Professor Morello membanting
diri di kursi kerjanya dengan kesal. Dia
tak habis pikir dengan keputusan Komisi Pengawasan Dan Pemeliharaan Tanaman
Langka yang memutuskan untuk mengambil alih seluruh tanaman langka yang ada di
CIS untuk dipelihara oleh mereka, dengan alasan keamanan dan jaminan
pemeliharaan. Dan ketika para siswa membutuhkannya, CIS harus meminta izin dulu
pada Komisi untuk menyewa—bukan, membeli
tanaman-tanaman itu. Keputusan ini, menurut Professor Morello, merupakan
keputusan penuh kepentingan dan kerakusan anggota Komite. Tentu saja, dia
mengatakan itu di depan seluruh anggota Komisi.
“Apa mereka sudah gila? Anak-anak harus membeli tanaman untuk pembelajaran
mereka? Padahal itu properti milik sekolah, dan sekolah yang memiliki hak untuk
mengelolanya! Lagipula, sekolah ini punya sumber daya yang semua orang tahu
bisa mengelola tanaman langka dengan baik, bahkan dibanding negara ini
sekalipun! Kenapa malah dikomersialkan? Imbecille!
Negara macam apa ini?” gerutunya jengkel. “Italia jauh lebih perhatian akan
kebutuhan pendidikan warganya.”
Dia
bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Ketika
sedang memikirkan bagaimana cara agar Komite tidak bertindak macam-macam, dia
melihat sesuatu yang ganjil di ruangannya.
Dilihat
dari sudut sempit di belakang rak bukunya, dua buku kuno tergeletak dengan
halaman berantakan di lantai kayu Elm kantornya. Professor Morello bingung,
kenapa buku itu bisa jatuh ke lantai? Dia segera berjalan menuju buku itu
sampai dia menyadari ada sesuatu yang mengancamnya.
BRAAAKKKK!!!
Untungnya
Professor Morello memiliki refleks yang luar biasa. Secara spontan dia melompat
ke kanan, tepat sebelum sebuah sabit dengan panjang bilah setengah meter
menghantam kepalanya. Sebagai gantinya, sabit itu menghantam rak buku kunonya
dan meninggalkan retakan yang cukup besar di tempatnya terhujam. Tali yang
terbuat dari rotan berumur ratusan tahun terikat di gagangnya dan tersambung ke
salah satu bagian di langit-langit kantor.
Keringat
dingin membasahi wajah Professor Morello, tubuhnya berguncang hebat. Selama
semenit, dia terduduk diam di lantai, menatap sabit yang nyaris membunuhnya
dengan horor. Lalu, dia bergerak perlahan menuju sabit itu dan mengamatinya.
“Tajam
sekali. Sangat bahaya,” dia mengamati tali rotan yang menyambungkan sabit itu
ke langit-langit. Susah payah Professor Morello menelan ludah. “Sejak kapan
pentungannya berubah menjadi sabit? Dan kenapa aku bisa dideteksi sebagai
penyusup?”
Dia
memburu iCompnya dan membuka program pengamanan ruangan. Tepat saat programnya
berjalan, ratusan virus terdeteksi dan spontan membuat iCompnya freeze. Dia mengecek sistem keamanannya
yang lain secara manual.
Masih
normal.
Siapa
yang membobol kantornya dan mengotak-atik sistem keamanannya? Butuh kejeniusan
dan kesabaran cukup tinggi untuk melakukannya, kecuali kalau Professor Morello
lupa mengunci ruangannya, yang tidak pernah terjadi.
Suatu
pikiran berkelebat dalam kepalanya. Pemikiran mengerikan yang pernah dikatakan koleganya sebulan yang lalu, yang membuatnya sekujur tubuhnya
gemetaran.
***
Lampu
di panel informasi di samping pintu berkedip-kedip saat Clark sedang asyik
menabuh drumnya.
“Darn!” Clark berhenti menabuh dan
melepas headset nirkabelnya. “Siapa,
sih?”
Layar
monitor dua puluh satu inci termaterialisasi di samping panel dan menunjukkan
wajah Pavel Koutnik, penghuni kamar sebelah, sedang merengut—kepalanya seperti
landak kelewat besar yang sedang cemberut.
“Clark!
Bisa b’henti b’risik, ‘gak? Aku lagi ngerja’in laporan praktikum Alkimia, butuh
konsen’rasi,‘nih!” protesnya.
Clark
memutar-mutar matanya dan menggumam jengkel. “Ya, ya, ya. Terserah!”
Pavel
tidak kelihatan puas, tapi dia berlalu dan layar menghilang. Clark mendengus
dan beranjak dari drumnya.
“Asrama
payah. Harusnya aku memasang peredam suara ting—”
Suara
kretek kretek di belakangnya membuat Clark berhenti. Dia menoleh ke belakang
dengan bingung. Suara itu berasal dari jendela.
