Saturday, 2 December 2017

The Crest of Five, Episode 4

Professor Vanessa Delaware sedang berbicara dengan Professor Riana Nurdiantoro dan Professor Sergio Altamirano di depan ruangannya saat seseorang berjalan cepat menghampirinya.
“Aku akan mempertimbangkan saranmu untuk mengirim tim Voli ke Kejuaraan Nasional. Kita belum memiliki tim Voli yang cukup baik sejak Alan Bonay dan Ujang Herlan lulus. Kekalahan telak dari SMA 1 Jakarta tahun lalu itu cukup memalukan. Tapi kalau kau memang menemukan—” ucapannya terhenti saat dia menyadari seseorang menghampirinya.
“Professor Delaware, Kepala Sekolah,” Professor Alastair Urquhart membungkuk sopan dengan telapak tangannya diletakkan di dada kirinya. Dia bertubuh tinggi dan mengenakan kacamata tebal, dengan rambut hitam legam yang agak berantakan. Ekspresinya dingin, dengan mata biru kelam seperti lautan dalam. “Jika Anda berkenan, saya ingin menyampaikan beberapa hal pada Anda. Saya yakin ini merupakan hal penting—” dia mendelik pada Professor Altamirano dan Professor Nurdiantoro.
Professor Delaware menatap Professor Urquhart sejenak, agak bimbang. Lalu, dia berpaling pada dua koleganya. “Kirimkan saja nama-nama anggota tim Voli yang kau sarankan ke e-mailku, Sergio. Dan Riana, tidak perlu memberikan hukuman tambahan pada mereka. Sekali-kali ada baiknya kita menatap cermin.”
Professor Altamirano tersenyum senang, sementara Professor Nurdiantoro cemberut. Mereka beranjak pergi, lalu Professor Delaware dan Professor Urquhart masuk ke ruangan Kepala Sekolah.
“Apa itu tadi?” tanya Professor Urquhart, nada sopannya berubah dingin.
“Kau mendengarnya sendiri untuk Sergio. Riana, dia mengeluhkan lagi soal sikap anak-anak Posfor saat pelajarannya. Seperti aku tidak tahu saja bagaimana membosankannya mendengar dia bicara,” Professor Delaware merebahkan punggungnya di kursi. Dia menatap koleganya. “Kenapa kau tidak duduk saja, Alastair?”
Professor Urquhart berdiri kaku di dekat lemari pajangan, kedua tangannya diselipkan di saku jubah. “Silvana merencanakan sesuatu lagi.”
Kedua alis Professor Delaware ditautkan. “Rencana? Tahu dari mana?”
“Sheringham,” mata biru kelam Professor Urquhart berkilat tajam. Raut wajahnya sedingin es. “Aku mengecek data peminjam buku di Perpustakaan, mencari siapa yang meminjam buku Aplikasi Terapan Megalomatika, saat aku menemukan ada yang mengambil dan membaca buku itu.”
“Tapi tidak otomatis seperti yang kau pikirkan, bukan?”
“Pikirkan, Vanessa!” Professor Urquhart menekan kata-katanya. “Ada berapa banyak buku di sekolah ini yang memuat informasi tentang itu? Hanya satu! Dan siapa pula yang mau capek-capek mencari sesuatu ke sektor A-2? Tidak ada siswa yang menyentuhnya selama bertahun-tahun!”
“Barangkali itu bukan Silvana,” suara Professor Delaware berubah agak gugup. “Mungkin—mungkin ada yang lain. Professor Munajat, atau barangkali Riana—”
“Tidak.” Sela Professor Urquhart tegas. “Ade tentunya tidak akan mempersulit diri dengan mengandalkan sektor itu, sementara Riana tidak sebodoh keledai yang tersesat di Scottish Highlands untuk menyuruh anak-anak mengecek apapun yang ada di sana. Pikirkan, Vanessa! Siapa lagi yang akan memancing seseorang, apalagi dari kelas Kompas, untuk mencari sesuatu sampai ke sana?”
Professor Delaware menelan ludah. “Kompas?”
