The Hunting Game,
Episode 6
Andika bisa beradu
fisik dengan anak-anak SMK di seberang sekolahnya. Dia tidak kerepotan
menghajar preman yang mencari masalah di lingkungan rumahnya. Dia juga tidak
takut menghardik siswa kelas XII yang membuatnya sebal. Bahkan, dia pernah
membuat kelas XI IPS 4 dihujani kembang api dan petasan yang meledak di nyaris
seluruh tempat saat mata pelajaran Matematika berlangsung dan membuat ramai
seantero sekolah, tanpa terdeteksi sama sekali bahwa dia adalah pelakunya.
Tapi, dia selalu
canggung setiap saat berhadapan dengan Jessica.
Versi Jessica ini
berseragam pendek, yang (lagi-lagi) sudah diperkirakan juga oleh Andika. Selain
itu, penampilannya sama persis; wajah yang sedikit punya kesan oriental (meski
dia tidak punya keturunan asing sama sekali), kacamata half-frame tebal
menggantung di hidungnya dan rambut lurusnya menjuntai sampai bahu. Persis
seperti gambaran Jessica waktu MOS. Kecuali bahwa Jessica yang satu ini tampak
terkejut ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Andika. Dengan refleks
secepat Usain Bolt, dia menunduk dan beringsut gelisah.
Andika sama sekali
tidak mempersiapkan untuk yang satu ini.
“Ma—maaf, Andika…”
cicitnya pelan, sama sekali menghindari tatapan cowok itu.
Otak Andika dipaksa
berpikir jauh lebih cepat dari biasanya untuk berpikir bagaimana caranya
merespon secara alami. Kali ini, dia kembali bertaruh dengan jawabannya.
“Apa kau selalu harus
meminta maaf seperti itu? Kau bahkan belum meledakkan kelas IPS 4 dengan
ratusan petasan.”
Diluar dugaan, bibir
Jessica mengulaskan senyum malu. Tipis, nyaris tak kentara bagi yang lain, tapi
jelas sekali baginya. Jantung Andika berdegup makin kencang. Sangat sulit
mencari momen Jessica asli mau tersenyum padanya, dan yang ini mengulaskannya
dalam pertemuan pertama.
“Iya, Andika,
maaf—eh!” Jessica membungkam mulutnya, kaget atas yang diucapkannya, lalu
buru-buru pergi.
Dalam hati, Andika
berteriak, Jangan pergi dulu, Jes! Sini dulu! Tapi yang dilakukannya
hanya menatap teman sekelasnya itu sampai dia duduk di kursinya. Ratih, melirik
sekilas ke Andika, menanyai Jessica sesuatu. Mudah-mudahan bukan terkait aku.
Pikir Andika, meski dia sama sekali tidak yakin. Hal itu dipastikan dengan
lirikan sebal Ratih padanya, yang ketika dibalas tatapan dingin Andika,
langsung berpaling ketakutan.
Matanya masih menatap
Jessica beberapa saat, memerhatikan sosoknya lebih lama. Tiap detik yang
berlalu rasanya terlalu cepat saat memandang cewek yang mengganggu perhatiannya
sejak MOS itu. Andika tidak pernah tahu apa yang benar-benar menarik dari diri Jessica.
Gadis itu bukan yang paling cerdas; posisi itu diperebutkan oleh Hasanah,
Nadiya dan tentu saja Andika sendiri. Dia juga bukan yang paling cantik; Halida
jelas-jelas jauh lebih unggul darinya. Lantas apa? Andika sama sekali tidak
mampu menjawabnya, dan makin kesini dia makin malas memikirkannya. Ya sudah,
mau gimana lagi?
Mendadak Jessica
melirik Andika, seolah sadar dirinya diperhatikan terus. Pandangan mereka
kembali bertemu dalam sekian milidetik sebelum Andika berpaling ke sebelahnya,
yaitu Gita (yang kembali membuang muka, sampai Andika yakin anak itu akan
mematahkan lehernya kalau seperti itu tiap hari), sembari menjaga ekspresi
dingin sebisa mungkin (walau sejak tadi ingin tersenyum lebar dan
melompat-lompat gembira).
Lumia bergetar lagi.
Pesan dari Nadiya.
