Saturday, 25 November 2017

The Crest of Five, Episode 3


Pukul empat lewat sepuluh, Professor Morello terhentak bangun dari tidurnya. Rupanya dia tadi terlelap. Professor Morello menggosok-gosok mata dan beranjak ke wastafel.
Setelah membasuh wajahnya, Professor Morello menatap tajam bayangan dirinya di cermin. Mata kirinya dipicingkan, tanda dia sedang berpikir keras.
“Mimpi apa itu tadi?” gumamnya.
Professor Morello berusaha mengingat-ingat mimpinya. Seingatnya, dia berada dalam sebuah ruangan berkabut dengan arsitektur ala Colloseum, dengan pencahayaan warna-warni yang berpendar redup di langit-langit. Angin yang berembus lembut memberikan aura hangat.
Lalu, dibalik kabut tersebut, terlihat bayangan seseorang yang duduk di sebuah singgasana. Dari bayangannya, dia terlihat mengenakan jubah lebar. Alih-alih aura hangat, bayangan itu memancarkan aura dingin menusuk. Sepertinya Professor Morello mengenali aura itu. Tapi siapa?
Dia berusaha berjalan mendekati bayangan itu, tapi kakinya seperti terpatri di lantai. Bayangan itu mengangkat tangannya. Sontak, cahaya yang semula berpendar redup menjadi menyala terang, menyingkirkan kabut yang sejak tadi menutupi ruangan. Professor Morello berusaha menoleh ke arah bayangan tersebut, tapi sebelum dia sempat melihat wajahnya, seseorang tiba-tiba menyerbu dan mengayunkan sebuah sabit berkilat ke lehernya.
Professor Morello terbelalak. Mimpinya berakhir di situ. Dia menghela nafas dan membasuh mukanya lagi. Kemudian dia kembali menatap cermin dan menggumam pelan.
“Terprogram. Benar-benar serius.”
Matanya berkilat khawatir. Dia kembali ke meja kerjanya untuk menyadari bahwa seseorang menunggu di depan ruangannya.
“Masuk saja.” katanya dengan suara bergetar.
Pintu elektronis bergeser terbuka dan masuklah Professor Hartmann.
Nama lengkapnya Selena Hartmann, seorang professor Alkimia dari Swiss. Salah satu guru favorit di CIS selain Professor Morello. Selain usianya yang masih sangat muda, baru tiga puluh dua tahun, sikapnya yang keibuan dan penyayang serta tidak sulit memberi nilai menjadikannya banyak disukai siswa.
“Silakan duduk.” kata Professor Morello. Professor Hartmann tersenyum dan duduk di kursi di depan meja Professor Morello.
“Maaf mengganggu, Professor Morello.” ucap Professor Hartmann lembut. Rambut merahnya yang lurus menutupi telinganya dan memanjang sampai punggung. Mata coklatnya menatap guru di depannya dengan lembut.
“Kau boleh memanggilku Silvana, kalau kau suka.” sahut Professor Morello sambil memijit-mijit pelipisnya.
Professor Hartmann tersenyum. “Terima kasih atas kehormatan itu, tapi saya lebih senang memanggil Anda Professor Morello.”
Qualunque. Ada apa, Selena?”
“Saya memerlukan data dari tanaman Anggur Pelangi, untuk bahan riset. Sabilah memberi tahu bahwa data itu hanya ada di perpustakaan pribadi Anda. Boleh saya meminjamnya?”
Professor Morello menatap dalam Professor Hartmann dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu beranjak ke perpustakaan pribadinya. Dua menit kemudian, dia kembali dengan membawa tiga buah buku yang sampulnya agak kusam. Masing-masing tebalnya kurang lebih seribu halaman.
“Aku punya tiga referensi tentang Anggur Pelangi. Salah satunya tulisanku sendiri. Tapi, kalau kau berniat mencarinya saat ini, lupakan saja. Anggur Pelangi hanya berbuah pada akhir April atau awal Mei.” kata Professor Morello sambil meletakkan ketiga buku itu di mejanya.
“Begitukah? Sayang sekali, saya kira saya bisa mencarinya sekarang. Tapi tidak apa, data ini pasti berguna.” Professor Hartmann tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya kepada ruangan Professor Morello yang kental dengan aura alami.
