Tuesday, 5 December 2017

The Hunting Game, Episode 6

The Hunting Game, Episode 6
Andika bisa beradu fisik dengan anak-anak SMK di seberang sekolahnya. Dia tidak kerepotan menghajar preman yang mencari masalah di lingkungan rumahnya. Dia juga tidak takut menghardik siswa kelas XII yang membuatnya sebal. Bahkan, dia pernah membuat kelas XI IPS 4 dihujani kembang api dan petasan yang meledak di nyaris seluruh tempat saat mata pelajaran Matematika berlangsung dan membuat ramai seantero sekolah, tanpa terdeteksi sama sekali bahwa dia adalah pelakunya.
Tapi, dia selalu canggung setiap saat berhadapan dengan Jessica.
Versi Jessica ini berseragam pendek, yang (lagi-lagi) sudah diperkirakan juga oleh Andika. Selain itu, penampilannya sama persis; wajah yang sedikit punya kesan oriental (meski dia tidak punya keturunan asing sama sekali), kacamata half-frame tebal menggantung di hidungnya dan rambut lurusnya menjuntai sampai bahu. Persis seperti gambaran Jessica waktu MOS. Kecuali bahwa Jessica yang satu ini tampak terkejut ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Andika. Dengan refleks secepat Usain Bolt, dia menunduk dan beringsut gelisah.
Andika sama sekali tidak mempersiapkan untuk yang satu ini.
“Ma—maaf, Andika…” cicitnya pelan, sama sekali menghindari tatapan cowok itu.
Otak Andika dipaksa berpikir jauh lebih cepat dari biasanya untuk berpikir bagaimana caranya merespon secara alami. Kali ini, dia kembali bertaruh dengan jawabannya.
“Apa kau selalu harus meminta maaf seperti itu? Kau bahkan belum meledakkan kelas IPS 4 dengan ratusan petasan.”
Diluar dugaan, bibir Jessica mengulaskan senyum malu. Tipis, nyaris tak kentara bagi yang lain, tapi jelas sekali baginya. Jantung Andika berdegup makin kencang. Sangat sulit mencari momen Jessica asli mau tersenyum padanya, dan yang ini mengulaskannya dalam pertemuan pertama.
“Iya, Andika, maaf—eh!” Jessica membungkam mulutnya, kaget atas yang diucapkannya, lalu buru-buru pergi.
Dalam hati, Andika berteriak, Jangan pergi dulu, Jes! Sini dulu! Tapi yang dilakukannya hanya menatap teman sekelasnya itu sampai dia duduk di kursinya. Ratih, melirik sekilas ke Andika, menanyai Jessica sesuatu. Mudah-mudahan bukan terkait aku. Pikir Andika, meski dia sama sekali tidak yakin. Hal itu dipastikan dengan lirikan sebal Ratih padanya, yang ketika dibalas tatapan dingin Andika, langsung berpaling ketakutan.
Matanya masih menatap Jessica beberapa saat, memerhatikan sosoknya lebih lama. Tiap detik yang berlalu rasanya terlalu cepat saat memandang cewek yang mengganggu perhatiannya sejak MOS itu. Andika tidak pernah tahu apa yang benar-benar menarik dari diri Jessica. Gadis itu bukan yang paling cerdas; posisi itu diperebutkan oleh Hasanah, Nadiya dan tentu saja Andika sendiri. Dia juga bukan yang paling cantik; Halida jelas-jelas jauh lebih unggul darinya. Lantas apa? Andika sama sekali tidak mampu menjawabnya, dan makin kesini dia makin malas memikirkannya. Ya sudah, mau gimana lagi?
Mendadak Jessica melirik Andika, seolah sadar dirinya diperhatikan terus. Pandangan mereka kembali bertemu dalam sekian milidetik sebelum Andika berpaling ke sebelahnya, yaitu Gita (yang kembali membuang muka, sampai Andika yakin anak itu akan mematahkan lehernya kalau seperti itu tiap hari), sembari menjaga ekspresi dingin sebisa mungkin (walau sejak tadi ingin tersenyum lebar dan melompat-lompat gembira).
Lumia bergetar lagi. Pesan dari Nadiya.