CIYEEE CIYEEE
NGELIATIN JEJE MULUUUU! BENER KAN NAKSIRRR??? XP
Andika melirik Nadiya,
yang sudah tidak dikerumuni terlalu banyak orang. Dimas dan Fauzan sudah
kembali ke meja mereka, kartu-kartu bertebaran di atasnya. Arbiarso masih menjaili
Ainun, Ryan Gusti masih coba mendekati Nadiya (sayangnya dicueki). Menyadari
lirikan temannya, Nadiya nyengir sarkastik. Andika membuat gestur mencela
dengan jari tengahnya.
Namun, pemandangan
Dimas dan Fauzan di belakang sedikit mengganggunya. Kartu-kartu itu. Di mana
Andika KW9 menyimpannya?
Tas Andika KW9
teronggok di kolong meja. Andika menariknya keluar—model yang sama persis
dengan miliknya. Berat, tapi Andika yakin isinya bukan buku pelajaran. Benar
saja, saat dibuka, di dalamnya ada perangkat duel—mesin yang dipakaikan di
tangan dan beberapa kotak kartu. Andika menarik mesinnya keluar. Benda itu
warnanya perak mengkilap dengan sedikit gradasi biru tua pada garis-garisnya,
termasuk di tepi lingkaran cakram. Pelat panjang yang diduganya sebagai tempat
kartu berbentuk jajargenjang alih-alih persegi panjang biasa, dan di tepiannya
berjejer LED yang juga biru tua. Di tengahnya, tertulis Duel Disc.
Duel disc. Berarti
sama saja dengan di Yu-Gi-Oh! pikir
Andika.
Dia mengeluarkan salah
satu kotak kartu bertuliskan Untuk Pecundang dan membuka isinya.
Kartu-kartu yang desainnya mirip dengan kartu Duel Monster di dunianya,
hanya saja back cover-nya berwarna hitam polos alih-alih pusaran lubang
hitam. Tambah penasaran, Andika membalikkan kartunya dan voila! Anak itu
terkejut ketika menyadari kartu itu punya desain mirip dengan kartu yugi.
Angka-angka dan nama kekuatannya memang beda (yang ini kemungkinan rentangnya
dari 0-500 dan namanya FORCE-SHIELD alih-alih ATK-DEF), tapi pola dan efeknya
serupa.
Ini, sih, beneran
sama aja main duel yugi,
pikirnya sembali melihat-lihat kartu yang ada di tumpukan dek itu, Tapi
asik, pakai solid vision! Well… ini, sih, lumayan kuat. Kombinasi
efeknya…
“Hoi, Dik! Mau duel
ga?” gelegar Dimas dari belakang. “Gua udah nyusun dek baru, nih! Gua pasti
menang kali ini!”
Andika melirik ke
belakang, berusaha terlihat sebosan mungkin. Dimas, sementara itu, terlihat
begitu membara dan penuh semangat, cengar-cengir.
“Oh, ya ampun, berapa
kali kau bilang seperti itu dan berapa kali juga kau kalah?”
“Tiap saat, Dik.”
Pilar si cengkring keriting cekikikan.
“Ah, kaga! Sekarang
mah gua kaga bakal kalah!” seru Dimas.
“Ayo, Mas! Tunjukin
dong dek barunya! Kita udah paham strategimu, nih, Dik. Jangan anggap remeh
lagi!” Fauzan menyemangati.
Oh, kalian seperti
anak-anak kecil yang belum tahu rasanya sakit sampai ditendang pantatnya. Pikir Andika.
Dia melirik kotak
kartu bertuliskan Untuk Pecundang yang digenggamnya. Apa Andika KW9
biasa pakai dek ini untuk melawan Dimas? Kalau iya, membosankan sekali. Andika
mengecek semua kotak kartu. Ada 7 kotak, mulai dari level Pecundang, Amatir,
Lemah, Payah, Normal, Lumayan, Musuh.
Kotak terakhir agak
mengganggunya. Entah kenapa, tendensi kata Musuh di kotak itu terasa…
jahat.
Sesuatu berkelebat di kepala
Andika. Apa Andika KW9 biasa pakai level Pecundang buat melaw0an Dimas?
Kalau iya…
Andika mengambil kotak
Untuk Normal, lalu menoleh ke arah Dimas. “Jangan menangis kalau kalah.”
***
Duel berakhir dengan
Dimas menghantam tembok Ruang Bawah setelah diserang langsung oleh BailRaptor –
Rapid Falcon milik Andika. Monster itu adalah elang mesin raksasa yang memiliki
empat sayap logam alih-alih dua, dan di sepasang sayap bawahnya terpasang roket.
