Saturday, 18 November 2017

The Crest of Five, Episode 2


Professor Morello membanting diri di kursi kerjanya dengan kesal. Dia tak habis pikir dengan keputusan Komisi Pengawasan Dan Pemeliharaan Tanaman Langka yang memutuskan untuk mengambil alih seluruh tanaman langka yang ada di CIS untuk dipelihara oleh mereka, dengan alasan keamanan dan jaminan pemeliharaan. Dan ketika para siswa membutuhkannya, CIS harus meminta izin dulu pada Komisi untuk menyewa—bukan, membeli tanaman-tanaman itu. Keputusan ini, menurut Professor Morello, merupakan keputusan penuh kepentingan dan kerakusan anggota Komite. Tentu saja, dia mengatakan itu di depan seluruh anggota Komisi.
 “Apa mereka sudah gila? Anak-anak harus membeli tanaman untuk pembelajaran mereka? Padahal itu properti milik sekolah, dan sekolah yang memiliki hak untuk mengelolanya! Lagipula, sekolah ini punya sumber daya yang semua orang tahu bisa mengelola tanaman langka dengan baik, bahkan dibanding negara ini sekalipun! Kenapa malah dikomersialkan? Imbecille! Negara macam apa ini?” gerutunya jengkel. “Italia jauh lebih perhatian akan kebutuhan pendidikan warganya.”
Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Ketika sedang memikirkan bagaimana cara agar Komite tidak bertindak macam-macam, dia melihat sesuatu yang ganjil di ruangannya.
Dilihat dari sudut sempit di belakang rak bukunya, dua buku kuno tergeletak dengan halaman berantakan di lantai kayu Elm kantornya. Professor Morello bingung, kenapa buku itu bisa jatuh ke lantai? Dia segera berjalan menuju buku itu sampai dia menyadari ada sesuatu yang mengancamnya.
BRAAAKKKK!!!
Untungnya Professor Morello memiliki refleks yang luar biasa. Secara spontan dia melompat ke kanan, tepat sebelum sebuah sabit dengan panjang bilah setengah meter menghantam kepalanya. Sebagai gantinya, sabit itu menghantam rak buku kunonya dan meninggalkan retakan yang cukup besar di tempatnya terhujam. Tali yang terbuat dari rotan berumur ratusan tahun terikat di gagangnya dan tersambung ke salah satu bagian di langit-langit kantor.
Keringat dingin membasahi wajah Professor Morello, tubuhnya berguncang hebat. Selama semenit, dia terduduk diam di lantai, menatap sabit yang nyaris membunuhnya dengan horor. Lalu, dia bergerak perlahan menuju sabit itu dan mengamatinya.
“Tajam sekali. Sangat bahaya,” dia mengamati tali rotan yang menyambungkan sabit itu ke langit-langit. Susah payah Professor Morello menelan ludah. “Sejak kapan pentungannya berubah menjadi sabit? Dan kenapa aku bisa dideteksi sebagai penyusup?”
Dia memburu iCompnya dan membuka program pengamanan ruangan. Tepat saat programnya berjalan, ratusan virus terdeteksi dan spontan membuat iCompnya freeze. Dia mengecek sistem keamanannya yang lain secara manual.
Masih normal.
Siapa yang membobol kantornya dan mengotak-atik sistem keamanannya? Butuh kejeniusan dan kesabaran cukup tinggi untuk melakukannya, kecuali kalau Professor Morello lupa mengunci ruangannya, yang tidak pernah terjadi.
Suatu pikiran berkelebat dalam kepalanya. Pemikiran mengerikan yang pernah dikatakan koleganya sebulan yang lalu, yang membuatnya sekujur tubuhnya gemetaran.
***
Lampu di panel informasi di samping pintu berkedip-kedip saat Clark sedang asyik menabuh drumnya.
Darn!” Clark berhenti menabuh dan melepas headset nirkabelnya. “Siapa, sih?”
Layar monitor dua puluh satu inci termaterialisasi di samping panel dan menunjukkan wajah Pavel Koutnik, penghuni kamar sebelah, sedang merengut—kepalanya seperti landak kelewat besar yang sedang cemberut.
“Clark! Bisa b’henti b’risik, ‘gak? Aku lagi ngerja’in laporan praktikum Alkimia, butuh konsen’rasi,‘nih!” protesnya.
Clark memutar-mutar matanya dan menggumam jengkel. “Ya, ya, ya. Terserah!”
Pavel tidak kelihatan puas, tapi dia berlalu dan layar menghilang. Clark mendengus dan beranjak dari drumnya.