CIYEEE CIYEEE NGELIATIN JEJE MULUUUU! BENER KAN NAKSIRRR??? XP
Andika melirik Nadiya, yang sudah tidak dikerumuni terlalu banyak orang. Dimas dan Fauzan sudah kembali ke meja mereka, kartu-kartu bertebaran di atasnya. Arbiarso masih menjaili Ainun, Ryan Gusti masih coba mendekati Nadiya (sayangnya dicueki). Menyadari lirikan temannya, Nadiya nyengir sarkastik. Andika membuat gestur mencela dengan jari tengahnya.
Namun, pemandangan Dimas dan Fauzan di belakang sedikit mengganggunya. Kartu-kartu itu. Di mana Andika KW9 menyimpannya?
Tas Andika KW9 teronggok di kolong meja. Andika menariknya keluar—model yang sama persis dengan miliknya. Berat, tapi Andika yakin isinya bukan buku pelajaran. Benar saja, saat dibuka, di dalamnya ada perangkat duel—mesin yang dipakaikan di tangan dan beberapa kotak kartu. Andika menarik mesinnya keluar. Benda itu warnanya perak mengkilap dengan sedikit gradasi biru tua pada garis-garisnya, termasuk di tepi lingkaran cakram. Pelat panjang yang diduganya sebagai tempat kartu berbentuk jajargenjang alih-alih persegi panjang biasa, dan di tepiannya berjejer LED yang juga biru tua. Di tengahnya, tertulis Duel Disc.
Duel disc. Berarti sama saja dengan di Yu-Gi-Oh! pikir Andika.
Dia mengeluarkan salah satu kotak kartu bertuliskan Untuk Pecundang dan membuka isinya. Kartu-kartu yang desainnya mirip dengan kartu Duel Monster di dunianya, hanya saja back cover-nya berwarna hitam polos alih-alih pusaran lubang hitam. Tambah penasaran, Andika membalikkan kartunya dan voila! Anak itu terkejut ketika menyadari kartu itu punya desain mirip dengan kartu yugi. Angka-angka dan nama kekuatannya memang beda (yang ini kemungkinan rentangnya dari 0-500 dan namanya FORCE-SHIELD alih-alih ATK-DEF), tapi pola dan efeknya serupa.
Ini, sih, beneran sama aja main duel yugi, pikirnya sembali melihat-lihat kartu yang ada di tumpukan dek itu, Tapi asik, pakai solid vision! Well… ini, sih, lumayan kuat. Kombinasi efeknya…
“Hoi, Dik! Mau duel ga?” gelegar Dimas dari belakang. “Gua udah nyusun dek baru, nih! Gua pasti menang kali ini!”
Andika melirik ke belakang, berusaha terlihat sebosan mungkin. Dimas, sementara itu, terlihat begitu membara dan penuh semangat, cengar-cengir.
“Oh, ya ampun, berapa kali kau bilang seperti itu dan berapa kali juga kau kalah?”
“Tiap saat, Dik.” Pilar si cengkring keriting cekikikan.
“Ah, kaga! Sekarang mah gua kaga bakal kalah!” seru Dimas.
“Ayo, Mas! Tunjukin dong dek barunya! Kita udah paham strategimu, nih, Dik. Jangan anggap remeh lagi!” Fauzan menyemangati.
Oh, kalian seperti anak-anak kecil yang belum tahu rasanya sakit sampai ditendang pantatnya. Pikir Andika.
Dia melirik kotak kartu bertuliskan Untuk Pecundang yang digenggamnya. Apa Andika KW9 biasa pakai dek ini untuk melawan Dimas? Kalau iya, membosankan sekali. Andika mengecek semua kotak kartu. Ada 7 kotak, mulai dari level Pecundang, Amatir, Lemah, Payah, Normal, Lumayan, Musuh.
Kotak terakhir agak mengganggunya. Entah kenapa, tendensi kata Musuh di kotak itu terasa… jahat.
Sesuatu berkelebat di kepala Andika. Apa Andika KW9 biasa pakai level Pecundang buat melaw0an Dimas? Kalau iya…
Andika mengambil kotak Untuk Normal, lalu menoleh ke arah Dimas. “Jangan menangis kalau kalah.”
***
Duel berakhir dengan Dimas menghantam tembok Ruang Bawah setelah diserang langsung oleh BailRaptor – Rapid Falcon milik Andika. Monster itu adalah elang mesin raksasa yang memiliki empat sayap logam alih-alih dua, dan di sepasang sayap bawahnya terpasang roket.
