Tuesday, 28 November 2017

The Hunting Game, Episode 5

“Hipnotis? Enggak, enggak, itu bukan hipnotis.” Andika menggeleng. “Adiksi.

“Adiksi?” tanya Nadiya.

“Yeah. Kamu pernah lihat Ainun waktu nonton drama Korea di laptopnya? Kira-kira begitulah.”

Nadiya merengut. “Hah? Masa’ Ainun gitu?”

“Yah, payah. Kelakuan teman sendiri aja gak sadar. Oh, tunggu, kamu juga, kan, keranjingansmartphone.” Andika mengangguk-angguk sok bijak. “Pantas, pantas.”

“Hei, hei.” Gerutu Nadiya.

“Yang jelas begini.” Sebuah tembakan meluncur dari sisi jauh, menghantam monster di sisi dekat, disambut sorak-sorai penonton dari ujung jauh dan keluhan di ujung dekat. Andika, yang mengejutkan, sama sekali dingin menanggapinya. “Menurut penuturanmu, aku menduga REND Corporation adalah perancang sistem solid vision ini. Mereka mempromosikannya ke sekolah ini, lalu entah gimana caranya, bikin sebagian besar siswanya ketagihan sampai level enggak normal.” Andika mengetuk-ngetukkan jari di pegangan besi di pinggir balkon. “Aku pernah main kartu Yu-Gi-Oh! sampai level nasional, tapi mereka enggak gini-gini banget. Tapi, yah… mungkin ada kaitannya dengan solid vision itu sendiri. Siapa yang tahu?”

Nadiya garuk-garuk kepala. “Enggak ngerti, DIk.”

Andika mendengus. “Selalu seperti itu.”

“Aku lebih tertarik sama hal lain. Reaksi orang-orang pas liat kamu.”

“Oh, ya. Itu juga.”

Jawaban itu membuat Nadiya memasang wajah Nih-anak-keracunan-apa-sih?

Seolah sadar ekspresi heran Nadiya, Andika melirik ke arah temannya. Sorot matanya dingin dan tajam, menatap Nadiya seolah-olah dia adalah kecoak bau yang mesti diinjak-injak sampai tak berbentuk. Untuk pertama kalinya sejak mereka pertama bertemu, Nadiya tampak gentar dan ketakutan.

“Dik, kamu kenapa?” ucapnya gemetar.

“Aku?” bahkan nada bicaranya pun berbahaya. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang membuatmu berpikir reaksi mereka aneh ketika melihatku?”

Andika melangkah perlahan menuju Nadiya, sementara Nadiya mundur perlahan-lahan, jelas-jelas takut.

“Dik… udahan ah, becandanya! Kok kamu jadi serem gini, sih?”

“Siapa yang bercanda?” Andika mendesak Nadiya ke pinggir tangga. Nadiya refleks mencengkeram pegangan tangga ketika dia hampir jatuh ke anak tangga pertama.

“Dik…”

Andika berhenti berjalan. Dia menatap Nadiya tajam-tajam, merasakan nyali temannya mendadak ciut. Lalu,

“GIMANA? AKTINGKU BAGUS, KAN?” serunya tiba-tiba. Nadiya terlonjak dan melepaskan pegangannya, nyaris jatuh. Untungnya, Andika dengan sigap meraih tangan Nadiya dan menariknya. Kurang berperasaan, jadi tarikannya terlalu keras dan membuat Nadiya malah menghantam tubuhnya sampai keduanya nyaris jatuh.

“Woi! Ya ampun…” Nadiya buru-buru melepaskan diri dari Andika. Dia mengusap-usap dada, kaget setengah mati. “Gak lucu ah becandanya!”

“Yeah, yeah, sori soal itu.” Andika sama sekali tidak terdengar bersalah. “Seenggaknya kamu enggak jatuh.”

“Gak lucu juga kalau aku malah jatuhnya ke kamu. Entar dikira apa, lagi.” Gerutu Nadiya.

“Iya, iya, tahu. Sori.” Masih saja Andika tidak tampak merasa bersalah. “Seenggaknya, kira-kira itu yang kupikirkan soal aku versi dimensi ini.”

“Eh?”

