“Masih
terpikir soal Professor Morello?” tanya Kazuki pada Niels. Dia baru saja
selesai bermain game FIFA 67 di Real Life Simulator yang berada di hall asrama.
Yang
ditanya tidak menjawab. Dia duduk bersandar di kursi hall dan bersedekap,
memikirkan berbagai kemungkinan soal Professor Morello. Walter benar, meski dia
mengakuinya dengan sangat enggan, apa yang dilakukan gurunya itu kali ini
mencurigakan. Tanaman yang referensinya dari buku sejarah, simbol aneh yang
menyertainya, serta ketiadaan Professor Morello saat waktunya pengumpulan
tugas. Sore tadi, selepas pulang, dia bertanya ke kelas-kelas lain dan bahkan
adik tingkat yang dikenalnya. Kelas di Tingkat Tiga lain tidak menerima tugas
tentang Underworld Citron, dan siswa Tingkat Dua mengatakan Professor Morello
tidak pernah sekalipun lupa soal tugas yang diberikannya. Persis seperti yang
diingatnya saat dia masih Tingkat Dua dulu.
Lalu kenapa? Pikir Niels.
“Oh, ayolah, Niels. Tidak perlu terlalu dipikirkan.
Barangkali Professor memang benar-benar lupa atau buru-buru ke suatu tempat.”
ujar Clark. Dia sedang menonton video drum
cover band favoritnya di iComp.
“Dan simbol aneh itu paling-paling hanya kerjaan iseng si
penulis buku. Awarena...” sahut
Kazuki.
Niels menghela nafas. “Kalau benar Professor Morello
sedang keluar, atau barangkali benar-benar lupa, harusnya tidak butuh waktu
lama baginya untuk memperingatkan kita soal itu. Bicara soal pengingat, apa
belum ada konfirmasi dari Walter atau Maribel?”
“Kau tahu, Niels? Akhir-akhir ini rasanya kau menyebut
nama Maribel agak sering dari biasanya,” kata Clark sambil mengangkat alisnya.
“Dengar-dengar sih dia sudah punya pacar. Diego Altamirano, pesepakbola
Valladolid.”
“Maksudmu?” tanya Niels, tidak mengerti. Clark dan
Kazuki, sebaliknya, terkikik.
Hendrik yang sedari tadi berdiri diam menghadap jendela
hall yang terbuka menyahut. “Walter. Kirim pesan. Baru ingat. Enam menit. Dua
puluh dua detik. Tidak ada. Professor Morello. Konfirmasi. Dihubungi. Gagal.”
“Nah!” seru Niels, spontan menggebrak meja tanpa sadar.
“Tidak ada konfirmasi dan tidak bisa dihubungi. Aku berani bertaruh uang sakuku
bulan depan kalau ada masalah dengan Professor Morello. Ini tidak wajar!”
“Nani? Sekarang
kau mulai ikut-ikutan Walter?” Kazuki mengangkat alis. “Bukannya kalian tidak
pernah suka kalau ada satu bagian saja dari diri atau tindakan kalian yang
sama?”
Niels mendengus. “Jangan ngaco. Uang sakuku lebih banyak
daripada uang sakunya.”
“Lalu apa poinnya? Kau dan Walter bertaruh pada hal yang
sama. Kalau kalian benar, nggak ada yang kehilangan uang. Kalau kalian salah,
nggak ada yang bisa dikasih uang. Kecuali kalau kau mau bertaruh denganku atau
Kazuki, tentu saja.” Clark tertawa.
“Tidak lucu.” ketus Hendrik.
“Yare yare, Hendrik-chan,”
Kazuki nyengir. Dia mencungkil bola di dekat kaki Clark dengan kakinya, juggling sejenak, lalu menendangnya ke
sudut hall dan masuk tepat di keranjang bola. “Jangan-jangan sebentar lagi kau
terkena sindrom otak-overheat karena
terlalu banyak menggunakan isi kepalamu. Oh, masaka! Cara bicaramu itu indikasi awalnya! Cepat hubungi dr.
Iwan!”
Kazuki dan Clark tergelak lagi. Niels dan Hendrik
menanggapinya dingin.
“Du ikke forstår,”
ujar Niels gusar.
