan yang lebih canggih dari kita.”
Mudiwa
menunjukkan Forgetflash dan sebuah detektor berbentuk seperti pistol bermoncong
antena parabola.
Maribel
menggaruk belakang kepalanya. “Iya, tapi para polisi kan nggak tahu kebiasaan
Professor Morello. Bisa jadi ada sesuatu yang kesannya biasa saja untuk mereka,
tapi bukan sesuatu yang normal untuk kita.”
“Misalnya?”
tanya Malvina.
“Kode
enkripsi,” Maribel mengetuk-ngetuk dagunya. “Professor biasa melakukan itu
untuk merahasiakan nilai dari para siswa. Mungkin saja beliau menulis pesan
rahasia atau sejenisnya sebelum beliau di...” Maribel tidak menyelesaikan
kalimatnya. Dia menggigit bibirnya.
“Sudahlah,
Maribel. Jangan terus dipikirkan.” Morena menepuk bahu Maribel.
“Eh,
lalu bagaimana kalau ternyata kita tidak dapat apa-apa?” tuntut Malvina.
Maribel
menelan ludah. “Artinya taruhan kita gagal.”
Tidak
ada dari mereka yang suka mendengar hal itu. Tindakan yang mereka lakukan sudah cukup berisiko, mereka tidak ingin
usaha ini sia-sia saja.
“Ayo
berpencar,” kata Maribel pada akhirnya. “Kita cari sesuatu yang berbau
enkripsi.”
Tapi,
setelah setengah jam menggeledah, mereka tidak menemukan apapun, kecuali arsip
nilai terakhir yang belum sempat dienkripsi dan sukses membuat Malvina dan
Morena terguncang.
Maribel
terduduk pasrah di kursi kerja Professor Morello. Kedua tangannya tertangkup di
depan mulutnya. Perasaannya tidak menentu. Sementara, Malvina uring-uringan.
“Ayolah!
Aku sudah mengeluarkan setengah uang sakuku bulan ini cuma untuk melakukan
pemeriksaan konyol ini! Aku nggak mau uangku terbuang sia-sia!” keluhnya.
Morena dan Mudiwa diam saja, menatap Maribel dan Malvina bolak-balik dengan
gelisah.
Maribel
tidak menjawab. Dia tidak peduli soal uang yang dikeluarkannya, yang membuatnya
putus asa justru ketidakmampuannya menemukan apapun yang bisa memberi petunjuk
tentang kematian Professor Morello. Apapun.
Frustrasi,
Maribel menendang kolong meja kerja Professor Morello. Tiba-tiba, laci kecil
mencuat keluar dari kolong meja itu, menghantam perutnya keras-keras. Maribel melenguh
kesakitan.
“Maribel?
Kamu kenapa, sayang?” tanya Mudiwa kaget. Dia menghampiri Maribel, lalu matanya
teralih pada laci yang mencuat terbuka, heran. Malvina dan Morena cuma menatap
Maribel tidak mengerti.
Maribel
memegangi perutnya, meringis dan memaki-maki dalam bahasa Spanyol sebelum
kembali menggunakan bahasa Indonesia. “Laci sialan ini tiba-tiba terbuka
sendiri! Nggak kira-kira, pula!”
Baru
saja Maribel mau mendorong laci itu kembali tertutup, dia melihat sesuatu yang
asing di dalamnya.
“Amigos! Coba lihat ini!” serunya. Di dalam
laci itu, terdapat selembar kertas kuning cerah kecoklatan agak tebal, seperti
perkamen. Maribel mengambil kertas itu dan melihat isinya. Keningnya berkerut.
“Apa
ini?”
Di
dalam kertas itu tertulis sebaris kata-kata aneh—kalau itu bisa disebut
kata-kata. Paduan antara huruf, simbol dan angka tersusun berantakan tanpa
spasi maupun pola. Beberapa huruf ada yang digaris silang.
“Hei,
ini kode enkripsi!” seru Maribel penuh kemenangan. “Ternyata benar, Professor
memang meninggalkan petunjuk!”
“Tapi...”
Morena tampak ragu. “Kamu yakin itu emang petunjuk?”
“Kalian
pernah lihat Professor menggunakan kertas ini sebelumnya?” Maribel mengacungkan
kertas itu. Ketiga temannya menggeleng. “Lalu hanya ada satu kalimat di sini.
Data macam apa yang hanya terdiri dari satu kalimat? Dan laci ini. Tidak ada
benda lain di dalamnya selain kertas ini. Kalau bukan sesuatu yang penting,
lalu apa?”