“Yah, kamu bilang kalau anak-anak kelihatan takut denganku, kan? Aku juga sadar pas aku nyingkirin Faisal dari jalan. Traktor itu biasanya suka resek kalau lagi ngapa-ngapain diganggu. Tapi tadi dia malah keliatan kayak tikus kecil ketakutan dan merangsek pergi. Lha kenapa coba kalau bukan karena dia takut aku? Well, aku versi dunia ini. Kemungkinan, Andika KW9 itu kalau bukan tukang bully, doyan marah, ya dingin mengerikan. Taruhan kalau dia lebih mirip yang terakhir.”

“Enak bener kamu bilang dia KW9. Siapa tahu dia lebih pinter dari kamu.”

“Bodo,” Andika membuat gestur lengkungan pelangi dengan kedua tangannya. “amat.”

Nadiya melontarkan gerutuan yang tidak bisa didengar Andika. Sebuah ledakan terdengar lagi dari lapangan, dan sisi dekat bersorak. Andika melirik ke sana dan menemukan bahwa user “jerox” kalah, angka di bawah namanya berubah menjadi nol.

“Oh, ya ampun. Sudah selesai? Bukannya ini baru delapan putaran?” komentar Andika.

Tiba-tiba terdengar suara menggema di udara. “Pemenang duel perempat final Smandak Battle Cup adalah Muhammad Firdaus!” diikuti sorak sorai dari sisi dekat.

“Apaan tuh?” Nadiya nyaris terlonjak lagi, kaget.

“Pengganti interkom, kayaknya. Mungkin ada lapisan tersendiri di udara yang mancarin sinyal suara itu. Apa tadi di dalam gak kedengeran?”

“Enggak.” Nadiya mengusap-usap dada lagi. “Kok bisa, sih?”

Weii, kalau bikin solid vision saja bisa, kenapa bikin speaker tembus pandang enggak?” Andika mengangkat bahu.

Nadiya menghela napas. “Oke, sekarang apa?”

Andika melirik lapangan, memerhatikan para siswa membubarkan diri. Dengung obrolan masih terdengar dari kerumunan siswa yang berpencar ke segala arah itu. Matanya melirik ke Lab Fisika di seberang, ruang guru di bawahnya dan kantin di sebelah ruang guru.

“Ayo keliling.”

“Hah?”

“Hei, apa yang lebih baik waktu nyasar di tempat asing daripada melihat-lihat sekeliling? Boleh jadi sekolah ini cerminan dari sekolah kita, tapi siapa tahu ada yang beda?”

“Tapi, gimana kalau misalnya kita ketemu kita yang satu lagi atau sebaliknya? Atau anak-anak ini lihat kita ada di dua tempat berbeda? Bakalan gawat.”

“Itu…” raut wajah Andika mendadak menggelap. “Mereka awalnya juga berada di Lab Fisika, bukan? Tapi tadi kita gak ngeliat mereka. Lagian, kalau gak salah, mereka kayak diserbu orang-orang pas sebelum Hasanah membawa kita ke sini. Dugaanku, mereka udah ada di tangan REND Corporation.”

“Oh…” Nadiya tidak yakin harus bersikap apa.

“Jadi, seharusnya orang-orang enggak akan kaget lihat kita. Well, kecuali kamu, mungkin.” Andika melihat Nadiya dari atas ke bawah. “Tapi secara umum aku kira enggak, sih. Asal enggak ada orang-orang REND aja di sini.”

“Oh. Tapi, terus Hasanah gimana?”

“Lagi tidur, kan? Barangkali kelelahan gara-gara perpindahan dimensi. Biar gimana juga, kan, dia yang punya ikatan mental dengan tempat ini, jadi tautan antara dunia ini dan dunia kita. Mental dan daya pikirnya pasti capek luar biasa. Jadi, biarin aja.”

Nadiya tidak menunjukkan tanda-tanda dia mengerti setengah dari pembicaraan Andika, tapi dia mengangguk. “Ya udah. Terus, mau ke mana?”

Andika nyengir. “Tempat pertama yang kita kunjungi tiap kali datang ke sekolah. Ruang kelas.”
***

Kelas X-1 di dimensi ini terletak di ruang yang sama dengan di dimensi asal Andika dan Nadiya. Berada di sebelah ruang TU, terisolir dari kelas X lain dan dikelilingi oleh deretan kelas XII. Kondisi itu seringkali membuat Andika frustrasi. Para siswa kelas XII sering membuatnya sebal akan arogansi intelektual mereka (meski dirinya yakin bisa membantai semua dari mereka dalam Olimpiade Fisika ataupun Matematika). Ditambah lagi, isolasi dari kelas X lain membuatnya merasa asing dengan para siswa X-2 sampai X-7 dan sering membuat mereka dianggap tidak bersahabat.

