Saat Nadiya dan
Hasanah "hanya" terguling-guling dilantai, Andika menghantam tembok
dengan kaki di atas, merosot ke lantai, bahu menabrak kaki meja, dan neraca di
atasnya jatuh menimpa kepalanya.
Nadiya susah payah
merangsek bangun, menggosok-gosok kepala dan bahunya yang sakit. Dia melihat
Hasanah yang masih tertelungkup dua meter di sampingnya, lalu spontan
membantunya bangkit.
"Anah, kamu
enggak apa-apa?" tanya Nadiya.
Hasanah
meringis. "Eng... Enggak apa-apa... Nad..." Dia duduk dan meluruskan
kakinya, lalu mengerang tertahan dan mencengkeram pergelangan kaki kanannya.
"Anah! Duh,
jangan dipegang gitu!" Nadiya buru-buru menyambar tangan Hasanah,
melepaskan cengkeramannya. Nadiya menyentuh pergelangan kaki Hasanah dengan
hati-hati, meraba-raba. "Terkilir. Ayo ke UKS dulu, ini di..."
Sesaat, Nadiya
tercengang mengetahui di mana dia berada.
Ruangan itu adalah Lab
Fisika. Dilihat dari sudut manapun, tempat itu benar-benar seperti Lab Fisika
di sekolahnya. Dengan pengecualian tidak ada tumpukan alat percobaan Andika,
yang 70% gagal. Bahkan, susunan peralatan praktikum di mejanya pun identik.
Nadiya bergidik,
ngeri.
Apa orang-orang
yang tadi itu benar-benar pernah ada di sini? Versi lain dari diri mereka?
Walau demikian,
perasaan terkesima diam-diam membuncah di benaknya. Mereka benar-benar berada
di dunia lain. Apa yang selama ini diragukannya, yang sudah berulang kali
ditelusuri oleh temannya, benar-benar nyata? Dia bahkan tidak perlu mencubit
Hasanah untuk memastikan itu bukan mimpi.
"Nadiya..."
Hasanah merintih pelan.
Nadiya terhenyak dari
lamunannya, lalu segera membantu Hasanah berdiri. Dengan postur yang lebih
kurus dan kecil dibanding Hasanah, menopang temannya itu sama saja menyiksa
ototnya.
Ruangan Lab memiliki
dua pintu, di ujung Barat dan ujung Timur. Nadiya memapah Hasanah dengan susah
payah ke pintu Barat, ujung jauh dari tempat mereka berdua.
"Oh, abaikan saja
aku." gerutu sebuah suara, ketila Nadiya sudah setengah jalan. Nyaris
terlonjak saking kagetnya, Nadiya berbalik ke sebealh kirinya dan menemukan
Andika masih berada pada posisi nelangsanya. Neraca pecah tergeletak di samping
kepalanya, yang selain sedikit memerah di dahinya, tampak baik-baik saja.
Melihatnya, Nadiya
susah payah menahan tawa. "Kamu ngapain di sana, Dik?"
"Main pingpong
dengan Godzilla sambil makan sandwich terasi. Tampaknya
Godzilla itu lupa kalau yang dipukul itu harusnya bola, bukan neraca
karatan." gerutu Andika. Matanya melirik ke sebelah Nadiya. "Hasanah
kenapa?"
"Terkilir,
kayaknya. Ayo, bangun, bangun! Masa' cowok mesti dibantu juga cuma gitu
doang?"
"Cuma menguji
kepekaanmu." gumam Andika sebal. Dia menggeliat dan membikkan badan, lalu
berdiri. Dia menepuk-nepuk baju dan celananya, juga mengusap-usap dahinya.
Nadiya bersumpah bisa melihat sedikit raut kesakitan di wajahnya.
"Neraca
sialan." Andika menendang neraca yang menimpa kepalanya jauh-jauh. Benda
itu berkelontang keras saat menabrak kaki meja di ujung jauh Lab. "Kenapa
aku selalu sial dengan benda itu?"
"Wah,
jangan-jangan kamu entar enggak lolos neraca penghisaban." Nadiya
cengar-cengir.
Andika menatap Nadiya,
raut wajahnya heran campur tidak yakin. Sorot matanya--Nadiya hampir yakin soal
itu--seolah ingin mengatakan, "Hah? Lu ngaca, enggak?"
Tapi, Andika akhirnya
hanya mendengus. "Omong kosong. Lagipula, suara berisik apa itu di
luar?"Dia menoleh ke jendela yang tertutup tirai biru, lalu mendengus
lagi. "Ini bukan waktunya Liga Futsal."
"Ya udah, sih,
lihat aja. Sekalian keluar." timpal Nadiya.