“Nia Mutia Kiranasari. Menurut Nita, dia bersama kedua temannya, Walter Tuanzebe dan Hanifah Al Jaziri. Dia juga mengatakan kalau tiga orang itu adalah yang paling cemerlang di kelas Kompas.” Professor Urquhart mengibaskan jubahnya dengan gusar. “Kau menciumnya, bukan? Silvana berulang kali membuat plot, plot yang tidak kita ketahui, mengandalkan orang-orang yang dianggapnya berbakat, cerdas, lalu semuanya berakhir nyaris mencelakakan kita. Dan masih saja dia tidak belajar. Dia sudah paranoid sejak pertama menerima tugas itu. Dia sadar kesalahan masa mudanya yang membiarkannya jadi orang terakhir.”
Wajah Professor Delaware tambah gelisah. Dia bersandar di kursi, yang secara elektris sedikit merebah, lalu memuntir-muntir ujung rambut ikalnya tanpa sadar.
“Aku harus bilang itu merupakan suatu... suatu kemungkinan,” ucapnya diplomatis. Matanya menerawang ke langit-langit. “Tapi itu juga bukan kepastian. Belum, pastinya. Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya, Alastair?”
Professor Urquhart mendengus, lalu melangkah keluar. “Kau yang urus. Bukankah dia senang memberitahu apapun padaku sesenang Bafetimbi Nkolou menatap cermin? Biar aku urus anak-anak itu.”
Pintu elektronis tertutup sesaat setelah Professor Urquhart menghilang dari pandangan. Sejenak berikutnya, terdengar suara bip dari lengan kirinya. Professor Delaware menyingkap lengan jubahnya, menunjukkan sebuah gelang yang bertatahkan berlian kuning cerah berbentuk lingkaran. Di bawah permukaan berlian, samar-samar terlihat sebuah simbol berbentuk dua mata trisula yang menghadap sisi berlawanan mengapit sebuah plat melengkung berujung lancip. Lampu hijau kecil di kiri atas gelang itu berkedip-kedip, tanda ada pesan baru. Dia menyentuh lampu itu, dan sebuah pesan terproyeksi dari lampu itu ke udara di atasnya. Demi membaca pesan singkat itu, Professor Delaware terhenyak.
“Gawat... Benar-benar gawat...”
Professor Delaware buru-buru menghambur keluar ruangan.
***
Pukul empat lewat dua puluh sore, alarm berbunyi di ruangan Professor Morello. Dia terbangun dengan enggan dan menguap. Rasa kantuk masih menghinggapinya, seolah-olah dia dibius.
Seingatnya, dia tidak merasakan ada yang aneh ketika sarapan dan makan siang tadi Sebagai ahli Metabiologi paling ekspert selama dua puluh tahun terakhir, Professor Morello mampu mengenali dengan baik segala jenis racun atau obat-obatan dalam berbagai benda termasuk makanan. Seandainya ada yang berniat meracuninya lewat makanan, Professor Morello pasti sudah menyadarinya sebelum dia sempat mengunyah suapan pertama.
Tapi kali ini, Professor Morello merasa benar-benar tidak mendeteksi adanya racun atau obat bius dari makan siangnya. Meski begitu, dia yakin sembilan puluh lima persen kalau dia baru saja dibius. Sejenak dia menatap cermin di wastafel dan menyipitkan sebelah matanya, berpikir keras.
“Ada apa ini?” gumamnya. Dia membasuh wajahnya, tapi kelopak matanya masih terasa berat. “Tidak mungkin aku tidak bisa mendeteksi obat bius di makananku,” sejenak dia termenung. “Kecuali...”
Bel pintu berdering. Menguap lebar, Professor Morello kembali ke ruangannya dan melambaikan tangan ke arah pintu.
“Masuk,” ujarnya malas.
Pintu terbuka. Namun, tidak ada orang di depan pintu. Kantuknya hilang seketika, digantikan rasa waspada campur khawatir. Jantungnya berdegup keras. Pintu kembali tertutup, dan Professor Morello membuka sebuah jendela di iComp-nya, menunjukkan pantauan kamera tersembunyi di luar ruangannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di koridor lantai dua tempat ruangannya berada. Rasa takut mulai merasuki dirinya, membawanya pada ingatan kejadian sebulan yang lalu.
“Tidak, benda itu tentunya tidak bisa mudah didapatkan, oleh mereka sekalipun,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.
