Saturday, 16 December 2017

The Crest of Five, Episode 6



“Masih terpikir soal Professor Morello?” tanya Kazuki pada Niels. Dia baru saja selesai bermain game FIFA 67 di Real Life Simulator yang berada di hall asrama.
Yang ditanya tidak menjawab. Dia duduk bersandar di kursi hall dan bersedekap, memikirkan berbagai kemungkinan soal Professor Morello. Walter benar, meski dia mengakuinya dengan sangat enggan, apa yang dilakukan gurunya itu kali ini mencurigakan. Tanaman yang referensinya dari buku sejarah, simbol aneh yang menyertainya, serta ketiadaan Professor Morello saat waktunya pengumpulan tugas. Sore tadi, selepas pulang, dia bertanya ke kelas-kelas lain dan bahkan adik tingkat yang dikenalnya. Kelas di Tingkat Tiga lain tidak menerima tugas tentang Underworld Citron, dan siswa Tingkat Dua mengatakan Professor Morello tidak pernah sekalipun lupa soal tugas yang diberikannya. Persis seperti yang diingatnya saat dia masih Tingkat Dua dulu.
Lalu kenapa? Pikir Niels.
“Oh, ayolah, Niels. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Barangkali Professor memang benar-benar lupa atau buru-buru ke suatu tempat.” ujar Clark. Dia sedang menonton video drum cover band favoritnya di iComp.
“Dan simbol aneh itu paling-paling hanya kerjaan iseng si penulis buku. Awarena...” sahut Kazuki.
Niels menghela nafas. “Kalau benar Professor Morello sedang keluar, atau barangkali benar-benar lupa, harusnya tidak butuh waktu lama baginya untuk memperingatkan kita soal itu. Bicara soal pengingat, apa belum ada konfirmasi dari Walter atau Maribel?”
“Kau tahu, Niels? Akhir-akhir ini rasanya kau menyebut nama Maribel agak sering dari biasanya,” kata Clark sambil mengangkat alisnya. “Dengar-dengar sih dia sudah punya pacar. Diego Altamirano, pesepakbola Valladolid.”
“Maksudmu?” tanya Niels, tidak mengerti. Clark dan Kazuki, sebaliknya, terkikik.
Hendrik yang sedari tadi berdiri diam menghadap jendela hall yang terbuka menyahut. “Walter. Kirim pesan. Baru ingat. Enam menit. Dua puluh dua detik. Tidak ada. Professor Morello. Konfirmasi. Dihubungi. Gagal.”
“Nah!” seru Niels, spontan menggebrak meja tanpa sadar. “Tidak ada konfirmasi dan tidak bisa dihubungi. Aku berani bertaruh uang sakuku bulan depan kalau ada masalah dengan Professor Morello. Ini tidak wajar!”
Nani? Sekarang kau mulai ikut-ikutan Walter?” Kazuki mengangkat alis. “Bukannya kalian tidak pernah suka kalau ada satu bagian saja dari diri atau tindakan kalian yang sama?”
Niels mendengus. “Jangan ngaco. Uang sakuku lebih banyak daripada uang sakunya.”
“Lalu apa poinnya? Kau dan Walter bertaruh pada hal yang sama. Kalau kalian benar, nggak ada yang kehilangan uang. Kalau kalian salah, nggak ada yang bisa dikasih uang. Kecuali kalau kau mau bertaruh denganku atau Kazuki, tentu saja.” Clark tertawa.
“Tidak lucu.” ketus Hendrik.
Yare yare, Hendrik-chan,” Kazuki nyengir. Dia mencungkil bola di dekat kaki Clark dengan kakinya, juggling sejenak, lalu menendangnya ke sudut hall dan masuk tepat di keranjang bola. “Jangan-jangan sebentar lagi kau terkena sindrom otak-overheat karena terlalu banyak menggunakan isi kepalamu. Oh, masaka! Cara bicaramu itu indikasi awalnya! Cepat hubungi dr. Iwan!”
Kazuki dan Clark tergelak lagi. Niels dan Hendrik menanggapinya dingin.
Du ikke forstår,” ujar Niels gusar.
