Pukul
empat lewat lima puluh delapan. Maribel dengan terengah-engah berlari menaiki
tangga menuju ruangan Professor Morello dan menekan bel di depan pintunya.
Sambil mengatur nafas, Maribel menunggu pintu terbuka.
Sepuluh
detik kemudian, pintu masih tertutup.
Keheranan,
Maribel menekan bel lagi dan kembali menunggu. Setengah menit berlalu, pintu
masih saja tertutup. Maribel mulai panik.
“Aduh...
Kemana Professor Morello? Tidak biasanya dia lama begini,” gumamnya gelisah.
Dia membenarkan pita ungu muda yang menghiasi rambutnya, tanpa melepaskan mata
dari pintu ruangan. “Masa’ nggak lagi di dalam?”
Bel
sekolah berdentan tanda pukul lima. Maribeth terlonjak dan spontan menekan bel
berulang-ulang. Keringat dingin mengalir di tengkuknya.
“Aduh...
sepertinya benar-benar sedang di luar...” ujarnya pada akhirnya, setelah
pencetan kesepuluh belnya tidak juga menunjukkan respon. Dia memutuskan untuk
menghubungi Professor Morello, tapi panggilan iTelph-nya juga tidak diangkat.
Perasaan aneh merasuki Maribel. Ada apa dengan Professor Morello? Tidak
biasanya dia mengabaikan panggilan telepon dari siswanya. Sebagaimana tidak
biasanya dia meninggalkan ruangan tanpa memberi petunjuk pada siswanya
bagaimana caranya mengumpulkan tugas. Maribel mulai berpikiran aneh kalau
ketiadaan Professor Morello di ruangannya adalah jebakannya untuk menguji
anak-anak Kompas, atau dia mendadak pindah ruangan ke Koridor Timur.
Lima
menit berlalu, tidak juga ada tanda-tanda kemunculan Professor Morello.
Suasana
lantai dua Koridor Selatan kini terasa mencekam. Maribel jadi satu-satunya
orang yang berada di sana. Ruangan Professor Barness dan Professor Suprapti di
sampingnya tentu sudah ditinggalkan penghuninya—kegiatan pembelajaran normal
berakhir pukul tiga. Panik dan agak bergidik, Maribel berlari kembali ke taman
dan terpeleset jatuh di dekat Mudiwa.
“Oh, mee dear Maribel, wot arr ya duin’?
Kok tergesa-gesa banget? Dikejar fans dirimu kah?” tanya Mudiwa dengan nada
dramatis dipaksakan. Maribel meringis dan berdiri, menepuk-nepuk rok ungu dan
stocking hitamnya yang kotor.
“Fans
apanya? Nggak ada orang sama sekali di sana!” kata Maribel, menunjukkan Kertas
Memori di tangannya. Sorot matanya masih agak panik. “Ruangan terkunci, dan
iTelph Professor Morello nggak diangkat. Ini nggak biasa, aku khawatir...
aku...”
Apapun
yang ingin dikatakan Maribel, dia tidak menyelesaikannya, hanya menggigit
bibirnya. The Epic, The Dream Team dan The Great M terdiam, menyimpan puluhan
keheranan dalam kepalanya masing-masing.
“Aneh.
Apa mungkin Professor tertidur di perpustakaannya?” tanya Morena.
“Atau
mungkin sedang luluran untuk mempercantik kulit,” sahut Mudiwa.
“Dia
nggak pernah luluran,” ketus Morena.
“Oh,
shut up, dipshit.” sela Clark. “Dan
kau kembali, Maribel? Bukannya menunggu? Siapa tahu Professor memang
benar-benar tertidur.”
“Atau
sudah pulang,” timpal Kazuki.
“Jangan
bodoh, kalian berdua. Professor Morello bukan orang seperti itu. Kalian tahu
kan betapa ketatnya dia masalah tugas? Dia orang yang benar-benar tegas dan
bukan orang yang mudah lalai—agak paranoid malah, kalau boleh kubilang. Nggak
mungkin dia lupa memasukkan tugas ini ke
agenda-yang-harus-diingatnya-dalam-waktu-dekat.” bantah Nia.
“Aku
tidak meminta pendapatmu, anak kecil.” balas Kazuki dingin.
“Ngomong
apa tadi?” sahut Nia, nadanya meninggi.
“Sudah!”
Walter menengahi. “Nia ada benarnya. Professor Morello yang kita tahu memiliki
segala macam alarm serta pengingat untuk memastikannya dan para siswanya tidak
lalai dalam segala sesuatu. Kalau Professor Morello pernah ceroboh seperti ini
sekali saja dalam karirnya, aku akan memakan sepatuku.”
Clark
membisikkan sesuatu pada Kazuki, dan keduanya terkikik.
“Lalu
kita harus apa, Walter?” tanya Maribel.
Walter
menggigit bibirnya sejenak. “Sementara ini tidak ada. Sudah sesore ini, tidak
ada guru yang menoleransi keterlambatan lebih dari lima menit. Setidaknya, kita
punya alasan kalau besok Professor Morello menanyakannya. Kau saja yang bawa
Kertas Memori itu.”
