Nadiya merasa Ainun di semesta aslinya sudah
cukup cerewet. Di semesta paralel, Nadiya berharap dia punya penutup telinga
kapanpun Ainun berbicara.
Sejak Ainun melihat dirinya yang mengenakan
seragam panjang dan kerudung, dia sudah mengoceh secepat kereta pesawat
Concorde. Terkejut setengah mati, kaget mempertanyakan ada apa bahkan mengecek
kewarasan Nadiya. Beruntung, tebakan Nadiya bahwa Nadiiya Yang Satu Lagi
memiliki sifat cuek-cuek-judes tepat. Tatapan sinis Nadiya cukup untuk
membungkam Ainun sementara waktu, sebelum akhirnya dia bicara lagi soal hal
lain yang sama sekali tidak berhubungan. Seolah-olah teman smeejanya itu lupa
sama sekali dengan apa yang baru saja dibicarakannya barusan.
Nadiya merasa ada yang janggal dari sikap itu.
Sekarang, setelah menyaksikan Andika yang asli
membantai Dimas Yang Satu Lagi dalam duel game aneh yang tidak dimengertinya,
Nadiya harus sedikit bersabar merasakan telinga pengang akibat Ainun tidak
berhenti ngoceh. Level ocehan yang cukup ingin membuat Nadiya menyumpal mulut
temannya pakai semen dan menenggelamkannya di kapal yang ditembak atas perintah
Menteri Susi (Nadiya mengira-ngira seperti apa sosok Menteri Susi di semesta
ini).
“...lagian coba kamu pikir, deh, Nad.
BailRaptor! BAILRAPTOR! Itu, kan, deck terkuat dia! Dan Andika baru aja
menghajar si Petew pas perempatfinal kemarin sampai koma! Padahal kamu tahu
sendiri Petew hebat banget, lawannya KO semua.” Cerocos Ainun, ketika mereka
kembali ke kelas.
Nadiya tidak begitu memerhatikan. Lagipula,
dia masih sedikit terguncang dengan fakta bahwa kelasnya memiliki ruang bawah
tanah yang tersambung dengan gudang samping masjid sekolah. Apa lagi kegilaan
sekolahnya di semesta ini?
“Lha ini dia kan cuma lawan Dimas pakai deck
yang sama. Dimas, lho, Dimas! Dia mah pakai deck paling cupu yang Andika punya
juga keok! Duh, beruntung banget Dimas gak kenapa-kenapa...”
“Dari mana kamu tahu Dimas gak kenapa-napa?”
tanya Nadiya, berusaha tetap bernada judes.
Ainun agak bergidik. “Kamu gak nonton pas Andika
bantai si Petew, sih, Nad. Kalau kamu lihat, ergh... kayaknya lapisan pengeras
suara di lapangan rusak semua gara-gara itu. Belum lagi pagar belakang
lapangan, tiang gawang sama pohon-pohon di sekitar sana. Ambruk semua! Tadi
Dimas cuma kelempar keras, tapi yah...”
Nadiya menelan ludah. Waduh. Apa si Andika
semesta ini psikopat? Tapi pas dia ngomong di retakan tadi asa gak gitu, ah.
Sama sarapnya kayak Andika asli.
“Dimas kan duelis cupu. Sama Fauzan aja lebih
sering kalah. Kenapa Andika pake deck terkuatnya? Kenapa?”
Nadiya mengedikkan bahu cuek. “Namanya juga
Andika. Siapa yang tahu apa yang dia pikirin?”
“Iya, sih, Nad, tapi...” Ainun kembali
nyerocos cepat sehingga Nadiya tidak lagi memerhatikannya.
Di kelas, anak-anak lain sudah beraktivitas
sebagaimana biasanya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa beberapa saat
sebelumnya. Nadiya mengerutkan kening. Tapi dia juga merasakan ada ketegangan
di udara. Seolah-olah ada bom yang siap meletus kapan saja kalau ada salah satu
dari mereka yang tidak sesuai skenario.
Berdasarkan sapuan mata ekstra kilatnya,
satu-satunya orang yang tidak tampak tegang adalah Jessica. Alih-alih, dia
tampak resah. Nadiya sangat memercayai Jurus Sapuan Kilatnya, walau Andika dan
Hasanah berulang kali mengkritiknya. Jadi, dia berasumsi ada apa-apa dengan
Jessica terhadap Andika Yang Satu Lagi.
Tapi kayaknya itu gak penting dipikirin
sekarang, kata Nadiya dalam hati.