Pintu hall asrama terbanting terbuka. Pavel dan Dave masuk masuk ke hall dengan terengah-engah. Wajah mereka tegang. Semua orang di hall menatap mereka dengan bingung.
“Ada apa, Dave? Wajahmu pucat sekali, baru digigit Pablo? Dia minum berapa liter?” tanya Clark, menyeringai jail.
“ ‘gak lucu, k’pala pel.” ujar Pavel dingin.
“Aku juga nggak minta pendapatmu, kepala landak,” balas Clark jengkel.
Dave berusaha mengatur nafas. “Kalian tidak akan percaya ini. Aku baru diberitahu Fen Huang...”
Mendengar penjelasan Dave, The Epic ternganga. Para penghuni asrama lain ikut terperangah.
“Kau serius, Dave?” tuntut Niels.
***
Di asrama perempuan, Nia dan Hanifah sedang berada di kamar Nadiyya Al Mishri, siswi Tingkat Dua CIS. Mereka sedang mengobrol. Sayup-sayup, suara musik disko mengalun dari hall asrama. Teriakan Tiffany dan Susanti terdengar mendominasi suara. Nia, yang malam itu berada dalam mode hiperaktif, tidak henti-hentinya menggerutu dan kadang-kadang menutup telinganya dengan bantal.
“Benar-benar kurang kerjaan, ih! Tiap malam selalu saja bikin berisik seisi asrama.” keluh Nia.
Hanifah menghela nafas. “Kita sudah mengingatkan mereka sesering kau mengeluh, sayangnya mereka tidak mempan diberi tahu. Mereka cukup pintar juga, memanfaatkan celah dalam peraturan asrama.”
Pemilik kamar, Nadiyya, duduk di kursi belajarnya. Dia mengenakan kerudung putih panjang dan pakaian terusan krem—Nadiyya menyebutnya jilbab—senada dengan Hanifah. Kulitnya kecoklatan, tapi lebih cerah dibanding Hanifah. Senyum simpulnya berpadu manis dengan wajah sendunya.
“Apa kondisi ini sudah ada sejak ukhti pertama kali masuk asrama ini?” Nadiyya buka suara.
“Tentu saja!” Nia melepaskan bantal yang tadi digunakan untuk menutup telinganya. “Seminggu pertama, semua baik-baik saja. Minggu berikutnya, si Mellanovic sialan itu mulai mencari masalah. Dia memulai acara bodoh itu di hall, sampai kemudian banyak yang mengikutinya! Sebelum kamu masuk, yang paling waras di asrama cuma aku dan Hanifah.”
“Nia, tolong jaga bahasamu...” ujar Hanifah.
Nadiyya mengerutkan kening. “Maksudnya Sasha Mellanovic?”
“Nah, dia! Anak sangat-belagu-tukang-bikin-onar cuma gara-gara ayahnya itu Matija Mellanovic!” seru Nia.
Nadiyya tampak terkejut. “Wah? Serius, ukhti? Anaknya Matija?”
Na’am,” kali ini Hanifah menanggapi. “Ana tidak suka berprasangka buruk, tapi untuk yang satu ini, sifatnya itu mungkin memang karena dia anak direktur Multinational Corporation itu. Anti tahu lah, Nadiyya, seperti apa anak-anak di negara sana.”
Nadiyya terdiam beberapa lama, wajahnya berubah sedih.
“Kau sudah tahu belum? Kadang-kadang Sasha pergi malam dan baru pulang pagi hari. Dalam keadaan mabuk!” nada suara Nia benar-benar jengkel. “Aku memergokinya beberapa kali, tapi komplotannya buru-buru menyembunyikannya. Siangnya, dia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Huh, hipocrita!”
Nadiyya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terkejut. “Astaghfirullah... I—itu...”
Suara teriakan makin keras terdengar. Nia kembali menutupi telinganya dengan bantal. Tidak ada yang bersuara di kamar itu selama beberapa saat, sampai kemudian Nadiyya angkat bicara.