Mengingat dugaan soal karakteristik dirinya yang satu lagi, Andika merasa aspek ‘tidak bersahabat’ menjadi tidak relevan.

Saat mereka memasuki ruang kelas, yang pertama kali terdengar adalah pekikan keras.

Sekilas pandang pertama menunjukkan sekitar 25 dari dari 32 siswa yang seharusnya menghuni kelas X-1 sudah ada di dalam kelas, walau posisinya berantakan. Namun, semuanya mendadak berpaling ketika pekikan lima oktaf Ainun mengejutkan seisi kelas (bahkan Andika dan Nadiya sekalipun). Pekikan dan seruan keterkejutan lain pun susul menyusul, diiringi raut kengerian dan rasa sebal (Andika menangkap yang terakhir ini pada Gita dan Rani, yang entah untuk alasan apa, berpaling dengan jijik).

Seperti dugaan Andika, tidak semua perempuan di sana mengenakan seragam panjang dan berkerudung layaknya di sekolahnya. Gita, Rani, Mutiara, Laurentia, Silvia serta Zahra adalah beberapa diantaranya, dan bisa dengan mudah dipahami kenapa. Hanya saja, Zahra versi ini punya rambut ikal yang mencapai punggung (Zahra versi dunianya hanya sepundak) dan lebih pirang. Dia menatap Nadiya dengan mata terbelalak dan kedua tangan tertangkup di mulutnya.

Tentu saja, itulah alasan pekikan dan seruan anak-anak X-1.

Ainun dan Ayu (nama aslinya Ruwanti, tapi entah kenapa dia memaksa seluruh orang memanggilnya begitu) bergegas bangkit dari kursinya, menghampiri Nadiya dengan penuh horor.

“Nadiya?” Ainun menatap teman semejanya dari atas sampai bawah, terpana. “Kamu… sejak kapan..”

“Bukannya tadi pagi kamu enggak pakai yang beginian, ya, Nad?” tanya Ayu. Ketika berdiri, Andika bisa melihat kalau Ayu versi dunia ini jauh lebih bulat daripada versi dunianya. Dia yakin Ayu KW9 tidak sulit dijadikan bola bowling.

Nadiya melirik Andika, tidak yakin. Andika mengangkat alis.

“Yah, biasalah.” Nadiya menunjuk Andika, yang dengan santai melompati meja untuk duduk di kursinya yang paling dekat dengan pintu. “Kerjaan anehnya yang gagal lagi. Gara-gara itu aku harus ganti baju, dan adanya yang beginian. Ya udah, mau gimana lagi?”

Ainun dan Ayu menoleh pada Andika, yang balas menatapnya kaku. Keduanya bergidik dan refleks berpaling ke Nadiya.

Mendadak, Silvia menghampiri ketiganya. “Nad, ini serius kamu pake yang ginian?”

“Iya, emang kenapa, sih?”

“Bukannya dari dulu kamu alergi, ya, sama yang ginian?”

“Kamu juga enggak mesti pakai kerudungnya, deh, kalau misal cuma ada seragam panjang.” Sambung Ainun.

Andika berdehem, mengalihkan fokus keempat siswi. “Apa yang ada di otak kalian? Orang mengenakan pakaian yang lebih bermoral, malah dipertanyakan. Bukankah kalian harusnya memberi selamat, anak keras kepala ini akhirnya mau pakai yang seperti ini, heh?”

Ainun dan Ayu menunduk, salah tingkah. Sementara, Silvia membuang muka dan kembali ke kursinya tanpa suara.

Nadiya dan Andika bertukar lirikan, seolah ingin berkata,

Nadiya                  : Awas, lu, ya. Enak bener ngatain orang keras kepala.
Andika                  : Lho? Itu, kan, fakta.
Nadiya                  : Ya gak gitu juga, kali, ngomongnya.
Andika                  : Bodo, ah. HAHAHAHAHAHAHA.

“Ya udah, sih, enggak masalah juga, kan? Emang enggak boleh? Suka-suka aku, lah, mau pakai apaan aja. Lagian, dipikir-pikir, kayaknya aku tambah cakep pake pakaian ini.” Kata Nadiya, mendadak memasang pose model.