Pintu hall asrama terbanting terbuka. Pavel dan Dave
masuk masuk ke hall dengan terengah-engah. Wajah mereka tegang. Semua orang di
hall menatap mereka dengan bingung.
“Ada apa, Dave? Wajahmu pucat sekali, baru digigit Pablo?
Dia minum berapa liter?” tanya Clark, menyeringai jail.
“ ‘gak lucu, k’pala pel.” ujar Pavel dingin.
“Aku juga nggak minta pendapatmu, kepala landak,” balas
Clark jengkel.
Dave berusaha mengatur nafas. “Kalian tidak akan percaya
ini. Aku baru diberitahu Fen Huang...”
Mendengar penjelasan Dave, The Epic ternganga. Para
penghuni asrama lain ikut terperangah.
“Kau serius, Dave?” tuntut Niels.
***
Di asrama perempuan, Nia dan Hanifah sedang berada di
kamar Nadiyya Al Mishri, siswi Tingkat Dua CIS. Mereka sedang mengobrol.
Sayup-sayup, suara musik disko mengalun dari hall asrama. Teriakan Tiffany dan
Susanti terdengar mendominasi suara. Nia, yang malam itu berada dalam mode
hiperaktif, tidak henti-hentinya menggerutu dan kadang-kadang menutup
telinganya dengan bantal.
“Benar-benar kurang kerjaan, ih! Tiap malam selalu saja
bikin berisik seisi asrama.” keluh Nia.
Hanifah menghela nafas. “Kita sudah mengingatkan mereka sesering
kau mengeluh, sayangnya mereka tidak mempan diberi tahu. Mereka cukup pintar
juga, memanfaatkan celah dalam peraturan asrama.”
Pemilik kamar, Nadiyya, duduk di kursi belajarnya. Dia
mengenakan kerudung putih panjang dan pakaian terusan krem—Nadiyya menyebutnya jilbab—senada dengan Hanifah. Kulitnya
kecoklatan, tapi lebih cerah dibanding Hanifah. Senyum simpulnya berpadu manis
dengan wajah sendunya.
“Apa kondisi ini sudah ada sejak ukhti pertama kali masuk asrama ini?” Nadiyya buka suara.
“Tentu saja!” Nia melepaskan bantal yang tadi digunakan
untuk menutup telinganya. “Seminggu pertama, semua baik-baik saja. Minggu
berikutnya, si Mellanovic sialan itu mulai mencari masalah. Dia memulai acara
bodoh itu di hall, sampai kemudian banyak yang mengikutinya! Sebelum kamu
masuk, yang paling waras di asrama cuma aku dan Hanifah.”
“Nia, tolong jaga bahasamu...” ujar Hanifah.
Nadiyya mengerutkan kening. “Maksudnya Sasha Mellanovic?”
“Nah, dia! Anak sangat-belagu-tukang-bikin-onar cuma
gara-gara ayahnya itu Matija Mellanovic!” seru Nia.
Nadiyya tampak terkejut. “Wah? Serius, ukhti? Anaknya Matija?”
“Na’am,” kali
ini Hanifah menanggapi. “Ana tidak
suka berprasangka buruk, tapi untuk yang satu ini, sifatnya itu mungkin memang
karena dia anak direktur Multinational Corporation itu. Anti tahu lah, Nadiyya, seperti apa anak-anak di negara sana.”
Nadiyya terdiam beberapa lama, wajahnya berubah sedih.
“Kau sudah tahu belum? Kadang-kadang Sasha pergi malam
dan baru pulang pagi hari. Dalam keadaan mabuk!” nada suara Nia benar-benar
jengkel. “Aku memergokinya beberapa kali, tapi komplotannya buru-buru
menyembunyikannya. Siangnya, dia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa!
Huh, hipocrita!”
Nadiyya menutup mulutnya dengan kedua tangannya,
terkejut. “Astaghfirullah... I—itu...”
Suara teriakan makin keras terdengar. Nia kembali
menutupi telinganya dengan bantal. Tidak ada yang bersuara di kamar itu selama
beberapa saat, sampai kemudian Nadiyya angkat bicara.
