Tuesday, 21 November 2017

The Hunting Game, Episode 4

Saat Nadiya dan Hasanah "hanya" terguling-guling dilantai, Andika menghantam tembok dengan kaki di atas, merosot ke lantai, bahu menabrak kaki meja, dan neraca di atasnya jatuh menimpa kepalanya.

Nadiya susah payah merangsek bangun, menggosok-gosok kepala dan bahunya yang sakit. Dia melihat Hasanah yang masih tertelungkup dua meter di sampingnya, lalu spontan membantunya bangkit.

"Anah, kamu enggak apa-apa?" tanya Nadiya.

Hasanah meringis. "Eng... Enggak apa-apa... Nad..." Dia duduk dan meluruskan kakinya, lalu mengerang tertahan dan mencengkeram pergelangan kaki kanannya.

"Anah! Duh, jangan dipegang gitu!" Nadiya buru-buru menyambar tangan Hasanah, melepaskan cengkeramannya. Nadiya menyentuh pergelangan kaki Hasanah dengan hati-hati, meraba-raba. "Terkilir. Ayo ke UKS dulu, ini di..."

Sesaat, Nadiya tercengang mengetahui di mana dia berada.

Ruangan itu adalah Lab Fisika. Dilihat dari sudut manapun, tempat itu benar-benar seperti Lab Fisika di sekolahnya. Dengan pengecualian tidak ada tumpukan alat percobaan Andika, yang 70% gagal. Bahkan, susunan peralatan praktikum di mejanya pun identik.

Nadiya bergidik, ngeri.

Apa orang-orang yang tadi itu benar-benar pernah ada di sini? Versi lain dari diri mereka?

Walau demikian, perasaan terkesima diam-diam membuncah di benaknya. Mereka benar-benar berada di dunia lain. Apa yang selama ini diragukannya, yang sudah berulang kali ditelusuri oleh temannya, benar-benar nyata? Dia bahkan tidak perlu mencubit Hasanah untuk memastikan itu bukan mimpi.

"Nadiya..." Hasanah merintih pelan.

Nadiya terhenyak dari lamunannya, lalu segera membantu Hasanah berdiri. Dengan postur yang lebih kurus dan kecil dibanding Hasanah, menopang temannya itu sama saja menyiksa ototnya.

Ruangan Lab memiliki dua pintu, di ujung Barat dan ujung Timur. Nadiya memapah Hasanah dengan susah payah ke pintu Barat, ujung jauh dari tempat mereka berdua.

"Oh, abaikan saja aku." gerutu sebuah suara, ketila Nadiya sudah setengah jalan. Nyaris terlonjak saking kagetnya, Nadiya berbalik ke sebealh kirinya dan menemukan Andika masih berada pada posisi nelangsanya. Neraca pecah tergeletak di samping kepalanya, yang selain sedikit memerah di dahinya, tampak baik-baik saja.

Melihatnya, Nadiya susah payah menahan tawa. "Kamu ngapain di sana, Dik?"

"Main pingpong dengan Godzilla sambil makan sandwich terasi. Tampaknya Godzilla itu lupa kalau yang dipukul itu harusnya bola, bukan neraca karatan." gerutu Andika. Matanya melirik ke sebelah Nadiya. "Hasanah kenapa?"

"Terkilir, kayaknya. Ayo, bangun, bangun! Masa' cowok mesti dibantu juga cuma gitu doang?"

"Cuma menguji kepekaanmu." gumam Andika sebal. Dia menggeliat dan membikkan badan, lalu berdiri. Dia menepuk-nepuk baju dan celananya, juga mengusap-usap dahinya. Nadiya bersumpah bisa melihat sedikit raut kesakitan di wajahnya.

"Neraca sialan." Andika menendang neraca yang menimpa kepalanya jauh-jauh. Benda itu berkelontang keras saat menabrak kaki meja di ujung jauh Lab. "Kenapa aku selalu sial dengan benda itu?"

"Wah, jangan-jangan kamu entar enggak lolos neraca penghisaban." Nadiya cengar-cengir.

Andika menatap Nadiya, raut wajahnya heran campur tidak yakin. Sorot matanya--Nadiya hampir yakin soal itu--seolah ingin mengatakan, "Hah? Lu ngaca, enggak?"

Tapi, Andika akhirnya hanya mendengus. "Omong kosong. Lagipula, suara berisik apa itu di luar?"Dia menoleh ke jendela yang tertutup tirai biru, lalu mendengus lagi. "Ini bukan waktunya Liga Futsal."

"Ya udah, sih, lihat aja. Sekalian keluar." timpal Nadiya.