Maribel
mengatakannya dengan berapi-api. Ketiga temannya masih agak ragu, tapi mereka
tidak mau merusak suasana hati Maribel.
“Oke,
lalu bagaimana kita memecahkannya?” tanya Malvina. “Hanifah sendiri tidak bisa
memecahkan enkripsi Professor Morello, ingat?”
Maribel
mendadak patah semangat. Memang benar, tidak ada satupun siswa CIS yang bisa
memecahkan kode enkripsi Professor Morello. Sementara, mereka tidak mungkin
meminta bantuan Professor Toro, guru Sistem Informasi dan Teknologi CIS. Mereka
akan dicurigai.
“Aku
akan cari orang yang bisa membongkarnya,” kata Maribel. “Kau tidak perlu
mengeluh, Malvina. Aku tidak akan meminta bantuanmu kali ini.”
Tidak
ada yang merespon. Mereka tahu persis, kalau sudah begini, Maribel tidak bisa
dihentikan lagi.
Maribel
menghela nafas dan mengecek jam tangannya. “Sebaiknya kita segera pergi. Jangan
sampai ketahuan oleh polisi lain. Sepatu Anti-Pelacak ini tidak bisa mencegah
jejak kita tidak terbaca terlalu lama.”
***
Di
sisi lain, The K-Rocks tidak berniat sama sekali untuk menyelidiki kematian
Professor Morello. Tentu saja mereka sedih atas kematian guru favorit mereka
itu, tapi mereka lebih suka menyerahkannya pada pihak kepolisian. Mereka datang
ke sekolah di hari yang sama dengan teman sekelasnya, tapi hanya untuk melihat
tempat kematian guru mereka sesaat, sebelum mereka berkeliling sekolah tanpa
tujuan sembari membicarakan serial drama Korea terbaru. Sampai kemudian, di
taman kecil di dekat koridor barat sekolah,
“Apa
ini?” Tiffany memungut sesuatu dari balik rerumputan, saat dia mau membenarkan tali
sepatunya. Dia menatap benda bulat keperakan di tangannya. “Kancing?”
Katrijn
berdecak sebal. “Ngapain sih memungut benda-benda seperti itu? Kurang kerjaan
sekali.”
“Nggak
salah juga, kok,” timpal Susanti. Dia ikut mengamati kancing itu. “Eh,
sepertinya aku pernah melihat kancing itu. Di jas staf sekolah, kalau tidak
salah.”
“Jeongmal?” Tiffany menatap kancing di
tangannya dengan skeptis. “Kok kelihatannya murahan? Beda jauh dari punyanya
Lee Sung-Ho.”
Katrijn
tiba-tiba merebut kancing itu dari tangan Tiffany.
“Hei!
Apa-ap—”
“Opsluiten, Tiffany,” potong Katrijn. Dia
mengetuk-ngetuk kancing dengan jari tangannya beberapa kali, lalu merengut.
“Ini
sih perak asli,” konfirmasi Katrijn. “Seenggaknya lapisan luarnya. Jelas-jelas
bukan barang murahan!”
“Padahal
kamu tadi protes soal memungut barang-barang nggak penting,” gerutu Susanti.
“Tahu
dari mana itu perak?” tanya Tiffany.
Katrijn
berdecak tidak sabar dan menunjukkan gelang di tangan kanannya. “Karena aku
punya benda yang terbuat dari perak asli. Persis. Ngerti?”
“Oh...”
“Dan
benar katamu, kancing perak seperti ini cuma dipakai staf sekolah,” lanjut Katrijn.
Dia mengibaskan rambutnya yang dikepang tinggi di sebelah kiri. “Setahuku,
pakai—”
“Hei,”
panggil sebuah suara dari belakang mereka.
The
K-Rocks terlonjak dan spontan berpaling ke belakang. Alexandreina Lusescu
berdiri sekitar lima meter di belakang mereka. Raut mukanya dingin mengancam,
seolah siap menggilas ketiga orang di depannya menjadi bubur. Sorot matanya ganas.
Seragam putih-hitam ala Staf Keamanannya robek-robek di bahu kanan, lutut dan
betis kirinya—dia tidak pernah mau menjahitnya karena alasan tertentu.
“Apa
yang kalian lakukan di sini? Berkeliaran di sekolah saat kepolisian sedang
menyelidiki kasus pembunuhan?” tanyanya dingin.