“Ana sedih
melihat kondisi teman-teman di sini. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya
untuk hal yang sia-sia, bahkan kemaksiatan, dibandingkan belajar dan berkarya
untuk membangkitkan peradaban. Malah, mereka jadi korban peradaban yang
rusak...”
Hanifah menoleh pada Nadiyya. “Membangkitkan peradaban?
Bukannya peradaban sekarang memang sudah maju?”
Nadiyya menggeleng. “Tidak, Hanifah. Bagaimana mungkin
peradaban manusia sekarang dikatakan maju, sementara akhlak dan moralitasnya
seperti ini? Sejujurnya, ana memang
sering membaca berita dan mengamati sendiri kerusakan moralitas di berbagai
tempat. Negara asal ana pun kondisi
akhlaknya tidak jauh beda dengan negeri ini. Tapi tetap saja, itu selalu
membuat ana sedih...”
Nia melempar bantal ke belakangnya, lalu bangkit dan
duduk di dekat Nadiyya, wajahnya penasaran. “Moralnya yang rusak? Jadi itu yang
harus diperbaiki?”
Nadiyya meraih iCompnya dari atas meja di samping kasur dan
menggoreskan sketsa pohon di layarnya.
“Kalau diibaratkan, akhlak dan moralitas itu adalah
buah,” dia melingkari gambar buah dengan jarinya. “Sementara, buah akan baik
atau busuk, itu tergantung dari pohonnya. Di sisi lain, yang menjadi penentu
pohon itu apakah baik dan kokoh atau sebaliknya, buruk dan rapuh itu akarnya.”
Nadiyya melingkari bagian akar pohon.
“Er... jadi, maksudmu?” Nia garuk-garuk kepala.
“Yang ana
pahami, untuk memperbaiki buah, kita tidak bisa hanya fokus pada buahnya saja.
Itu tidak menyelesaikan persoalan,” terang Nadiyya. “Sebaliknya, persoalan
utama dari kerusakan akhlak, termasuk yang menimpa teman-teman kita, itu
merupakan persoalan yang sistemik, bersumber dari ideologi yang diadopsi
negara.”
Hanifah mengernyit. “Ideologi negara?”
“Iya, ukhti.”
Nadiyya mengangguk seraya tersenyum kecil. “Ideologi sekuler. Ideologi ini
memisahkan peran agama dari negara. Singkatnya, agama hanya sebatas mengatur
persoalan ibadah ritual. Dalam urusan publik, agama tidak boleh ikut campur.
Dari sinilah, muncul sebuah tatanan kehidupan yang hanya berlandaskan pemikiran
manusia dan cenderung bebas, liberal. Aturan-aturannya dibuat sekehendak
manusia, tidak peduli hal itu dilarang oleh agama atau tidak. Makanya,
sekarang, fasilitas-fasilitas yang mendukung kemaksiatan dan kerusakan moral
bisa merajalela, karena memang aturannya membolehkan. Termasuk negeri ini. Juga
di Mesir. Di seluruh dunia.”
Nia mengamati gambar pohonnya Nadiyya dan menunjuk-nunjuk
dengan jarinya. “Oke, yang kutangkap, artinya akar persoalannya, ideologi
negara, itu harus diperbaiki, begitu?”
Nadiyya mengangguk mantap.
“Dengan apa?”
Nadiyya tersenyum. “Dengan ideologi yang berasal dari
Sang Pencipta. Tatanan hidup dari Yang Maha Mengetahui tentang apa yang
dibutuhkan manusia. Layaknya sebuah iComp, yang paling tahu seluk-beluk dan
cara mengatasi masalah-masalahnya pasti pembuatnya sendiri.”
Nia merengut bingung. “Memang ideologi seperti itu ada?”
“Tentu ada. Hanya saja, sebagian besar orang tidak
menyadarinya.”
“Penjelasan anti
menarik,” gumam Hanifah. “Bisa anti
jelaskan detailnya seperti apa?”
Baru saja Nadiyya mau menjawab, terdengar suara jeritan
histeris tidak jauh dari kamar mereka. Hanifah dan Nia terlonjak.
“Itu suara Morena, kan?” tanya Nia, mengusap-usap
dadanya.
Hanifah mengangguk. “Paling-paling dia habis diisengi
oleh—”
Lampu notifikasi di panel informasi berkelip-kelip.