“Asrama payah. Harusnya aku memasang peredam suara ting—”
Suara kretek kretek di belakangnya membuat Clark berhenti. Dia menoleh ke belakang dengan bingung. Suara itu berasal dari jendela.
Jantung Clark berdegup kencang. Siapa yang mengotak-atik jendela kamarnya? Menggenggam kuat-kuat stik drumnya, dia berjingkat hati-hati ke sana.
Tepat saat gorden jendela tersingkap, Clark mengayunkan kuat-kuat stik drumnya. Sedetik kemudian, dia kaget saat melihat stik itu terpotong dua, salah satu ujungnya terjatuh ke lantai. Padahal dia tidak merasakan ada sesuatu yang menahan stiknya.
Clark melompat mundur dan menatap sosok berjubah hitam dan bertudung di depannya. Wajah orangini ditutup masker dan kacamata hitam, posturnya sedikit lebih tinggi dan lebih kurus ketimbang dirinya. Tangan kanannya menggenggam sebuah sabit yang berkilat keperakan. Clark menelan ludah. Bagaimana mungkin orang ini bisa melewati sistem keamanan asrama dengan begitu mudahnya? Jantungnya berdebar kencang, meski bukan kali pertama ada penyusup bersenjata yang masuk ke ruang pribadinya.
“Siapa kau? Mau apa kau masuk ke kamarku dengan paksa?” tuntut Clark.
“Apa kau Clark Michael Henderson?” tanya si jubah hitam dengan suara berat dan serak yang, Clark tahu persis, itu suara palsu.
Yeah. Apa maumu?”
“Beritahu aku di mana benda itu!”
Clark mengenyit. “Benda apaan?”
“Jangan pura-pura!” bentak si jubah. “Beritahu aku sekarang juga! Atau...”
“Atau apa? Kau mau membunuhku?”
Orang berjubah mengacungkan sabitnya.
Dari pengalamannya selama ini, Clark tahu persis yang satu ini bukan orang main-main. Dia cukup waras untuk tidak menghadapi orang yang bisa menembus sistem keamanan canggih asrama sendirian.
Clark melemparkan stiknya yang satu lagi ke orang asing di depannya, lalu spontan menghambur keluar. Bahkan dia tidak sadar betapa mudahnya si psikopat memotong stik itu. Clark berlari sepanjang lorong menuju ke arah selatan, lalu berbelok ke koridor kamar D2 tempat ruangan Pak Udin, penjaga asrama, berada. Tiba-tiba dia ingat, Pak Udin malam ini sedang keluar.
“Jangan lari!” seru si jubah hitam yang sudah berada di belokan koridor. Nafasnya terengah-engah.
Clark berusaha berpikir bagaimana menghadapinya. Psikopat ini tampaknya agak lambat dan staminanya buruk. Tapi di koridor sempit ini, agak sulit memanfaatkan kondisi itu, apalagi ujung koridor ini buntu. Dia mendelik ke kanan kirinya, berusaha mencari ide.
Saat melihat panel informasi, mendadak Clark ingin memaki-maki dirinya sendiri. Tentu saja, kenapa dia baru sadar? Kalau dia tidak bisa melakukannya sendiri, bagaimana kalau lebih banyak?
Clark menekan tombol Emergency Call di panel informasi kamar nomor 334—plat di depannya bertuliskan nama Marvin Valbuena—dan menggedor-gedor pintunya.
“WOI! CEPAT KELUAR!” teriaknya. Ide berkelibat di kepala Clark. Dia melakukan hal yang sama pada kamar-kamar lain di koridor itu. Si pengejar tampak tertegun karenanya.
“Hei, apaan, sih?” keluh seorang laki-laki hispanik berambut kribo sambil menguap. Dia keluar dari kamar keempat yang dipanggil Clark.
Clark menunjuk ke ujung koridor. “Ada penyusup, Dave!”
Dave menoleh ke arah yang ditunjuk Clark dan matanya melebar.
“Hei! Bagaimana mungkin—”
Beberapa pintu lain terbuka dan penghuninya keluar sambil mengeluh, tapi semuanya langsung terkejut saat melihat si penyusup.
“Siapa orang ini?”
“Ngapain kau di sini?”
“Kok bisa ada penyusup?”
Tampaknya si penyusup berjubah masih cukup waras, karena dia langsung melarikan diri ke koridor sebelah kiri saat melihat para penghuni asrama mulai banyak bermunculan. Clark tidak mau membiarkannya.
“TANGKAP DIA!”
