“Hipnotis? Enggak, enggak, itu bukan
hipnotis.” Andika menggeleng. “Adiksi.”
“Adiksi?” tanya
Nadiya.
“Yeah. Kamu pernah
lihat Ainun waktu nonton drama Korea di laptopnya? Kira-kira begitulah.”
“Yah, payah. Kelakuan
teman sendiri aja gak sadar. Oh, tunggu, kamu juga, kan, keranjingansmartphone.”
Andika mengangguk-angguk sok bijak. “Pantas, pantas.”
“Hei, hei.” Gerutu
Nadiya.
“Yang jelas begini.”
Sebuah tembakan meluncur dari sisi jauh, menghantam monster di sisi dekat,
disambut sorak-sorai penonton dari ujung jauh dan keluhan di ujung dekat.
Andika, yang mengejutkan, sama sekali dingin menanggapinya. “Menurut
penuturanmu, aku menduga REND Corporation adalah perancang sistem solid
vision ini. Mereka mempromosikannya ke sekolah ini, lalu entah gimana
caranya, bikin sebagian besar siswanya ketagihan sampai level enggak normal.”
Andika mengetuk-ngetukkan jari di pegangan besi di pinggir balkon. “Aku pernah
main kartu Yu-Gi-Oh! sampai level nasional, tapi mereka enggak gini-gini
banget. Tapi, yah… mungkin ada kaitannya dengan solid vision itu
sendiri. Siapa yang tahu?”
Nadiya garuk-garuk
kepala. “Enggak ngerti, DIk.”
Andika mendengus.
“Selalu seperti itu.”
“Aku lebih tertarik
sama hal lain. Reaksi orang-orang pas liat kamu.”
“Oh, ya. Itu juga.”
Jawaban itu membuat
Nadiya memasang wajah Nih-anak-keracunan-apa-sih?
Seolah sadar ekspresi
heran Nadiya, Andika melirik ke arah temannya. Sorot matanya dingin dan tajam,
menatap Nadiya seolah-olah dia adalah kecoak bau yang mesti diinjak-injak
sampai tak berbentuk. Untuk pertama kalinya sejak mereka pertama bertemu,
Nadiya tampak gentar dan ketakutan.
“Dik, kamu kenapa?”
ucapnya gemetar.
“Aku?” bahkan nada
bicaranya pun berbahaya. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang membuatmu
berpikir reaksi mereka aneh ketika melihatku?”
Andika melangkah
perlahan menuju Nadiya, sementara Nadiya mundur perlahan-lahan, jelas-jelas
takut.
“Dik… udahan ah,
becandanya! Kok kamu jadi serem gini, sih?”
“Siapa yang bercanda?”
Andika mendesak Nadiya ke pinggir tangga. Nadiya refleks mencengkeram pegangan
tangga ketika dia hampir jatuh ke anak tangga pertama.
“Dik…”
Andika berhenti
berjalan. Dia menatap Nadiya tajam-tajam, merasakan nyali temannya mendadak
ciut. Lalu,
“GIMANA? AKTINGKU
BAGUS, KAN?” serunya tiba-tiba. Nadiya terlonjak dan melepaskan pegangannya,
nyaris jatuh. Untungnya, Andika dengan sigap meraih tangan Nadiya dan
menariknya. Kurang berperasaan, jadi tarikannya terlalu keras dan membuat
Nadiya malah menghantam tubuhnya sampai keduanya nyaris jatuh.
“Woi! Ya ampun…”
Nadiya buru-buru melepaskan diri dari Andika. Dia mengusap-usap dada, kaget
setengah mati. “Gak lucu ah becandanya!”
“Yeah, yeah, sori soal
itu.” Andika sama sekali tidak terdengar bersalah. “Seenggaknya kamu enggak
jatuh.”
“Gak lucu juga kalau
aku malah jatuhnya ke kamu. Entar dikira apa, lagi.” Gerutu Nadiya.
“Iya, iya, tahu.
Sori.” Masih saja Andika tidak tampak merasa bersalah. “Seenggaknya, kira-kira
itu yang kupikirkan soal aku versi dimensi ini.”
“Eh?”