Dia melengos duduk dan baru sadar bahwa Ainun
masih ngoceh di kursi di sebelahnya.
“...dia pasti masuk final. Kalau kamu ketemu
Andika di final, kira-kira dia bakalan kayak gitu juga, gak, Nad?”
Nadiya menoleh ke teman semejanya. “Final?”
“Iya. Kalau Petew udah gak ada lagi di
turnamen, ya berarti tinggal kamu doang saingan beratnya Andika. Kamu harus
kalahin dia, ya, Nad! Harus!” Ainun merajuk.
“Hei, hei, tunggu dulu!” sergah Nadiya. Apa
katanya? Aku saingannya Andika? Berarti aku...
Kali ini Nadiya agak panik. Dirinya Yang Satu
Lagi adalah peserta turnamen game antah berantah ini? Kalau bukan karena
dirinya biasa akting sejak ikut pentas drama pas kelas VII SMP, Nadiya sudah
panik luar biasa dan bisa jadi orang menyadari ada yang aneh dalam dirinya.
Sekarang saja, Ainun sedikit tertegun dengan sikapnya. Apalagi kalau dia salah
akting.
Pikirin... apa yang bakalan dikatakan
Nadiya Yang Satu Lagi? Nadiya membatin.
“Ehm,” Nadiya berdehem, sekalian mengatur
napas. Sembari berusaha tetap cuek-jutek, dia berkata, “Anak itu emang ngeselin
dan kadang-kadang bikin ngeri orang. Tapi, apa kamu pikir,” Nadiya menekankan
empat kata tadi, “kalau aku bakalan takut?”
Ainun gelisah. Beberapa anak X-1 lain menoleh
padanya sekilas sebelum kembali ke urusannya masing-masing.
“Ya enggak, sih, Nad. Tapi tetep aja...”
“Halah, si Andika, kan, CS-an sama aku. Ngapain
juga dia macem-macem?”
Ainun tertunduk, lalu mengangguk sedikit.
“Iya, sih...”
“Ya udah, gak usah kuatir gitu. Lebay ah.”
Kata Nadiya ketus.
Beberapa orang melirik Ainun, yang dibalas
lirikan ragu. Tidak ada yang berkata apa-apa, mereka segera kembali ke obrolan
masing-masing dengan tetap memelihara aura tegang. Nadiya sama sekali tidak
paham apa yang sedang terjadi. Tapi setidaknya, dia baru saja selamat dari
membuat orang curiga.
Malah justru dia yang curiga tentang apa yang
terjadi di kelasnya.
Andika kemudian memasuki kelas, kali ini
didampingi Prima Yang Satu Lagi. Nadiya melihat Prima yang ini nyaris tidak
berbeda dengan Prima yang dikenalnya di semesta asli. Selain pakaian yang
dipakainya di sekolah, tentu saja. Karena itu, Nadiya menganggap Prima Yang
Satu Lagi tidak akan mengalami masalah dengan Andika asli.
Andika melirik Nadiya sekilas, seolah mengirim
pesan Ada apa?
Nadiya mengetuk ponselnya dua kali. Andika
mengangkat alis, lalu duduk di kursinya. Dia dan Prima kemudian mulai ngobrol,
meski dari jauh kedengaran seperti orang yang saling sinis dan saling cela satu
sama lain. Ah, dasar mereka berdua.
Sekali lagi, Nadiya menggunakan Jurus Sapuan
Kilat dan menemukan bahwa sebagian anak X-1 melirik Andika dengan gelisah.
Kecuali Gita. Dia melirik Andika dengan tatapan benci.
Nadiya merasa ada yang aneh dari tatapan
kebencian Gita.
Smartphone Nadiya bergetar. Pesan dari Andika.
Woi, ada apaan?
Nadiya merenung sejenak, lalu membalas. Kamu
gak liat banyak yang aneh di kelas ini?
Selain bahwa anak-anak cowok kaget aku
minta maaf? Kagak.
Nadiya menepuk dahi. Duh, gak peka amat lu
jadi orang.
Emang :p
Padahal kamu yang liat ada yang aneh dari
anak-anak tadi
Well, anak-anak sini kayaknya gedeg banget
sama si Andika KW9, jadi aku susah liat bedanya di mana.
Seenak jidat aja lu ngomong KW9. Eh, betewe,
nanti kamu bantuin aku, ya!
Eh? Bantuin apaan?
Duh, aku baru tahu dari Ainun yang ini.
Ternyata aku versi semesta ini main game aneh yang kamu mainin itu, lho! Aku
gak ngerti sama sekali!