Aksi kejar-kejaran berlangsung. Benar dugaan Clark, si penyusup larinya lambat dan kurang lincah, tapi karena para penghuni asrama berlari tidak teratur dan kadang tersandung satu sama lain, dia berhasil menjauh dari kejaran. Dia berbelok di ujung koridor dan mencapai salah satu pintu keluar. Tanpa ragu, dia menyabet panel pengendali dengan sabitnya. Clark yang baru sampai di belokan terbelalak ketika melihat panel itu rusak dan membunyikan alarm darurat. Pintu elektronis terbuka dan si penyusup kabur.
“Terus kejar!” teriak Clark.
Sayangnya, ketika Clark keluar dari pintu dan tiba di pekarangan belakang, orang itu sudah tidak ada.
“Cari dia!” seru Clark lagi.
“Hei, kau bukan bos di sini!” protes seseorang.
“Nggak usah banyak omong, cepat cari!” balas Clark.
Sayangnya, penyusup itu berhasil kabur. Hendrik menemukan salah satu bagian pagar kawat besi dilubangi dengan bentuk persegi panjang seukuran manusia.
Sebastian menepuk bahu Clark yang termenung melihat lubang itu. “Kau nggak kenapa-kenapa,‘kan? Kalau aku nggak salah lihat, orang gila tadi bawa sabit.”
Clark menoleh dan menghela nafas. “Untungnya nggak, Sebastian. Nyaris, that bastard, tapi aku nggak kena.”
Sebastian menatap lubang di pagar dengan gelisah. “Kalau freak tadi melubangi pagar ini pakai sabitnya, sabit macam apa yang dimilikinya? Esto es una locura.”
Clark menelan ludah. Dia ingat bagaimana stik drumnya tadi terpotong dengan begitu mudahnya. Itu membuatnya bergidik ngeri.
The Epic segera berkumpul di kamar Clark. Sepasang stik drum yang terpotong dua tergeletak di kasur. Niels memandanginya dengan skeptis.
“Kau yakin stik ini terpotong begitu saja?” tanyanya.
Clark merengut. “Ya iyalah! Pertanyaan macam apa itu?”
Hendrik mengambil salah satu potongan stik dan mengamati lekat-lekat ujung terpotongnya. Dia merengut, lalu menunjukkannya pada Niels.
“Perhatikan.”
Niels mengambilnya dengan heran dan mengamatinya. Keningnya berkerut, lalu dia mengusap sisi terpotong dengan jari telunjuknya dan menggosok-gosokkannya perlahan. Raut mukanya menajam.
“Campuran emas dan titanium,” gumamnya. “Kalau tidak salah. Tapi rasanya iya.”
Kazuki yang sejak tadi bengong menimpali. “Nani? Tahu dari mana?”
“Tingkat kehalusan goresan dan kekuatan memotongnya. Professor Hummels pernah menunjukkannya padaku dan meminjamiku buku tentang itu,” Niels menelan ludah dan menoleh pada Clark. “Kau beruntung nggak kena, Clark. Kalau sampai kena, well... entah apa yang akan terjadi padamu.”
Wajah Clark menegang. “Maksudmu apa? Apa logam itu akan jadi lebih tajam atau bagaimana?”
“Persisnya seperti stik ini,” Niels mengacungkan potongan stik di tangannya. “Kau bisa memotongnya seperti kau memotong agar-agar. Di buku milik Professor Hummels itu juga dijelaskan bahwa campuran sejenis ini membuat logamnya memiliki racun yang kuat. Tergores sedikit saja, racun itu akan cepat menyebar di pembuluh darahmu dan membuatmu lumpuh dengan cepat. Kalau sampai dibacok, kau akan mati dalam—vente... ah! Kurang dari dua puluh empat jam. Menurut pengalaman Professor Hummels saat dia menemukan korban racun ini, si korban tampak tersiksa luar biasa. Dia sampai tidak bisa membayangkan rasa sakitnya seperti apa.”
Udara menegang. Wajah Clark memucat, tangannya tiba-tiba terasa kebas. Hendrik dan Kazuki bergidik.
“Kau yakin masalah itu?” tanya Kazuki.
“Seratus persen.”
Tubuh Clark tiba-tiba terasa lemas. Dalam hati, dia tidak henti-hentinya bersyukur karena tidak sampai terkena sabetan sabit itu.
“Kau pasti tahu. Cara pembuatan.” Sahut Hendrik. “Emas dan Titanium? Bukan logam komplementer. Cuma fisika. Bukan kimia.”
Niels menautkan alisnya. “Kedua logam ini memang bercampur secara Kimiawi, tidak hanya secara fisis. Seperti H yang bercampur dengan dua atom O. Aku cuma ingat persis soal efeknya saja, tidak terlalu memerhatikan cara pembuatan, tapi sepertinya prosesnya rumit sekali. Professor Hummels bahkan yakin tidak ada yang mampu membuatnya lagi saat ini, setelah kematian Alkemis Fitri Dewi Sembiring.”
