Pukul
empat lewat sepuluh, Professor Morello terhentak bangun dari tidurnya. Rupanya
dia tadi terlelap. Professor Morello menggosok-gosok mata dan beranjak ke
wastafel.
Setelah
membasuh wajahnya, Professor Morello menatap tajam bayangan dirinya di cermin.
Mata kirinya dipicingkan, tanda dia sedang berpikir keras.
“Mimpi
apa itu tadi?” gumamnya.
Professor
Morello berusaha mengingat-ingat mimpinya. Seingatnya, dia berada dalam sebuah
ruangan berkabut dengan arsitektur ala Colloseum, dengan pencahayaan
warna-warni yang berpendar redup di langit-langit. Angin yang berembus lembut
memberikan aura hangat.
Lalu,
dibalik kabut tersebut, terlihat bayangan seseorang yang duduk di sebuah
singgasana. Dari bayangannya, dia terlihat mengenakan jubah lebar. Alih-alih
aura hangat, bayangan itu memancarkan aura dingin menusuk. Sepertinya Professor
Morello mengenali aura itu. Tapi siapa?
Dia
berusaha berjalan mendekati bayangan itu, tapi kakinya seperti terpatri di
lantai. Bayangan itu mengangkat tangannya. Sontak, cahaya yang semula berpendar
redup menjadi menyala terang, menyingkirkan kabut yang sejak tadi menutupi
ruangan. Professor Morello berusaha menoleh ke arah bayangan tersebut, tapi
sebelum dia sempat melihat wajahnya, seseorang tiba-tiba menyerbu dan
mengayunkan sebuah sabit berkilat ke lehernya.
Professor
Morello terbelalak. Mimpinya berakhir di situ. Dia menghela nafas dan membasuh
mukanya lagi. Kemudian dia kembali menatap cermin dan menggumam pelan.
“Terprogram.
Benar-benar serius.”
Matanya
berkilat khawatir. Dia kembali ke meja kerjanya untuk menyadari bahwa seseorang
menunggu di depan ruangannya.
“Masuk
saja.” katanya dengan suara bergetar.
Pintu
elektronis bergeser terbuka dan masuklah Professor Hartmann.
Nama
lengkapnya Selena Hartmann, seorang professor Alkimia dari Swiss. Salah satu
guru favorit di CIS selain Professor Morello. Selain usianya yang masih sangat muda,
baru tiga puluh dua tahun, sikapnya yang keibuan dan penyayang serta tidak
sulit memberi nilai menjadikannya banyak disukai siswa.
“Silakan
duduk.” kata Professor Morello. Professor Hartmann tersenyum dan duduk di kursi
di depan meja Professor Morello.
“Maaf
mengganggu, Professor Morello.” ucap Professor Hartmann lembut. Rambut merahnya
yang lurus menutupi telinganya dan memanjang sampai punggung. Mata coklatnya
menatap guru di depannya dengan lembut.
“Kau
boleh memanggilku Silvana, kalau kau suka.” sahut Professor Morello sambil
memijit-mijit pelipisnya.
Professor
Hartmann tersenyum. “Terima kasih atas kehormatan itu, tapi saya lebih senang
memanggil Anda Professor Morello.”
“Qualunque. Ada apa, Selena?”
“Saya
memerlukan data dari tanaman Anggur Pelangi, untuk bahan riset. Sabilah memberi
tahu bahwa data itu hanya ada di perpustakaan pribadi Anda. Boleh saya
meminjamnya?”
Professor
Morello menatap dalam Professor Hartmann dengan ekspresi yang sulit ditebak,
lalu beranjak ke perpustakaan pribadinya. Dua menit kemudian, dia kembali
dengan membawa tiga buah buku yang sampulnya agak kusam. Masing-masing tebalnya
kurang lebih seribu halaman.
“Aku
punya tiga referensi tentang Anggur Pelangi. Salah satunya tulisanku sendiri.
Tapi, kalau kau berniat mencarinya saat ini, lupakan saja. Anggur Pelangi hanya
berbuah pada akhir April atau awal Mei.” kata Professor Morello sambil
meletakkan ketiga buku itu di mejanya.
“Begitukah?
Sayang sekali, saya kira saya bisa mencarinya sekarang. Tapi tidak apa, data
ini pasti berguna.” Professor Hartmann tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya
kepada ruangan Professor Morello yang kental dengan aura alami.