Keberadaan Ruang Bawah
tepat di bawah kelas X-1 mau tidak mau mengejutkannya. Andika tidak mengira
perbedaan antara dimensi asli dengan dimensi KW9 (begitu kini dia menyebutnya,
yang ditanggapi Nadiya dengan rengutan tidak setuju) sampai sejauh ini. Meja di
pojok kelas dekat meja guru, ternyata di bawahnya ada pintu masuk ke Ruang
Bawah. Memang, cara masuknya adalah dengan berseluncur di pipa logam yang
berputar-putar (sensasinya mengingatkan Andika pada seluncuran di Ancol yang
membuatnya mual-mual, dan melihat reaksi Arbiarso-Pilar, tampaknya Andika KW9
juga mengalami hal yang sama) dan diperkirakan jaraknya sekitar 50 meter di
bawah permukaan tanah. Walau begitu, tetap saja, keberadaan ruang seluas tiga
kali lapangan futsal dan tinggi paling tidak lima belas meter itu membuatnya
sadar betapa secara filosofis dimensinya jauh berbeda dengan Dimensi KW9.
Selain jalan masuk dan
jalan keluar (yang Andika belum tahu bagaimana mekanismenya), praktis di
ruangan itu tidak ada apa-apa lagi. Bahkan tidak ada garis pembatas untuk
memisahkan arena duel dengan tempat penonton. Andika bertanya-tanya sejak kapan
ruang itu ada dan untuk apa sebenarnya ruang ini dibangun, tapi tidak mungkin
dia menanyakannya pada siapapun.
Terlepas dari itu,
Andika menjalani duel dengan baik-baik saja. Dia sangat cepat mempelajari isi
dek dan menyusun strategi, mengingat kemiripannya dengan game Yu-Gi-Oh! di
dimensinya, Meski Andika KW9 melabeli dek itu sebagai “Normal”, nyatanya
susunan kartunya sangat kuat. Kombinasi kartu monster, program dan counter-nya
seimbang, selalu membuat Andika bisa merumuskan strategi apapun kartu yang
ditariknya. Dek Untuk Normal itu bertajuk BailRaptor (mungkin versi
Dimensi KW9 untuk Raidraptor), dan seluruh monsternya adalah burung pemburu
robotik. BailRaptor – Rapid Falcon yang dipanggilnya adalah monster Trivowl
(Xyz dalam dimensi asli), Andika mengeluarkannya ke lapangan dari Dek Ekstra
menggunakan kartu program State-Up Rapid. Dengan Rapid Falcon, Andika
menghancurkan seluruh monster bertipe counter attack di arena Dimas dan
mengurangi Life Bar-nya dengan cepat. Dengan FORCE 300, digabungkan dengan efek
Rapid Falcon yang bisa menyerang dua kali ketika menghancurkan monster lawan
dengan efek lainnya, Andika tidak kesulitan menyapu bersih Life Bar Dimas yang
tinggal 450. Life Bar Andika, sementara itu, tetap pada nilai maksimum: 1000.
Selain Nadiya, para
siswa X-1 menatap arena dengan horor. Bahkan Gita dan Rani pun tidak bisa
menyembunyikan ketakutannya. Jessica pun gemetaran dan menggenggam erat tangan
Ratih (ini sedikit membuat Andika terluka; dia membuat Jessica takut). Prima,
walau tidak benar-benar kelihatan ketakutan, tapi wajahnya sangat tegang dan
menghindari tatapan Andika. Reaksi-reaksi itu mengonfirmasi pemikirannya:
Andika KW9 belum pernah menggunakan dek sebrutal ini.
Andika menatap
BailRaptor – Rapid Falcon di arenanya. Monster robotik itu didominasi warna
hitam pekat, walau ada gradasi biru tua dan kuning di beberapa garis tubuhnya.
Itu saja sudah membuatnya tampak mengerikan.
Fauzan membantu Dimas
berdiri. Wajah Dimas tampak terguncang dan memucat, tidak bisa berkata apa-apa.
Fauzan sendiri menelan ludah dan memapah Dimas ke pinggir tanpa berkata
apa-apa.
Yang memecah
keheningan adalah Ainun.
“Andika… kok, kamu
kejam banget, sih? Dimas, kan, cuma mau senang-senang aja…”
Entah kenapa, nada
bicara Ainun agak mengusiknya. Andika melirik Nadiya, yang hanya mengedikkan
bahu. Sangat membantu, pikirnya. Perasaannya agak kurang enak soal ini.