“Yah, kamu bilang
kalau anak-anak kelihatan takut denganku, kan? Aku juga sadar pas aku
nyingkirin Faisal dari jalan. Traktor itu biasanya suka resek kalau lagi
ngapa-ngapain diganggu. Tapi tadi dia malah keliatan kayak tikus kecil
ketakutan dan merangsek pergi. Lha kenapa coba kalau bukan karena dia takut
aku? Well, aku versi dunia ini. Kemungkinan, Andika KW9 itu kalau
bukan tukang bully, doyan marah, ya dingin mengerikan. Taruhan
kalau dia lebih mirip yang terakhir.”
“Enak bener kamu
bilang dia KW9. Siapa tahu dia lebih pinter dari kamu.”
“Bodo,” Andika membuat
gestur lengkungan pelangi dengan kedua tangannya. “amat.”
Nadiya melontarkan
gerutuan yang tidak bisa didengar Andika. Sebuah ledakan terdengar lagi dari
lapangan, dan sisi dekat bersorak. Andika melirik ke sana dan menemukan bahwa
user “jerox” kalah, angka di bawah namanya berubah menjadi nol.
“Oh, ya ampun. Sudah
selesai? Bukannya ini baru delapan putaran?” komentar Andika.
Tiba-tiba terdengar
suara menggema di udara. “Pemenang duel perempat final Smandak Battle Cup
adalah Muhammad Firdaus!” diikuti sorak sorai dari sisi dekat.
“Apaan tuh?” Nadiya
nyaris terlonjak lagi, kaget.
“Pengganti interkom,
kayaknya. Mungkin ada lapisan tersendiri di udara yang mancarin sinyal suara
itu. Apa tadi di dalam gak kedengeran?”
“Enggak.” Nadiya
mengusap-usap dada lagi. “Kok bisa, sih?”
“Weii, kalau
bikin solid vision saja bisa, kenapa bikin speaker tembus
pandang enggak?” Andika mengangkat bahu.
Nadiya menghela napas.
“Oke, sekarang apa?”
Andika melirik
lapangan, memerhatikan para siswa membubarkan diri. Dengung obrolan masih
terdengar dari kerumunan siswa yang berpencar ke segala arah itu. Matanya
melirik ke Lab Fisika di seberang, ruang guru di bawahnya dan kantin di sebelah
ruang guru.
“Ayo keliling.”
“Hah?”
“Hei, apa yang lebih
baik waktu nyasar di tempat asing daripada melihat-lihat sekeliling? Boleh jadi
sekolah ini cerminan dari sekolah kita, tapi siapa tahu ada yang beda?”
“Tapi, gimana kalau
misalnya kita ketemu kita yang satu lagi atau sebaliknya? Atau anak-anak ini
lihat kita ada di dua tempat berbeda? Bakalan gawat.”
“Itu…” raut wajah
Andika mendadak menggelap. “Mereka awalnya juga berada di Lab Fisika, bukan?
Tapi tadi kita gak ngeliat mereka. Lagian, kalau gak salah, mereka kayak
diserbu orang-orang pas sebelum Hasanah membawa kita ke sini. Dugaanku, mereka
udah ada di tangan REND Corporation.”
“Oh…” Nadiya tidak
yakin harus bersikap apa.
“Jadi, seharusnya
orang-orang enggak akan kaget lihat kita. Well, kecuali kamu,
mungkin.” Andika melihat Nadiya dari atas ke bawah. “Tapi secara umum aku kira
enggak, sih. Asal enggak ada orang-orang REND aja di sini.”
“Oh. Tapi, terus
Hasanah gimana?”
“Lagi tidur, kan?
Barangkali kelelahan gara-gara perpindahan dimensi. Biar gimana juga, kan, dia
yang punya ikatan mental dengan tempat ini, jadi tautan antara dunia ini dan
dunia kita. Mental dan daya pikirnya pasti capek luar biasa. Jadi, biarin aja.”
Nadiya tidak
menunjukkan tanda-tanda dia mengerti setengah dari pembicaraan Andika, tapi dia
mengangguk. “Ya udah. Terus, mau ke mana?”
Andika nyengir.
“Tempat pertama yang kita kunjungi tiap kali datang ke sekolah. Ruang kelas.”
***
Kelas X-1 di dimensi
ini terletak di ruang yang sama dengan di dimensi asal Andika dan Nadiya.
Berada di sebelah ruang TU, terisolir dari kelas X lain dan dikelilingi oleh
deretan kelas XII. Kondisi itu seringkali membuat Andika frustrasi. Para siswa
kelas XII sering membuatnya sebal akan arogansi intelektual mereka (meski
dirinya yakin bisa membantai semua dari mereka dalam Olimpiade Fisika ataupun
Matematika). Ditambah lagi, isolasi dari kelas X lain membuatnya merasa asing
dengan para siswa X-2 sampai X-7 dan sering membuat mereka dianggap tidak
bersahabat.