Apa yang mereka
temukan di luar Lab membuat Andika dan Nadiya ternganga cukup lebar untuk bisa
dimasuki Shinkansen.
Ratusan siswa berdiri
di tepi lapangan serbaguna, mengelilingi dua orang sisa yang berdiri di kedua
ujung lapangan. Dan berada di antara mereka berdua...
Kali ini Nadiya perlu
mencubit lengan Hasanah (disambut pekikan nelangsa temannya dan cengiran
watados Nadiya sendiri) dan mengucek-ucek matanya untuk memastikan dia tidak
bermimpi.
Dua sosok seperti
monster melayang berhadap-hadapan. Di ujung dekat Nadiya, monster itu tampak
seperti Centaurus--bertubuh kuda palomino coklat, tapi tubuh bagian atasnya
berupa manusia kulit putih dengan kepala botak. Tameng penuh duri raksasa dan tombak
panjang siaga di kedua tangan manusianya. Ukurannya sedikit lebih besar dari
kuda normal, kaki depannya mengais-ngais siap menyerbu, meski terang-terangan
monster ini tidak menjejak lapangan semen.
Sementara, di ujung
satunya, sesosok monster raksasa berbentuk seperti lumpur hidup kehijauan
memenuhi hampir separuh lapangan. Gumpalan berbentuk tidak jelas menyembul di
tengah-tengahnya, menggeram seperti bass rusak. Seluruh tubuhnya menggeliat
menjijikkan, gelembung udara meletup-letup di beberapa bagian.
Monster ini membuat
Nadiya mau muntah.
Di atas kedua monster,
layar-layar termaterialisasi begitu saja di udara kosong. Layar di atas monster
Centaurus menunjukkan tulisan-tulisan yang sama sekali tidak masuk akal; FORCE
250 SHIELD 150. Sementara, di layar di atas orangnya, tertera tulisan
"Mad_Ikiw" dan angka 420 tertera di bawahnya. Di sudut jauh, di atas
monster lumpur, tertera FORCE 100 SHIELD 300, sementara di atas orangnya
tertera "ThurLuphDiany" dan angka 300.
Satu-satunya hal yang
masuk akal bagi Nadiya adalah ini merupakan sebuah permainan
pertandingan. Dia rasanya familiar dengan yang seperti ini, tapi tidak bisa
diingat apa atau di mana.
Andika tidak terlihat
setercengang Nadiya. Keterkejutannya hanya bertahan lima detik, untuk kemudian
digantikan antusiasme luar biasa. Dia menatap pemandangan itu dengan mata
berbinar-binar.
"Solid Vision!
Wow! Keren, tempat ini keren!" serunya berapi-api. Namun, senyum lebarnya
memudar saat melihat ke pinggir lapangan. Dia menunjuknya. "Itu, enggak
keren."
Nadiya melihat ke arah
yang ditunjuk Andika. Deretan siswa yang menonton pertandingan monster itu. Dia
mengenal beberapa wajah, temannya sejak masih SMP. Namun, yang
membedakan, mereka mengenakan seragam pendek. Nadiya melihst
ke sekitar lapangan dengan lebih teliti, lalu menemukan lebih banyak lagi siswi
yang berseragam pendek.
"Oh, ya ampun.
Secara teknologi tempat ini lebih bagus, tapi enggak secara moral." gerutu
Andika.
Telinga Nadiya panas
mendengarnya. "Heh, apa maksudmu? Moralnya enggak bagus?"
"Ya iyalah! Lihat
aja cewek-cewek itu. Ewww..." Andika memasang tampang geli."Apa itu
yang namanya Tri Retna? Agus pernah cerita soal anak itu, tapi potongan
pakaiannya..."dia bergidik berlebihan yang disengaja.
"Eh, eh, emangnya
kenapa kalau mereka pakaiannya lebih pendek? Apa secara otomatis jadi enggak
bermoral?"
"Kurang bermoral,
iyalah!" Andika menjawab ketus. "Sukabumi di dunia ini enggak
menerapkan aturan itu di sekolah. Siapa, sih, bupatinya?"
"Oh, jadi kamu
mau bilang juga kalau yang seragamnya panjang dan tertutup itu pastibermoral?"
Nadiya bertanya tidak kalah ketus.
"Iyalah. Masa'
kamu enggak ngerti hal sederhana macam gini? Bagus ditutupi, artinya dia punya
harga, enggak kayak yang diumbar kemana-mana, murahan. Paha ayam aja kayaknya
lebih mahal dari paha mereka. Utamanya si Retna dan..." Andika menyipitkan
mata. "Zahra. Apa dia pakai nama Jermannya di dunia ini? Heran anak itu
pakai acara… Tunggu dulu." dia menoleh pada Nadiya. " Kamu enggak
kayak mereka ini, kan, di luar sekolah?"