“Ruangan
Anda bagus sekali, Professor.” pujinya.
Professor
Morello menatap Professor Hartmann agak lama, yang membuat Professor Hartmann
merasa aneh.
“Maaf,
Professor. Apa ada yang aneh dengan saya?” tanya Professor Hartmann, penasaran.
Professor Morello terhenyak. “Ah, tidak. Ada perlu yang lain lagi?”
“Tidak, ini saja. Terima kasih pinjamannya, maaf kalau mengganggu waktu
Anda.”
“Tidak, aku juga sedang tidak ada jadwal jam ini.”
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Silakan.”
Professor Hartmann tersenyum sekali lagi dan pergi keluar ruangan.
Professor Morello menghela nafas dan merebahkan diri di kursinya, merenung.
Sejenak kemudian, dia menyalakan iComp dan mengirim pesan ke dua orang. Pesan
peringatan.
***
“Ini dia, aku menemukannya!” ujar Nia girang kepada Walter dan Hanifah,
meletakkan sebuah buku bersampul biru muda dengan halaman terbuka di meja.
“Ternyata itu buku sejarah! Hihihi!”
Hari ini Nia dalam mode hiperaktif. Walter dan Hanifah melihat halaman
terbuka yang ditunjukkan Nia dari buku Refleksi
Sejarah Dunia tulisan Miller Sheringham, terbitan tahun 2048. Kepala Nia
menyembul di atas kepala kedua temannya untuk ikut membaca, raut wajahnya penuh
ketertarikan. Sejurus kemudian, ketiganya melongo.
“Cuma ini?” tanya Walter.
Dalam salah satu bab singkat di buku itu tertulis:
“Underworld Citron adalah salah
satu tanaman misterius yang hidup di masa lampau. Ditemukan terkubur di tanah
sedalam lima puluh meter di bawah makam seorang bekas penguasa bengis
Transilvania pada tahun 1372 oleh Nicolas Radu, tanaman ini secara luar biasa
mampu tumbuh dan berbuah. Buah Sitrun yang dihasilkannya dipercaya terkutuk
oleh sebagian besar masyarakat Eropa, tapi para ilmuwan menganggapnya buah yang
penuh mukjizat. Terakhir ditemukan tahun 2021 di dalam makam Benjamin
Netanyahu, mantan Perdana Menteri Israel yang tewas terbunuh secara
mengenaskan, tanaman ini pun benar-benar dianggap tanaman terkutuk. Pohon itu
mati dua belas tahun kemudian, dan sampai sekarang tidak ada laporan
penemuannya lagi.”
Walter membolak-balik halaman di buku itu, tapi tidak ada satupun halaman
lain yang menjelaskan informasi tambahan mengenai Underworld Citron.
“Kau yakin, kan, buku ini yang dijelaskan di blognya Vladimir Tozijevic?”
tanyanya skeptis.
“Er... si.” jawab Nia.
“Tidak ada buku lain?” tanya Hanifah.
Nia mengangkat bahu. “Nggak ada. Di blognya saja cuma diberi tahu buku yang
ini, kok.”
Walter membaca paragraf itu berulang-ulang, sebelum akhirnya menyerah dan
meletakkan buku cetak itu di meja.
“Tanaman macam apa yang bisa tumbuh di dalam tanah? Lalu soal mukjizat dan
kutukan, tidak ada keterangan jelas. Terdengar seperti hoax yang biasa
bertebaran di internet.” komentarnya.
“Itu juga membuat ana ragu soal
reliabilitasnya,” tambah Hanifah.
“Ya terserah, sih! Kita nggak punya referensi lain, tahu!” timpal Nia
sambil berkacak pinggang. Dia duduk dan mulai menyalin paragraf itu ke
iComp-nya.
Walter dan Hanifah bertukar pandang.
“Sementara ini sepertinya kita tidak punya pilihan lain,” ujar Walter.
“Na’am.” balas Hanifah singkat.
Mereka ikut menyalin ke iComp masing-masing.
Namun, Walter tetap tidak merasa puas. Dia membolak-balik halaman soal
Underworld Citron, dan tidak menemukan apa-apa selain halaman kosong
dibaliknya.