Hening beberapa saat.
Kazuki menghela nafas dan menepuk bahu Clark. “Yokatta, kau baik-baik saja. Tapi, apa sebenarnya alasan psikopat itu mencoba membunuhmu?” Kazuki melihat ke sekeliling dengan skeptis. “Mau merampok pun, sepertinya nggak ada barang berharga di sini.”
“Apa?” tanya Clark tajam.
Iie. Nande mo nai. Lupakan saja,”
Clark mendengus. “Dia tidak terlihat berminat membunuhku. Dia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.”
Niels merengut. “Menanyakan sesuatu?”
Clark mengangguk. “Dia mengonfirmasi namaku, seolah-olah aku ini pemegang rahasia atau apalah itu.”
“Mungkin mafia. Kelompok internasional. Kau punya.Rahasia mereka.” gumam Hendrik yang memutar-mutar potongan stik dengan tangannya.
 “Maksudmu?” tuntut Clark.
“Barangkali kau dulunya anggota komplotan mafia internasional dan memegang informasi penting soal mereka,” sambung Kazuki. “Kalau info itu sampai terbongkar, mereka akan tamat. Lalu kau kabur dan mengganti namamu, bersekolah di CIS, tapi mereka berhasil melacakmu dan berusaha membuatmu tutup mulut. Dengan kata lain, kau itu kartu mati para penjahat tingkat dunia yang mengancam eksistensi mereka!”
Niels, Hendrik, dan Kazuki tergelak. Clark menggerutu, tapi dia balas melontarkan lelucon.
Malam itu Clark menginap di kamar Kazuki, tapi dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan apa alasan sebenarnya psikopat itu mengincarnya. Ingatannya bekerja keras, mencari tahu soal kemungkinan yang diutarakan Hendrik. Nihil. Dia tidak ingat pernah memegang informasi apapun atau tahu tentang sesuatu yang penting.
“Bahkan aku tidak tahu apa-apa soal mafia di Sydney,” gerutunya tidak mengerti.
***
Berita bahwa Clark diserang di asrama menyebar cepat besok paginya. Akibatnya, kelas Kompas diserbu ratusan penggemar Clark, yang seluruhnya bertampang khawatir dan ingin memastikan kondisi idolanya. Termasuk Mudiwa yang bertingkah dengan gaya khasnya yang sok manja.
Oh, mee dear? Arr you ohh-kay? Nggak ada yang terluka, kan, say-ku?” katanya, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia-nya tetap kacau.
Sementara itu, Clark menggerutu nyaris tanpa henti. Padahal semalam dia sudah mewanti-wanti agar tidak ada yang memberitahukan kasus itu pada siapapun di sekolah.
“Awas kau, Pavel...” gumamnya jengkel.
Di sudut kelas, The Dream Team tampak membicarakan sesuatu.
“Kalian pikir ada hubungannya tidak?” tanya Walter.
“Masalah Clark dan tugas tentang Underworld Citron?” Nia balik bertanya tanpa melepaskan pandangan dari iComp-nya.
Hanifah menghela nafas. “Anta terlalu berlebihan, Walter. Setiap ada dua hal menarik yang terjadi hampir bersamaan, anta selalu berusaha mengait-ngaitkannya.”
“Tapi biasanya benar, kan?” gugat Walter.
“Tiga puluh dua persen,” timpal Nia dingin. “Sisanya salah.”
Walter mendengus gusar.
“Aku lebih tertarik soal Underworld Citron itu sendiri,” Nia menekan panel di keyscreen iComp-nya. Layar iComp berputar ke arah kedua temannya. “Aku menemukan ini di blog pribadi yang lama terbengkalai. Sudah sepuluh tahun tidak terurus.”
Walter dan Hanifah membaca tulisan di web itu. Keduanya menunjukkan wajah keheranan.
“Dia bilang seseorang pernah mengatakan padanya tentang Underworld Citron dan awalnya dia tidak percaya. Lalu, dia bilang dia melihatnya langsung dan menyatakan kebenarannya. Itu hampir membuatnya...” Walter mengernyit. “Gila?”
Nia mengangguk. “Artikel ini memang tulisan terakhirnya. Setelah itu, katanya dia benar-benar menjadi gila.”
Hanifah garuk-garuk kepala. “Kok bisa? Memang siapa penulisnya?”
Walter menggeser halaman blog ke atas dan membaca nama pemiliknya.
“Vladimir Tozijevic.”

***

0 comments:

Post a Comment