Emosi memuncak di
ubun-ubun Nadiya. "Kalau iya, kenapa?"
"Well, itu
menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan
apa??"
"Teman-teman..."
Suara lirih Hasanah
menyadarkan keduanya. Andika dan Nadiya bertukar pandang, masih merasa sebal
satu sama lain, tapi bersepakat dalam diam, "Antar dulu Hasanah ks UKS,
berantem dilanjutin lagi nanti."
Mereka menuruni tangga
di ujung Barat, Nadiya masih memapah Hasanah. Mereka menuju ke Ruang UKS yang
terletak di lantai 2 gedung seberang Lab Fisika. Andika, sementara itu, membuka
jalan dengan menyingkirkan anak-anak dari jalan mereka—secara literal. Beberapa
terganggu sejenak, tapi kemudian tampak ketakutan dan menciut. Beberapa lainnya
bergeming sama sekali, tetap menatap lapangan.
Nadiya menemukan
setidaknya dua hal aneh dari sana.
Di tepi lapangan,
mereka menaiki tangga ke lantai dua, diiringi keluhan Andika soal ‘kerumunan
menyebalkan’ di pinggir lapangan. Nadiya melirik sekilas ke ruang yang paling
dekat dengan tangga, untuk menemukan keempat meja guru BK kosong. Ketiganya
masuk ke pintu yang satu lagi, untuk menemukan seorang siswi berkerudung
panjang sedang duduk di sofa.
Melihat Nadiya yang memapah
Hasanah, siswi itu—Nadiya ingat kalau namanya Asti, Kelas XII, meski tidak
yakin sejak kapan dia ikut PMR—bangkit menghampiri mereka dengan raut wajah
khawatir.
“Aduh, kenapa, dek?
Terkilir?” tanyanya, melihat Hasanah yang berjalan terpincang-pincang.
“Iya, teh. Tadi di Lab
Fisika.” Kata Nadiya.
Asti merengut sejenak,
membuat Nadiya bertanya-tanya apa tadi dia salah bicara. Tapi Asti segera
memapah sisi lain tubuh Hasanah dan membawanya ke ranjang rawat. Andika,
sementara itu, berdiri di dekat pintu, mengawasi Nadiya dan Asti. Raut wajahnya
menjadi serius secara tidak normal.
Setelah membaringkan
Hasanah, Asti meraih laci di dekatnya sembari berkata, “Ini biar mbak aja yang
tangani, dek. Kayaknya agak parah, nih, terkilirnya. Aris!”
Nadiya mengerutkan
dahi. Mbak? Apa di dunia ini Jawa dan Sunda posisinya terbalik?
Seorang siswa keluar
dari balik tirai dekat sofa. “Kenapa, mbak?”
“Tolong ambil kotak
biru di Loker Medis, ya, dek. Ada yang butuh penanganan ekstra.”
Aris melirik Hasanah
yang terbaring di ranjang, lalu ke Nadiya. Demi melihatnya, Aris tercengang.
“Eh, kamu Nadiya,
kan?” Aris menunjuk Nadiya, wajahnya tidak percaya.
Kebingungan baru menyambar
kepala Nadiya. Apa lagi yang salah denganku?
“Hei, hei.” Andika
menyela. Kini dia bersandar di tembok dekat pintu, tangannya terlipat di dada.
“Itu ada yang butuh diobati segera, cepatlah.”
Aris mendadak
gemetaran dan ciut. Lalu, sembari menundukkan kepala, dia berlalu ke dalam
tirai. Setelah terdengar beberapa suara klontang-klontang, Aris
kembali membawa kotak biru besar dan diserahkan ke Asti yang sudah mulai
mengolesi salep ke kaki Hasanah. Tanpa berkata-kata atau melirik ke Andika,
Aris kembali menghilang di balik tirai.
Nadiya duduk di sofa,
menunggu. Andika, sementara itu, setelah beberapa kali melirik ke luar,
akhirnya benar-benar keluar. Seruan-seruan antusiasnya menunjukkan dugaan
Nadiya benar, Andika menonton pertandingan itu.
Lima menit kemudian,
Asti selesai merawat Hasanah, lalu duduk di sebelah Nadiya. Kaki Hasanah
sekarang terbebat perban, dan orangnya sendiri tidur.
“Gimana kondisinya, t…
mbak?” Nadiya nyaris keceplosan.
Asti tersenyum.
“Alhamdulillah, udah mendingan. Tadi bengkaknya lumayan, makanya perlu waktu
agak lama. Kayaknya kebenturnya keras, ya?”