Andika melirik Nadiya, berusaha sebisa mungkin
untuk tidak tertawa.
Heh, jangan ketawa! Pokoknya bantuin! Aku
gak mau kita ketahuan gitu aja!
Iya, iya.
Sementara penampakan asli Andika masih susah payah menahan tawa. Rumahmu di
semesta ini masih sama, kan, dengan di semesta kita?
***
Sisa hari itu berjalan cukup lancar, terlepas
dari keterkejutan para guru kepada (lagi-lagi) cara berpakaian Nadiya.
Satu-satunya yang bereaksi paling normal adalah wali kelas mereka, Bu Tuti,
ketika mengajar Matematika. Bu Tuti terkesan dan menyelamati Nadiya untuk itu.
Soal gurunya sendiri, tidak ada perbedaan antara guru perempuan di semesta ini
dengan di semesta asli Nadiya. Soal pelajaran pun mirip sekali. Nadiya tidak
merasa kesulitan mengikutinya.
Nadiya terkesan dengan dirinya sendiri, bisa
menjalani hari di semesta asing dengan nyaris normal. Padahal awalnya tegang
dan bingung sekali. Dan takut. Barangkali karena dia berbakat jadi aktris,
meski dirinya sama sekali tidak punya niat untuk merambah dunia peran kalau
sudah lulus SMA.
Bubaran sekolah, Nadiya menolak ajakan Ainun
untuk jalan-jalan dulu ke Kota Sukabumi (yang benar saja, jam segini ke Kota?)
dan segera menghampiri Andika, yang tampaknya sedang berdebat serius dengan
Prima.
“...terlalu lemah. Dia gak layak ditunjukin
deck terkuatmu itu. Tahu sendiri pertandinganmu kemarin sama Petew itu final
prematur. Kang Pampam mah gak selevel sama Petew!”
“Gak ada cerita. Kalau dia melecehkan
BailRaptor-ku, gak ada toleransi. Biar dia rasakan sendiri—”
“Kamu mau bikin orang lain koma lagi?” potong
Prima.
“Itu tergantung seberapa parah dia bertingkah.
Kau tahu aku tidak pernah overkill tanpa alasan.”
“Iya, tahu, tapi tetap saja...”
“Hei, Prim, Dik,” Nadiya menyapa keduanya,
membuat mereka sadar akan kedatangannya.
“Eh, Nad. Gimana?” tanya Prima.
“Gimana apanya?”
“Soal si Kevin itu, lho. Mau diterima, gak?”
Nadiya merengut. Andika berdehem dengan nada
yang Nadiya kenal sebagai nada sindiran.
“Kirim ke tempat sampah saja.” Kata Nadiya
judes.
Prima terkikik. “Kirain bakalan kamu ajak
taruhan duel dulu.”
Nadiya mendengus. “Repot sekali.”
“Kamu gak pulang sekarang, Nad? Kalau enggak,
aku pulang duluan, ya. Sore latihan karate, nih.” Kata Prima, sembari
menyampirkan tas di bahunya.
“Enggak, aku masih ada urusan.” Jawab Nadiya.
“Ya udah.” Prima mengangkat bahu. “Duluan, ya,
Nad! Dik!”
“Mau ke Hasanah dulu?” tanya Andika, setelah
Prima berlalu.
“Ya iyalah! Masa’ kita tinggalin gitu aja?
Apalagi di tempat ini.” Nadiya menoleh ke sekeliling. “Aku ngerasa auranya
enggak enak.”
Andika mengangkat alis, dia menyampirkan tas
di bahunya. “Sadar juga akhirnya. Aku mikir apa ini gegara teknologi Solid
Vision, atau apapun namanya itu, tapi kayaknya dari orang-orangnya juga ada
masalah.”
“Kayak gimana?”
“Kecanduan. Kayak yang kubilang pas di
UKS. Gak semuanya kayak gitu, bahkan kesannya hilang pas duel selesai, tapi di
udara masih kerasa.”
Nadiya garuk-garuk kepala. “Bingung lah. Tar
kita pikirin lagi. Sekarang ke Hasanah dulu, ayo.”
Di UKS, Hasanah sudah terbangun, terduduk di
ranjang. Tapi dia kelihatan pucat dan gugup, sama sekali tidak kelihatan sehat.
“Dari tadi bangun dia enggak ngomong apa-apa,”
Mbak Asti masih di sana. “Sebenernya dek Hasanah kenapa, ya, dek Nadiya?”
