Professor
Vanessa Delaware sedang berbicara dengan Professor Riana Nurdiantoro dan
Professor Sergio Altamirano di depan ruangannya saat seseorang berjalan cepat
menghampirinya.
“Aku
akan mempertimbangkan saranmu untuk mengirim tim Voli ke Kejuaraan
Nasional. Kita belum memiliki tim Voli yang cukup baik sejak Alan Bonay dan Ujang Herlan
lulus. Kekalahan telak dari SMA 1 Jakarta tahun lalu itu cukup memalukan. Tapi
kalau kau memang menemukan—” ucapannya terhenti saat dia menyadari seseorang
menghampirinya.
“Professor
Delaware, Kepala Sekolah,” Professor Alastair Urquhart membungkuk sopan dengan
telapak tangannya diletakkan di dada kirinya. Dia bertubuh tinggi dan
mengenakan kacamata tebal, dengan rambut hitam legam yang agak berantakan.
Ekspresinya dingin, dengan mata biru kelam seperti lautan dalam. “Jika Anda
berkenan, saya ingin menyampaikan beberapa hal pada Anda. Saya yakin ini
merupakan hal penting—” dia mendelik pada Professor Altamirano dan Professor Nurdiantoro.
Professor
Delaware menatap Professor Urquhart sejenak, agak bimbang. Lalu, dia berpaling
pada dua koleganya. “Kirimkan saja nama-nama anggota tim Voli yang kau sarankan
ke e-mailku, Sergio. Dan Riana, tidak perlu memberikan hukuman tambahan pada
mereka. Sekali-kali ada baiknya kita menatap cermin.”
Professor
Altamirano tersenyum senang, sementara Professor Nurdiantoro cemberut. Mereka
beranjak pergi, lalu Professor Delaware dan Professor Urquhart masuk ke ruangan
Kepala Sekolah.
“Apa itu tadi?” tanya Professor Urquhart,
nada sopannya berubah dingin.
“Kau
mendengarnya sendiri untuk Sergio. Riana, dia mengeluhkan lagi soal sikap
anak-anak Posfor saat pelajarannya. Seperti aku tidak tahu saja bagaimana
membosankannya mendengar dia bicara,” Professor Delaware merebahkan punggungnya
di kursi. Dia menatap koleganya. “Kenapa kau tidak duduk saja, Alastair?”
Professor
Urquhart berdiri kaku di dekat lemari pajangan, kedua tangannya diselipkan di
saku jubah. “Silvana merencanakan sesuatu lagi.”
Kedua
alis Professor Delaware ditautkan. “Rencana? Tahu dari mana?”
“Sheringham,”
mata biru kelam Professor Urquhart berkilat tajam. Raut wajahnya sedingin es.
“Aku mengecek data peminjam buku di Perpustakaan, mencari siapa yang meminjam
buku Aplikasi Terapan Megalomatika, saat aku menemukan ada yang mengambil dan
membaca buku itu.”
“Tapi
tidak otomatis seperti yang kau pikirkan, bukan?”
“Pikirkan, Vanessa!” Professor Urquhart
menekan kata-katanya. “Ada berapa banyak buku di sekolah ini yang memuat
informasi tentang itu? Hanya satu!
Dan siapa pula yang mau capek-capek mencari sesuatu ke sektor A-2? Tidak ada
siswa yang menyentuhnya selama bertahun-tahun!”
“Barangkali
itu bukan Silvana,” suara Professor Delaware berubah agak gugup.
“Mungkin—mungkin ada yang lain. Professor Munajat, atau barangkali Riana—”
“Tidak.”
Sela Professor Urquhart tegas. “Ade tentunya tidak akan mempersulit diri dengan
mengandalkan sektor itu, sementara Riana tidak sebodoh keledai yang tersesat di
Scottish Highlands untuk menyuruh anak-anak mengecek apapun yang ada di sana.
Pikirkan, Vanessa! Siapa lagi yang akan memancing seseorang, apalagi dari kelas
Kompas, untuk mencari sesuatu sampai ke sana?”
Professor
Delaware menelan ludah. “Kompas?”
“Nia Mutia Kiranasari.