Mengingat dugaan soal
karakteristik dirinya yang satu lagi, Andika merasa aspek ‘tidak bersahabat’
menjadi tidak relevan.
Saat mereka memasuki
ruang kelas, yang pertama kali terdengar adalah pekikan keras.
Sekilas pandang
pertama menunjukkan sekitar 25 dari dari 32 siswa yang seharusnya menghuni
kelas X-1 sudah ada di dalam kelas, walau posisinya berantakan. Namun, semuanya
mendadak berpaling ketika pekikan lima oktaf Ainun mengejutkan seisi kelas
(bahkan Andika dan Nadiya sekalipun). Pekikan dan seruan keterkejutan lain pun
susul menyusul, diiringi raut kengerian dan rasa sebal (Andika menangkap yang
terakhir ini pada Gita dan Rani, yang entah untuk alasan apa, berpaling dengan
jijik).
Seperti dugaan Andika,
tidak semua perempuan di sana mengenakan seragam panjang dan berkerudung
layaknya di sekolahnya. Gita, Rani, Mutiara, Laurentia, Silvia serta Zahra
adalah beberapa diantaranya, dan bisa dengan mudah dipahami kenapa. Hanya saja,
Zahra versi ini punya rambut ikal yang mencapai punggung (Zahra versi dunianya
hanya sepundak) dan lebih pirang. Dia menatap Nadiya dengan mata terbelalak dan
kedua tangan tertangkup di mulutnya.
Tentu saja, itulah
alasan pekikan dan seruan anak-anak X-1.
Ainun dan Ayu (nama
aslinya Ruwanti, tapi entah kenapa dia memaksa seluruh orang memanggilnya
begitu) bergegas bangkit dari kursinya, menghampiri Nadiya dengan penuh horor.
“Nadiya?” Ainun
menatap teman semejanya dari atas sampai bawah, terpana. “Kamu… sejak kapan..”
“Bukannya tadi pagi
kamu enggak pakai yang beginian, ya, Nad?” tanya Ayu. Ketika berdiri, Andika
bisa melihat kalau Ayu versi dunia ini jauh lebih bulat daripada versi
dunianya. Dia yakin Ayu KW9 tidak sulit dijadikan bola bowling.
Nadiya melirik Andika,
tidak yakin. Andika mengangkat alis.
“Yah, biasalah.”
Nadiya menunjuk Andika, yang dengan santai melompati meja untuk duduk di
kursinya yang paling dekat dengan pintu. “Kerjaan anehnya yang gagal lagi.
Gara-gara itu aku harus ganti baju, dan adanya yang beginian. Ya udah, mau
gimana lagi?”
Ainun dan Ayu menoleh
pada Andika, yang balas menatapnya kaku. Keduanya bergidik dan refleks
berpaling ke Nadiya.
Mendadak, Silvia
menghampiri ketiganya. “Nad, ini serius kamu pake yang ginian?”
“Iya, emang kenapa,
sih?”
“Bukannya dari dulu
kamu alergi, ya, sama yang ginian?”
“Kamu juga enggak
mesti pakai kerudungnya, deh, kalau misal cuma ada seragam panjang.” Sambung
Ainun.
Andika berdehem,
mengalihkan fokus keempat siswi. “Apa yang ada di otak kalian? Orang mengenakan
pakaian yang lebih bermoral, malah dipertanyakan. Bukankah kalian harusnya
memberi selamat, anak keras kepala ini akhirnya mau pakai yang seperti ini,
heh?”
Ainun dan Ayu
menunduk, salah tingkah. Sementara, Silvia membuang muka dan kembali ke
kursinya tanpa suara.
Nadiya dan Andika
bertukar lirikan, seolah ingin berkata,
Nadiya
: Awas, lu, ya. Enak bener ngatain orang keras kepala.
Andika
: Lho? Itu, kan, fakta.
Nadiya
: Ya gak gitu juga, kali, ngomongnya.
Andika
: Bodo, ah. HAHAHAHAHAHAHA.
“Ya udah, sih, enggak
masalah juga, kan? Emang enggak boleh? Suka-suka aku, lah, mau pakai apaan aja.
Lagian, dipikir-pikir, kayaknya aku tambah cakep pake pakaian ini.” Kata
Nadiya, mendadak memasang pose model.