“Biar kami urus.” Kata Andika dingin. Mbak Asti
tidak menjawab. Nadiya mengikuti Andika ke ranjang rawat, lalu menutup
kelambunya.
Menyadari kedua temannya datang, Hasanah baru
bicara. “Teman-teman... apa yang terjadi?”
“Ehm. Ceritanya panjang.” Kata Andika. “Tapi
intinya bisa dirangkum dalam satu kalimat. Bersikaplah seperti biasa.”
“Eh?” tanya Nadiya dan Hasanah berbarengan.
“Aku tadi ngobrol sama Prima KW9. Dari yang
kutangkap, kelakuan Hasanah KW9 relatif sama dengan kelakuanmu, Nah. Jadi,
enggak perlu pura-pura kayak aku dan Nadiya—hei, aktingmu bagus juga, Nad.”
Andika nyengir.
“Enak bener lu ngomong kelakuan.” Gerutu
Nadiya.
“Plus, Hasanah KW9 juga duelis. Sama denganku.
Dan Nadiya.” Andika melirik Nadiya. “Jadi, kupikir kalian harus belajar duel
kartu ini, biar enggak ketahuan kalau kita bukan Andika, Nadiya dan Hasanah
KW9.”
“Versi semesta ini, bukan KW9.” Protes Nadiya.
“Terserah. Yang jelas itu kuncinya. Bersikap
kayak biasa aja, Nah. Jangan kagetan, jangan banyak tanya. Banyak banget yang
beda di semesta ini dibanding semesta kita, tapi bersikaplah senormal
mungkin.”
“Ai kamu gimana, sih, baru juga bangun udah
dicecar kayak gitu.” Kata Nadiya, sebal.
“Enggak apa-apa, Nad. Aku... cuma bingung
aja...” kata Hasanah. Jemarinya diketuk-ketukkan ke punggung telapak tangan
kirinya. “Makanya tadi aku enggak berani ngomong ke Teh Asti... Takutnya...
takutnya aku salah.”
“Udah bagus gitu. Sekarang kamu tahu
situasinya, jadi kamu tahu harus ngapain. Udah baikan, btw?” tanya Andika.
Hasanah mengangguk.
“Kalau gitu, kita ke rumah Nadiya sekarang.”
***
Benar saja, rumah Nadiya di semesta ini berada
di daerah yang sama dengan rumahnya di semesta asli. Ketika ibunya (atau ibu
Nadiya Yang Satu Lagi) melihat Nadiya berpakaian tertutup ketika masuk rumah,
beliau nyaris histeris dan memeluk erat anaknya (atau yang diduga sebagai
anaknya).
“Nadiya, alhamdulillah.... kamu bisa pakai ini
juga, nak, akhirnya? Duh, kesayangan ibu.” Nadiya mendapat kecupan di kedua
pipinya dari sang ibu, yang masih mengenakan seragam PNS guru dan—agar diluar
dugaan—berkerudung. Andika dan Hasanah yang berdiri di belakang Nadiya cuma
tertegun, canggung.
“Perasaan tadi pagi kamu gak pakai baju ini,
deh, sayang? Kok pulang-pulang...” lalu ibu Nadiya menyadari keberadaan Hasanah
dan Andika. “Eh, ada teman-temannya Nadiya. Aduh, maaf... Ibu kaget banget,
lho, ini, sama Nadiya. Sampai gak sadar ada kalian, hehe. Maaf, ya!”
Andika melirik Hasanah, yang masih gugup. “Eh,
iya, bu, enggak apa-apa, kok.”
“Ayo, ayo, masuk dulu! Sini, Nad, nanti ibu
kasih tahu ayah dulu!”
Nadiya merasa lebih canggung lagi dari kedua
temannya. Rumah ini sama persis dengan rumahnya. Penampakan ibunya pun bisa
dibilang sama persis dengan ibunya yang asli—dengan pengecualian bahwa badge
di bahu seragam ibu Nadiya Yang Satu Lagi menunjukkan bahwa dia mengajar di
SMPN 2 Cibadak, bukan SMPN 1.
Tapi, tetap saja, Nadiya merasa agak asing.
Rumah yang bukan rumahnya, ibu yang bukan ibunya... Nadiya hampir bisa
merasakan keanehan yang dialami Hasanah sebelum mereka nyasar di sini.
