Walter
menyelinap di antara para polisi dan wartawan yang berlalu-lalang. Dia berusaha
bersikap setenang mungkin, sambil matanya menengok ke sana-sini.
Semalam,
melalui Video Conference, The Dream Team sepakat untuk menyelidiki kasus ini.
Keganjilan-keganjilan yang melingkupi pembunuhan Professor Morello membuat
mereka tergerak untuk membongkar fakta yang sebenarnya. Apalagi, status mereka
yang diakui sebagai siswa-siswi terbaik CIS, membuat mereka tambah tertantang
untuk memecahkan misteri pembunuhan itu.
Di
dekat TKP, Walter melihat bahwa Selubung Polisi sudah hilang. Dia mengambil
kesempatan itu untuk mendekat ke tempat terbunuhnya Professor Morello.
Di
sana, terdapat genangan darah yang sudah menghitam dan mengering. Melihatnya, Walter
jadi bergidik. Tapi dia memaksakan diri untuk mendekati dan mengamatinya.
Matanya
menangkap sesuatu yang ganjil. Walter mengerutkan kening, keheranan. Kenapa benda itu ada di sini? Dia
mengeluarkan pena dari sakunya dan menekan ujungnya. Ujung pena itu memanjang
dan mengeluarkan capit. Dengan hati-hati, Walter mengambil benda yang
dilihatnya dengan capit pena—sedikit sulit karena menyatu dengan darah yang
mengering—lalu buru-buru memasukkannya dalam plastik kecil dan mengantonginya.
Dia melihat sekeliling. Tidak ada yang menyadarinya berada di situ. Walter
menghela nafas lega, lalu segera pergi menyusuri koridor, menuju ke taman.
Tanpa
diduga, saat dia sampai di belokan ke Koridor Timur, dia berpapasan dengan
Professor Delaware.
“Hei,
apa yang kau lakukan di sini?” tanya Professor Delaware curiga.
Jantung
Walter berdegup kencang, terkejut sekali. Namun, dia berusaha tetap tenang.
“Er,
saya... saya ada perlu dengan teman, Professor.” jawab Walter agak kagok.
Professor
Delaware mengernyit. “Kalau tidak salah, kau ini Walter Tuanzebe dari kelas
Kompas, kan? Ada perlu dengan siapa?”
“Ng...
Hanifah dan Nia, Professor. Teman sekelas, mau membicarakan soal beberapa
tugas.”
“Dalam
kondisi begini? Di area sekolah? Bukankah sudah saya bilang kalian diliburkan?”
cecar Professor Delaware, nadanya curiga.
Walter
menelan ludah, tapi tetap menjaga ketenangan. “Tapi bukan berarti tidak boleh
datang, ‘kan, Professor?”
Professor
Delaware terdiam. Dia menatap Walter dalam-dalam dengan ekspresi yang sulit
ditebak, seolah sedang menganalisis apakah Walter menyembunyikan sesuatu atau
tidak. Walter tambah gugup. Biar begitu, dia tetap menjaga pokerface-nya sebisa mungkin. Setidaknya latihan di asramanya lebih
berat daripada menghadapi kepala sekolah.
Lalu,
Professor Delaware menghela nafas dan menyibakkan rambut ikalnya.
“Fine, then. Asal jangan dekat-dekat
dengan TKP.” kata Professor Delaware sambil berlalu.
Seiring
sosok Professor Delaware yang menghilang di ujung koridor, detak jantung Walter
berangsur-angsur normal. Dia bersyukur Professor Delaware tidak menanyainya
yang aneh-aneh, lalu kembali bergegas.
Di
taman, Hanifah dan Nia duduk sambil melihat layar iComp di pangkuan Nia.
“Kalian
menemukan apa?” tanya Walter.
Nia
menoleh sekilas, lalu kembali menatap iComp-nya. Kilatan matanya serius. “Bisik-bisik
di kalangan wartawan dan polisi hanya menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti
dengan keganjilan kasus ini. Tidak lebih.”
“Menurut
anta, bagaimana dengan ini?” Hanifah
mengibaskan telapak tangannya di dekat layar iComp. Layar itu berputar
menghadap Walter, menampakkan gambar koridor selatan tempat pembunuhan
Professor Morello.
“Kuyini lokhu? Pola jejak?” tanya Walter.
Hanifah
mengangguk. “Ana membobol database kepolisian dan menemukan ini. Anta lihat,” dia menunjukkan
bentuk-bentuk tapak kaki berwarna merah di layar iComp. “Langkah Professor,
yang di depan ini, kelihatan seperti yang tertatih-tatih. Seperti ada
miskoordinasi di kaki kanannya. Sementara, si pengejar, sama-sama terlihat
tertatih, tapi di kedua kakinya. Nah, persoalannya...”
“Si
pemburu ini lambat,” Walter menarik kesimpulan. Dia menggeser posisi gambar ke
sebuah bagian dan memperbesar tampilannya. “Pada akhirnya, si pemburu berhasil
mengejar Professor Morello, tepat di TKP. Professor rubuh, lalu entah
diperlakukan seperti apa, dia mati di sana.”
Nia
menatap Walter. “Kamu ada pemikiran, apa yang mengakibatkan Professor terjatuh
di situ?”
Walter
menggeleng. “Masih banyak kemungkinan.”
“Anta dapat apa?” tanya Hanifah.
Walter
mengeluarkan plastik kecil dari sakunya dan menunjukkannya pada kedua temannya.
“Apa
itu?” tanya Nia.
“Robekan
kain,”
“Kain
apa?”
Walter
mengangkat bahu. “Belum aku cek. Aku mendapatkannya di genangan darah Professor
Morello yang sudah mengering. Agak aneh, robot pemindai kepolisian tidak bisa
menemukannya.”
Nia
bersandar di kursi dan melipat tangannya di depan dada. “Yang benar
saja. Harusnya benda ini bisa ditemukan sejak awal.”
“Yang
penting, ini bisa jadi petunjuk,” kata Walter. “Sepertinya ini kain dari
pakaian si pemburu.”
“Cepat
sekali kamu berkesimpulan. Bisa saja itu kain dari pakaian Professor Morello
sendiri, kan?”
Walter
mendengus. “Ya sudah, yang penting kita teliti dulu.”
Kedua
temannya mengangguk dan mereka beranjak pergi.
***


0 comments:
Post a Comment