Apa yang mereka temukan di luar Lab membuat Andika dan Nadiya ternganga cukup lebar untuk bisa dimasuki Shinkansen.

Ratusan siswa berdiri di tepi lapangan serbaguna, mengelilingi dua orang sisa yang berdiri di kedua ujung lapangan. Dan berada di antara mereka berdua...

Kali ini Nadiya perlu mencubit lengan Hasanah (disambut pekikan nelangsa temannya dan cengiran watados Nadiya sendiri) dan mengucek-ucek matanya untuk memastikan dia tidak bermimpi.

Dua sosok seperti monster melayang berhadap-hadapan. Di ujung dekat Nadiya, monster itu tampak seperti Centaurus--bertubuh kuda palomino coklat, tapi tubuh bagian atasnya berupa manusia kulit putih dengan kepala botak. Tameng penuh duri raksasa dan tombak panjang siaga di kedua tangan manusianya. Ukurannya sedikit lebih besar dari kuda normal, kaki depannya mengais-ngais siap menyerbu, meski terang-terangan monster ini tidak menjejak lapangan semen.

Sementara, di ujung satunya, sesosok monster raksasa berbentuk seperti lumpur hidup kehijauan memenuhi hampir separuh lapangan. Gumpalan berbentuk tidak jelas menyembul di tengah-tengahnya, menggeram seperti bass rusak. Seluruh tubuhnya menggeliat menjijikkan, gelembung udara meletup-letup di beberapa bagian.

Monster ini membuat Nadiya mau muntah.

Di atas kedua monster, layar-layar termaterialisasi begitu saja di udara kosong. Layar di atas monster Centaurus menunjukkan tulisan-tulisan yang sama sekali tidak masuk akal; FORCE 250 SHIELD 150. Sementara, di layar di atas orangnya, tertera tulisan "Mad_Ikiw" dan angka 420 tertera di bawahnya. Di sudut jauh, di atas monster lumpur, tertera FORCE 100 SHIELD 300, sementara di atas orangnya tertera "ThurLuphDiany" dan angka 300.

Satu-satunya hal yang masuk akal bagi Nadiya adalah ini merupakan sebuah permainan pertandingan. Dia rasanya familiar dengan yang seperti ini, tapi tidak bisa diingat apa atau di mana.

Andika tidak terlihat setercengang Nadiya. Keterkejutannya hanya bertahan lima detik, untuk kemudian digantikan antusiasme luar biasa. Dia menatap pemandangan itu dengan mata berbinar-binar.

"Solid Vision! Wow! Keren, tempat ini keren!" serunya berapi-api. Namun, senyum lebarnya memudar saat melihat ke pinggir lapangan. Dia menunjuknya. "Itu, enggak keren."

Nadiya melihat ke arah yang ditunjuk Andika. Deretan siswa yang menonton pertandingan monster itu. Dia mengenal beberapa wajah, temannya sejak masih SMP. Namun, yang membedakan, mereka mengenakan seragam pendek. Nadiya melihst ke sekitar lapangan dengan lebih teliti, lalu menemukan lebih banyak lagi siswi yang berseragam pendek.

"Oh, ya ampun. Secara teknologi tempat ini lebih bagus, tapi enggak secara moral." gerutu Andika.

Telinga Nadiya panas mendengarnya. "Heh, apa maksudmu? Moralnya enggak bagus?"

"Ya iyalah! Lihat aja cewek-cewek itu. Ewww..." Andika memasang tampang geli."Apa itu yang namanya Tri Retna? Agus pernah cerita soal anak itu, tapi potongan pakaiannya..."dia bergidik berlebihan yang disengaja.

"Eh, eh, emangnya kenapa kalau mereka pakaiannya lebih pendek? Apa secara otomatis jadi enggak bermoral?"

"Kurang bermoral, iyalah!" Andika menjawab ketus. "Sukabumi di dunia ini enggak menerapkan aturan itu di sekolah. Siapa, sih, bupatinya?"

"Oh, jadi kamu mau bilang juga kalau yang seragamnya panjang dan tertutup itu pastibermoral?" Nadiya bertanya tidak kalah ketus.

"Iyalah. Masa' kamu enggak ngerti hal sederhana macam gini? Bagus ditutupi, artinya dia punya harga, enggak kayak yang diumbar kemana-mana, murahan. Paha ayam aja kayaknya lebih mahal dari paha mereka. Utamanya si Retna dan..." Andika menyipitkan mata. "Zahra. Apa dia pakai nama Jermannya di dunia ini? Heran anak itu pakai acara… Tunggu dulu." dia menoleh pada Nadiya. " Kamu enggak kayak mereka ini, kan, di luar sekolah?"