Andika membuat gestur muntah samar-samar yang tidak disadari Nadiya.

“Wooh, iya, Nad! Lebih cantik gitu!” gelegar sebuah suara dari belakang kelas. Andika tidak perlu melirik untuk tahu itu suara Dimas, raksasa kelas X-1. “Iya, gak, Jan?”

“Yoi, mamen! Wuh, mending gitu aja, Nad!” sahut suara satunya, yang dikenali sebagai suara Fauzan, kompatriot sejati Dimas. “Empat jempol, lah, buat Nadiya yang ini!”

Terdengar seruan “HUUUU~” dari beberapa siswa dan suara kertas yang dilempar ke keduanya.

Nadiya memasang tampak cuek-cuek-angkuh yang sering sekali ditunjukkannya, dan pergi ke kursinya, ditemani Ainun yang mulai mengajaknya bicara.

Andika bersandar di tembok, posisi itu membuatnya lebih nyaman melihat seisi kelas.

Dua kursi di belakangnya kosong, menandakan Yonanda dan Agus tidak ada. Teman semejanya juga tidak kelihatan. Gita dan Rani kembali membuang muka, sementara dua kompatriotnya yang lain, Mutiara dan Yolanda, beringsut tidak nyaman di kursinya. Di belakang mereka, Ratih duduk sendiri.

Hal itu mengusiknya. Kenapa dia baru sadar? Di mana Jessica? Bukankah dia dan Ratih biasanya kemana-mana bersama?

Saku celananya bergetar. Dia menarik keluar Lumia-nya dan menyalakan layar. Pesan dari Nadiya. Andika tidak mengerti bagaimana ponselnya masih bisa beroperasi di dunia ini, tapi dia bersyukur tidak harus mengotak atiknya lagi.

Andika membuka Line dan membaca pesannya.

“Hei, ini berjalan lancar juga. Ternyata Nadiya di sini enggak jauh beda kalau soal sikapnya sama aku.”

Andika menyeringai, lalu mengirim balasan.

“Yeah, kayaknya dimanapun itu, sikap banyak gaya dan menyebalkanmu enggak pernah berubah.”

Balasan Nadiya cepat.

“Awas, lu, ya.”

Bwahaha XD Tapi omong-omong, dugaanku soal karakter Andika KW9 ini bener, ternyata. Dingin-dingin-badai. Si Gita sama Rani kayaknya enggak suka juga sama dia. Silvi juga. Dia ngapain mereka, ya?”

“Ah, di dunia kita juga mereka enggak suka sama kamu, kok. XP”

“Iya, sih. Tapi yang ini agak lebih nyebelin.”

“Woi!”

Meski lumayan kaget, Andika masih bisa menjaga ketenangan untuk sekadar melirik ke arah suara yang tepat di depannya.

Prima berdiri di depannya, terpisahkan kursi. Seperti dugaannya, Prima yang ini mengenakan seragam pendek, dengan rok selututnya berumbai-rumbai dan mengenakan stoking panjang sewarna kulit (untuk alasan yang Andika tahu kenapa). Rambut lurus sebahunya dikuncir kuda, dan wajahnya bebas make-up.

“Apa?” Andika bertanya dingin.

“Gak apa-apa. Tumben gak keliatan di lapangan, tadi. Biasanya paling depan.”

Pertanyaan itu perlu membuat Andika berpikir sejenak, apa yang biasa dijawab Andika KW9?

“Siapa yang mau menonton pertandingan membosankan begitu? Lab Fisika jauh lebih menyenangkan daripada menonton duel dua duelis medioker yang mencapai perempatfinal dengan keberuntungan.” Sahut Andika, bertaruh dengan jawabannya.

Ajaibnya, Prima terkekeh-kekeh, sebelum duduk di kursinya. “Yah, emang, sih. Lagi sial aja, tuh, lawan mereka sebelumnya—siapa, sih? Kamu kenal, gak?”

“Kenapa aku harus repot-repot memikirkan?” Andika mengangkat bahu cuek.