Keberadaan Ruang Bawah tepat di bawah kelas X-1 mau tidak mau mengejutkannya. Andika tidak mengira perbedaan antara dimensi asli dengan dimensi KW9 (begitu kini dia menyebutnya, yang ditanggapi Nadiya dengan rengutan tidak setuju) sampai sejauh ini. Meja di pojok kelas dekat meja guru, ternyata di bawahnya ada pintu masuk ke Ruang Bawah. Memang, cara masuknya adalah dengan berseluncur di pipa logam yang berputar-putar (sensasinya mengingatkan Andika pada seluncuran di Ancol yang membuatnya mual-mual, dan melihat reaksi Arbiarso-Pilar, tampaknya Andika KW9 juga mengalami hal yang sama) dan diperkirakan jaraknya sekitar 50 meter di bawah permukaan tanah. Walau begitu, tetap saja, keberadaan ruang seluas tiga kali lapangan futsal dan tinggi paling tidak lima belas meter itu membuatnya sadar betapa secara filosofis dimensinya jauh berbeda dengan Dimensi KW9.
Selain jalan masuk dan jalan keluar (yang Andika belum tahu bagaimana mekanismenya), praktis di ruangan itu tidak ada apa-apa lagi. Bahkan tidak ada garis pembatas untuk memisahkan arena duel dengan tempat penonton. Andika bertanya-tanya sejak kapan ruang itu ada dan untuk apa sebenarnya ruang ini dibangun, tapi tidak mungkin dia menanyakannya pada siapapun.
Terlepas dari itu, Andika menjalani duel dengan baik-baik saja. Dia sangat cepat mempelajari isi dek dan menyusun strategi, mengingat kemiripannya dengan game Yu-Gi-Oh! di dimensinya, Meski Andika KW9 melabeli dek itu sebagai “Normal”, nyatanya susunan kartunya sangat kuat. Kombinasi kartu monster, program dan counter-nya seimbang, selalu membuat Andika bisa merumuskan strategi apapun kartu yang ditariknya. Dek Untuk Normal itu bertajuk BailRaptor (mungkin versi Dimensi KW9 untuk Raidraptor), dan seluruh monsternya adalah burung pemburu robotik. BailRaptor – Rapid Falcon yang dipanggilnya adalah monster Trivowl (Xyz dalam dimensi asli), Andika mengeluarkannya ke lapangan dari Dek Ekstra menggunakan kartu program State-Up Rapid. Dengan Rapid Falcon, Andika menghancurkan seluruh monster bertipe counter attack di arena Dimas dan mengurangi Life Bar-nya dengan cepat. Dengan FORCE 300, digabungkan dengan efek Rapid Falcon yang bisa menyerang dua kali ketika menghancurkan monster lawan dengan efek lainnya, Andika tidak kesulitan menyapu bersih Life Bar Dimas yang tinggal 450. Life Bar Andika, sementara itu, tetap pada nilai maksimum: 1000.
Selain Nadiya, para siswa X-1 menatap arena dengan horor. Bahkan Gita dan Rani pun tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Jessica pun gemetaran dan menggenggam erat tangan Ratih (ini sedikit membuat Andika terluka; dia membuat Jessica takut). Prima, walau tidak benar-benar kelihatan ketakutan, tapi wajahnya sangat tegang dan menghindari tatapan Andika. Reaksi-reaksi itu mengonfirmasi pemikirannya: Andika KW9 belum pernah menggunakan dek sebrutal ini.
Andika menatap BailRaptor – Rapid Falcon di arenanya. Monster robotik itu didominasi warna hitam pekat, walau ada gradasi biru tua dan kuning di beberapa garis tubuhnya. Itu saja sudah membuatnya tampak mengerikan.
Fauzan membantu Dimas berdiri. Wajah Dimas tampak terguncang dan memucat, tidak bisa berkata apa-apa. Fauzan sendiri menelan ludah dan memapah Dimas ke pinggir tanpa berkata apa-apa.
Yang memecah keheningan adalah Ainun.
“Andika… kok, kamu kejam banget, sih? Dimas, kan, cuma mau senang-senang aja…”
Entah kenapa, nada bicara Ainun agak mengusiknya. Andika melirik Nadiya, yang hanya mengedikkan bahu. Sangat membantu, pikirnya. Perasaannya agak kurang enak soal ini.