Jantung
Clark berdegup kencang. Siapa yang mengotak-atik jendela kamarnya? Menggenggam
kuat-kuat stik drumnya, dia berjingkat hati-hati ke sana.
Tepat
saat gorden jendela tersingkap, Clark mengayunkan kuat-kuat stik drumnya.
Sedetik kemudian, dia kaget saat melihat stik itu terpotong dua, salah satu
ujungnya terjatuh ke lantai. Padahal dia tidak merasakan ada sesuatu yang
menahan stiknya.
Clark
melompat mundur dan menatap sosok berjubah hitam dan bertudung di depannya. Wajah
orangini ditutup masker dan kacamata hitam, posturnya sedikit lebih tinggi dan lebih
kurus ketimbang dirinya. Tangan kanannya menggenggam sebuah sabit yang berkilat
keperakan. Clark menelan ludah. Bagaimana mungkin orang ini bisa melewati
sistem keamanan asrama dengan begitu mudahnya? Jantungnya berdebar kencang,
meski bukan kali pertama ada penyusup bersenjata yang masuk ke ruang
pribadinya.
“Siapa
kau? Mau apa kau masuk ke kamarku dengan paksa?” tuntut Clark.
“Apa
kau Clark Michael Henderson?” tanya si jubah hitam dengan suara berat dan serak
yang, Clark tahu persis, itu suara palsu.
“Yeah. Apa maumu?”
“Beritahu
aku di mana benda itu!”
Clark
mengenyit. “Benda apaan?”
“Jangan
pura-pura!” bentak si jubah. “Beritahu aku sekarang juga! Atau...”
“Atau
apa? Kau mau membunuhku?”
Orang
berjubah mengacungkan sabitnya.
Dari
pengalamannya selama ini, Clark tahu persis yang satu ini bukan orang
main-main. Dia cukup waras untuk tidak menghadapi orang yang bisa menembus
sistem keamanan canggih asrama sendirian.
Clark
melemparkan stiknya yang satu lagi ke orang asing di depannya, lalu spontan menghambur
keluar. Bahkan dia tidak sadar betapa mudahnya si psikopat memotong stik itu.
Clark berlari sepanjang lorong menuju ke arah selatan, lalu berbelok ke koridor
kamar D2 tempat ruangan Pak Udin, penjaga asrama, berada. Tiba-tiba dia
ingat, Pak Udin malam ini sedang keluar.
“Jangan
lari!” seru si jubah hitam yang sudah berada di belokan koridor. Nafasnya terengah-engah.
Clark
berusaha berpikir bagaimana menghadapinya. Psikopat ini tampaknya agak lambat
dan staminanya buruk. Tapi di koridor sempit ini, agak sulit memanfaatkan
kondisi itu, apalagi ujung koridor ini buntu. Dia mendelik ke kanan kirinya,
berusaha mencari ide.
Saat
melihat panel informasi, mendadak Clark ingin memaki-maki dirinya sendiri.
Tentu saja, kenapa dia baru sadar? Kalau dia tidak bisa melakukannya sendiri,
bagaimana kalau lebih banyak?
Clark
menekan tombol Emergency Call di panel informasi kamar nomor 334—plat di
depannya bertuliskan nama Marvin Valbuena—dan menggedor-gedor pintunya.
“WOI!
CEPAT KELUAR!” teriaknya. Ide berkelibat di kepala Clark. Dia melakukan hal
yang sama pada kamar-kamar lain di koridor itu. Si pengejar tampak tertegun
karenanya.
“Hei,
apaan, sih?” keluh seorang laki-laki hispanik berambut kribo sambil menguap.
Dia keluar dari kamar keempat yang dipanggil Clark.
Clark
menunjuk ke ujung koridor. “Ada penyusup, Dave!”
Dave
menoleh ke arah yang ditunjuk Clark dan matanya melebar.
“Hei!
Bagaimana mungkin—”
Beberapa
pintu lain terbuka dan penghuninya keluar sambil mengeluh, tapi semuanya
langsung terkejut saat melihat si penyusup.
“Siapa
orang ini?”
“Ngapain
kau di sini?”
“Kok
bisa ada penyusup?”
Tampaknya
si penyusup berjubah masih cukup waras, karena dia langsung melarikan diri ke
koridor sebelah kiri saat melihat para penghuni asrama mulai banyak
bermunculan. Clark tidak mau membiarkannya.
“TANGKAP DIA!”
Aksi kejar-kejaran berlangsung. Benar dugaan Clark, si penyusup larinya
lambat dan kurang lincah, tapi karena para penghuni asrama berlari tidak
teratur dan kadang tersandung satu sama lain, dia berhasil menjauh dari
kejaran. Dia berbelok di ujung koridor dan mencapai salah satu pintu keluar.