Ibu Nadiya Yang Satu Lagi menyuguhkan makanan
ringan dan minuman dingin. Selagi menyantapnya, Andika menyampaikan karangannya
soal kenapa Nadiya mendadak berpakaian seperti itu, dengan Hasanah sesekali
mencicit dengan detail-detail kecil untuk mendukung karangan itu. Ibu Nadiya
Yang Satu Lagi mendengarkan dengan antusias.
“Wah, alhamdulillah, ternyata kegagalan
eksperimen itu bisa bikin Nadiya pakai pakaian menutup aurat.” Kata Ibu Nadiya,
tersenyum lebar. “Tapi kamu gak apa-apa, kan, Nadiya sayang? Pasti gak akan
temporer, lah, ya, kan kamu sudah bersedia!”
Nadiya melirik Andika dan Hasanah sekilas.
Andika mengedikkan bahu sedikit, sementara Hasanah mengangguk.
“Iya, bu. Kayaknya Nadiya bakalan tetap
pakai.”
Perasaan sumringah ibu Nadiya Yang Satu Lagi
sedikit membuat Nadiya merasa bersalah. Kalau Nadiya yang satu lagi tahu,
gimana jadinya? Apa yang harus dilakukannya? Pemikiran itu membuat Nadiya
teringat sesuatu yang mengganjalnya sejak tadi.
Karena itu, Nadiya pamit mengajak kedua
temannya ke kamarnya. Ibu Nadiya membawakan mereka setoples kue kering dan
seteko sirup dingin untuk mereka. Saat pintu kamarnya—yang lagi-lagi nyaris
sama dengan kamar aslinya di semesta bumi—tertutup, Nadiya baru merasa agak
lega.
“Jadi,” Andika duduk di kursi belajar Nadiya
yang bisa diputar-putar—salah satu hal yang membedakan kamarnya dengan kamar
Nadiya Yang Satu Lagi. “Mau mulai dari mana?”
“Gini, deh. Aku tadinya mau minta ngajarin
gimana cara mainin game absurd yang kamu mainin tadi. Tapi sebelumnya, aku
perlu memperjelas dulu, yang mana kita semua kayaknya mesti tahu dulu.”
Andika mengangkat alis. Hasanah, yang duduk di
pinggiran kasur Nadiya, menatap dirinya penuh tanda tanya.
“Kita mau ngapain di sini? Di semesta ini?”
tanya Nadiya. “Kenapa kita harus tetap di sini alih-alih balik ke semesta
kita?”
Hening sejenak. Andika mengusap-usap dagu,
sembari menatap Nadiya dengan tatapan dingin yang sedikit banyak membuatnya
tidak nyaman.
“Nad...” Hasanah memecah keheningan. “Aku mau
menolong mereka. Aku mau menolong kita yang satu lagi.”
“Menolong.” Nadiya menghela napas. “Tapi
gimana, Nah?”
“Pertanyaannya bukan gimana, tapi kenapa.” Kata Andika. “Itu memang tujuan
kita, menolong mereka. Pertanyaannya bukan gimana kita menolong mereka,
tapi kenapa. Apa alasan kita harus menolong mereka. Itu yang harusnya kamu
tanya, Nad.”
“Ya, ya, terserah kamu, Dik. Jadi apa
alasannya? Kenapa?”
“Aku enggak tahu kalau Hasanah. Kalau aku
begini. Pertama, kita sudah berada di sini. Kedua, kita enggak bisa kembali.
Retakannya sudah hilang, dan kayaknya merekalah yang tahu gimana caranya
membuat portal antar semesta. Ketiga, sekalipun aku bisa membuat portal antar
semesta, aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi kalau misalnya kita enggak
menolong mereka. Ingat, retakan sudah muncul di mana-mana. Bahkan Jessica
mastiin kalau dia lihat—hei, Nad.”
“Apa?” Nadiya berusaha seminimal mungkin untuk
menyembunyikan cengirannya.
Andika mendengus. “Gak. Intinya, retakan itu
sudah sampai semesta kita. Kalaupun kita balik begitu saja, aku ngerasa
retakan-retakan itu bahaya. Lagian kan si Andika KW9 itu sendiri yang bilang
kalau mesin itu yang bikin retakan di fabrik antar semesta. Berdasarkan semua
tontonanku di Doctor Who dan novel-novel fiksi ilmiah yang kubaca, aku yakin
ini bukan pertanda baik. Gimana kalau misalnya retakan itu berbahaya buat
semesta kita?”
“Masuk akal.” Nadiya menghela napas. “Gimana
menurutmu, Nah?”
“Aku... eh, kayaknya pikiranku sama kayak
Dika. Aku ngerasa udara di sekitar tempat retakan itu emang gak normal... aku
takut kalau misalnya...”