“Ruangan Anda bagus sekali, Professor.” pujinya.
Professor Morello menatap Professor Hartmann agak lama, yang membuat Professor Hartmann merasa aneh.
“Maaf, Professor. Apa ada yang aneh dengan saya?” tanya Professor Hartmann, penasaran.
Professor Morello terhenyak. “Ah, tidak. Ada perlu yang lain lagi?”
“Tidak, ini saja. Terima kasih pinjamannya, maaf kalau mengganggu waktu Anda.”
“Tidak, aku juga sedang tidak ada jadwal jam ini.”
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Silakan.”
Professor Hartmann tersenyum sekali lagi dan pergi keluar ruangan. Professor Morello menghela nafas dan merebahkan diri di kursinya, merenung. Sejenak kemudian, dia menyalakan iComp dan mengirim pesan ke dua orang. Pesan peringatan.
***
“Ini dia, aku menemukannya!” ujar Nia girang kepada Walter dan Hanifah, meletakkan sebuah buku bersampul biru muda dengan halaman terbuka di meja. “Ternyata itu buku sejarah! Hihihi!”
Hari ini Nia dalam mode hiperaktif. Walter dan Hanifah melihat halaman terbuka yang ditunjukkan Nia dari buku Refleksi Sejarah Dunia tulisan Miller Sheringham, terbitan tahun 2048. Kepala Nia menyembul di atas kepala kedua temannya untuk ikut membaca, raut wajahnya penuh ketertarikan. Sejurus kemudian, ketiganya melongo.
“Cuma ini?” tanya Walter.
Dalam salah satu bab singkat di buku itu tertulis:

“Underworld Citron adalah salah satu tanaman misterius yang hidup di masa lampau. Ditemukan terkubur di tanah sedalam lima puluh meter di bawah makam seorang bekas penguasa bengis Transilvania pada tahun 1372 oleh Nicolas Radu, tanaman ini secara luar biasa mampu tumbuh dan berbuah. Buah Sitrun yang dihasilkannya dipercaya terkutuk oleh sebagian besar masyarakat Eropa, tapi para ilmuwan menganggapnya buah yang penuh mukjizat. Terakhir ditemukan tahun 2021 di dalam makam Benjamin Netanyahu, mantan Perdana Menteri Israel yang tewas terbunuh secara mengenaskan, tanaman ini pun benar-benar dianggap tanaman terkutuk. Pohon itu mati dua belas tahun kemudian, dan sampai sekarang tidak ada laporan penemuannya lagi.”

Walter membolak-balik halaman di buku itu, tapi tidak ada satupun halaman lain yang menjelaskan informasi tambahan mengenai Underworld Citron.
“Kau yakin, kan, buku ini yang dijelaskan di blognya Vladimir Tozijevic?” tanyanya skeptis.
“Er... si.” jawab Nia.
“Tidak ada buku lain?” tanya Hanifah.
Nia mengangkat bahu. “Nggak ada. Di blognya saja cuma diberi tahu buku yang ini, kok.”
Walter membaca paragraf itu berulang-ulang, sebelum akhirnya menyerah dan meletakkan buku cetak itu di meja.
“Tanaman macam apa yang bisa tumbuh di dalam tanah? Lalu soal mukjizat dan kutukan, tidak ada keterangan jelas. Terdengar seperti hoax yang biasa bertebaran di internet.” komentarnya.
“Itu juga membuat ana ragu soal reliabilitasnya,” tambah Hanifah.
“Ya terserah, sih! Kita nggak punya referensi lain, tahu!” timpal Nia sambil berkacak pinggang. Dia duduk dan mulai menyalin paragraf itu ke iComp-nya.
Walter dan Hanifah bertukar pandang.
“Sementara ini sepertinya kita tidak punya pilihan lain,” ujar Walter.
Na’am.” balas Hanifah singkat. Mereka ikut menyalin ke iComp masing-masing.
Namun, Walter tetap tidak merasa puas. Dia membolak-balik halaman soal Underworld Citron, dan tidak menemukan apa-apa selain halaman kosong dibaliknya.