Nadiya teringat
bagaimana tadi mereka terguling-guling pasca terlempar dari pusaran cahaya.
“Yah… begitulah. Kecelakaan di Lab Fisika, ceritanya panjang. Omong-omong,
kenapa Hasanah tidur.”
“Justru itu, dek
Hasanah kayak yang kecapekan banget. Kayak habis olahraga keras gitu. Sebelum
kakinya terkilir memangnya dek Hasanah lari-lari atau gimana, gitu?”
“Emmm…” Nadiya tidak
terlalu yakin. “Mungkin gara-gara percobaan Andika. Tahu, lah, dia suka
aneh-aneh aja kerjaannya.”
“Oh…” Asti
mengangguk-angguk. Dia menatap Nadiya dari atas sampai bawah, agak membuatnya
risih.
“Maaf, aku kenapa, ya,
mbak? Kok dilihatin gitu?” Tanya Nadiya, berusaha sebisa mungkin tidak
menimbulkan kesan pedas. Gagal. Asti nyengir bersalah.
“Ah, enggak, dek. Mbak
cuma agak pangling aja, lihat kamu kayak gitu. Kalau enggak salah, kan,
biasanya… mmm… yah, kamu ngerti, lah.” Asti tersenyum. “Jadi lebih anggun.”
Kini Nadiya yang
melihat dirinya sendiri. Kerudung yang menutupi kepalanya serta seragam panjang
yang dikenakannya. Dia termenung sendiri. Mbak Asti terdengar tulus saat
mengucapkannya. Nadiya terpikirkan pernyataan Andika sebelumnya.
“Emmm… Makasih, mbak.”
Nadiya balas tersenyum.
Suara seruan dan
ledakan di luar mengejutkan keduanya. Mood Nadiya rusak seketika.
“Duh, ampun!”
keluhnya. “Apa lagi, sih, itu? Berisik bener.”
“Iya, nih. Dari
kemarin begitu.” Kata Mbak Asti, sama terganggunya. “Sejak REND Corporation
mengenalkan permainan itu di sekolah, anak-anak jadi pada antusias sampai
segininya. Mbak, sih, enggak ngerti apa menariknya duel-duel begitu.”
“Sama, mbak.”
Nadiya memutuskan
untuk keluar, menghampiri Andika yang berdiri di pinggir balkon, memerhatikan
pertandingan dengan semangat. Pemainnya sudah berganti. Di ujung, ada username
“jerox” dengan angka 440 di bawahnya. Tiga monster yang berlindung dibalik perisai
raksasa berderet di depannya, masing-masing tertera FORCE 10 SHIELD 300. Pemain
di sudut dekat memakai username “daus_maxi” dan memiliki angka 515. Seekor
kadal metal melayang di depannya, dengan tulisan FORCE 280 SHIELD 200.
“Hei, serius amat.”
Nadiya menegur Andika.
Andika tampak
terganggu. “Bentar, dong, ini lagi seru, nih! Di ujung sana pakai strategi
bertahan yang lumayan bikin repot awalnya, tapi kadal sialan itu entah gimana
bisa nemu jalan tembus! Enggak ada yang duga!”
“Woi, woi, itu entar aja
dulu! Ada yang enggak beres, nih.”
Air muka Andika
berubah serius, mau tidak mau membuat Nadiya tegang. “Apa kamu pikir aku tidak
menyadarinya?”
“Eh?”
Andika menghela napas.
“Aku sejak awal mengamati semua yang terjadi, yang kelihatan. Beberapa hal
mengusikku.”
“Mbak Asti juga tadi
bilang soal REND Corporation.”
“Ya, aku juga dengar
dari beberapa celotehan anak-anak di bawah sana. Dan itu yang bikin aku tambah
curiga.”
“Memang kenapa?”
“Perhatiin baik-baik
para penontonnya.”
Nadiya mengamati
kerumunan siswa, di bawah tempatnya berdiri, di dekat gawang, di seberang sana.
Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
“Apa, sih? Mereka
kayaknya biasa aja, deh.”
Andika menggeleng
sebal. “Enggak, enggak, perhatiin baik-baik. Yang teliti, jangan
cuma lewat doang.”
Merasa jengkel, Nadiya
melihat lebih lekat lagi.
Para siswa yang
menonton tampak sama antusiasnya dengan Andika. Memerhatikan pertandingan
dengan mata berbinar-binar, menyoraki setiap gerakan yang dilakukan pemain.
Tapi, saat Nadiya
memerhatikan lebih detail, sebagian dari mereka tidak seperti itu. Sorot mata
mereka hampa, walau turut tersenyum, tertawa dan bersorak. Seolah-olah mereka…
“Terhipnotis?”
(bersambung)


0 comments:
Post a Comment