Beberapa siswa berlari ke pintu keluar (yang benar-benar berbentuk pintu biasa, bukan lubang seluncuran). Di dalamnya ternyata ada sejenis lift. Zahra menekan tombol dan lift itu bergerak naik, mengabaikan pintu yang masih terbuka. Yang lainnya pun mulai bergerak menuju pintu keluar, dengung bisikan terdengar samar dari kerumunan siswa. Ainun menarik Nadiya, yang tidak ada pilihan kecuali mengikutinya. Beberapa menit kemudian, tinggallah para siswa laki-laki (kecuali Agus dan Yonanda yang belum kembali sampai masuk ke sini) dan Prima.
Kali ini Andika benar-benar tidak ada ide. Apa yang dilakukannya salah? Sikap teman-teman sekelasnya seolah menandakan Andika baru saja melakukan hal yang mengerikan. Ya, menghajar habis Dimas dengan dek BailRaptor memang mengerikan, tapi dia merasa ada yang lebih daripada itu. Sesuatu yang membuat para siswa X-1 menatapnya dengan kengerian berbeda.
Mendadak dia merasa tidak mengenal Andika KW9 sedikitpun.
Tidak tahu apa yang mau dilakukannya, Andika mematikan Duel Disc (monsternya lenyap dari arena) lalu menghampiri Dimas yang masih terduduk lesu di pinggir arena. Mengejutkan melihat orang bertubuh tinggi besar (kira-kira setinggi Cak Lontong) terlihat lemas tak berdaya. Wajahnya sudah tak sepucat tadi, tapi tetap saja…
Para siswa bergeser membuka jalan ketika Andika menghampiri. Cowok itu berjongkok di hadapan Dimas, menatapnya tanpa ekspresi. Beberapa kemungkinan sudah dipikirkannya sembari jalan tadi, bagaimana kira-kira Andika KW9 akan bersikap. Gagal. Dia tidak punya ide cemerlang soal itu. Jadi, kali ini dia bertaruh habis-habisan untuk apa yang diucapkannya pada Dimas.
“Maaf untuk yang tadi.” Ucap Andika halus.
Mau tidak mau itu membuat anak-anak cowok lain dan Prima berjengit. Sorot mata Dimas malah tampak tidak percaya.
“Ma—maaf?” tanya Dimas, gemetar.
“Ya. Aku salah mengambil dek. Seharusnya aku tidak perlu menggunakan yang ini, tapi sepertinya kepalaku sedang banyak pikiran, sampai-sampai aku bosan dengar tantanganmu dan akhirnya mengambil yang ini, berharap kau akan berhenti menantangku. Tapi aku tidak menduga efeknya malah separah ini.”
“Dik? Kamu… beneran minta maaf?” Fauzan yang bertanya, tidak kalah terkejut.
Andika mendengus. “Kalau iya, kenapa?”
Fauzan menelan ludah. “Terakhir kali kamu minta maaf itu ke Jessica, beberapa bulan kemarin. Aku… ng… kita agak kaget… Bahkan, kamu enggak minta maaf waktu kamu bantai habis si Petew.”
Petew? Nama macam apa itu? Nama kambing? Pikir Andika. Namun, pernyataan soal meminta maaf ke Jessica agak membuatnya tegang. Apa yang pernah dilakukan Andika KW9 ke Jessica?
“Beda kasus.” Andika menerka-nerka. “Yah, intinya itu. Bagaimana, Dimas?”
Sebisa mungkin dirinya tidak melontarkan tatapan ancaman sama sekali ke lawan bicaranya. Tampaknya berhasil, karena Dimas mengangguk. “I… iya, Dik.”
“Terima kasih.” Andika berdiri, mengembuskan napas pelan. “Aku pastikan aku pakai dek lain untuk melawanmu nanti. Dengan catatan kau memperbaiki dekmu lebih baik lagi. Sejujurnya, yang tadi masih payah.”
Arbiarso dan Pilar meringis, sulit menahan tawa. Ryan Gusti hanya menggeleng-geleng dan Ryan Shindu mengangkat bahu. Merasa sudah tidak ada masalah lagi, Andika berbalik pergi menuju pintu keluar. Prima mengejarnya.
“Hei, hei, tungguin, dong!” katanya, mengimbangi kecepatan jalan Andika. “Ai kamu kenapa, sih? Tumbenan banget pake dek macam itu. Lawan si cetek Dimas, lagi.”