Maribel
bertukar pandang dengan ketiga Great M lain, lalu mengangguk. Mereka beranjak
pergi. The Dream Team dan The Epic, sementara itu, masih berdiam diri.
“Apa
yang kau pikirkan, Mata Empat?” tanya Walter pada Niels.
Niels
mengernyit. “Aku benci mengakuinya, tapi rasanya sama dengan yang kau
pikirkan.”
Walter
menghela nafas gusar. “Ini menambah rentetan keanehan tugas Underworld Citron
yang diberikannya. Taruhan uang sakuku bulan depan bahwa ini semua ada
apa-apanya.”
Matanya
dan mata Niels beralih ke salinan tulisan tentang Underworld Citron dan simbol
yang menyertainya di layar iComp Clark. Keduanya menyimpulkan tidak ada yang
terlalu aneh dari info yang ada di sana, selain ketidaklogisan di satu atau dua
hal dan topik yang diambil.
Tapi
simbol itu paling mengganggu mereka.
***
Nyaris
tidak ada orang di sepanjang koridor kelas Tingkat Tiga, Klaster Sains. Hanya
ada sepasang siswa-siswi yang asyik bermesraan di depan kelas Reiga, dan
Professor Urquhart mengusirnya serta memasukkan nama mereka dalam catatan
pelanggaran sekolah. Tanpa melirik lagi ke dua anak yang berlari ketakutan itu,
Professor Urquhart mempercepat langkahnya ke kelas Kompas yang berada di ujung
koridor, meski dia sendiri meragukan kalau di dalamnya masih ada orang.
Namun,
baru mencapai depan pintu kelas Nasa, terdengar bunyi bip dari dalam saku jubahnya. Professor Urquhart berhenti, merasa
terganggu, lalu masuk ke dalam kelas Nasa yang ternyata sudah kosong. Dia
mengeluarkan jam saku perunggunyayang berbunyi dan membuka cangkangnya,
menampilkan sebuah jam analog kuno dengan angka-angka Romawi. Jarinya menyentuh
angka 2, lalu layar delapan inci termaterialisasi di atas jam itu. Sebuah pesan
terbuka, di sudut kiri atasnya, tertera tulisan kecil “Darurat”.
Demi
membaca isinya, jantung Professor Urquhart terasa seperti terkena kejutan
listrik. Matanya menyipit dan rahangnya mengeras.
“Ah...”
gumamnya.
***
Kalau
bukan karena yang menemuinya di depan pintu adalah Professor Markovic,
Professor Delaware sudah sampai di ruangan Professor Morello sekarang.
“...dan
saya kira tindakan Pablo Suarez ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Menganggap
menggigiti semua orang itu adalah lelucon? Professor Yukishiro mengatakan bekas
gigitan Suarez di bahunya belum hilang sampai saat ini!” seru Professor
Markovic berapi-api.
“Yah,
dia bisa menghubungi Silvana atau Sabilah, kalau perlu. Mereka tentu bisa
membuat ramuan penghilang bekas luka yang ampuh. Tapi saya kira dr. Dwi Indah
sudah cukup,” timpal Professor Delaware malas. Jemarinya memijit-mijit
pelipisnya. “Lagipula, apa pembicaraan soal ini tidak bisa ditunda sampai besok?
Waktu seperti ini jelas bukan saat yang baik untuk membicarakan kegilaan
seorang siswa.”
“Maaf,
Kepala Sekolah, tapi Anda harus mempertimbangkan memberikan sanksi padanya!
Bahkan Mindaugas Staponka dari kelas Artesis mengatakan kalau perilaku teman
sekelasnya, Matteo Malaccari, menjadi aneh sejak Pablo Suarez menggigitnya!”
Professor
Delaware nyaris kehilangan kesabaran. Nadanya agak meninggi. “Edis, tentunya
kau tidak cukup bodoh untuk mempercayai perkataan seperti itu dari seorang
siswa, bukan? Apalagi dari Mindaug—”
Bunyi
bip dari balik lengan jubah Professor
Delaware menyelanya dari menyelesaikan perkataannya. Keheranan, dia melengos
begitu saja ke dalam ruangannya dan menyentuh lampu yang berkedip-kedip di
sudut kiri atas gelangnya—kali ini berkedip merah alih-alih hijau, tanda pesan
darurat. Saat membaca isi pesan yang terproyeksi di atas gelangnya, Professor Delaware
merasa baru saja tenggelam ke dalam kawah gunung berapi. Seluruh sarafnya
seolah meleleh. Dia merosot ke kursi di sampingnya, sekujur tubuhnya bergetar
hebat. Pikirannya berusaha tidak memercayai apa yang dibacanya, bahwa matanya
mungkin salah baca, atau pesan itu mungkin hanya kerjaan iseng. Tapi tentu saja
pesan itu asli, tidak ada yang tahu mengenai jalur koneksinya, dan matanya
jelas belum butuh kacamata.
“Tidak...
kenapa...” gumamnya lemah. Dia terduduk lama di situ, panggilan Professor
Markovic di luar ruangannya sama sekali diabaikan.
***


0 comments:
Post a Comment