“Oke, aku paham. Tapi gimana soal waktu?”
“Ya kamu tahu sendiri aliran waktu di sini
lebih lambat daripada di sana.” Kata Andika. “Kayu dimasukkin ke lubang retakan
kemarin, kita kontak-kontakkan hari ini, tahu-tahu si Andika KW9 bilang kayunya
baru masuk 10 menit.”
“Iya, sih...”
“Nah, kalau udah sepakat soal alasan kenapa
kita tetap di sini, berarti kita beranjak ke pertanyaan kedua, gimana.”
Andika mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah mesin aneh yang digunakan
para pemain game. Tapi punya Andika sedikit berbeda, papan panjangnya
teriluminasi biru gelap alih-alih merah, dan bentuknya jajargenjang alih-alih
persegi panjang.
“Ini senjatanya para duelis. Namanya Duel
Disc. Nama permainannya Power Gladiator. Di semesta kita, ini game duel kartu
Yu-Gi-Oh. Aku yakin kalian gak tahu. Kalaupun pernah denger, paling cuma gegara
kartun yang kalian tonton pas SD.”
Nadiya dan Hasanah bertukar pandang.
“Semesta ini memiliki teknologi lebih canggih
daripada semesta kita. Semua yang cuma khayalan dalam mekanisme game Yu-Gi-Oh!
Duel Monsters jadi nyata di sini. Solid Vision, Duel Disc, bahkan sampai
kerusakan nyata. Itu agak mengerikan, emang, buat sebagian orang. Buatku
enggak, malah asyik banget. Cuman...” Andika termenung.
“Apa?” tuntut Nadiya.
“Apa tujuan dari bikin Solid Vision secara
literal? Solid. Padat. Kerusakannya nyata. Padahal dibuat seperti
Yu-Gi-Oh! era Duel City juga gak masalah. Cuma gambar hologram doang.”
“Er... Maaak-suuud-nyaaaa?”
“Intinya adalah, game ini gak wajar.” Andika
menaruh Duel Disc di meja belajar Nadiya. “Pertama bikin kecanduan, kedua
menggunakan gambar holografis padat. Aku ngerasa gak begitu menyukai game ini
sebagaimana aku kira pas awal-awal kita sampai.”
“Jadi...” Nadiya melipat kedua tangannya,
mengetuk-ngetukkan kaki di lantai. “Kamu mau main game itu sebagai cara
penyelidikan?”
“Tepat. Aku masih belum tahu beberapa detail
tentang turnamen ini dan pihak-pihak terkait. Dalam hal ini penyelenggara
turnamen.”
“Siapa?”
“REND Corporation...” ucap Hasanah pelan.
Kedua temannya menoleh.
“Ah, maaf. Aku lupa kamu masih di sini, Nah.”
Kata Andika cuek.
“Itu yang menyelenggarakan turnamen, kan? Yang
bikin permainan mengerikan itu?” tanya Hasanah.
“Ya.” Andika menunjukkan logo di bawah papan
panjang Duel Disc-nya. “REND Corporation. Perusahaan game terkemuka. Kalian
tahu apa? REND Corporation itu perusahaan lokal. Indonesia. Atau Indonesia KW9,
apalah.”
“Wah, beneran, Dik?” tanya Nadiya.
“Tapi itu gak penting.” Andika menaruh kembali
Duel Disc-nya. “Yang penting adalah, dengan terus berduel, aku bisa ngorek
info. Kalian juga mesti ngorek info soal REND Corporation. Prima dari tadi
nyebut-nyebut perusahaan itu dengan nada gak enak, kayak yang gak suka. Nah,
supaya kalian bisa ikut ngorek info, kalian mesti belajar duel kayak aku.”
Nadiya mengeluh gusar. “Repot, ya.”
“Ya mau gimana lagi? Kalau gak gitu, bakalan
gawat. Kita gak tahu apa yang akan terjadi kalau kita ketahuan. Bahwa kita
bukan Andika, Nadiya dan Hasanah KW9. Bahwa kita dari semesta lain.”
“Teman-teman, soal itu...” Hasanah tidak
menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa, Anah?” tanya Nadiya.
Hasanah memuntir ujung kerudungnya, gelisah.
“Kalau REND Corporation sampai melihat kita, apa yang akan terjadi? Padahal,
kan, kita yang satu lagi sudah ditangkap oleh mereka?”
(bersambung)


0 comments:
Post a Comment