Nadiyya menatap Nia bingung, lalu berpaling ke panel dan berkata, “Siapa?”
Layar dua puluh satu inci termaterialisasi di atas panel
informasi. Wajah seorang perempuanmuncul. Wajah Hardina, teman sekelas Nadiyya.
Wajah bulatnya pucat dan tegang.
“Nadiyya! Ada info penting! Cepat keluar!” katanya.
Ketiga perempuan di dalam kamar bertukar pandang, lalu
keluar. Sebagian besar penghuni asrama berkumpul di koridor. Raut wajah mereka
mayoritas terkejut, sebagian ada yang terisak.
“Hardina, ada apa ini? Kalian kenapa?” tanya Nadiyya
khawatir.
Morena berlari menghampiri mereka, ekspresinya penuh
horor. “Hanifah, Nia, kalian nggak akan percaya ini. Baru saja Maribel
menelpon...”
Apa yang dijelaskan Morena dan Hardina nyaris membuat
Nadiyya kena serangan jantung.
***
Cibadak International School gempar. Professor Morello
ditemukan tewas di koridor selatan ruang guru dengan luka di pangkal lehernya.
Dugaan awal, penyebab kematiannya adalah pendarahan akut. Namun, lukanya terlalu
kecil untuk bisa mengakibatkan pendarahan sehebat itu. Kedua dokter sekolah,
dr. Dwi Indah Kartanegara dan dr. Iwan Ahmad Sinaryana tidak bisa
menjelaskannya.
“Tidak ada racun atau substansi apapun di dalam darah
Professor Silvana Morello,” dr. Dwi Indah menjelaskan pada pihak kepolisian,
wajahnya pucat pasi dan jelas-jelas terguncang. Dokter muda ini merapikan
kerudung putihnya sebelum menambahkan dengan agak terbata-bata. “Kami... kami
akan terus mencari penyebab kematian beliau.”
Seorang polisi bertanya. “Lalu bagaimana Anda menjelaskan
pendarahan besar yang terjadi pada korban?”
Kali ini dr. Iwan yang menjawab, “Kami belum bisa
menjelaskannya.”
Hampir seluruh siswa CIS datang ke sekolah setelah
mendengar kabar tewasnya Professor Morello. Namun, mereka tidak bisa melihat
banyak di belakang Selubung Polisi, dan Staf Keamanan sekolah menyuruh mereka
menjauh. Hanya Maribel yang ditanyai kesaksiannya.
“A... aku datang ke ruangannya untuk mengumpulkan tugas
kelasku... tapi... ketika aku sampai di ruangan...” Maribel menjelaskan pada
polisi dengan terbata-bata. Air mata membasahi pipinya. Perasaannya benar-benar
terguncang saat tahu waktu kematian Professor Morello di kisaran yang sama
dengan saat dia akan mengumpulkan tugas. Dia harus bersandar pada Mudiwa supaya
bisa tetap berdiri.
Seluruh civitas akademika CIS tidak percaya dengan
kematian misterius Professor Morello. Apalagi pada siswa, yang merasa sangat
kehilangan guru terbaik mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menangis mengetahui
peristiwa ini.
Professor Delaware mengamuk luar biasa pada Staf Keamanan
sekolah, utamanya sang Kepala Staf, Alexandreina Lusescu. Kedua tukang kebun,
Joseph Marst-Svenningsen dan Dadang Nurjaman pun tidak lepas dari dampratannya.
Amukannya membuat sebagian siswa yang datang ngeri, sebab biasanya Professor Delaware
terlihat gampang gugup.
Alexa, Kepala Keamanan CIS, tidak mengatakan apapun
ketika Professor Delaware melabraknya. Wanita itu hanya tertunduk sambil
melipat tangan berototnya di depan dada. Dia mendelik sesekali pada tiga
bawahannya, Masahiro Toshimichi, Ji Dong-Un, dan Riza Santoso, tapi ketiganya
juga diam saja.
Menurut pengakuannya, Alexa sedang berjaga di gerbang
utama seperti biasanya dan tidak melihat adanya gerak-gerik mencurigakan di
sana. Riza dan Ji berjaga di depan Ruang Isolasi Nomor 1, tugas mereka sore
itu. Sementara, Joe bilang dia sedang membersihkan rumput liar di kebun dekat
Taman Biologi. Pernyataan itu dikuatkan oleh Masahiro.
