Saturday, 23 December 2017

The Crest of Five, Episode 7



Walter menyelinap di antara para polisi dan wartawan yang berlalu-lalang. Dia berusaha bersikap setenang mungkin, sambil matanya menengok ke sana-sini.
Semalam, melalui Video Conference, The Dream Team sepakat untuk menyelidiki kasus ini. Keganjilan-keganjilan yang melingkupi pembunuhan Professor Morello membuat mereka tergerak untuk membongkar fakta yang sebenarnya. Apalagi, status mereka yang diakui sebagai siswa-siswi terbaik CIS, membuat mereka tambah tertantang untuk memecahkan misteri pembunuhan itu.
Di dekat TKP, Walter melihat bahwa Selubung Polisi sudah hilang. Dia mengambil kesempatan itu untuk mendekat ke tempat terbunuhnya Professor Morello.
Di sana, terdapat genangan darah yang sudah menghitam dan mengering. Melihatnya, Walter jadi bergidik. Tapi dia memaksakan diri untuk mendekati dan mengamatinya.
Matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Walter mengerutkan kening, keheranan. Kenapa benda itu ada di sini? Dia mengeluarkan pena dari sakunya dan menekan ujungnya. Ujung pena itu memanjang dan mengeluarkan capit. Dengan hati-hati, Walter mengambil benda yang dilihatnya dengan capit pena—sedikit sulit karena menyatu dengan darah yang mengering—lalu buru-buru memasukkannya dalam plastik kecil dan mengantonginya. Dia melihat sekeliling. Tidak ada yang menyadarinya berada di situ. Walter menghela nafas lega, lalu segera pergi menyusuri koridor, menuju ke taman.
Tanpa diduga, saat dia sampai di belokan ke Koridor Timur, dia berpapasan dengan Professor Delaware.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Professor Delaware curiga.
Jantung Walter berdegup kencang, terkejut sekali. Namun, dia berusaha tetap tenang.
“Er, saya... saya ada perlu dengan teman, Professor.” jawab Walter agak kagok.
Professor Delaware mengernyit. “Kalau tidak salah, kau ini Walter Tuanzebe dari kelas Kompas, kan? Ada perlu dengan siapa?”
“Ng... Hanifah dan Nia, Professor. Teman sekelas, mau membicarakan soal beberapa tugas.”
“Dalam kondisi begini? Di area sekolah? Bukankah sudah saya bilang kalian diliburkan?” cecar Professor Delaware, nadanya curiga.
Walter menelan ludah, tapi tetap menjaga ketenangan. “Tapi bukan berarti tidak boleh datang, ‘kan, Professor?”
Professor Delaware terdiam. Dia menatap Walter dalam-dalam dengan ekspresi yang sulit ditebak, seolah sedang menganalisis apakah Walter menyembunyikan sesuatu atau tidak. Walter tambah gugup. Biar begitu, dia tetap menjaga pokerface-nya sebisa mungkin. Setidaknya latihan di asramanya lebih berat daripada menghadapi kepala sekolah.
Lalu, Professor Delaware menghela nafas dan menyibakkan rambut ikalnya.
Fine, then. Asal jangan dekat-dekat dengan TKP.” kata Professor Delaware sambil berlalu.
Seiring sosok Professor Delaware yang menghilang di ujung koridor, detak jantung Walter berangsur-angsur normal. Dia bersyukur Professor Delaware tidak menanyainya yang aneh-aneh, lalu kembali bergegas.
Di taman, Hanifah dan Nia duduk sambil melihat layar iComp di pangkuan Nia.
“Kalian menemukan apa?” tanya Walter.
Nia menoleh sekilas, lalu kembali menatap iComp-nya. Kilatan matanya serius. “Bisik-bisik di kalangan wartawan dan polisi hanya menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti dengan keganjilan kasus ini. Tidak lebih.”
“Menurut anta, bagaimana dengan ini?” Hanifah mengibaskan telapak tangannya di dekat layar iComp. Layar itu berputar menghadap Walter, menampakkan gambar koridor selatan tempat pembunuhan Professor Morello.
Kuyini lokhu? Pola jejak?” tanya Walter.
Hanifah mengangguk. “Ana membobol database kepolisian dan menemukan ini. Anta lihat,” dia menunjukkan bentuk-bentuk tapak kaki berwarna merah di layar iComp. “Langkah Professor, yang di depan ini, kelihatan seperti yang tertatih-tatih. Seperti ada miskoordinasi di kaki kanannya. Sementara, si pengejar, sama-sama terlihat tertatih, tapi di kedua kakinya. Nah, persoalannya...”
“Si pemburu ini lambat,” Walter menarik kesimpulan. Dia menggeser posisi gambar ke sebuah bagian dan memperbesar tampilannya. “Pada akhirnya, si pemburu berhasil mengejar Professor Morello, tepat di TKP. Professor rubuh, lalu entah diperlakukan seperti apa, dia mati di sana.”
Nia menatap Walter. “Kamu ada pemikiran, apa yang mengakibatkan Professor terjatuh di situ?”
Walter menggeleng. “Masih banyak kemungkinan.”
Anta dapat apa?” tanya Hanifah.
Walter mengeluarkan plastik kecil dari sakunya dan menunjukkannya pada kedua temannya.
“Apa itu?” tanya Nia.
“Robekan kain,”
“Kain apa?”
Walter mengangkat bahu. “Belum aku cek. Aku mendapatkannya di genangan darah Professor Morello yang sudah mengering. Agak aneh, robot pemindai kepolisian tidak bisa menemukannya.”
Nia bersandar di kursi dan melipat tangannya di depan dada. “Yang benar saja. Harusnya benda ini bisa ditemukan sejak awal.”
“Yang penting, ini bisa jadi petunjuk,” kata Walter. “Sepertinya ini kain dari pakaian si pemburu.”
“Cepat sekali kamu berkesimpulan. Bisa saja itu kain dari pakaian Professor Morello sendiri, kan?”
Walter mendengus. “Ya sudah, yang penting kita teliti dulu.”
Kedua temannya mengangguk dan mereka beranjak pergi.

***

0 comments:

Post a Comment