“Nggak ada apa-apa lagi, Walter!” kata Nia gusar. “Kayaknya Niels juga nggak akan menemukan jawaban lebih lengkap dari ini, kok! Eh, tolong ambilkan tehku dong.”
Walter mendengus dan mengambil cangkir teh yang belum tersentuh sejak tadi. Namun, Walter mengangkatnya terlalu bertenaga sehingga sebagian isinya tumpah ke atas halaman kosong buku tadi. Nia dan Hanifah memekik panik.
“Walter! Hati-hati, dong! Itu kan buku langka! Kalau rusak gimana?!” seru Nia panik, tapi dengan suara masih terkendali. Dia sudah bosan dimarahi NitaErnawati, penjaga perpustakaan yang pendiam tapi tidak ragu mengusir siapapun yang membuat gaduh di perpustakaan.
Uxolo, uxolo!” timpal Walter gusar. Dia melihat halaman yang tengahnya jadi kecoklatan terkena teh, lalu mendadak terhenyak.
“Hei, kalian, lihat ini!” bisiknya tegas.
“Apaan s—”
Nia dan Hanifah tertegun. Di area yang terkena tumpahan, sebuah simbol—tepatnya sebagian simbol—berwarna kehitaman muncul. Walter menyipitkan mata, mengamati simbol itu lebih detail, tapi dia tidak bisa menyimpulkan gambar yang tidak sempurna ini.
“Sedikit lagi nggak apa-apa, kok.” bisik Nia, rasa penasaran memenuhi suaranya.
Walter mendelik tidak yakin, tapi kemudian meneteskan teh sedikit-sedikit ke tepian simbol, membiarkannya merembes melebar di kertas. Saat setengah kertas basah dengan rembesan teh, simbol itu baru tampak sempurna. Sebuah huruf V dan matahari di dalam lingkaran halo. The Dream Team termangu.
“Simbol apa ini?” tanya Hanifah.
“Di blog itu nggak ada keterangan apa-apa soal simbol,” Nia menyahut. Dia garuk-garuk kepala. “Walter, pernah lihat, nggak?”
Yang ditanya menggeleng. Dia membolak-balik halaman buku itu di tiap akhir bab dan pembahasan, lalu kembali meletakkannya di halaman tadi. “Sub-bab Underworld Citron adalah satu-satunya yang punya halaman kosong dibalik pembahasannya. Tentunya tidak mungkin ada simbol lain di halaman lain.”
“Sejenis simbol rahasia, mungkin.” usul Hanifah.
“Iya, tapi simbol apa?” rengek Nia.
“Kalau orang-orang seperti kita tahu, bukan simbol rahasia namanya.” tukas Walter. Matanya menatap simbol itu lekat-lekat. “Buku ini benar-benar tidak boleh dibawa keluar perpustakaan?”
Nia menggeleng mantap.
“Ambil gambarnya, kalau begitu. Aku meninggalkan iTelph-ku di tas.” kata Walter, beranjak bangkit.
Nia mengeluarkan sebuah smartphone pipih dengan casing merah muda dari saku jubahnya. Bagian depannya hanya ada layar, tanpa tombol apapun. Nia menggunakan fitur kamera, mengambil beberapa gambar simbol aneh itu dari berbagai sudut, lalu buru-buru mengembalikan buku itu ke tempatnya.
Anti yakin Nona Ernawati tidak akan menyadarinya?” tanya Hanifah saat Nia sudah bergabung dengannya di koridor.
Nia menggeleng. “Nita nggak suka pergi ke bagian itu. Lagipula dia memang nggak terlalu sering mengecek keutuhan buku, kok. Dia bahkan nggak sadar kalau semua buku yang dikembalikan Pablo Suarez ada bekas gigitannya.” Dia termenung sejenak. “Mudah-mudahan.”
Saat mereka sampai di depan kelas, The Great M tiba-tiba menyerbu mereka entah dari mana.
 “Hanifah!” panggil Maribel, wajahnya terlihat gelisah. Dia dan ketiga temannya langsung menghampiri The Great M. “Tugas Underworld Citron kalian sudah selesai?”
“Kalian mau minta lagi?” tanya Walter dingin.
Maribel dan Morena nyengir tanpa dosa.