“Nggak ada apa-apa lagi, Walter!” kata Nia gusar. “Kayaknya Niels juga
nggak akan menemukan jawaban lebih lengkap dari ini, kok! Eh, tolong ambilkan
tehku dong.”
Walter mendengus dan mengambil cangkir teh yang belum tersentuh sejak tadi.
Namun, Walter mengangkatnya terlalu bertenaga sehingga sebagian isinya tumpah
ke atas halaman kosong buku tadi. Nia dan Hanifah memekik panik.
“Walter! Hati-hati, dong! Itu kan buku langka! Kalau rusak gimana?!” seru Nia
panik, tapi dengan suara masih terkendali. Dia sudah bosan dimarahi NitaErnawati,
penjaga perpustakaan yang pendiam tapi tidak ragu mengusir siapapun yang
membuat gaduh di perpustakaan.
“Uxolo, uxolo!” timpal Walter
gusar. Dia melihat halaman yang tengahnya jadi kecoklatan terkena teh, lalu
mendadak terhenyak.
“Hei, kalian, lihat ini!” bisiknya tegas.
“Apaan s—”
Nia dan Hanifah tertegun. Di area yang terkena tumpahan, sebuah
simbol—tepatnya sebagian simbol—berwarna kehitaman muncul. Walter menyipitkan
mata, mengamati simbol itu lebih detail, tapi dia tidak bisa menyimpulkan
gambar yang tidak sempurna ini.
“Sedikit lagi nggak apa-apa, kok.” bisik Nia, rasa penasaran memenuhi
suaranya.
Walter mendelik tidak yakin, tapi kemudian meneteskan teh sedikit-sedikit ke
tepian simbol, membiarkannya merembes melebar di kertas. Saat setengah kertas
basah dengan rembesan teh, simbol itu baru tampak sempurna. Sebuah huruf V dan
matahari di dalam lingkaran halo. The Dream Team termangu.
“Simbol apa ini?” tanya Hanifah.
“Di blog itu nggak ada keterangan apa-apa soal simbol,” Nia menyahut. Dia
garuk-garuk kepala. “Walter, pernah lihat, nggak?”
Yang ditanya menggeleng. Dia membolak-balik halaman buku itu di tiap akhir
bab dan pembahasan, lalu kembali meletakkannya di halaman tadi. “Sub-bab
Underworld Citron adalah satu-satunya yang punya halaman kosong dibalik
pembahasannya. Tentunya tidak mungkin ada simbol lain di halaman lain.”
“Sejenis simbol rahasia, mungkin.” usul Hanifah.
“Iya, tapi simbol apa?” rengek Nia.
“Kalau orang-orang seperti kita tahu, bukan simbol rahasia namanya.” tukas Walter.
Matanya menatap simbol itu lekat-lekat. “Buku ini benar-benar tidak boleh
dibawa keluar perpustakaan?”
Nia menggeleng mantap.
“Ambil gambarnya, kalau begitu. Aku meninggalkan iTelph-ku di tas.” kata Walter,
beranjak bangkit.
Nia mengeluarkan sebuah smartphone
pipih dengan casing merah muda dari
saku jubahnya. Bagian depannya hanya ada layar, tanpa tombol apapun. Nia
menggunakan fitur kamera, mengambil beberapa gambar simbol aneh itu dari
berbagai sudut, lalu buru-buru mengembalikan buku itu ke tempatnya.
“Anti yakin Nona Ernawati tidak
akan menyadarinya?” tanya Hanifah saat Nia sudah bergabung dengannya di
koridor.
Nia menggeleng. “Nita nggak suka pergi ke bagian itu. Lagipula dia memang
nggak terlalu sering mengecek keutuhan buku, kok. Dia bahkan nggak sadar kalau
semua buku yang dikembalikan Pablo Suarez ada bekas gigitannya.” Dia termenung
sejenak. “Mudah-mudahan.”
Saat mereka sampai di depan kelas, The Great M tiba-tiba menyerbu mereka
entah dari mana.
“Hanifah!” panggil Maribel, wajahnya
terlihat gelisah. Dia dan ketiga temannya langsung menghampiri The Great M.
“Tugas Underworld Citron kalian sudah selesai?”
“Kalian mau minta lagi?” tanya Walter dingin.
Maribel dan Morena nyengir tanpa dosa.