Namun, perasaan takut itu tidak juga enyah. Meski kamera bahkan sensor tidak menunjukkan keberadaan siapapun di luar sana, Professor Morello masih merasa sedang diawasi. Dan bel pintu itu...
Jendela baru di iComp dibuka, dimana Professor Morello mengetikkan sebuah pesan di dalamnya. Dia membuka laci meja, menarik selembar kertas berwarna kuning cerah kecoklatan agak tebal, dan meletakkannya di printer di samping iComp-nya. Professor Morello menekan panel Cetak di layar iComp. Segera setelah tercetak, ia langsung menyimpannya di tempat tersembunyi di balik mejanya.
Kemudian bel berbunyi lagi.
Kamera masih menunjukkan tidak ada siapa-siapa di luar. Kepanikan mulai melanda Professor Morello. Bagaimana mungkin bel itu bisa berbunyi tanpa sensor dan kamera menemukan ada seseorang di depan pintunya? Padahal belnya dibuat dengan mekanisme standar yang membuat orang harus benar-benar menekannya.
Lalu hal itu terlintas di benaknya. Kalau kamera itu benar-benar menunjukkan apa yang seharusnya dilihatnya...
Professor Morello mencabut sejumput rumput runcing yang ditanam di pot kecil di mejanya. Bentuknya seperti ilalang, tapi lebih kecil dan tepinya mengilat. Dia berjalan pelan menuju pintu, membukanya dengan satu lambaian tangan, dan menengok keluar.
Hati Professor Morello mencelos. Tidak ada siapa-siapa di koridor luar. Tidak ada sosok tertutup jubah yang atau apapun yang langsung menyergapnya di langkah pertamanya keluar ruangan. Professor Morello buru-buru mengecek ke koridor di bawahnya, hanya untuk menemukannya lengang sama sekali. Ketegangan menguasainya.
Tidak mungkin, itu satu-satunya penjelasan logis kenapa dia tidak terlihat di sistem pengawasan eksternal, pikirnya. Kemudian dia tersentak. Kecuali...
Sebelum dia sempat mengantisipasi, sosok berjubah dan bertudung melompat turun dari langit-langit koridor dan mengalungkan sabit perak ke lehernya. Nafas Professor Morello tertahan, tubuhnya membeku. Si penyekap mengeluarkan suara dalam dan berat—ventriloquist.
“Beritahu aku di mana itu,” ancamnya.
Jantung Professor Morello berdebar lebih kencang. Ketakutannya selama ini akhirnya terjadi juga. Di depan ruangannya sendiri, yang dengan nyaris putus asa dilengkapi sistem pengawasan dan pengamanan terbaik untuk melindunginya, Professor Morello berada di tepi maut. Susah payah dia menelan ludah.
“Jangan diam saja!” bentak si penyandera.
“Kalau tidak?” Professor Morello memberanikan diri bertanya.
Si penyandera sedikit menekankan bilah sabitnya ke leher Professor Morello.
“Aku tahu betapa paranoidnya kau akan keselamatanmu. Kau selalu merasa tidak aman. Kenapa? Tindakanmu itu mengherankan, seolah-olah ada pembunuh yang mengincarmu setiap saat—meski itu memang benar. Aku sadar, kau takut mati. Kau pemegang kunci keberadaan benda itu, yang tentunya membawamu pada bahaya maut. Dan kau tidak menginginkannya. Barangkali kau lebih suka bersantai di Taman Biologi kesayanganmu, bereksperimen dengan tanaman yang selalu berusaha mencekik orang sampai mati? Nah, dengan demikian, tentunya kau akan lebih senang untuk memberitahuku di mana tepatnya benda itu berada daripada lehermu terpotong?”
Professor Morello mendengus. Meski nyaris putus harapan, dia masih tahu siapa yang sedang dihadapinya. “Kata-kata yang dihafal dengan sempurna, tapi kau pastinya tahu kalau tidak mudah ditipu, eh? Tidak perlu berpura-pura. Kau bukan musuh utama yang mengincarku. Kau cuma pesuruh. Orang itu tidak punya kemampuan akrobatik dan tidak mahir memegang senjata tajam. Dia juga tidak setinggi dirimu. Dan tentu saja, untuk mengacaukan sistem kamera-sensor di depan ruanganku lalu mengalihkannya ke Koridor Timur, perlu dilakukan secara kontinu, kau tidak bisa meninggalkan sistem begitu saja setelah melakukannya. Orang sepertimu tidak cukup berotak untuk menyadari betapa sulitnya hal itu.”