Ana sedih melihat kondisi teman-teman di sini. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia, bahkan kemaksiatan, dibandingkan belajar dan berkarya untuk membangkitkan peradaban. Malah, mereka jadi korban peradaban yang rusak...”
Hanifah menoleh pada Nadiyya. “Membangkitkan peradaban? Bukannya peradaban sekarang memang sudah maju?”
Nadiyya menggeleng. “Tidak, Hanifah. Bagaimana mungkin peradaban manusia sekarang dikatakan maju, sementara akhlak dan moralitasnya seperti ini? Sejujurnya, ana memang sering membaca berita dan mengamati sendiri kerusakan moralitas di berbagai tempat. Negara asal ana pun kondisi akhlaknya tidak jauh beda dengan negeri ini. Tapi tetap saja, itu selalu membuat ana sedih...”
Nia melempar bantal ke belakangnya, lalu bangkit dan duduk di dekat Nadiyya, wajahnya penasaran. “Moralnya yang rusak? Jadi itu yang harus diperbaiki?”
Nadiyya meraih iCompnya dari atas meja di samping kasur dan menggoreskan sketsa pohon di layarnya.
“Kalau diibaratkan, akhlak dan moralitas itu adalah buah,” dia melingkari gambar buah dengan jarinya. “Sementara, buah akan baik atau busuk, itu tergantung dari pohonnya. Di sisi lain, yang menjadi penentu pohon itu apakah baik dan kokoh atau sebaliknya, buruk dan rapuh itu akarnya.” Nadiyya melingkari bagian akar pohon.
“Er... jadi, maksudmu?” Nia garuk-garuk kepala.
“Yang ana pahami, untuk memperbaiki buah, kita tidak bisa hanya fokus pada buahnya saja. Itu tidak menyelesaikan persoalan,” terang Nadiyya. “Sebaliknya, persoalan utama dari kerusakan akhlak, termasuk yang menimpa teman-teman kita, itu merupakan persoalan yang sistemik, bersumber dari ideologi yang diadopsi negara.”
Hanifah mengernyit. “Ideologi negara?”
“Iya, ukhti.” Nadiyya mengangguk seraya tersenyum kecil. “Ideologi sekuler. Ideologi ini memisahkan peran agama dari negara. Singkatnya, agama hanya sebatas mengatur persoalan ibadah ritual. Dalam urusan publik, agama tidak boleh ikut campur. Dari sinilah, muncul sebuah tatanan kehidupan yang hanya berlandaskan pemikiran manusia dan cenderung bebas, liberal. Aturan-aturannya dibuat sekehendak manusia, tidak peduli hal itu dilarang oleh agama atau tidak. Makanya, sekarang, fasilitas-fasilitas yang mendukung kemaksiatan dan kerusakan moral bisa merajalela, karena memang aturannya membolehkan. Termasuk negeri ini. Juga di Mesir. Di seluruh dunia.”
Nia mengamati gambar pohonnya Nadiyya dan menunjuk-nunjuk dengan jarinya. “Oke, yang kutangkap, artinya akar persoalannya, ideologi negara, itu harus diperbaiki, begitu?”
Nadiyya mengangguk mantap.
“Dengan apa?”
Nadiyya tersenyum. “Dengan ideologi yang berasal dari Sang Pencipta. Tatanan hidup dari Yang Maha Mengetahui tentang apa yang dibutuhkan manusia. Layaknya sebuah iComp, yang paling tahu seluk-beluk dan cara mengatasi masalah-masalahnya pasti pembuatnya sendiri.”
Nia merengut bingung. “Memang ideologi seperti itu ada?”
“Tentu ada. Hanya saja, sebagian besar orang tidak menyadarinya.”
“Penjelasan anti menarik,” gumam Hanifah. “Bisa anti jelaskan detailnya seperti apa?”
Baru saja Nadiyya mau menjawab, terdengar suara jeritan histeris tidak jauh dari kamar mereka. Hanifah dan Nia terlonjak.
“Itu suara Morena, kan?” tanya Nia, mengusap-usap dadanya.
Hanifah mengangguk. “Paling-paling dia habis diisengi oleh—”
Lampu notifikasi di panel informasi berkelip-kelip. Nadiyya menatap Nia bingung, lalu berpaling ke panel dan berkata, “Siapa?”