“Kapan antunna mau belajar tidak
tergantung pada orang lain masalah ini?” Hanifah buka suara. “Professor Morello
sudah memberi waktu cukup lama untuk mengerjakannya, apaantunna menghabiskan waktu itu untuk hal-hal tidak jelas?”
“Nggak jelas?” tanya Malvina dengan nada tinggi. “Enak saja! Kami dari
kemarin sudah berusaha mati-matian, tahu! Kami sudah mencari dari banyak
sumber, tapi tidak pernah ketemu!”
“Internet, wikipedia, trubus,” Nia menghitung dengan jari-jarinya. “Itu
juga cuma di hari kedua. Hari pertama, kalian semalaman menghabiskan waktu
semalaman untuk bersenang-senang di apartemen Maribel. Hmm...” Nia menerawang
sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
Malvina menginjak kaki Maribel dan membisikkan sesuatu tentang internet dan
CCTV dengan kesal.
“Intinya, tidak.” kata The Dream Team kompak.
“Ayolah, Walter ganteng, Hanifah cantik, Nia cantik... kalian kan orang
baik, yerr a sweetee, masaklah sih
nggak mau menolongkan kami?” kata Mudiwa memelas. “Iya benar, kami salah, tapi
kalo kami nggak mengumpulin tugas tepat waktunya, kan semuanya kena dihukumin...”
Nia mengecek jam tangannya. “Masih ada dua puluh menit lagi, tuh.”
“Dua puluh menit? ‘tchyo za ga’lima!
Bisa apa dengan waktu segitu, hah?” tanya Malvina, masih dengan nada tinggi.
The Dream Team kompak menatap dingin Malvina. Tanpa berkata apa-apa lagi,
mereka berlalu.
“Idiota!” bentak Maribel. “Kenapa
malah bikin mereka marah? Lihat dong, mereka jadi pergi begitu saja!”
“Lho, kenapa malah menyalahkanku? Mereka sendiri yang pelit!” Malvina
membantah.
Mudiwa garuk-garuk kepala melihat Maribel dan Mudiwa melanjutkan cekcoknya,
sementara Morena cuma bengong.
“Ya sudahlah! Pakai cara lama saja!” kata Maribel jengkel.
Morena memasang tampang bego. “Cara lama?”
“Maksudnya mengarang bebas,” Mudiwa mengklarifikasi. Morena bengong beberapa
lama, lalu menepuk dahinya.
“Maldito... jangan lagi...”
***
The Dream Team duduk di kursi panjang di taman sekolah. Taman itu bernuansa
Inggris klasik, dengan potongan simetri pada kedua sisi. Kursi panjangnya
terbuat dari marmer putih kualitas tinggi. Walter duduk agak berjarak dari Nia
dan Hanifah.
“En serio, aku nggak ngerti
kenapa orang-orang pemalas seperti para cewek M itu bisa masuk CIS. Kualitas
apa sih yang mereka punya? Ha-ah!” keluh Nia.
Hanifah merenung, tapi dia tidak
berkomentar apa-apa. Yang menimpali justru Walter.
“Apalagi untuk masuk ke kelas Kompas. Melihat kapabilitas mereka, aku heran
kenapa mereka tidak ditempatkan saja di Pepsi.”
Nia menggeleng keras-keras. “Mereka lebih pantas masuk Scooter, Walter.”
“Konke,”
Mereka tidak berbicara lagi untuk beberapa lama. Suasana sore di CIS sudah
sepi. Suara gemercik dari air mancur kecil di dekat kursi mereka menjadi
satu-satunya suara yang terdengar. Sesekali kupu-kupu lewat dan Nia berusaha
menangkapnya, tapi hanya berakhir dengan gerutuan Nia yang gagal
mendapatkannya.
Sudah menjadi rahasia umum, The Dream Team tidak menyukai keberadaan The
Great M dan The K-Rocks. Seandainya tadi The K-Rocks muncul, sudah pasti mereka
akan bertindak seperti parasit, seperti The Great M.
Selain merepotkan mereka tiap kali ada tugas, The Dream Team menganggap
kedua geng itu merusak citra baik Kompas sebagai kelas terbaik di CIS yang
susah payah mereka bangun. Terbukti dari bisik-bisik jelek yang beredar di
kalangan siswa Tingkat Tiga ketika The Great M kalah telak di Kompetisi Karya
Sains Antar Kelas tahun lalu.