“Aku yakin sudah bilang apa alasannya.” Timpal Andika, kembali ke persona dingin. Dia masuk ke dalam lift, tapi baru saja melihat panel, Prima sudah menekan tombol arah atas. Lift bergerak naik perlahan-lahan, nyaris tak bersuara. Prima menatapnya dengan setengah sebal-setengah tegang.
“Tapi ya enggak usah pake dek terkuatmu juga, kali. Dia mah pake dekmu yang paling cetek aja keok! Yah, hampir seluruh isi kelas bakalan keok, sih. Kecuali Hasanah sama Nadiya.”
Waduh, Nadiya juga main ginian di sini? Pikir Andika. “Itu bukan dek terkuatku.” Timpalnya.
“Masa’?” Prima merengut. “Bukannya dulu kamu bilang itu dekmu yang paling kuat, ya?”
“Mungkin. Dulu.” Andika menekankan kata terakhir. Prima paham maksudnya tanpa mesti dijelaskan.
“Untung, untung banget Dimas enggak bernasib kayak si Petew waktu perempat final . Emang kamu mainnya agak lembut dikit, sih, dibanding waktu itu. Kayaknya duel yang itu kamu emang sengaja nunggu-nunggu momennya buat menghantam si Petew habis-habisan.”
“Yeah. Terus?”
“Terus?” Prima terbelalak tidak percaya. “Si Petew sampai habis babak belur dan koma sampai sekarang! Si Gita trauma gara-gara itu, sekarang juga benci setengah mati sama kamu!”
Kalau Prima kaget karena sikap santai Andika, maka Andika malah kaget dengan penjelasan Prima. Babak belur? Koma? Bahkan preman kampung yang pernah dihajarnya pun tidak sampai masuk rumah sakit. Sementara, Andika KW9 membuat seseorang (kemungkinan pacarnya Gita, kalau menilik perkataan Prima) sampai sekarat? Bahkan Andika tidak bisa menahan diri untuk sedikit bergidik, yang untungnya tidak disadari Prima.
Lift berbunyi ding, dan pintu bergeser terbuka otomatis. Ternyata lift itu tersambung dengan gudang dekat masjid sekolah. Suasana tidak terlalu ramai, kecuali suara-suara obrolan dari kelas XI IPS 2 di dekatnya. Andika keluar dengan gundah, memikirkan seperti apa sebenarnya dirinya versi dimensi lain ini. Masa’ dirinya yang lain adalah psikopat mematikan? Kalau sekadar bersikap dingin, kaku dan menyebalkan, sih, bisa dipahami. Tapi yang ini…
Apa Andika KW9 pernah melakukan hal yang lebih buruk lagi?
“Ya sudah. Risikonya sendiri. Kau pikir sudah berapa kali orang itu membuatku gusar, eh?”
Andika menyesal mengatakan hal seperti itu, tapi dia tidak boleh hilang fokus. Tindakannya menggunakan dek Untuk Normal saat berduel dengan Dimas ternyata terlalu sembrono, dia tidak boleh ceroboh lagi. Yang artinya, dia berjalan di atas tali sangat tipis, dan di bawah terbentang lautan api yang siap melalapnya ketika salah melangkah.
“Yah, sering, sih. Tapi, masa’ sampai segitunya?” Prima kali ini benar-benar terdengar khawatir.
Jawaban itu melegakan Andika. Setidaknya, dugaannya bahwa Andika KW9 melakukannya karena kekesalan yang terakumulasi benar.
“REND Corporation sampai kerepotan, lho, menangani anak-anak yang ketakutan waktu itu. Malah para guru juga pengen kompetisinya distop, kalau bukan REND Corporation yang yakinin mereka kalau kecelakaan itu tidak disengaja dan bertanggungjawab untuk perawatan Petew. Tapi, tetep aja…”
REND Corporation lagi. Siapa mereka sebenarnya?
“Kamu enggak nyesel atas perbuatanmu itu, Dik?”
Andika terus berjalan, mengabaikan para siswa yang menyingkir ketakutan dari jalannya, menuju kelas X-1. Prima terus menguntit di sisinya, seolah mengharap jawaban.
“Tidak. Sama sekali tidak.”
Prima mengembuskan napas gelisah, seolah menduga jawaban itu sesuai ekspektasinya.
Sesuatu mengusiknya. Prima tidak biasanya gelisah begini.


0 comments:

Post a Comment