Menurut Nita, dia bersama kedua temannya, Walter Tuanzebe dan Hanifah Al
Jaziri. Dia juga mengatakan kalau tiga orang itu adalah yang paling cemerlang
di kelas Kompas.” Professor Urquhart mengibaskan jubahnya dengan gusar. “Kau
menciumnya, bukan? Silvana berulang kali membuat plot, plot yang tidak kita
ketahui, mengandalkan orang-orang yang dianggapnya berbakat, cerdas, lalu
semuanya berakhir nyaris mencelakakan kita. Dan masih saja dia tidak belajar.
Dia sudah paranoid sejak pertama menerima tugas
itu. Dia sadar kesalahan masa mudanya yang membiarkannya jadi orang
terakhir.”
Wajah
Professor Delaware tambah gelisah. Dia bersandar di kursi, yang secara elektris
sedikit merebah, lalu memuntir-muntir ujung rambut ikalnya tanpa sadar.
“Aku
harus bilang itu merupakan suatu... suatu kemungkinan,” ucapnya diplomatis.
Matanya menerawang ke langit-langit. “Tapi itu juga bukan kepastian. Belum,
pastinya. Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya, Alastair?”
Professor
Urquhart mendengus, lalu melangkah keluar. “Kau yang urus. Bukankah dia senang memberitahu apapun padaku sesenang Bafetimbi
Nkolou menatap cermin? Biar aku urus anak-anak itu.”
Pintu
elektronis tertutup sesaat setelah Professor Urquhart menghilang dari
pandangan. Sejenak berikutnya, terdengar suara bip dari lengan kirinya. Professor Delaware menyingkap lengan
jubahnya, menunjukkan sebuah gelang yang bertatahkan berlian kuning cerah
berbentuk lingkaran. Di bawah permukaan berlian, samar-samar terlihat sebuah
simbol berbentuk dua mata trisula yang menghadap sisi berlawanan mengapit
sebuah plat melengkung berujung lancip. Lampu hijau kecil di kiri atas gelang
itu berkedip-kedip, tanda ada pesan baru. Dia menyentuh lampu itu, dan sebuah
pesan terproyeksi dari lampu itu ke udara di atasnya. Demi membaca pesan
singkat itu, Professor Delaware terhenyak.
“Gawat...
Benar-benar gawat...”
Professor
Delaware buru-buru menghambur keluar ruangan.
***
Pukul
empat lewat dua puluh sore, alarm berbunyi di ruangan Professor Morello. Dia
terbangun dengan enggan dan menguap. Rasa kantuk masih menghinggapinya,
seolah-olah dia dibius.
Seingatnya,
dia tidak merasakan ada yang aneh ketika sarapan dan makan siang tadi Sebagai
ahli Metabiologi paling ekspert selama dua puluh tahun terakhir, Professor
Morello mampu mengenali dengan baik segala jenis racun atau obat-obatan dalam
berbagai benda termasuk makanan. Seandainya ada yang berniat meracuninya lewat
makanan, Professor Morello pasti sudah menyadarinya sebelum dia sempat
mengunyah suapan pertama.
Tapi
kali ini, Professor Morello merasa benar-benar tidak mendeteksi adanya racun
atau obat bius dari makan siangnya. Meski begitu, dia yakin sembilan puluh lima
persen kalau dia baru saja dibius. Sejenak dia menatap cermin di wastafel dan
menyipitkan sebelah matanya, berpikir keras.
“Ada
apa ini?” gumamnya. Dia membasuh wajahnya, tapi kelopak matanya masih terasa
berat. “Tidak mungkin aku tidak bisa mendeteksi obat bius di makananku,”
sejenak dia termenung. “Kecuali...”
Bel
pintu berdering. Menguap lebar, Professor Morello kembali ke ruangannya dan
melambaikan tangan ke arah pintu.
“Masuk,”
ujarnya malas.
Pintu
terbuka. Namun, tidak ada orang di depan pintu. Kantuknya hilang seketika,
digantikan rasa waspada campur khawatir. Jantungnya berdegup keras. Pintu
kembali tertutup, dan Professor Morello membuka sebuah jendela di iComp-nya,
menunjukkan pantauan kamera tersembunyi di luar ruangannya. Tidak ada
tanda-tanda keberadaan seseorang di koridor lantai dua tempat ruangannya
berada. Rasa takut mulai merasuki dirinya, membawanya pada ingatan kejadian
sebulan yang lalu.
“Tidak,
benda itu tentunya tidak bisa mudah didapatkan, oleh mereka sekalipun,”
gumamnya, mencoba meyakinkan diri.