“Kapan antunna mau belajar tidak tergantung pada orang lain masalah ini?” Hanifah buka suara. “Professor Morello sudah memberi waktu cukup lama untuk mengerjakannya, apaantunna menghabiskan waktu itu untuk hal-hal tidak jelas?”
“Nggak jelas?” tanya Malvina dengan nada tinggi. “Enak saja! Kami dari kemarin sudah berusaha mati-matian, tahu! Kami sudah mencari dari banyak sumber, tapi tidak pernah ketemu!”
“Internet, wikipedia, trubus,” Nia menghitung dengan jari-jarinya. “Itu juga cuma di hari kedua. Hari pertama, kalian semalaman menghabiskan waktu semalaman untuk bersenang-senang di apartemen Maribel. Hmm...” Nia menerawang sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
Malvina menginjak kaki Maribel dan membisikkan sesuatu tentang internet dan CCTV dengan kesal.
“Intinya, tidak.” kata The Dream Team kompak.
“Ayolah, Walter ganteng, Hanifah cantik, Nia cantik... kalian kan orang baik, yerr a sweetee, masaklah sih nggak mau menolongkan kami?” kata Mudiwa memelas. “Iya benar, kami salah, tapi kalo kami nggak mengumpulin tugas tepat waktunya, kan semuanya kena dihukumin...”
Nia mengecek jam tangannya. “Masih ada dua puluh menit lagi, tuh.”
“Dua puluh menit? ‘tchyo za ga’lima! Bisa apa dengan waktu segitu, hah?” tanya Malvina, masih dengan nada tinggi.
The Dream Team kompak menatap dingin Malvina. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berlalu.
Idiota!” bentak Maribel. “Kenapa malah bikin mereka marah? Lihat dong, mereka jadi pergi begitu saja!”
“Lho, kenapa malah menyalahkanku? Mereka sendiri yang pelit!” Malvina membantah.
Mudiwa garuk-garuk kepala melihat Maribel dan Mudiwa melanjutkan cekcoknya, sementara Morena cuma bengong.
“Ya sudahlah! Pakai cara lama saja!” kata Maribel jengkel.
Morena memasang tampang bego. “Cara lama?”
“Maksudnya mengarang bebas,” Mudiwa mengklarifikasi. Morena bengong beberapa lama, lalu menepuk dahinya.
Maldito... jangan lagi...”
***
The Dream Team duduk di kursi panjang di taman sekolah. Taman itu bernuansa Inggris klasik, dengan potongan simetri pada kedua sisi. Kursi panjangnya terbuat dari marmer putih kualitas tinggi. Walter duduk agak berjarak dari Nia dan Hanifah.
En serio, aku nggak ngerti kenapa orang-orang pemalas seperti para cewek M itu bisa masuk CIS. Kualitas apa sih yang mereka punya? Ha-ah!” keluh Nia.
 Hanifah merenung, tapi dia tidak berkomentar apa-apa. Yang menimpali justru Walter.
“Apalagi untuk masuk ke kelas Kompas. Melihat kapabilitas mereka, aku heran kenapa mereka tidak ditempatkan saja di Pepsi.”
Nia menggeleng keras-keras. “Mereka lebih pantas masuk Scooter, Walter.”
Konke,”
Mereka tidak berbicara lagi untuk beberapa lama. Suasana sore di CIS sudah sepi. Suara gemercik dari air mancur kecil di dekat kursi mereka menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Sesekali kupu-kupu lewat dan Nia berusaha menangkapnya, tapi hanya berakhir dengan gerutuan Nia yang gagal mendapatkannya.
Sudah menjadi rahasia umum, The Dream Team tidak menyukai keberadaan The Great M dan The K-Rocks. Seandainya tadi The K-Rocks muncul, sudah pasti mereka akan bertindak seperti parasit, seperti The Great M.
Selain merepotkan mereka tiap kali ada tugas, The Dream Team menganggap kedua geng itu merusak citra baik Kompas sebagai kelas terbaik di CIS yang susah payah mereka bangun. Terbukti dari bisik-bisik jelek yang beredar di kalangan siswa Tingkat Tiga ketika The Great M kalah telak di Kompetisi Karya Sains Antar Kelas tahun lalu.
Dan sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa para penghuni kelas Kompas memang terpecah karena keberadaan geng di sana. Bahkan, mereka tidak menyukai satu sama lain.