Dan sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa para penghuni kelas Kompas
memang terpecah karena keberadaan geng di sana. Bahkan, mereka tidak menyukai
satu sama lain.
The Dream Team yang tidak menyukai The Great M dan The K-Rocks karena sifat
parasit dan tingkat intelegensia mereka yang rendah, The K-Rocks yang membenci
The Epic karena menghina artis-artis Korea Selatan (Kazuki memeloporinya dengan
menyebut para artis itu banci homo) dan The Great M karena dianggap mengganggu
eksistensi mereka, The Epic yang selalu merasa jijik dengan fanatisme The
K-Rocks dan sikap konyol The Great M, dan tentu saja, The Great M yang jengkel
dengan keberadaan The K-Rocks.
Sekalipun di tembok belakang kelas mereka terpampang tulisan Kebersamaan Dapat Mengubah Segalanya,
sejatinya mereka tidak pernah benar-benar kompak. Tugas kelas pun mereka
kerjakan dengan setengah hati. Rasa tidak suka satu sama lain telah mengikis
slogan yang mereka sepakati di awal Tingkat Dua lalu. Bahkan Walter, sebagai
ketua kelas, tidak banyak membantu mengatasi perpecahan ini. Alih-alih, dia
malah masuk di dalam lingkaran itu.
Hanifah memikirkan kondisi itu selama beberapa saat, sebelum
langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa mengusiknya. Dia menengok sebelah
kirinya dan melihat The K-Rocks berlari terburu-buru ke arah mereka.
“Hah, aduh...” Tiffany terengah-engah. “Kukira kami terlambat... Eh, kalian
sudah selesai?”
The Dream Team menatap Tiffany dingin, sukses membuatnya salah tingkah.
“Eh, ani! Ani! Maksudku...”
“Kami nggak mau nyontek, kok!” cicit Susanti, nafasnya belum teratur.
“Kami... cuma... mau kolektifkan...”
Nia mengernyit. “Tumben. Kalian dapat dari mana?”
“Ya dari perpustakaan, dom!”
solot Katrijn. “Memang kau pikir dari tong sampah?”
“Hei, jaga bicaramu, payaso!”
Hanifah menghela nafas. “Kalau ana
boleh menebak, antunna sebenarnya
mencari kami di perpustakaan, tapi kami sudah tidak ada. Lalu antunna bertanya pada Nona Ernawati tentang
buku yang kami baca, dan antunna
mengambilnya dari sana,” dia membenarkan kerudungnya. “Seperti itu, kan?”
Tiffany dan Susanti nyengir malu.
Nia mendadak tegang. Dia bertukar pandang dengan Walter dan Hanifah.
“Tiffany, kau menemukan apa di buku itu?” tanya Walter hati-hati.
Tiffany yang sedang melamunkan sesuatu tersentak. “Apa? Lee Chung Ho
kenapa? Dia nggak lagi pac—Oh, yang... yang kami temukan?”
Walter memberinya tatapan tidak sabar.
“Ya... ya... mungkin sama dengan yang kalian dapatkan...” ucapnya
ragu-ragu. “Cuma satu paragraf, kan?”
Jawaban itu membuat The Dream Team bertukar pandang keheranan.
“Tidak menemukan sesuatu yang lain dari buku itu? Di dekat halaman tempat
kalian menemukannya?”
Tiffany menggeleng, sorot matanya tidak fokus. “Nggak. Ji Yung Moon
masih... eh, bukan! Bukan! Maksudku, kami cuma menemukan itu! Kertasnya agak
lecek sedikit, tapi selain itu nggak ada yang aneh. Barangkali karena habis
kalian buka tadi. Memang ada apa?”
The Dream Team termangu sejenak, tapi kemudian Walter berkata. “Bukan
apa-apa, kukira kalian menemukan hal lain yang kami lewatkan.”
Tiffany tidak tampak yakin, tapi dia tidak bicara apa-apa lagi. Nia dan
Hanifah berbisik-bisik keheranan. Walter mengambil sekeping logam persegi
keperakan seukuran telapak tangan dari sakunya. Dia menekan permukaannya, dan
kepingan itu melebar jadi seukuran keyscreen.
Walter menekan sudut kiri atas keyscreen
dan layar iComp teriluminasi di atasnya.
“Kirim datanya,” katanya.
Tiga menit kemudian, The Epic dan The Great M muncul di taman. Tapi,
wajah-wajah The Epic tampak gelisah.