Layar dua puluh satu inci termaterialisasi di atas panel informasi. Wajah seorang perempuanmuncul. Wajah Hardina, teman sekelas Nadiyya. Wajah bulatnya pucat dan tegang.
“Nadiyya! Ada info penting! Cepat keluar!” katanya.
Ketiga perempuan di dalam kamar bertukar pandang, lalu keluar. Sebagian besar penghuni asrama berkumpul di koridor. Raut wajah mereka mayoritas terkejut, sebagian ada yang terisak.
“Hardina, ada apa ini? Kalian kenapa?” tanya Nadiyya khawatir.
Morena berlari menghampiri mereka, ekspresinya penuh horor. “Hanifah, Nia, kalian nggak akan percaya ini. Baru saja Maribel menelpon...”
Apa yang dijelaskan Morena dan Hardina nyaris membuat Nadiyya kena serangan jantung.
***
Cibadak International School gempar. Professor Morello ditemukan tewas di koridor selatan ruang guru dengan luka di pangkal lehernya. Dugaan awal, penyebab kematiannya adalah pendarahan akut. Namun, lukanya terlalu kecil untuk bisa mengakibatkan pendarahan sehebat itu. Kedua dokter sekolah, dr. Dwi Indah Kartanegara dan dr. Iwan Ahmad Sinaryana tidak bisa menjelaskannya.
“Tidak ada racun atau substansi apapun di dalam darah Professor Silvana Morello,” dr. Dwi Indah menjelaskan pada pihak kepolisian, wajahnya pucat pasi dan jelas-jelas terguncang. Dokter muda ini merapikan kerudung putihnya sebelum menambahkan dengan agak terbata-bata. “Kami... kami akan terus mencari penyebab kematian beliau.”
Seorang polisi bertanya. “Lalu bagaimana Anda menjelaskan pendarahan besar yang terjadi pada korban?”
Kali ini dr. Iwan yang menjawab, “Kami belum bisa menjelaskannya.”
Hampir seluruh siswa CIS datang ke sekolah setelah mendengar kabar tewasnya Professor Morello. Namun, mereka tidak bisa melihat banyak di belakang Selubung Polisi, dan Staf Keamanan sekolah menyuruh mereka menjauh. Hanya Maribel yang ditanyai kesaksiannya.
“A... aku datang ke ruangannya untuk mengumpulkan tugas kelasku... tapi... ketika aku sampai di ruangan...” Maribel menjelaskan pada polisi dengan terbata-bata. Air mata membasahi pipinya. Perasaannya benar-benar terguncang saat tahu waktu kematian Professor Morello di kisaran yang sama dengan saat dia akan mengumpulkan tugas. Dia harus bersandar pada Mudiwa supaya bisa tetap berdiri.
Seluruh civitas akademika CIS tidak percaya dengan kematian misterius Professor Morello. Apalagi pada siswa, yang merasa sangat kehilangan guru terbaik mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menangis mengetahui peristiwa ini.
Professor Delaware mengamuk luar biasa pada Staf Keamanan sekolah, utamanya sang Kepala Staf, Alexandreina Lusescu. Kedua tukang kebun, Joseph Marst-Svenningsen dan Dadang Nurjaman pun tidak lepas dari dampratannya. Amukannya membuat sebagian siswa yang datang ngeri, sebab biasanya Professor Delaware terlihat gampang gugup.
Alexa, Kepala Keamanan CIS, tidak mengatakan apapun ketika Professor Delaware melabraknya. Wanita itu hanya tertunduk sambil melipat tangan berototnya di depan dada. Dia mendelik sesekali pada tiga bawahannya, Masahiro Toshimichi, Ji Dong-Un, dan Riza Santoso, tapi ketiganya juga diam saja.
Menurut pengakuannya, Alexa sedang berjaga di gerbang utama seperti biasanya dan tidak melihat adanya gerak-gerik mencurigakan di sana. Riza dan Ji berjaga di depan Ruang Isolasi Nomor 1, tugas mereka sore itu. Sementara, Joe bilang dia sedang membersihkan rumput liar di kebun dekat Taman Biologi. Pernyataan itu dikuatkan oleh Masahiro.