Terdengar hentakan suara terkejut dari tenggorokan si penyandera, tapi dia masih bisa mengendalikan diri. “Tapi apakah itu membuat perubahan?”
Ovviamente,” Professor Morello menggenggam rumput tadi kuat-kuat, membuat tangannya berdarah. “Aku tahu siapa dia. Dan aku tahu siapa kau. Suara palsu itu tidak bisa menipuku.” Dengan susah payah, Professor Morello menambahkan, “Kalaupun... kalaupun aku harus... mati... kesempatanmu dan... bosmu... tamat.”
Jelas sekali si penyandera tidak mengerti apa maksudnya. Tangannya yang bebas meraih telinganya, tampaknya mencoba menghubungi seseorang dengan earpiece. Pengawasannya melonggar. Professor Morello memanfaatkannya. Dia menyikut perut si penyandera, membuatnya melenguh kesakitan. Tangan kanannya mengibaskan tangan kanan si penyandera, lalu Professor Morello berputar sambil menyabet rumput di tangannya ke lawannya. Efeknya luar biasa. Rumput itu merobek jubah si penyandera dari bahu kiri sampai pinggang kanannya. Orang itu meraung kesakitan dan mengeluarkan suara aslinya yang cempreng, melangkah mundur sambil mencengkeram bekas robekan yang mulai berdarah.
Secepat kilat Professor Morello menghambur turun. Si penyandera berjubah masih belum menyerah, dia susah payah mengerahkan tenaga untuk melempar sabitnya ke Professor Morello. Meleset. Sabit itu hanya menggores sedikit pundak kanan targetnya.
Biar begitu, rasa sakit yang sangat hebat menjalar di bahu dan sekujur tangan kanan Professor Morello. Dia mengerang dan nyaris kehilangan keseimbangan, tapi masih bisa mengendalikan diri dan berlari ke koridor selatan.
“Sialan... racun... ini...” Professor Morello terengah-engah. Rasa sakit mulai merasuki dadanya, membuatnya sesak. “Pantas aku tidak bisa mendeteksi obat bius itu...”
Bayangan seorang gadis yang terbaring lemah di suatu pedesaan kecil berkelebat di kepalanya, disusul peringatan keras seorang rekannya beberapa waktu yang lalu. Penglihatannya mulai mengabur, nafasnya makin tidak teratur, tenaganya makin melemah. Rasa sakit itu membunuh sarafnya.
Inilah akhirnya... pikir Professor Morello. Akhirnya aku tidak bisa terus menghindarinya. Aku akan segera ber—
BRAASHH!
Professor Morello memekik tertahan saat sebuah sabit menancap keras di belakang lehernya. Ia ambruk. Cairan kental kemerahan merembes ke kerudung putih dan punggung jubahnya. Si pemburu tiba beberapa detik kemudian, terengah-tengah. Darah sesekali menetes dari robekan jubahnya. Dia mencabut sabit di leher Professor Morello dengan paksa. Professor Morello mengerang nelangsa. Sambil meringis, si pemburu membalikkan tubuh lemah Professor Morello dengan kakinya. Professor Morello tampak pucat, seolah-olah darah meninggalkan wajahnya.
“Kau... brengsek...” maki si pemburu. “Punya kata-kata terakhir, hah?”
Professor Morello menatap lemah pemburunya, penglihatannya benar-benar buram. Siluet tubuhnya pun hampir tinggal menyisakan bayangan hitam.
Aku benar... benar... berakhir... Professor Morello bahkan bersusah payah untuk berpikir. Maafkan aku... kalian berdua... aku gagal...
Dia meletakkan tangan kanannya di depan dada kiri.
Camb... biamen... to... chiav...”
Sang pemburu menatap bingung Professor Morello. Professor Morello mengerahkan sisa kehidupannya untuk menunjukkan seringai menghina. Beberapa detik kemudian, kepalanya terkulai lemas dan tidak bergerak lagi.

***

0 comments:

Post a Comment