Tanpa ragu, dia menyabet panel pengendali dengan sabitnya. Clark yang baru
sampai di belokan terbelalak ketika melihat panel itu rusak dan membunyikan
alarm darurat. Pintu elektronis terbuka dan si penyusup kabur.
“Terus kejar!” teriak Clark.
Sayangnya, ketika Clark keluar dari pintu dan tiba di pekarangan belakang,
orang itu sudah tidak ada.
“Cari dia!” seru Clark lagi.
“Hei, kau bukan bos di sini!” protes seseorang.
“Nggak usah banyak omong, cepat cari!” balas Clark.
Sayangnya, penyusup itu berhasil kabur. Hendrik menemukan salah satu bagian
pagar kawat besi dilubangi dengan bentuk persegi panjang seukuran manusia.
Sebastian menepuk bahu Clark yang termenung melihat lubang itu. “Kau nggak
kenapa-kenapa,‘kan? Kalau aku nggak salah lihat, orang gila tadi bawa sabit.”
Clark menoleh dan menghela nafas. “Untungnya nggak, Sebastian. Nyaris, that bastard, tapi aku nggak kena.”
Sebastian menatap lubang di pagar dengan gelisah. “Kalau freak tadi melubangi pagar ini pakai
sabitnya, sabit macam apa yang dimilikinya? Esto
es una locura.”
Clark menelan ludah. Dia ingat bagaimana stik drumnya tadi terpotong dengan
begitu mudahnya. Itu membuatnya bergidik ngeri.
The Epic segera berkumpul di kamar Clark. Sepasang stik drum yang terpotong
dua tergeletak di kasur. Niels memandanginya dengan skeptis.
“Kau yakin stik ini terpotong begitu saja?” tanyanya.
Clark merengut. “Ya iyalah! Pertanyaan macam apa itu?”
Hendrik mengambil salah satu potongan stik dan mengamati lekat-lekat ujung
terpotongnya. Dia merengut, lalu menunjukkannya pada Niels.
“Perhatikan.”
Niels mengambilnya dengan heran dan mengamatinya. Keningnya berkerut, lalu
dia mengusap sisi terpotong dengan jari telunjuknya dan menggosok-gosokkannya
perlahan. Raut mukanya menajam.
“Campuran emas dan titanium,” gumamnya. “Kalau tidak salah. Tapi rasanya
iya.”
Kazuki yang sejak tadi bengong menimpali. “Nani? Tahu dari mana?”
“Tingkat
kehalusan goresan dan kekuatan memotongnya. Professor Hummels pernah
menunjukkannya padaku dan meminjamiku buku tentang itu,” Niels menelan ludah
dan menoleh pada Clark. “Kau beruntung nggak kena, Clark. Kalau sampai kena, well... entah apa yang akan terjadi
padamu.”
Wajah
Clark menegang. “Maksudmu apa? Apa logam itu akan jadi lebih tajam atau
bagaimana?”
“Persisnya
seperti stik ini,” Niels mengacungkan potongan stik di tangannya. “Kau bisa
memotongnya seperti kau memotong agar-agar. Di buku milik Professor Hummels itu
juga dijelaskan bahwa campuran sejenis ini membuat logamnya memiliki racun yang
kuat. Tergores sedikit saja, racun itu akan cepat menyebar di pembuluh darahmu
dan membuatmu lumpuh dengan cepat. Kalau sampai dibacok, kau akan mati dalam—vente... ah! Kurang dari dua puluh empat
jam. Menurut pengalaman Professor Hummels saat dia menemukan korban racun ini,
si korban tampak tersiksa luar biasa. Dia sampai tidak bisa membayangkan rasa
sakitnya seperti apa.”
Udara
menegang. Wajah Clark memucat, tangannya tiba-tiba terasa kebas. Hendrik dan
Kazuki bergidik.
“Kau
yakin masalah itu?” tanya Kazuki.
“Seratus
persen.”
Tubuh
Clark tiba-tiba terasa lemas. Dalam hati, dia tidak henti-hentinya bersyukur
karena tidak sampai terkena sabetan sabit itu.
“Kau
pasti tahu. Cara pembuatan.” Sahut Hendrik. “Emas dan Titanium? Bukan logam
komplementer. Cuma fisika. Bukan kimia.”
Niels
menautkan alisnya. “Kedua logam ini memang
bercampur secara Kimiawi, tidak hanya secara fisis. Seperti H yang bercampur
dengan dua atom O. Aku cuma ingat persis soal efeknya saja, tidak terlalu
memerhatikan cara pembuatan, tapi sepertinya prosesnya rumit sekali. Professor
Hummels bahkan yakin tidak ada yang mampu membuatnya lagi saat ini, setelah
kematian Alkemis Fitri Dewi Sembiring.”