Emosi memuncak di ubun-ubun Nadiya. "Kalau iya, kenapa?"

"Well, itu menjelaskan semuanya."

"Menjelaskan apa??"

"Teman-teman..."

Suara lirih Hasanah menyadarkan keduanya. Andika dan Nadiya bertukar pandang, masih merasa sebal satu sama lain, tapi bersepakat dalam diam, "Antar dulu Hasanah ks UKS, berantem dilanjutin lagi nanti."

Mereka menuruni tangga di ujung Barat, Nadiya masih memapah Hasanah. Mereka menuju ke Ruang UKS yang terletak di lantai 2 gedung seberang Lab Fisika. Andika, sementara itu, membuka jalan dengan menyingkirkan anak-anak dari jalan mereka—secara literal. Beberapa terganggu sejenak, tapi kemudian tampak ketakutan dan menciut. Beberapa lainnya bergeming sama sekali, tetap menatap lapangan.

Nadiya menemukan setidaknya dua hal aneh dari sana.

Di tepi lapangan, mereka menaiki tangga ke lantai dua, diiringi keluhan Andika soal ‘kerumunan menyebalkan’ di pinggir lapangan. Nadiya melirik sekilas ke ruang yang paling dekat dengan tangga, untuk menemukan keempat meja guru BK kosong. Ketiganya masuk ke pintu yang satu lagi, untuk menemukan seorang siswi berkerudung panjang sedang duduk di sofa.

Melihat Nadiya yang memapah Hasanah, siswi itu—Nadiya ingat kalau namanya Asti, Kelas XII, meski tidak yakin sejak kapan dia ikut PMR—bangkit menghampiri mereka dengan raut wajah khawatir.

“Aduh, kenapa, dek? Terkilir?” tanyanya, melihat Hasanah yang berjalan terpincang-pincang.

“Iya, teh. Tadi di Lab Fisika.” Kata Nadiya.

Asti merengut sejenak, membuat Nadiya bertanya-tanya apa tadi dia salah bicara. Tapi Asti segera memapah sisi lain tubuh Hasanah dan membawanya ke ranjang rawat. Andika, sementara itu, berdiri di dekat pintu, mengawasi Nadiya dan Asti. Raut wajahnya menjadi serius secara tidak normal.

Setelah membaringkan Hasanah, Asti meraih laci di dekatnya sembari berkata, “Ini biar mbak aja yang tangani, dek. Kayaknya agak parah, nih, terkilirnya. Aris!”

Nadiya mengerutkan dahi. Mbak? Apa di dunia ini Jawa dan Sunda posisinya terbalik?

Seorang siswa keluar dari balik tirai dekat sofa. “Kenapa, mbak?”

“Tolong ambil kotak biru di Loker Medis, ya, dek. Ada yang butuh penanganan ekstra.”

Aris melirik Hasanah yang terbaring di ranjang, lalu ke Nadiya. Demi melihatnya, Aris tercengang.

“Eh, kamu Nadiya, kan?” Aris menunjuk Nadiya, wajahnya tidak percaya.

Kebingungan baru menyambar kepala Nadiya. Apa lagi yang salah denganku?

“Hei, hei.” Andika menyela. Kini dia bersandar di tembok dekat pintu, tangannya terlipat di dada. “Itu ada yang butuh diobati segera, cepatlah.”

Aris mendadak gemetaran dan ciut. Lalu, sembari menundukkan kepala, dia berlalu ke dalam tirai. Setelah terdengar beberapa suara klontang-klontang, Aris kembali membawa kotak biru besar dan diserahkan ke Asti yang sudah mulai mengolesi salep ke kaki Hasanah. Tanpa berkata-kata atau melirik ke Andika, Aris kembali menghilang di balik tirai.

Nadiya duduk di sofa, menunggu. Andika, sementara itu, setelah beberapa kali melirik ke luar, akhirnya benar-benar keluar. Seruan-seruan antusiasnya menunjukkan dugaan Nadiya benar, Andika menonton pertandingan itu.

Lima menit kemudian, Asti selesai merawat Hasanah, lalu duduk di sebelah Nadiya. Kaki Hasanah sekarang terbebat perban, dan orangnya sendiri tidur.

“Gimana kondisinya, t… mbak?” Nadiya nyaris keceplosan.

Asti tersenyum. “Alhamdulillah, udah mendingan. Tadi bengkaknya lumayan, makanya perlu waktu agak lama. Kayaknya kebenturnya keras, ya?”