The Dream Team yang tidak menyukai The Great M dan The K-Rocks karena sifat parasit dan tingkat intelegensia mereka yang rendah, The K-Rocks yang membenci The Epic karena menghina artis-artis Korea Selatan (Kazuki memeloporinya dengan menyebut para artis itu banci homo) dan The Great M karena dianggap mengganggu eksistensi mereka, The Epic yang selalu merasa jijik dengan fanatisme The K-Rocks dan sikap konyol The Great M, dan tentu saja, The Great M yang jengkel dengan keberadaan The K-Rocks.
Sekalipun di tembok belakang kelas mereka terpampang tulisan Kebersamaan Dapat Mengubah Segalanya, sejatinya mereka tidak pernah benar-benar kompak. Tugas kelas pun mereka kerjakan dengan setengah hati. Rasa tidak suka satu sama lain telah mengikis slogan yang mereka sepakati di awal Tingkat Dua lalu. Bahkan Walter, sebagai ketua kelas, tidak banyak membantu mengatasi perpecahan ini. Alih-alih, dia malah masuk di dalam lingkaran itu.
Hanifah memikirkan kondisi itu selama beberapa saat, sebelum langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa mengusiknya. Dia menengok sebelah kirinya dan melihat The K-Rocks berlari terburu-buru ke arah mereka.
“Hah, aduh...” Tiffany terengah-engah. “Kukira kami terlambat... Eh, kalian sudah selesai?”
The Dream Team menatap Tiffany dingin, sukses membuatnya salah tingkah.
“Eh, ani! Ani! Maksudku...”
“Kami nggak mau nyontek, kok!” cicit Susanti, nafasnya belum teratur. “Kami... cuma... mau kolektifkan...”
Nia mengernyit. “Tumben. Kalian dapat dari mana?”
“Ya dari perpustakaan, dom!” solot Katrijn. “Memang kau pikir dari tong sampah?”
“Hei, jaga bicaramu, payaso!”
Hanifah menghela nafas. “Kalau ana boleh menebak, antunna sebenarnya mencari kami di perpustakaan, tapi kami sudah tidak ada. Lalu antunna bertanya pada Nona Ernawati tentang buku yang kami baca, dan antunna mengambilnya dari sana,” dia membenarkan kerudungnya. “Seperti itu, kan?”
Tiffany dan Susanti nyengir malu.
Nia mendadak tegang. Dia bertukar pandang dengan Walter dan Hanifah.
“Tiffany, kau menemukan apa di buku itu?” tanya Walter hati-hati.
Tiffany yang sedang melamunkan sesuatu tersentak. “Apa? Lee Chung Ho kenapa? Dia nggak lagi pac—Oh, yang... yang kami temukan?”
Walter memberinya tatapan tidak sabar.
“Ya... ya... mungkin sama dengan yang kalian dapatkan...” ucapnya ragu-ragu. “Cuma satu paragraf, kan?”
Jawaban itu membuat The Dream Team bertukar pandang keheranan.
“Tidak menemukan sesuatu yang lain dari buku itu? Di dekat halaman tempat kalian menemukannya?”
Tiffany menggeleng, sorot matanya tidak fokus. “Nggak. Ji Yung Moon masih... eh, bukan! Bukan! Maksudku, kami cuma menemukan itu! Kertasnya agak lecek sedikit, tapi selain itu nggak ada yang aneh. Barangkali karena habis kalian buka tadi. Memang ada apa?”
The Dream Team termangu sejenak, tapi kemudian Walter berkata. “Bukan apa-apa, kukira kalian menemukan hal lain yang kami lewatkan.”
Tiffany tidak tampak yakin, tapi dia tidak bicara apa-apa lagi. Nia dan Hanifah berbisik-bisik keheranan. Walter mengambil sekeping logam persegi keperakan seukuran telapak tangan dari sakunya. Dia menekan permukaannya, dan kepingan itu melebar jadi seukuran keyscreen. Walter menekan sudut kiri atas keyscreen dan layar iComp teriluminasi di atasnya.
“Kirim datanya,” katanya.
Tiga menit kemudian, The Epic dan The Great M muncul di taman. Tapi, wajah-wajah The Epic tampak gelisah.
