Saturday, 9 December 2017

The Crest of Five, Episode 5



Pukul empat lewat lima puluh delapan. Maribel dengan terengah-engah berlari menaiki tangga menuju ruangan Professor Morello dan menekan bel di depan pintunya. Sambil mengatur nafas, Maribel menunggu pintu terbuka.
Sepuluh detik kemudian, pintu masih tertutup.
Keheranan, Maribel menekan bel lagi dan kembali menunggu. Setengah menit berlalu, pintu masih saja tertutup. Maribel mulai panik.
“Aduh... Kemana Professor Morello? Tidak biasanya dia lama begini,” gumamnya gelisah. Dia membenarkan pita ungu muda yang menghiasi rambutnya, tanpa melepaskan mata dari pintu ruangan. “Masa’ nggak lagi di dalam?”
Bel sekolah berdentan tanda pukul lima. Maribeth terlonjak dan spontan menekan bel berulang-ulang. Keringat dingin mengalir di tengkuknya.
“Aduh... sepertinya benar-benar sedang di luar...” ujarnya pada akhirnya, setelah pencetan kesepuluh belnya tidak juga menunjukkan respon. Dia memutuskan untuk menghubungi Professor Morello, tapi panggilan iTelph-nya juga tidak diangkat. Perasaan aneh merasuki Maribel. Ada apa dengan Professor Morello? Tidak biasanya dia mengabaikan panggilan telepon dari siswanya. Sebagaimana tidak biasanya dia meninggalkan ruangan tanpa memberi petunjuk pada siswanya bagaimana caranya mengumpulkan tugas. Maribel mulai berpikiran aneh kalau ketiadaan Professor Morello di ruangannya adalah jebakannya untuk menguji anak-anak Kompas, atau dia mendadak pindah ruangan ke Koridor Timur.
Lima menit berlalu, tidak juga ada tanda-tanda kemunculan Professor Morello.
Suasana lantai dua Koridor Selatan kini terasa mencekam. Maribel jadi satu-satunya orang yang berada di sana. Ruangan Professor Barness dan Professor Suprapti di sampingnya tentu sudah ditinggalkan penghuninya—kegiatan pembelajaran normal berakhir pukul tiga. Panik dan agak bergidik, Maribel berlari kembali ke taman dan terpeleset jatuh di dekat Mudiwa.
Oh, mee dear Maribel, wot arr ya duin’? Kok tergesa-gesa banget? Dikejar fans dirimu kah?” tanya Mudiwa dengan nada dramatis dipaksakan. Maribel meringis dan berdiri, menepuk-nepuk rok ungu dan stocking hitamnya yang kotor.
“Fans apanya? Nggak ada orang sama sekali di sana!” kata Maribel, menunjukkan Kertas Memori di tangannya. Sorot matanya masih agak panik. “Ruangan terkunci, dan iTelph Professor Morello nggak diangkat. Ini nggak biasa, aku khawatir... aku...”
Apapun yang ingin dikatakan Maribel, dia tidak menyelesaikannya, hanya menggigit bibirnya. The Epic, The Dream Team dan The Great M terdiam, menyimpan puluhan keheranan dalam kepalanya masing-masing.
“Aneh. Apa mungkin Professor tertidur di perpustakaannya?” tanya Morena.
“Atau mungkin sedang luluran untuk mempercantik kulit,” sahut Mudiwa.
“Dia nggak pernah luluran,” ketus Morena.
“Oh, shut up, dipshit.” sela Clark. “Dan kau kembali, Maribel? Bukannya menunggu? Siapa tahu Professor memang benar-benar tertidur.”
“Atau sudah pulang,” timpal Kazuki.
“Jangan bodoh, kalian berdua. Professor Morello bukan orang seperti itu. Kalian tahu kan betapa ketatnya dia masalah tugas? Dia orang yang benar-benar tegas dan bukan orang yang mudah lalai—agak paranoid malah, kalau boleh kubilang. Nggak mungkin dia lupa memasukkan tugas ini ke agenda-yang-harus-diingatnya-dalam-waktu-dekat.” bantah Nia.
“Aku tidak meminta pendapatmu, anak kecil.” balas Kazuki dingin.
“Ngomong apa tadi?” sahut Nia, nadanya meninggi.
“Sudah!” Walter menengahi. “Nia ada benarnya. Professor Morello yang kita tahu memiliki segala macam alarm serta pengingat untuk memastikannya dan para siswanya tidak lalai dalam segala sesuatu. Kalau Professor Morello pernah ceroboh seperti ini sekali saja dalam karirnya, aku akan memakan sepatuku.”
Clark membisikkan sesuatu pada Kazuki, dan keduanya terkikik.
“Lalu kita harus apa, Walter?” tanya Maribel.
Walter menggigit bibirnya sejenak. “Sementara ini tidak ada. Sudah sesore ini, tidak ada guru yang menoleransi keterlambatan lebih dari lima menit. Setidaknya, kita punya alasan kalau besok Professor Morello menanyakannya. Kau saja yang bawa Kertas Memori itu.”