Namun,
perasaan takut itu tidak juga enyah. Meski kamera bahkan sensor tidak
menunjukkan keberadaan siapapun di luar sana, Professor Morello masih merasa
sedang diawasi. Dan bel pintu itu...
Jendela
baru di iComp dibuka, dimana Professor Morello mengetikkan sebuah pesan di
dalamnya. Dia membuka laci meja, menarik selembar kertas berwarna kuning cerah
kecoklatan agak tebal, dan meletakkannya di printer di samping iComp-nya.
Professor Morello menekan panel Cetak di layar iComp. Segera setelah tercetak,
ia langsung menyimpannya di tempat tersembunyi di balik mejanya.
Kemudian
bel berbunyi lagi.
Kamera
masih menunjukkan tidak ada siapa-siapa di luar. Kepanikan mulai melanda
Professor Morello. Bagaimana mungkin bel itu bisa berbunyi tanpa sensor dan
kamera menemukan ada seseorang di depan pintunya? Padahal belnya dibuat dengan
mekanisme standar yang membuat orang harus benar-benar menekannya.
Lalu
hal itu terlintas di benaknya. Kalau
kamera itu benar-benar menunjukkan apa yang seharusnya dilihatnya...
Professor
Morello mencabut sejumput rumput runcing yang ditanam di pot kecil di mejanya.
Bentuknya seperti ilalang, tapi lebih kecil dan tepinya mengilat. Dia berjalan
pelan menuju pintu, membukanya dengan satu lambaian tangan, dan menengok
keluar.
Hati
Professor Morello mencelos. Tidak ada siapa-siapa di koridor luar. Tidak ada
sosok tertutup jubah yang atau apapun yang langsung menyergapnya di langkah
pertamanya keluar ruangan. Professor Morello buru-buru mengecek ke koridor di
bawahnya, hanya untuk menemukannya lengang sama sekali. Ketegangan
menguasainya.
Tidak mungkin, itu satu-satunya penjelasan logis kenapa
dia tidak terlihat di sistem pengawasan eksternal, pikirnya.
Kemudian dia tersentak. Kecuali...
Sebelum
dia sempat mengantisipasi, sosok berjubah dan bertudung melompat turun dari
langit-langit koridor dan mengalungkan sabit perak ke lehernya. Nafas Professor
Morello tertahan, tubuhnya membeku. Si penyekap mengeluarkan suara dalam dan
berat—ventriloquist.
“Beritahu
aku di mana itu,” ancamnya.
Jantung
Professor Morello berdebar lebih kencang. Ketakutannya selama ini akhirnya
terjadi juga. Di depan ruangannya sendiri, yang dengan nyaris putus asa
dilengkapi sistem pengawasan dan pengamanan terbaik untuk melindunginya,
Professor Morello berada di tepi maut. Susah payah dia menelan ludah.
“Jangan
diam saja!” bentak si penyandera.
“Kalau
tidak?” Professor Morello memberanikan diri bertanya.
Si
penyandera sedikit menekankan bilah sabitnya ke leher Professor Morello.
“Aku
tahu betapa paranoidnya kau akan keselamatanmu. Kau selalu merasa tidak aman.
Kenapa? Tindakanmu itu mengherankan, seolah-olah ada pembunuh yang mengincarmu
setiap saat—meski itu memang benar. Aku sadar, kau takut mati. Kau pemegang kunci keberadaan benda itu, yang tentunya
membawamu pada bahaya maut. Dan kau tidak menginginkannya. Barangkali kau lebih
suka bersantai di Taman Biologi kesayanganmu, bereksperimen dengan tanaman yang
selalu berusaha mencekik orang sampai mati? Nah, dengan demikian, tentunya kau
akan lebih senang untuk memberitahuku di mana tepatnya benda itu berada
daripada lehermu terpotong?”
Professor
Morello mendengus. Meski nyaris putus harapan, dia masih tahu siapa yang sedang
dihadapinya. “Kata-kata yang dihafal dengan sempurna, tapi kau pastinya tahu
kalau tidak mudah ditipu, eh? Tidak perlu berpura-pura. Kau bukan musuh utama
yang mengincarku. Kau cuma pesuruh. Orang itu tidak punya kemampuan akrobatik
dan tidak mahir memegang senjata tajam. Dia juga tidak setinggi dirimu. Dan
tentu saja, untuk mengacaukan sistem kamera-sensor di depan ruanganku lalu
mengalihkannya ke Koridor Timur, perlu dilakukan secara kontinu, kau tidak bisa
meninggalkan sistem begitu saja setelah melakukannya. Orang sepertimu tidak
cukup berotak untuk menyadari betapa sulitnya hal itu.”