Beberapa siswa berlari
ke pintu keluar (yang benar-benar berbentuk pintu biasa, bukan lubang
seluncuran). Di dalamnya ternyata ada sejenis lift. Zahra menekan tombol dan
lift itu bergerak naik, mengabaikan pintu yang masih terbuka. Yang lainnya pun
mulai bergerak menuju pintu keluar, dengung bisikan terdengar samar dari
kerumunan siswa. Ainun menarik Nadiya, yang tidak ada pilihan kecuali
mengikutinya. Beberapa menit kemudian, tinggallah para siswa laki-laki (kecuali
Agus dan Yonanda yang belum kembali sampai masuk ke sini) dan Prima.
Kali ini Andika benar-benar
tidak ada ide. Apa yang dilakukannya salah? Sikap teman-teman sekelasnya seolah
menandakan Andika baru saja melakukan hal yang mengerikan. Ya, menghajar habis
Dimas dengan dek BailRaptor memang mengerikan, tapi dia merasa ada yang lebih
daripada itu. Sesuatu yang membuat para siswa X-1 menatapnya dengan kengerian
berbeda.
Mendadak dia merasa
tidak mengenal Andika KW9 sedikitpun.
Tidak tahu apa yang
mau dilakukannya, Andika mematikan Duel Disc (monsternya lenyap dari
arena) lalu menghampiri Dimas yang masih terduduk lesu di pinggir arena.
Mengejutkan melihat orang bertubuh tinggi besar (kira-kira setinggi Cak
Lontong) terlihat lemas tak berdaya. Wajahnya sudah tak sepucat tadi, tapi
tetap saja…
Para siswa bergeser
membuka jalan ketika Andika menghampiri. Cowok itu berjongkok di hadapan Dimas,
menatapnya tanpa ekspresi. Beberapa kemungkinan sudah dipikirkannya sembari
jalan tadi, bagaimana kira-kira Andika KW9 akan bersikap. Gagal. Dia tidak
punya ide cemerlang soal itu. Jadi, kali ini dia bertaruh habis-habisan untuk
apa yang diucapkannya pada Dimas.
“Maaf untuk yang
tadi.” Ucap Andika halus.
Mau tidak mau itu
membuat anak-anak cowok lain dan Prima berjengit. Sorot mata Dimas malah tampak
tidak percaya.
“Ma—maaf?” tanya
Dimas, gemetar.
“Ya. Aku salah
mengambil dek. Seharusnya aku tidak perlu menggunakan yang ini, tapi sepertinya
kepalaku sedang banyak pikiran, sampai-sampai aku bosan dengar tantanganmu dan
akhirnya mengambil yang ini, berharap kau akan berhenti menantangku. Tapi aku
tidak menduga efeknya malah separah ini.”
“Dik? Kamu… beneran
minta maaf?” Fauzan yang bertanya, tidak kalah terkejut.
Andika mendengus.
“Kalau iya, kenapa?”
Fauzan menelan ludah.
“Terakhir kali kamu minta maaf itu ke Jessica, beberapa bulan kemarin. Aku… ng…
kita agak kaget… Bahkan, kamu enggak minta maaf waktu kamu bantai habis si
Petew.”
Petew? Nama macam
apa itu? Nama kambing? Pikir
Andika. Namun, pernyataan soal meminta maaf ke Jessica agak membuatnya tegang. Apa
yang pernah dilakukan Andika KW9 ke Jessica?
“Beda kasus.” Andika
menerka-nerka. “Yah, intinya itu. Bagaimana, Dimas?”
Sebisa mungkin dirinya
tidak melontarkan tatapan ancaman sama sekali ke lawan bicaranya. Tampaknya
berhasil, karena Dimas mengangguk. “I… iya, Dik.”
“Terima kasih.” Andika
berdiri, mengembuskan napas pelan. “Aku pastikan aku pakai dek lain untuk
melawanmu nanti. Dengan catatan kau memperbaiki dekmu lebih baik lagi.
Sejujurnya, yang tadi masih payah.”
Arbiarso dan Pilar
meringis, sulit menahan tawa. Ryan Gusti hanya menggeleng-geleng dan Ryan
Shindu mengangkat bahu. Merasa sudah tidak ada masalah lagi, Andika berbalik
pergi menuju pintu keluar. Prima mengejarnya.
“Hei, hei, tungguin,
dong!” katanya, mengimbangi kecepatan jalan Andika. “Ai kamu kenapa, sih?
Tumbenan banget pake dek macam itu. Lawan si cetek Dimas, lagi.”