“Kazuki. Kau yakin? Mereka membantu?” tanya Hendrik. Dia duduk di kursi di
seberang The Great M, sekilas menoleh sinis pada The K-Rocks.
“Daijoubu, mereka pasti datang,
kok.” ujar Kazuki mantap, meski raut mukanya tidak meyakinkan.
Hendrik melirik jam tangannya. Enam menit lagi batas terakhir pengumpulan.
Dia mendengus, lalu menggigit sepotong coklat.
Niels mondar-mandir di depan kursi. Sekali-sekali, dia menoleh pada teman
sekelasnya yang lain dan mengeluh dalam hati. Untuk pertama kalinya, dia jadi
yang paling terakhir mengumpulkan tugas.
“Bueno, Niels? Hendrik? Tugas
kalian mana?” Maribel menghampiri mereka dengan iComp di tangannya. Layar iComp
menunjukkan tanda tanya besar.
The Epic menatap Maribel dengan raut muka yang tidak bisa ditebak. Layar
iComp Maribel menunjukkan lebih banyak tanda tanya. Sementara, layar iComp
Kazuki menampilkan emoticon cemberut.
“Apa kalian...”
Belum sempat Maribel selesai berbicara, dua orang perempuan berpakaian
putih identik berlari tergesa-gesa ke arah mereka. Salah satunya berkulit pucat
hampir seperti albino, sementara yang lain berkulit coklat gelap. Ernesta dan ElfriedeHowedes
menghampiri The Epic, tapi mereka tersandung kaki satu sama lain dan nyaris jatuh
menabrak Clark yang berdiri di samping kursi.
“Hei, hati-hati, brat!” bentak
Clark.
“Aduh, maaf, Clark...” kata Ernesta malu.
Elfriede terengah-engah. “Ini... Niels... datanya...”
Dia menyodorkan selembar kertas alumunium kecil pada Niels dengan wajah
penuh harap. Kertas Memori. Niels menerimanya dengan ragu dan menyerahkannya
pada Kazuki. Kazuki menyelipkan kertas itu di slot iCompnya, mengecek isinya,
dan mengernyit heran.
“Hei, albino, apa ini?” Clark memanggil Ernesta.
“Hei, yang sopan!” protes Elfriede.
“Terserahlah. Ini apa?” Clark menunjuk sesuatu di layar iComp-nya. The Epic
yang lain menjulurkan kepala ke depan layar, penasaran.
“Itu? Nggak tahu,” kata Ernesta polos.
“Kami cuma menyalin,” timpal Elfriede.
“Dari e-book ayah,”
“Apa adanya,”
Clark menatap ketiga temannya, yang juga menunjukkan rasa penasaran. Clark
menyalinnya, meninggalkan satu paragraf teks yang kemudian disalin ke Kertas
Memori.
“Nih,” Kazuki memberikan Kertas Memori pada Maribel.
“Eh?’ Maribel menerimanya dengan bingung. “Jadi, kalian...”
“Kumpulkan saja! Tidak usah protes!” potong Hendrik.
“S... si! Si!” kata Maribel tergagap. Wajahnya agak memerah. Dia segera
memasukkan data ke iCompnya.
“Aku kumpulkan dulu, ya! Dadah!” kata Maribel sambil menghambur buru-buru
ke selatan.
The Epic menghela nafas lega. Tapi, ketiga geng lain menatap mereka
keheranan, utamanya The Dream Team.
“Kau minta orang lain yang mengerjakan?” tanya Walter. “Tidak biasanya, Niels.
Seingatku kau tidak pernah sudi meminta bantuan orang lain.”
Niels duduk dan mengambil coklat di dekat Hendrik. “Kecuali aku kehabisan
akal, ingat? Dan kau tahu bukan tipikalku juga untuk meminta bantuanmu.”
Mereka bertukar pandang dingin beberapa saat, lalu berpaling satu sama
lain.
“Maaf tadi hampir terlambat, Niels!” Elfriede buka suara. Nafasnya sudah
kembali normal. “Ayah hampir nggak bisa dihubungi seharian, baru beberapa waktu
yang lalu kami mendapatkannya,”
“Dan kereta cukup penuh sore begini,” Ernesta menambahkan.