Prima nyengir. Tampaknya dia adalah satu dari sedikit orang yang tidak terintimidasi dengan Andika KW9, yang mana dengan mudah dimaklumi oleh Andika. Cewek itu memang super cuek-dan-tomboy dimanapun dia berada. Prima melirik ke belakang, melihat Nadiya yang dikerumuni sebagian siswi. Dia mengangkat alis, lalu menoleh ke teman semejanya.

“Sejak kapan Nadiya pakai pakaian begitu?” tanyanya, merengut heran.

Nih anak lebih cuek daripada Prima yang asli, kayaknya. Pikir Andika. “Sedikit masalah di Lab Fisika, dan dia harus ganti pakaiannya. Cuma ada yang itu.”

“Masalah? Kamu latihan duel sama Nadiya sampai bajunya robek, gitu?” Prima menahan tawa.

Andika mendengus. “Yang benar saja.”

“Tapi, kok, mau-maunya dia pakai kerudung? Biasanya Nadiya, kan, enggak suka banget.”

“Siapa yang tahu apa yang ada di isi kepalanya? Harusnya kamu bersyukur, temanmu ada yang pakai pakaian lebih bermoral.”

Prima cemberut mendengar dua kata terakhir yang ditekan kuat-kuat oleh Andika, tapi dia tidak merespon. Malah, dia beranjak menghampiri kerumunan di sekitar Nadiya, yang kini turut dihadiri kira-kira seluruh laki-laki lain di X-1 yang ada di kelas. Andika menghela napas, mengecek Lumia-nya. Belum ada pesan baru dari Nadiya. Tentu saja, Nadiya pasti kerepotan di belakang sana.

Dalam hati, Andika menertawakan kerepotan Nadiya.

Ketiadaan orang yang dekat-dekat dengannya membuat Andika berpikir, betapa lancarnya akting yang dirinya dan Nadiya lakukan. Meski terang-terangan ada perbedaan jelas antara diri mereka dan mereka yang satu lagi, keduanya tidak sulit menyesuaikan diri. Rasanya malah terlalu lancar, sampai sempat muncul beberapa spekulasi aneh di kepalanya. Walau jelas-jelas dia berpindah dimensi, dan tempat ini bukan tempatnya, entah bagaimana dia bisa bereaksi alami, merasa sangat tidak asing dengannya.

Suasana kelas juga tidak jauh berbeda. Anak-anak perempuan ngerumpi tanpa henti, Mutiara dengan mulut besarnya, Gita dengan suara kalengnya, Halida dengan gaya centil-centil-sok imutnya, termasuk Arbiarso dan Pilar yang masih sehidup semati dalam mengusili orang (lelucon terakhir yang dilontarkan keduanya membuat gemuruh tawa di belakang dan nada merajuk Ainun).

Ya, hampir sama persis. Kecuali bahwa di belakang sana, Arbiarso mengenakan mesin yang sama dengan duelis di lapangan tadi. Sebuah kotak dengan cakram lingkaran berlayar terpasang di sisi atasnya dan terikat pada lengannya. Di sisi luar kotak, terpasang pelat persegi panjang yang sejajar dengan tangan. Alat yang sama dengan yang di anime Yu-GI-Oh! pikir Andika. Mengingat duel di lapangan yang disaksikannya tadi, fungsinya memang mirip. Mungkin itu Yu-Gi-Oh! versi dunia ini, dengan tambahan solid vision yang bukan hanya di anime.

Andika jadi berpikir, apa susunan dek kartu yang digunakan oleh Andika KW9 dalam duel game ini? Di dunianya, Andika biasa pakai dek Raidraptor, tapi dia ragu apakah dek macam itu ada di sini. Monster-monster yang dilihatnya saat duel tadi tidak pernah dilihatnya di database Yu-Gi-Oh! teringat soal itu, Andika terpikir lagi, di mana Andika KW9 menyimpan alat duelnya?

Kemudian, Andika menyadari satu hal lagi yang berbeda. Udara terasa agak lebih panas dari di dimensinya. Anehnya, dia merasa udara panas itu bersumber dari sebelah kirinya.

Suara napas tertahan mengalihkan pandangannya ke arah itu. Demi melihat apa yang berada di sana, jantung Andika berdegup kencang. Sarafnya mendadak tegang, dan dia harus susah payah memaksa kesadarannya untuk tidak kehilangan raut wajah dinginnnya.

Berdiri di dekat pintu adalah Jessica. Dan tatapan keduanya bertemu.

(bersambung)

0 comments:

Post a Comment