Tiffany
agak gemetaran. “Ti... tidak kok, Nona Lusescu... kam—”
“Panggil
aku Alexa! Berapa kali harus kutegaskan itu, copil?!” bentak Alexa. Tiffany dan Susanti langsung ciut.
“I...
iya, A... Alexa...” cicit Tiffany terbata-bata.
Katrijn
memutar-mutar bola matanya. “Oh, ayolah! Kami nggak ngapa-ngapain di sini!
Ngapain juga sih mengurusi orang? Kurang kerjaan sekali.”
Alexa
menatap Karen dan melangkah mendekatinya sampai jarak setengah meter. “Ngapain?
Aku bertugas menjaga keamanan di sini, bodoh. Termasuk menjaga makhluk-makhluk
menyebalkan tidak berguna seperti kalian. Dan kau bilang itu kurang kerjaan?
Kau mau bernasib seperti Professor Morello?”
“Professor
Morello? Hah!” Katrijn memutar-mutar bola matanya. “Dia mati gara-gara kau
nggak becus menjaga gerbang dari penyusup, kan? Dan kau masih berani mengaku
sebagai penjaga sekolah ini? Aku heran kenapa kau nggak langsung dipecat saja.”
Tiffany
dan Susanti saling berpegangan tangan ketakutan. Alexa dan Katrijn saling
menatap dengan tajam. Alexa mengepalkan tinjunya kuat-kuat.
“Tidak
ada penyusup masuk, dasar kau—”
“Ja, ja, paling-paling kau akan
mengeluarkan hinaan basimu lagi,” potong Katrijn. “Kau memang punya otot untuk
menghajar penyusup, tapi kau tidak punya otak untuk menjawab kalimatku. Hah!”
Alexa
mendekatkan wajahnya ke wajah Katrijn, sampai kedua hidung mereka nyaris
bersentuhan. “Mungkin kau benar soal itu.Lalu bagaimana dengan kau sendiri,
yang tidak punya keduanya? Kau seharusnya berada di kelas Scooter saja.
Kudengar mereka tidak pernah lolos dari hukuman setiap guru di sini.”
Katrijn
naik darah. “Berani-beraniny—”
Alexa
mengacungkan sebuah remote kecil di depan wajah Katrijn. Katrijn spontan
terdiam.
“Kalau
aku masih melihatmu dalam sepuluh menit ke depan, kau akan tahu akibatnya.
Tidak perlu sombong, kelasmu cuma diunggulkan karena keberadaan Heisenberg dan Tuanzebe
saja. Jadi statusmu sebagai penghuni Kompas tidak ada artinya di mataku.” ancam
Alexa. Dia menatap The K-Rocks dengan sebal, lalu beranjak pergi. Saat Alexa
lenyap dari pandangan, Tiffany dan Susanti menghela nafas lega.
“Nyaris
saja,” ujar Tiffany, lalu dia menatap Katrijn dengan kesal. “Kamu jangan cari
masalah sama Alexa, dong! Tahu sendiri kan orang itu seperti apa?”
Katrijn
merengut heran. “Kenapa malah menyalahkanku? Kita kan nggak salah apa-apa!
Kenapa dia harus bertingkah?”
“Ya,
ya, ya, terserah deh! Sudah cukup ributnya!” Susanti menyela. “Sekarang apa?
Kancing itu mau diapakan?”
“Oh,
kancing ini?” Katrijn mengeluarkan kancing tadi dari saku celananya. “Benda ini
harusnya nggak lepas dari jasnya. Pakaian staf sekolah dipesan khusus dari daerah—apa
namanya? Bandung. Dan strukturnya sangat kuat. Nggak mungkin bisa terlepas
begitu saja kalau bukan dengan paksa.”
“Maksudmu
itu kancing dari pakaian...” Tiffany menelan ludah. “Pem—pembunuh Professor
Morello?”
“Aku
nggak tahu darimana kamu dapat pikiran begitu, tapi logis, sih.” Katrijn
mengibaskan rambutnya.“Mungkin Professor sempat bergulat dengan orang itu lal—”
The
K-Rocks bertukar pandang satu sama lain. Pikiran mengerikan muncul di benak
mereka.
“Jangan,
jangan berpikiran begitu.” Kata Tiffany, gugup.
“Iya.
Itu, itu nggak mungkin. Jangan mikir aneh-aneh!” sahut Susanti.
“Sepakat.”
Timpal Katrijn. “Mending kita pergi dari sini, deh. Suasananya malah jadi nggak
enak.”
Dan
mereka pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
***


0 comments:
Post a Comment