Maribel bertukar pandang dengan ketiga Great M lain, lalu mengangguk. Mereka beranjak pergi. The Dream Team dan The Epic, sementara itu, masih berdiam diri.
“Apa yang kau pikirkan, Mata Empat?” tanya Walter pada Niels.
Niels mengernyit. “Aku benci mengakuinya, tapi rasanya sama dengan yang kau pikirkan.”
Walter menghela nafas gusar. “Ini menambah rentetan keanehan tugas Underworld Citron yang diberikannya. Taruhan uang sakuku bulan depan bahwa ini semua ada apa-apanya.”
Matanya dan mata Niels beralih ke salinan tulisan tentang Underworld Citron dan simbol yang menyertainya di layar iComp Clark. Keduanya menyimpulkan tidak ada yang terlalu aneh dari info yang ada di sana, selain ketidaklogisan di satu atau dua hal dan topik yang diambil.
Tapi simbol itu paling mengganggu mereka.
***
Nyaris tidak ada orang di sepanjang koridor kelas Tingkat Tiga, Klaster Sains. Hanya ada sepasang siswa-siswi yang asyik bermesraan di depan kelas Reiga, dan Professor Urquhart mengusirnya serta memasukkan nama mereka dalam catatan pelanggaran sekolah. Tanpa melirik lagi ke dua anak yang berlari ketakutan itu, Professor Urquhart mempercepat langkahnya ke kelas Kompas yang berada di ujung koridor, meski dia sendiri meragukan kalau di dalamnya masih ada orang.
Namun, baru mencapai depan pintu kelas Nasa, terdengar bunyi bip dari dalam saku jubahnya. Professor Urquhart berhenti, merasa terganggu, lalu masuk ke dalam kelas Nasa yang ternyata sudah kosong. Dia mengeluarkan jam saku perunggunyayang berbunyi dan membuka cangkangnya, menampilkan sebuah jam analog kuno dengan angka-angka Romawi. Jarinya menyentuh angka 2, lalu layar delapan inci termaterialisasi di atas jam itu. Sebuah pesan terbuka, di sudut kiri atasnya, tertera tulisan kecil “Darurat”.
Demi membaca isinya, jantung Professor Urquhart terasa seperti terkena kejutan listrik. Matanya menyipit dan rahangnya mengeras.
“Ah...” gumamnya.
***
Kalau bukan karena yang menemuinya di depan pintu adalah Professor Markovic, Professor Delaware sudah sampai di ruangan Professor Morello sekarang.
“...dan saya kira tindakan Pablo Suarez ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Menganggap menggigiti semua orang itu adalah lelucon? Professor Yukishiro mengatakan bekas gigitan Suarez di bahunya belum hilang sampai saat ini!” seru Professor Markovic berapi-api.
“Yah, dia bisa menghubungi Silvana atau Sabilah, kalau perlu. Mereka tentu bisa membuat ramuan penghilang bekas luka yang ampuh. Tapi saya kira dr. Dwi Indah sudah cukup,” timpal Professor Delaware malas. Jemarinya memijit-mijit pelipisnya. “Lagipula, apa pembicaraan soal ini tidak bisa ditunda sampai besok? Waktu seperti ini jelas bukan saat yang baik untuk membicarakan kegilaan seorang siswa.”
“Maaf, Kepala Sekolah, tapi Anda harus mempertimbangkan memberikan sanksi padanya! Bahkan Mindaugas Staponka dari kelas Artesis mengatakan kalau perilaku teman sekelasnya, Matteo Malaccari, menjadi aneh sejak Pablo Suarez menggigitnya!”
Professor Delaware nyaris kehilangan kesabaran. Nadanya agak meninggi. “Edis, tentunya kau tidak cukup bodoh untuk mempercayai perkataan seperti itu dari seorang siswa, bukan? Apalagi dari Mindaug—”
Bunyi bip dari balik lengan jubah Professor Delaware menyelanya dari menyelesaikan perkataannya. Keheranan, dia melengos begitu saja ke dalam ruangannya dan menyentuh lampu yang berkedip-kedip di sudut kiri atas gelangnya—kali ini berkedip merah alih-alih hijau, tanda pesan darurat. Saat membaca isi pesan yang terproyeksi di atas gelangnya, Professor Delaware merasa baru saja tenggelam ke dalam kawah gunung berapi. Seluruh sarafnya seolah meleleh. Dia merosot ke kursi di sampingnya, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya berusaha tidak memercayai apa yang dibacanya, bahwa matanya mungkin salah baca, atau pesan itu mungkin hanya kerjaan iseng. Tapi tentu saja pesan itu asli, tidak ada yang tahu mengenai jalur koneksinya, dan matanya jelas belum butuh kacamata.
“Tidak... kenapa...” gumamnya lemah. Dia terduduk lama di situ, panggilan Professor Markovic di luar ruangannya sama sekali diabaikan.

***

0 comments:

Post a Comment