“Kazuki. Kau yakin? Mereka membantu?” tanya Hendrik. Dia duduk di kursi di seberang The Great M, sekilas menoleh sinis pada The K-Rocks.
Daijoubu, mereka pasti datang, kok.” ujar Kazuki mantap, meski raut mukanya tidak meyakinkan.
Hendrik melirik jam tangannya. Enam menit lagi batas terakhir pengumpulan. Dia mendengus, lalu menggigit sepotong coklat.
Niels mondar-mandir di depan kursi. Sekali-sekali, dia menoleh pada teman sekelasnya yang lain dan mengeluh dalam hati. Untuk pertama kalinya, dia jadi yang paling terakhir mengumpulkan tugas.
Bueno, Niels? Hendrik? Tugas kalian mana?” Maribel menghampiri mereka dengan iComp di tangannya. Layar iComp menunjukkan tanda tanya besar.
The Epic menatap Maribel dengan raut muka yang tidak bisa ditebak. Layar iComp Maribel menunjukkan lebih banyak tanda tanya. Sementara, layar iComp Kazuki menampilkan emoticon cemberut.
“Apa kalian...”
Belum sempat Maribel selesai berbicara, dua orang perempuan berpakaian putih identik berlari tergesa-gesa ke arah mereka. Salah satunya berkulit pucat hampir seperti albino, sementara yang lain berkulit coklat gelap. Ernesta dan ElfriedeHowedes menghampiri The Epic, tapi mereka tersandung kaki satu sama lain dan nyaris jatuh menabrak Clark yang berdiri di samping kursi.
“Hei, hati-hati, brat!” bentak Clark.
“Aduh, maaf, Clark...” kata Ernesta malu.
Elfriede terengah-engah. “Ini... Niels... datanya...”
Dia menyodorkan selembar kertas alumunium kecil pada Niels dengan wajah penuh harap. Kertas Memori. Niels menerimanya dengan ragu dan menyerahkannya pada Kazuki. Kazuki menyelipkan kertas itu di slot iCompnya, mengecek isinya, dan mengernyit heran.
“Hei, albino, apa ini?” Clark memanggil Ernesta.
“Hei, yang sopan!” protes Elfriede.
“Terserahlah. Ini apa?” Clark menunjuk sesuatu di layar iComp-nya. The Epic yang lain menjulurkan kepala ke depan layar, penasaran.
“Itu? Nggak tahu,” kata Ernesta polos.
“Kami cuma menyalin,” timpal Elfriede.
“Dari e-book ayah,”
“Apa adanya,”
Clark menatap ketiga temannya, yang juga menunjukkan rasa penasaran. Clark menyalinnya, meninggalkan satu paragraf teks yang kemudian disalin ke Kertas Memori.
“Nih,” Kazuki memberikan Kertas Memori pada Maribel.
“Eh?’ Maribel menerimanya dengan bingung. “Jadi, kalian...”
“Kumpulkan saja! Tidak usah protes!” potong Hendrik.
“S... si! Si!” kata Maribel tergagap. Wajahnya agak memerah. Dia segera memasukkan data ke iCompnya.
“Aku kumpulkan dulu, ya! Dadah!” kata Maribel sambil menghambur buru-buru ke selatan.
The Epic menghela nafas lega. Tapi, ketiga geng lain menatap mereka keheranan, utamanya The Dream Team.
“Kau minta orang lain yang mengerjakan?” tanya Walter. “Tidak biasanya, Niels. Seingatku kau tidak pernah sudi meminta bantuan orang lain.”
Niels duduk dan mengambil coklat di dekat Hendrik. “Kecuali aku kehabisan akal, ingat? Dan kau tahu bukan tipikalku juga untuk meminta bantuanmu.”
Mereka bertukar pandang dingin beberapa saat, lalu berpaling satu sama lain.
“Maaf tadi hampir terlambat, Niels!” Elfriede buka suara. Nafasnya sudah kembali normal. “Ayah hampir nggak bisa dihubungi seharian, baru beberapa waktu yang lalu kami mendapatkannya,”
“Dan kereta cukup penuh sore begini,” Ernesta menambahkan.
Kazuki menatap layar iComp dengan kening berkerut, lalu bertanya. “Datanya sedikit sekali. Apa memang cuma ada segini? Dan yang satu ini...”