Terdengar
hentakan suara terkejut dari tenggorokan si penyandera, tapi dia masih bisa
mengendalikan diri. “Tapi apakah itu membuat perubahan?”
“Ovviamente,” Professor Morello
menggenggam rumput tadi kuat-kuat, membuat tangannya berdarah. “Aku tahu siapa
dia. Dan aku tahu siapa kau. Suara palsu itu tidak bisa menipuku.” Dengan susah
payah, Professor Morello menambahkan, “Kalaupun... kalaupun aku harus...
mati... kesempatanmu dan... bosmu... tamat.”
Jelas
sekali si penyandera tidak mengerti apa maksudnya. Tangannya yang bebas meraih
telinganya, tampaknya mencoba menghubungi seseorang dengan earpiece. Pengawasannya melonggar. Professor Morello
memanfaatkannya. Dia menyikut perut si penyandera, membuatnya melenguh
kesakitan. Tangan kanannya mengibaskan tangan kanan si penyandera, lalu
Professor Morello berputar sambil menyabet rumput di tangannya ke lawannya.
Efeknya luar biasa. Rumput itu merobek jubah si penyandera dari bahu kiri
sampai pinggang kanannya. Orang itu meraung kesakitan dan mengeluarkan suara
aslinya yang cempreng, melangkah mundur sambil mencengkeram bekas robekan yang
mulai berdarah.
Secepat
kilat Professor Morello menghambur turun. Si penyandera berjubah masih belum
menyerah, dia susah payah mengerahkan tenaga untuk melempar sabitnya ke
Professor Morello. Meleset. Sabit itu hanya menggores sedikit pundak kanan
targetnya.
Biar
begitu, rasa sakit yang sangat hebat menjalar di bahu dan sekujur tangan kanan
Professor Morello. Dia mengerang dan nyaris kehilangan keseimbangan, tapi masih
bisa mengendalikan diri dan berlari ke koridor selatan.
“Sialan...
racun... ini...” Professor Morello terengah-engah. Rasa sakit mulai merasuki
dadanya, membuatnya sesak. “Pantas aku tidak bisa mendeteksi obat bius itu...”
Bayangan
seorang gadis yang terbaring lemah di suatu pedesaan kecil berkelebat di
kepalanya, disusul peringatan keras seorang rekannya beberapa waktu yang lalu.
Penglihatannya mulai mengabur, nafasnya makin tidak teratur, tenaganya makin
melemah. Rasa sakit itu membunuh sarafnya.
Inilah akhirnya... pikir
Professor Morello. Akhirnya aku tidak
bisa terus menghindarinya. Aku akan segera ber—
BRAASHH!
Professor
Morello memekik tertahan saat sebuah sabit menancap keras di belakang lehernya.
Ia ambruk. Cairan kental kemerahan merembes ke kerudung putih dan punggung
jubahnya. Si pemburu tiba beberapa detik kemudian, terengah-tengah. Darah
sesekali menetes dari robekan jubahnya. Dia mencabut sabit di leher Professor
Morello dengan paksa. Professor Morello mengerang nelangsa. Sambil meringis, si
pemburu membalikkan tubuh lemah Professor Morello dengan kakinya. Professor
Morello tampak pucat, seolah-olah darah meninggalkan wajahnya.
“Kau...
brengsek...” maki si pemburu. “Punya kata-kata terakhir, hah?”
Professor
Morello menatap lemah pemburunya, penglihatannya benar-benar buram. Siluet
tubuhnya pun hampir tinggal menyisakan bayangan hitam.
Aku benar... benar... berakhir...
Professor Morello bahkan bersusah payah untuk berpikir. Maafkan aku... kalian berdua... aku gagal...
Dia
meletakkan tangan kanannya di depan dada kiri.
“Camb... biamen... to... chiav...”
Sang
pemburu menatap bingung Professor Morello. Professor Morello mengerahkan sisa
kehidupannya untuk menunjukkan seringai menghina. Beberapa detik kemudian,
kepalanya terkulai lemas dan tidak bergerak lagi.
***



0 comments:
Post a Comment