Nadiya teringat bagaimana tadi mereka terguling-guling pasca terlempar dari pusaran cahaya. “Yah… begitulah. Kecelakaan di Lab Fisika, ceritanya panjang. Omong-omong, kenapa Hasanah tidur.”

“Justru itu, dek Hasanah kayak yang kecapekan banget. Kayak habis olahraga keras gitu. Sebelum kakinya terkilir memangnya dek Hasanah lari-lari atau gimana, gitu?”

“Emmm…” Nadiya tidak terlalu yakin. “Mungkin gara-gara percobaan Andika. Tahu, lah, dia suka aneh-aneh aja kerjaannya.”

“Oh…” Asti mengangguk-angguk. Dia menatap Nadiya dari atas sampai bawah, agak membuatnya risih.

“Maaf, aku kenapa, ya, mbak? Kok dilihatin gitu?” Tanya Nadiya, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan kesan pedas. Gagal. Asti nyengir bersalah.

“Ah, enggak, dek. Mbak cuma agak pangling aja, lihat kamu kayak gitu. Kalau enggak salah, kan, biasanya… mmm… yah, kamu ngerti, lah.” Asti tersenyum. “Jadi lebih anggun.”

Kini Nadiya yang melihat dirinya sendiri. Kerudung yang menutupi kepalanya serta seragam panjang yang dikenakannya. Dia termenung sendiri. Mbak Asti terdengar tulus saat mengucapkannya. Nadiya terpikirkan pernyataan Andika sebelumnya.

“Emmm… Makasih, mbak.” Nadiya balas tersenyum.

Suara seruan dan ledakan di luar mengejutkan keduanya. Mood Nadiya rusak seketika.

“Duh, ampun!” keluhnya. “Apa lagi, sih, itu? Berisik bener.”

“Iya, nih. Dari kemarin begitu.” Kata Mbak Asti, sama terganggunya. “Sejak REND Corporation mengenalkan permainan itu di sekolah, anak-anak jadi pada antusias sampai segininya. Mbak, sih, enggak ngerti apa menariknya duel-duel begitu.”

“Sama, mbak.”

Nadiya memutuskan untuk keluar, menghampiri Andika yang berdiri di pinggir balkon, memerhatikan pertandingan dengan semangat. Pemainnya sudah berganti. Di ujung, ada username “jerox” dengan angka 440 di bawahnya. Tiga monster yang berlindung dibalik perisai raksasa berderet di depannya, masing-masing tertera FORCE 10 SHIELD 300. Pemain di sudut dekat memakai username “daus_maxi” dan memiliki angka 515. Seekor kadal metal melayang di depannya, dengan tulisan FORCE 280 SHIELD 200.

“Hei, serius amat.” Nadiya menegur Andika.

Andika tampak terganggu. “Bentar, dong, ini lagi seru, nih! Di ujung sana pakai strategi bertahan yang lumayan bikin repot awalnya, tapi kadal sialan itu entah gimana bisa nemu jalan tembus! Enggak ada yang duga!”

“Woi, woi, itu entar aja dulu! Ada yang enggak beres, nih.”

Air muka Andika berubah serius, mau tidak mau membuat Nadiya tegang. “Apa kamu pikir aku tidak menyadarinya?”

“Eh?”

Andika menghela napas. “Aku sejak awal mengamati semua yang terjadi, yang kelihatan. Beberapa hal mengusikku.”

“Mbak Asti juga tadi bilang soal REND Corporation.”

“Ya, aku juga dengar dari beberapa celotehan anak-anak di bawah sana. Dan itu yang bikin aku tambah curiga.”

“Memang kenapa?”

“Perhatiin baik-baik para penontonnya.”

Nadiya mengamati kerumunan siswa, di bawah tempatnya berdiri, di dekat gawang, di seberang sana. Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

“Apa, sih? Mereka kayaknya biasa aja, deh.”

Andika menggeleng sebal. “Enggak, enggak, perhatiin baik-baik. Yang teliti, jangan cuma lewat doang.”

Merasa jengkel, Nadiya melihat lebih lekat lagi.

Para siswa yang menonton tampak sama antusiasnya dengan Andika. Memerhatikan pertandingan dengan mata berbinar-binar, menyoraki setiap gerakan yang dilakukan pemain.

Tapi, saat Nadiya memerhatikan lebih detail, sebagian dari mereka tidak seperti itu. Sorot mata mereka hampa, walau turut tersenyum, tertawa dan bersorak. Seolah-olah mereka…

“Terhipnotis?”

(bersambung)


0 comments:

Post a Comment