Kazuki menatap layar iComp dengan kening berkerut, lalu bertanya. “Datanya
sedikit sekali. Apa memang cuma ada segini? Dan yang satu ini...”
“Ayah bilang referensi tertulis tentang tanaman itu memang sedikit sekali.”
Ernesta berbisik, “Itu tanaman terkutuk. Verwünscht.”
The Epic bertukar pandang satu sama lain.
“Ehm,” Kazuki berdehem. “Baiklah, sebagai ucapan terima kasih, ini untuk
kalian.”
Dia menyodorkan dua lembar kertas tebal. Si kembar mengambilnya dengan
ragu.
“Foto cetak?” tanya Ernesta.
“Benda itu sudah langka, kan?” komentar Clark. “Lagipula, itu foto kami di
puncak Gunung Jayawijaya. Kudengar gunung itu adalah tempat tertinggi di negara
ini, bisa sampai sana adalah kesempatan langka.”
“Masa’ cuma ini, Clark? Maksudnya, kenapa cuma dua?” Elfriede merajuk.
“Kalian cuma dua orang. Jadi pas, kan? Lagipula, foto itu cuma dicetak
delapan lembar,” timpal Niels.
“Tujuh lembar,” koreksi Hendrik.
“Tujuh lembar.” Niels meralat.
Elfriede dan Ernesta cemberut, jelas sekali tidak puas. Sekilas, mata
mereka menatap setumpuk coklat Belgia di dekat Hendrik. Mereka nyengir jahil.
“Oke, kalau memang cuma ini yang bisa kami dapat...” kata Elfriede.
“...dan karena ini belum cukup untuk membayar informasi ini...” sambung Ernesta.
Clark mengernyit. “Kalian mau apa?”
Si kembar terkikik. Spontan, mereka menyerbu tumpukan coklat dan meraup
sebagian besarnya.
“Ini untuk kami saja! Danke!”
seru mereka berdua sambil lari menjauh.
“Hei! Kalian! Jangan... Ah. Anak kecil.” keluh Hendrik.
Kazuki menepuk dahi dan kembali membaca data yang diberikan si kembar tadi.
Lagi-lagi dia mengernyit.
“Minna, coba baca ini.” katanya.
Ketiga temannya mengerubungi Kazuki dan ikut membacanya. Raut muka mereka ikut
keheranan.
“Masa’ sih yang seperti itu benar-benar ada?” tanya Niels skeptis.
Hendrik berdecak gusar. “Kedengaran dongeng.”
“Kalau kau bertanya-tanya soal itu, aku juga.” Walter tiba-tiba muncul di
depan mereka. “Paragraf itu lucu sekali.”
Niels mendelik pada Walter. “Sepertinya kau dapat dari buku yang sama.”
“Miller Sheringham, bukan?” balas Walter kaku.
“Sheringham... ya, dia.” Kazuki mengonfirmasi.
“Dan ini. Si kembar ikut menyalinnya.” Clark memutar layar iComp-nya ke
hadapan Walter. Demi melihatnya, Walter tersentak. Simbol yang sama dengan yang
dilihatnya di buku Miller Sheringham, tapi yang ini berwarna hijau tua.
“Nah, apa menurutmu soal simbol ini, Otak-Atas-Normal?” tanya Clark sinis.
Walter mendengus. Dia melirik sejenak ke The K-Rocks yang berjalan menjauh
sambil terus mengobrol riang. “Aku juga menemukannya di versi buku cetak.
Sayangnya, kau salah orang kalau ingin menanyakan artinya. Tapi ada yang patut
diperhatikan.” Suaranya menegas. “Tugas yang satu ini sama sekali berbeda
dengan tugas Professor Morello yang sebelumnya. Padahal kita tahu kalau dia
bukan orang yang suka melakukan perubahan drastis mendadak. Langka referensi,
bahkan keberadaannya saja masih sangat diragukan. Hampir mustahil terjangkau.
Sementara dia selalu menekankan kalau teori dipelajari untuk dipraktikkan.”
“Apa artinya Professor Morello sudah menemukan tanaman itu?” balas Niels skeptis.
“Tentu dia akan mengenalkannya langsung, tidak perlu bersusah payah dengan
teori. Manjalo, simbol ini masih
menggangguku.” Walter menatap simbol yang berpendar di layar iComp Clark.
Niels termenung.
***


0 comments:
Post a Comment