Hening
beberapa saat.
Kazuki
menghela nafas dan menepuk bahu Clark. “Yokatta,
kau baik-baik saja. Tapi, apa sebenarnya alasan psikopat itu mencoba membunuhmu?”
Kazuki melihat ke sekeliling dengan skeptis. “Mau merampok pun, sepertinya
nggak ada barang berharga di sini.”
“Apa?”
tanya Clark tajam.
“Iie. Nande
mo nai. Lupakan saja,”
Clark
mendengus. “Dia tidak terlihat berminat membunuhku. Dia sepertinya ingin menanyakan
sesuatu.”
Niels
merengut. “Menanyakan sesuatu?”
Clark
mengangguk. “Dia mengonfirmasi namaku, seolah-olah aku ini pemegang rahasia
atau apalah itu.”
“Mungkin
mafia. Kelompok internasional. Kau punya.Rahasia mereka.” gumam Hendrik yang
memutar-mutar potongan stik dengan tangannya.
“Maksudmu?” tuntut Clark.
“Barangkali
kau dulunya anggota komplotan mafia internasional dan memegang informasi
penting soal mereka,” sambung Kazuki. “Kalau info itu sampai terbongkar, mereka
akan tamat. Lalu kau kabur dan mengganti namamu, bersekolah di CIS, tapi mereka
berhasil melacakmu dan berusaha membuatmu tutup mulut. Dengan kata lain, kau
itu kartu mati para penjahat tingkat dunia yang mengancam eksistensi mereka!”
Niels,
Hendrik, dan Kazuki tergelak. Clark menggerutu, tapi dia balas melontarkan
lelucon.
Malam
itu Clark menginap di kamar Kazuki, tapi dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan
apa alasan sebenarnya psikopat itu mengincarnya. Ingatannya bekerja keras,
mencari tahu soal kemungkinan yang diutarakan Hendrik. Nihil. Dia tidak ingat
pernah memegang informasi apapun atau tahu tentang sesuatu yang penting.
“Bahkan
aku tidak tahu apa-apa soal mafia di Sydney,” gerutunya tidak mengerti.
***
Berita
bahwa Clark diserang di asrama menyebar cepat besok paginya. Akibatnya, kelas
Kompas diserbu ratusan penggemar Clark, yang seluruhnya bertampang khawatir dan
ingin memastikan kondisi idolanya. Termasuk Mudiwa yang bertingkah dengan gaya
khasnya yang sok manja.
“Oh, mee dear? Arr you ohh-kay? Nggak ada yang terluka, kan, say-ku?” katanya,
Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia-nya tetap kacau.
Sementara
itu, Clark menggerutu nyaris tanpa henti. Padahal semalam dia sudah
mewanti-wanti agar tidak ada yang memberitahukan kasus itu pada siapapun di
sekolah.
“Awas
kau, Pavel...” gumamnya jengkel.
Di
sudut kelas, The Dream Team tampak membicarakan sesuatu.
“Kalian
pikir ada hubungannya tidak?” tanya Walter.
“Masalah
Clark dan tugas tentang Underworld Citron?” Nia balik bertanya tanpa melepaskan
pandangan dari iComp-nya.
Hanifah
menghela nafas. “Anta terlalu
berlebihan, Walter. Setiap ada dua hal menarik yang terjadi hampir bersamaan, anta selalu berusaha
mengait-ngaitkannya.”
“Tapi
biasanya benar, kan?” gugat Walter.
“Tiga
puluh dua persen,” timpal Nia dingin. “Sisanya salah.”
Walter
mendengus gusar.
“Aku
lebih tertarik soal Underworld Citron itu sendiri,” Nia menekan panel di keyscreen iComp-nya. Layar iComp
berputar ke arah kedua temannya. “Aku menemukan ini di blog pribadi yang lama
terbengkalai. Sudah sepuluh tahun tidak terurus.”
Walter
dan Hanifah membaca tulisan di web itu. Keduanya menunjukkan wajah keheranan.
“Dia
bilang seseorang pernah mengatakan padanya tentang Underworld Citron dan
awalnya dia tidak percaya. Lalu, dia bilang dia melihatnya langsung dan
menyatakan kebenarannya. Itu hampir membuatnya...” Walter mengernyit. “Gila?”
Nia
mengangguk. “Artikel ini memang tulisan terakhirnya. Setelah itu, katanya dia
benar-benar menjadi gila.”
Hanifah
garuk-garuk kepala. “Kok bisa? Memang siapa penulisnya?”
Walter
menggeser halaman blog ke atas dan membaca nama pemiliknya.
“Vladimir
Tozijevic.”
***


0 comments:
Post a Comment