Para guru dan staf sekolah lain mempunyai alibi.
Professor Delaware sedang bertemu dengan Professor Markovic pada waktu
kejadian, sementara Professor Hartmann sedang tidak ada di sekolah.
Paramedis membawa jenazah Professor Morello ke Rumah
Sakit Sekarwangi. Polisi menyegel TKP selama tiga hari. Sebelum menyuruh para
siswa segera pulang, Professor Delaware mengumumkan bahwa sekolah diliburkan
selama lima hari.
Sementara itu, The Epic berkumpul di depan kelas Kompas.
Wajah-wajah mereka masih terguncang, tapi mereka tidak sedang meratapi kematian
guru mereka.
“Waktu pembunuhan disinyalir antara pukul empat sampai
lima sore. Sementara, ketika Maribel datang ke ruangannya, pintu ruangan
Professor terkunci, tidak ada orang di dalam. Dihubungi pun tidak dijawab.
Tentu saja, karena seseorang sudah membunuhnya!” seru Niels berapi-api.
“Shikashi,
siapa pelakunya? Motifnya apa?” tanya Kazuki.
“Juga caranya.” sambung Hendrik. “dr. Dwi Indah. dr. Iwan.
Mereka bingung. Professor pendarahan berat. Lukanya tidak terlalu parah.”
“Trombosit mati?” Niels berspekulasi.
Hendrik menggeleng. “Analisis mereka. Kondisinya normal.”
“Apa Professor Morello punya musuh?” tanya Clark.
“Kudengar dia bermasalah dengan Komisi Pengawasan dan
Pemeliharaan Tumbuhan Langka,” jawab Kazuki.
Clark garuk-garuk kepala. “Rasanya sih nggak mungkin
mereka yang melakukannya. Sekalipun negara ini negara korup, tapi pemerintah
mereka tidak pernah menggunakan cara-cara ala mafia. Ini bukan Korea Utara. Lagipula,
negara ini sepertinya masih butuh kejeniusan Professor Morello.”
“Sejak kapan kau bisa berpikir sejauh itu, Clark?” Niels mengernyit.
Clark melotot.
“Orang dalam?” usul Hendrik. “Professor Toro dan tim IT.
Tidak menemukan siapapun. Jalan masuk. Dari manapun.”
Niels menatap Hendrik seolah-olah dia baru saja
menyatakan cinta pada Mudiwa.
“Kau gila, Hendrik? Mana mungkin pelakunya itu orang
dalam?”
Hendrik mengangkat bahu. “Dinamika guru dan staf. Kita
tidak tahu. Lagipula, aneh kalau bukan. Teka-teki. Tidak terjawab. Tim IT CIS.
Terbaik di Asia. Tidak mungkin kecolongan.”
Niels mengakui kalau kemungkinan itu adalah yang paling
logis. Namun, tetap saja, dalam hati dia masih tidak percaya bahwa civitas
akademika CIS bisa melakukan hal seperti itu. Hal terakhir yang ingin
dipercayainya adalah keberadaan seorang pembunuh sadis di kalangan internal
sekolahnya.
“Lalu?” tanya Clark.
“Lalu apa?” Niels balik bertanya.
“Sekarang mau apa?”
Niels berdiri, berpikir keras.
“Bagaimana kalau kita selidiki?” usulnya.
Hendrik menyipitkan matanya. “Menyelidiki? Untuk apa?
Sudah ada polisi.”
“Hvorfor ikke?
Untuk apa bersekolah di sekolah terbaik di Asia kalau kita tidak bisa
menyelesaikan kasus ini?”
Teman-temannya terdiam beberapa saat, bertukar pandang
satu sama lain.
“Omoshiroi. Aku
sepakat.” sahut Kazuki, menjentikkan jarinya.
Hendrik dan Clark pun mengangguk setuju. Ekspresi
ketertarikan baru muncul di wajah mereka. Niels nyengir puas.
“Oke kalau begitu, ini yang pertama harus kita lakukan.”
***


0 comments:
Post a Comment