Para guru dan staf sekolah lain mempunyai alibi. Professor Delaware sedang bertemu dengan Professor Markovic pada waktu kejadian, sementara Professor Hartmann sedang tidak ada di sekolah.
Paramedis membawa jenazah Professor Morello ke Rumah Sakit Sekarwangi. Polisi menyegel TKP selama tiga hari. Sebelum menyuruh para siswa segera pulang, Professor Delaware mengumumkan bahwa sekolah diliburkan selama lima hari.
Sementara itu, The Epic berkumpul di depan kelas Kompas. Wajah-wajah mereka masih terguncang, tapi mereka tidak sedang meratapi kematian guru mereka.
“Waktu pembunuhan disinyalir antara pukul empat sampai lima sore. Sementara, ketika Maribel datang ke ruangannya, pintu ruangan Professor terkunci, tidak ada orang di dalam. Dihubungi pun tidak dijawab. Tentu saja, karena seseorang sudah membunuhnya!” seru Niels berapi-api.
Shikashi, siapa pelakunya? Motifnya apa?” tanya Kazuki.
“Juga caranya.” sambung Hendrik. “dr. Dwi Indah. dr. Iwan. Mereka bingung. Professor pendarahan berat. Lukanya tidak terlalu parah.”
“Trombosit mati?” Niels berspekulasi.
Hendrik menggeleng. “Analisis mereka. Kondisinya normal.”
“Apa Professor Morello punya musuh?” tanya Clark.
“Kudengar dia bermasalah dengan Komisi Pengawasan dan Pemeliharaan Tumbuhan Langka,” jawab Kazuki.
Clark garuk-garuk kepala. “Rasanya sih nggak mungkin mereka yang melakukannya. Sekalipun negara ini negara korup, tapi pemerintah mereka tidak pernah menggunakan cara-cara ala mafia. Ini bukan Korea Utara. Lagipula, negara ini sepertinya masih butuh kejeniusan Professor Morello.”
“Sejak kapan kau bisa berpikir sejauh itu, Clark?” Niels mengernyit. Clark melotot.
“Orang dalam?” usul Hendrik. “Professor Toro dan tim IT. Tidak menemukan siapapun. Jalan masuk. Dari manapun.”
Niels menatap Hendrik seolah-olah dia baru saja menyatakan cinta pada Mudiwa.
“Kau gila, Hendrik? Mana mungkin pelakunya itu orang dalam?”
Hendrik mengangkat bahu. “Dinamika guru dan staf. Kita tidak tahu. Lagipula, aneh kalau bukan. Teka-teki. Tidak terjawab. Tim IT CIS. Terbaik di Asia. Tidak mungkin kecolongan.”
Niels mengakui kalau kemungkinan itu adalah yang paling logis. Namun, tetap saja, dalam hati dia masih tidak percaya bahwa civitas akademika CIS bisa melakukan hal seperti itu. Hal terakhir yang ingin dipercayainya adalah keberadaan seorang pembunuh sadis di kalangan internal sekolahnya.
“Lalu?” tanya Clark.
“Lalu apa?” Niels balik bertanya.
“Sekarang mau apa?”
Niels berdiri, berpikir keras.
“Bagaimana kalau kita selidiki?” usulnya.
Hendrik menyipitkan matanya. “Menyelidiki? Untuk apa? Sudah ada polisi.”
Hvorfor ikke? Untuk apa bersekolah di sekolah terbaik di Asia kalau kita tidak bisa menyelesaikan kasus ini?”
Teman-temannya terdiam beberapa saat, bertukar pandang satu sama lain.
Omoshiroi. Aku sepakat.” sahut Kazuki, menjentikkan jarinya.
Hendrik dan Clark pun mengangguk setuju. Ekspresi ketertarikan baru muncul di wajah mereka. Niels nyengir puas.
“Oke kalau begitu, ini yang pertama harus kita lakukan.”

***

0 comments:

Post a Comment