Andika membuat gestur
muntah samar-samar yang tidak disadari Nadiya.
“Wooh, iya, Nad! Lebih
cantik gitu!” gelegar sebuah suara dari belakang kelas. Andika tidak perlu
melirik untuk tahu itu suara Dimas, raksasa kelas X-1. “Iya, gak, Jan?”
“Yoi, mamen! Wuh,
mending gitu aja, Nad!” sahut suara satunya, yang dikenali sebagai suara
Fauzan, kompatriot sejati Dimas. “Empat jempol, lah, buat Nadiya yang ini!”
Terdengar seruan
“HUUUU~” dari beberapa siswa dan suara kertas yang dilempar ke keduanya.
Nadiya memasang tampak
cuek-cuek-angkuh yang sering sekali ditunjukkannya, dan pergi ke kursinya,
ditemani Ainun yang mulai mengajaknya bicara.
Andika bersandar di
tembok, posisi itu membuatnya lebih nyaman melihat seisi kelas.
Dua kursi di
belakangnya kosong, menandakan Yonanda dan Agus tidak ada. Teman semejanya juga
tidak kelihatan. Gita dan Rani kembali membuang muka, sementara dua kompatriotnya
yang lain, Mutiara dan Yolanda, beringsut tidak nyaman di kursinya. Di belakang
mereka, Ratih duduk sendiri.
Hal itu mengusiknya.
Kenapa dia baru sadar? Di mana Jessica? Bukankah dia dan Ratih biasanya
kemana-mana bersama?
Saku celananya
bergetar. Dia menarik keluar Lumia-nya dan menyalakan layar. Pesan dari Nadiya.
Andika tidak mengerti bagaimana ponselnya masih bisa beroperasi di dunia ini,
tapi dia bersyukur tidak harus mengotak atiknya lagi.
Andika membuka Line
dan membaca pesannya.
“Hei, ini berjalan
lancar juga. Ternyata Nadiya di sini enggak jauh beda kalau soal sikapnya sama
aku.”
Andika menyeringai,
lalu mengirim balasan.
“Yeah, kayaknya
dimanapun itu, sikap banyak gaya dan menyebalkanmu enggak pernah berubah.”
Balasan Nadiya cepat.
“Awas, lu, ya.”
“Bwahaha XD Tapi
omong-omong, dugaanku soal karakter Andika KW9 ini bener, ternyata.
Dingin-dingin-badai. Si Gita sama Rani kayaknya enggak suka juga sama dia.
Silvi juga. Dia ngapain mereka, ya?”
“Ah, di dunia kita
juga mereka enggak suka sama kamu, kok. XP”
“Iya, sih. Tapi
yang ini agak lebih nyebelin.”
“Woi!”
Meski lumayan kaget,
Andika masih bisa menjaga ketenangan untuk sekadar melirik ke arah suara yang
tepat di depannya.
Prima berdiri di
depannya, terpisahkan kursi. Seperti dugaannya, Prima yang ini mengenakan
seragam pendek, dengan rok selututnya berumbai-rumbai dan mengenakan stoking
panjang sewarna kulit (untuk alasan yang Andika tahu kenapa). Rambut lurus
sebahunya dikuncir kuda, dan wajahnya bebas make-up.
“Apa?” Andika bertanya
dingin.
“Gak apa-apa. Tumben
gak keliatan di lapangan, tadi. Biasanya paling depan.”
Pertanyaan itu perlu
membuat Andika berpikir sejenak, apa yang biasa dijawab Andika KW9?
“Siapa yang mau
menonton pertandingan membosankan begitu? Lab Fisika jauh lebih menyenangkan
daripada menonton duel dua duelis medioker yang mencapai
perempatfinal dengan keberuntungan.” Sahut Andika, bertaruh dengan
jawabannya.
Ajaibnya, Prima
terkekeh-kekeh, sebelum duduk di kursinya. “Yah, emang, sih. Lagi sial aja,
tuh, lawan mereka sebelumnya—siapa, sih? Kamu kenal, gak?”
“Kenapa aku harus
repot-repot memikirkan?” Andika mengangkat bahu cuek.
Prima nyengir.
Tampaknya dia adalah satu dari sedikit orang yang tidak terintimidasi dengan
Andika KW9, yang mana dengan mudah dimaklumi oleh Andika. Cewek itu
memang super cuek-dan-tomboy dimanapun dia berada. Prima melirik ke
belakang, melihat Nadiya yang dikerumuni sebagian siswi. Dia mengangkat alis,
lalu menoleh ke teman semejanya.