“Aku yakin sudah
bilang apa alasannya.” Timpal Andika, kembali ke persona dingin. Dia masuk ke
dalam lift, tapi baru saja melihat panel, Prima sudah menekan tombol arah atas.
Lift bergerak naik perlahan-lahan, nyaris tak bersuara. Prima menatapnya dengan
setengah sebal-setengah tegang.
“Tapi ya enggak usah
pake dek terkuatmu juga, kali. Dia mah pake dekmu yang paling cetek aja keok!
Yah, hampir seluruh isi kelas bakalan keok, sih. Kecuali Hasanah sama Nadiya.”
Waduh, Nadiya juga
main ginian di sini? Pikir
Andika. “Itu bukan dek terkuatku.” Timpalnya.
“Masa’?” Prima
merengut. “Bukannya dulu kamu bilang itu dekmu yang paling kuat, ya?”
“Mungkin. Dulu.”
Andika menekankan kata terakhir. Prima paham maksudnya tanpa mesti dijelaskan.
“Untung, untung banget
Dimas enggak bernasib kayak si Petew waktu perempat final . Emang kamu mainnya
agak lembut dikit, sih, dibanding waktu itu. Kayaknya duel yang itu kamu emang
sengaja nunggu-nunggu momennya buat menghantam si Petew habis-habisan.”
“Yeah. Terus?”
“Terus?” Prima
terbelalak tidak percaya. “Si Petew sampai habis babak belur dan koma sampai
sekarang! Si Gita trauma gara-gara itu, sekarang juga benci setengah mati sama
kamu!”
Kalau Prima kaget
karena sikap santai Andika, maka Andika malah kaget dengan penjelasan Prima. Babak
belur? Koma? Bahkan preman kampung yang pernah dihajarnya pun tidak sampai
masuk rumah sakit. Sementara, Andika KW9 membuat seseorang (kemungkinan
pacarnya Gita, kalau menilik perkataan Prima) sampai sekarat? Bahkan Andika
tidak bisa menahan diri untuk sedikit bergidik, yang untungnya tidak disadari
Prima.
Lift berbunyi ding,
dan pintu bergeser terbuka otomatis. Ternyata lift itu tersambung dengan gudang
dekat masjid sekolah. Suasana tidak terlalu ramai, kecuali suara-suara obrolan
dari kelas XI IPS 2 di dekatnya. Andika keluar dengan gundah, memikirkan
seperti apa sebenarnya dirinya versi dimensi lain ini. Masa’ dirinya yang lain
adalah psikopat mematikan? Kalau sekadar bersikap dingin, kaku dan menyebalkan,
sih, bisa dipahami. Tapi yang ini…
Apa Andika KW9
pernah melakukan hal yang lebih buruk lagi?
“Ya sudah. Risikonya
sendiri. Kau pikir sudah berapa kali orang itu membuatku gusar, eh?”
Andika menyesal
mengatakan hal seperti itu, tapi dia tidak boleh hilang fokus. Tindakannya
menggunakan dek Untuk Normal saat berduel dengan Dimas ternyata terlalu
sembrono, dia tidak boleh ceroboh lagi. Yang artinya, dia berjalan di atas tali
sangat tipis, dan di bawah terbentang lautan api yang siap melalapnya ketika
salah melangkah.
“Yah, sering, sih.
Tapi, masa’ sampai segitunya?” Prima kali ini benar-benar terdengar khawatir.
Jawaban itu melegakan
Andika. Setidaknya, dugaannya bahwa Andika KW9 melakukannya karena kekesalan
yang terakumulasi benar.
“REND Corporation
sampai kerepotan, lho, menangani anak-anak yang ketakutan waktu itu. Malah para
guru juga pengen kompetisinya distop, kalau bukan REND Corporation yang yakinin
mereka kalau kecelakaan itu tidak disengaja dan bertanggungjawab untuk
perawatan Petew. Tapi, tetep aja…”
REND Corporation
lagi. Siapa mereka sebenarnya?
“Kamu enggak nyesel
atas perbuatanmu itu, Dik?”
Andika terus berjalan,
mengabaikan para siswa yang menyingkir ketakutan dari jalannya, menuju kelas
X-1. Prima terus menguntit di sisinya, seolah mengharap jawaban.
“Tidak. Sama sekali
tidak.”
Prima mengembuskan
napas gelisah, seolah menduga jawaban itu sesuai ekspektasinya.
Sesuatu mengusiknya. Prima
tidak biasanya gelisah begini.

0 comments:
Post a Comment