“Ayah bilang referensi tertulis tentang tanaman itu memang sedikit sekali.” Ernesta berbisik, “Itu tanaman terkutuk. Verwünscht.”
The Epic bertukar pandang satu sama lain.
“Ehm,” Kazuki berdehem. “Baiklah, sebagai ucapan terima kasih, ini untuk kalian.”
Dia menyodorkan dua lembar kertas tebal. Si kembar mengambilnya dengan ragu.
“Foto cetak?” tanya Ernesta.
“Benda itu sudah langka, kan?” komentar Clark. “Lagipula, itu foto kami di puncak Gunung Jayawijaya. Kudengar gunung itu adalah tempat tertinggi di negara ini, bisa sampai sana adalah kesempatan langka.”
“Masa’ cuma ini, Clark? Maksudnya, kenapa cuma dua?” Elfriede merajuk.
“Kalian cuma dua orang. Jadi pas, kan? Lagipula, foto itu cuma dicetak delapan lembar,” timpal Niels.
“Tujuh lembar,” koreksi Hendrik.
“Tujuh lembar.” Niels meralat.
Elfriede dan Ernesta cemberut, jelas sekali tidak puas. Sekilas, mata mereka menatap setumpuk coklat Belgia di dekat Hendrik. Mereka nyengir jahil.
“Oke, kalau memang cuma ini yang bisa kami dapat...” kata Elfriede.
“...dan karena ini belum cukup untuk membayar informasi ini...” sambung Ernesta.
Clark mengernyit. “Kalian mau apa?”
Si kembar terkikik. Spontan, mereka menyerbu tumpukan coklat dan meraup sebagian besarnya.
“Ini untuk kami saja! Danke!” seru mereka berdua sambil lari menjauh.
“Hei! Kalian! Jangan... Ah. Anak kecil.” keluh Hendrik.
Kazuki menepuk dahi dan kembali membaca data yang diberikan si kembar tadi. Lagi-lagi dia mengernyit.
Minna, coba baca ini.” katanya. Ketiga temannya mengerubungi Kazuki dan ikut membacanya. Raut muka mereka ikut keheranan.
“Masa’ sih yang seperti itu benar-benar ada?” tanya Niels skeptis.
Hendrik berdecak gusar. “Kedengaran dongeng.”
“Kalau kau bertanya-tanya soal itu, aku juga.” Walter tiba-tiba muncul di depan mereka. “Paragraf itu lucu sekali.”
Niels mendelik pada Walter. “Sepertinya kau dapat dari buku yang sama.”
“Miller Sheringham, bukan?” balas Walter kaku.
“Sheringham... ya, dia.” Kazuki mengonfirmasi.
“Dan ini. Si kembar ikut menyalinnya.” Clark memutar layar iComp-nya ke hadapan Walter. Demi melihatnya, Walter tersentak. Simbol yang sama dengan yang dilihatnya di buku Miller Sheringham, tapi yang ini berwarna hijau tua.
“Nah, apa menurutmu soal simbol ini, Otak-Atas-Normal?” tanya Clark sinis.
Walter mendengus. Dia melirik sejenak ke The K-Rocks yang berjalan menjauh sambil terus mengobrol riang. “Aku juga menemukannya di versi buku cetak. Sayangnya, kau salah orang kalau ingin menanyakan artinya. Tapi ada yang patut diperhatikan.” Suaranya menegas. “Tugas yang satu ini sama sekali berbeda dengan tugas Professor Morello yang sebelumnya. Padahal kita tahu kalau dia bukan orang yang suka melakukan perubahan drastis mendadak. Langka referensi, bahkan keberadaannya saja masih sangat diragukan. Hampir mustahil terjangkau. Sementara dia selalu menekankan kalau teori dipelajari untuk dipraktikkan.”
“Apa artinya Professor Morello sudah menemukan tanaman itu?” balas Niels skeptis.
“Tentu dia akan mengenalkannya langsung, tidak perlu bersusah payah dengan teori. Manjalo, simbol ini masih menggangguku.” Walter menatap simbol yang berpendar di layar iComp Clark.
Niels termenung.

***

0 comments:

Post a Comment