“Sejak kapan Nadiya
pakai pakaian begitu?” tanyanya, merengut heran.
Nih anak lebih cuek
daripada Prima yang asli, kayaknya. Pikir Andika. “Sedikit masalah di Lab Fisika, dan dia harus ganti
pakaiannya. Cuma ada yang itu.”
“Masalah? Kamu latihan
duel sama Nadiya sampai bajunya robek, gitu?” Prima menahan tawa.
Andika mendengus.
“Yang benar saja.”
“Tapi, kok, mau-maunya
dia pakai kerudung? Biasanya Nadiya, kan, enggak suka banget.”
“Siapa yang tahu apa
yang ada di isi kepalanya? Harusnya kamu bersyukur, temanmu ada yang pakai
pakaian lebih bermoral.”
Prima cemberut
mendengar dua kata terakhir yang ditekan kuat-kuat oleh Andika, tapi dia tidak
merespon. Malah, dia beranjak menghampiri kerumunan di sekitar Nadiya, yang
kini turut dihadiri kira-kira seluruh laki-laki lain di X-1 yang ada di kelas.
Andika menghela napas, mengecek Lumia-nya. Belum ada pesan baru dari Nadiya.
Tentu saja, Nadiya pasti kerepotan di belakang sana.
Dalam hati, Andika
menertawakan kerepotan Nadiya.
Ketiadaan orang yang
dekat-dekat dengannya membuat Andika berpikir, betapa lancarnya akting yang
dirinya dan Nadiya lakukan. Meski terang-terangan ada perbedaan jelas antara
diri mereka dan mereka yang satu lagi, keduanya tidak sulit menyesuaikan diri.
Rasanya malah terlalu lancar, sampai sempat muncul beberapa
spekulasi aneh di kepalanya. Walau jelas-jelas dia berpindah dimensi, dan
tempat ini bukan tempatnya, entah bagaimana dia bisa bereaksi alami, merasa
sangat tidak asing dengannya.
Suasana kelas juga
tidak jauh berbeda. Anak-anak perempuan ngerumpi tanpa henti,
Mutiara dengan mulut besarnya, Gita dengan suara kalengnya, Halida dengan gaya
centil-centil-sok imutnya, termasuk Arbiarso dan Pilar yang masih sehidup
semati dalam mengusili orang (lelucon terakhir yang dilontarkan keduanya
membuat gemuruh tawa di belakang dan nada merajuk Ainun).
Ya, hampir sama
persis. Kecuali bahwa di belakang sana, Arbiarso mengenakan mesin yang
sama dengan duelis di lapangan tadi. Sebuah kotak dengan cakram lingkaran
berlayar terpasang di sisi atasnya dan terikat pada lengannya. Di sisi luar
kotak, terpasang pelat persegi panjang yang sejajar dengan tangan. Alat
yang sama dengan yang di anime Yu-GI-Oh! pikir Andika. Mengingat duel
di lapangan yang disaksikannya tadi, fungsinya memang mirip. Mungkin
itu Yu-Gi-Oh! versi dunia ini, dengan tambahan solid vision yang
bukan hanya di anime.
Andika jadi berpikir,
apa susunan dek kartu yang digunakan oleh Andika KW9 dalam duel game ini? Di
dunianya, Andika biasa pakai dek Raidraptor, tapi dia ragu apakah dek macam itu
ada di sini. Monster-monster yang dilihatnya saat duel tadi tidak pernah
dilihatnya di database Yu-Gi-Oh! teringat soal itu, Andika terpikir lagi, di
mana Andika KW9 menyimpan alat duelnya?
Kemudian, Andika
menyadari satu hal lagi yang berbeda. Udara terasa agak lebih panas dari di
dimensinya. Anehnya, dia merasa udara panas itu bersumber dari sebelah kirinya.
Suara napas tertahan
mengalihkan pandangannya ke arah itu. Demi melihat apa yang berada di sana,
jantung Andika berdegup kencang. Sarafnya mendadak tegang, dan dia harus susah
payah memaksa kesadarannya untuk tidak kehilangan raut wajah dinginnnya.
Berdiri di dekat pintu
adalah Jessica. Dan tatapan keduanya bertemu.
(bersambung)


0 comments:
Post a Comment