Tuesday, 14 November 2017

The Hunting Game, Episode 3

“Itu, kok, kayak suaranya Anah?” tanya Nadiya, kedua alisnya nyaris bertaut.  

“Bukan sekadar kayak. Itu emang suaranya Hasanah.” Andika memakai lagi kacamatanya. Dia menoleh pada Hasanah yang terduduk kaku di kursinya, wajahnya penuh horor. “Nggak perlu analisis frekuensi gelombang suara buat tahu kalau itu suaranya Hasanah. Sama persis.

Hasanah menelan ludah. “A—apa artinya?”

“Aku punya teori.” Andika melangkah papan tulis dan menulis. “Kemungkinan pertama, itu orang yang suaranya mirip sama Hasanah. Tapi ini meragukan. Well, kita emang gak tahu kalau-kalau misalnya ada orang dari Ujunggenteng yang punya suara begini juga, tapi aku berani melakukan analisis frekuensi gelombang suara dan aku yakin frekuensinya sama persis kayak frekuensi suara Hasanah. Lagian, nggak ada dua orang di dunia ini yang suaranya bakalan sama persis. Yang kembar identik pun mustahil.” Kemudian Andika mencoret kemungkinan pertama itu.

“Terus?” Nadiya bertanya lagi.

“Kedua, bisa jadi ini memang suara Hasanah. Hasanah yang di sini.” Andika menulis kemungkinan itu, kemudian melirik teman sekelasnya itu, yang masih tampak ketakutan. “Tapi di masa depan. Retakan alam semesta yang ada di Doctor Who itu bisa tersambung kemanapun di ruang dan waktu, termasuk masa depan. Mungkin aja, ini dari masa depan Hasanah. Tapi…”

Nadiya menimbang-nimbang sejenak, lalu menyadari sesuatu. “Suaranya, kan, suara Hasanah yang sekarang. Padahal suara orang biasanya berubah kalau udah dewasa.”

Andika mengangguk, lalu mencoret kemungkinan yang baru saja ditulisnya. “Yang ketiga, yang paling meyakinkan…”

“Itu aku dari dunia paralel…” cicit Hasanah.

Suasana hening. Ketegangan memercik di udara. Mereka bertiga bertukar pandang satu sama lain.

“Nggak ada kemungkinan lain yang lebih logis.” Sahut Andika pada akhirnya. “Suara yang sama persis, dalam rentang usia sama, tapi bukan orang yang ada di sini. Artinya, yang bener-bener logis, suara itu adalah Hasanah versi dunia paralel. Dan retakan itu adalah portal ke sana.”

Rasa penasaran Hasanah pada dunia paralel tiba-tiba lenyap. Api antusiasmenya mendadak mati, seperti baru saja disiram air dari Samudera Antartika. Entah kenapa, ide keberadaan manusiia yang sama persis dengan dirinya di dunia lain itu terasa menakutkan.

Sayangnya, kedua temannya tidak berpikir demikian.

Mendadak, keduanya bersorak kegirangan dan melakukan high-five. Baik Andika maupun Nadiya tampak luar biasa terkesan.

“Ini hebat! Ini keren! Ah, dunia paralel itu bener-bener ada! Huh, kukira aku cuma bakalan bisa ngayal soal ini sampe mati!” Andika memukul-mukul papan tulis dengan semangat.

“Yah, siapa yang bisa duga kalau yang kamu biasa tonton ternyata bukan cuma fiksi?” timpal Nadiya, tanpa mengalihkan mata dari layar Xperia-nya. Dia mengetik dengan semangat. “Wah, keren, keren. Orang-orang mesti tahu!”

Andika mengernyit. “Kamu update itu di LINE?”

Nadiya mengangguk semangat. Andika menepuk dahi keras-keras, berdecak jengkel dan menggerutu.

“Omong-omong, kamu kalah lagi, lho, sama Hasanah.” Kata Nadiya. “Teorinya soal dunia paralel bener, sementara teorimu soal penjelajahan waktu nggak terbukti. Haha!”

“Belum terbukti.” Koreksi Andika. “Lagian, bisa jadi retakan itu bisa time travel juga. Cuma belum ketahuan aja.”

“Teman-teman…” ucap Hasanah lemah. “Bisa tolong lepasin semua ini dari aku?”

Lagi-lagi Andika dan Nadiya tertegun saat menyadari bahwa Hasanah ada di sana. Andika menoleh sekilas ke layar mesinnya, dan spontan memberi instruksi pada Nadiya untuk membantunya. Semenit kemudian, Hasanah lepas dari jeratan kabel mesin tadi. Dia memijit-mijit kepala sebelah kirinya, agak meringis.

“Udah kubilang, migrain.” Andika melihat jam tangannya. “Paling lama dua jam. Kayaknya. Kalau Desty sih gitu.”

“Terus, berikutnya kita ngapain? Soal retakan itu.” Sahut Nadiya yang memapah Hasanah keluar dari Lab Fisika.

“Biarin aja dulu. Toh nggak ada yang tahu selain kita. Lagian…” Andika melirik Hasanah. “Teman kita nggak kelihatan bener-bener antusias.”

Nadiya menatap Hasanah, meminta penjelasan. Hasanah melontarkan tatapan nanti aja kukasih tahu, dan Nadiya tidak bertanya apa-apa lagi.
***

“Kenapa mendadak tegang gitu, sih, Nah?”

Hasanah dan Nadiya duduk di depan ruang piala, dekat tempat parkir. Hasanah memuntir-muntir ujung kerudungnya tanpa henti, pikirannya melayang kemana-mana. Andika sudah pulang duluan setelah memberitahu keduanya untuk “mengecek lagi besok”.

“Anah?”

“Eh? Oh, nggak… nggak apa-apa, Nad. Cuman…”

“Iya, kenapa? Kok tumben gitu. Biasanya kamu justru paling antusias kalau teori kamu bener. Kayak waktu nemu rumah di belakang sana.”

Hasanah menelan ludah. “Entahlah. Rasanya aneh, denger suara sendiri diucapkan sama orang yang beda, tapi itu aku sendiri. Aku yang bukan aku, aku yang nggak ada di sini, tapi juga di sini.”

Nadiya garuk-garuk kepala. “Duh… kata-katamu bikin pusing.”

“Yah… aku agak bergidik aja ngebayanginnya. Apalagi, aku—dia, maksudku, kedengeran ketakutan. Apapun itu, sesuatu mengancam nyawanya. Itu, itu bikin aku takut…”

Nadiya merangkul bahu Hasanah. “Udah, ah, nggak usah terlalu dibawa takut gitu. Besok juga kita cari tahu soal itu lebih jauh lagi.”

“Tapi, gimana kalau misalnya aku—dia, dia udah ketangkep? Kalau dia ternyata udah diapa-apain? Aku takut… tapi…”

“Kamu takut dia kenapa-kenapa, tapi kamu juga takut dengan keberadaannya. Aku nggak ngerti, sumpah. Andika bilang kalau cewek itu susah dingertiin,” Nadiya berdecak sebal, “tapi kamu kayaknya lebih susah lagi, deh.”

Hasanah mendesah pelan. Dia memijit-mijit kepala sebelah kirinya lagi. Obat pereda migrain yang dibelikan Andika tadi tidak terlalu manjur, kepalanya mulai berdenyut lagi. Ditambah perasaan campur aduk soal yang didengarnya tadi, pikiran Hasanah terasa makin tak karuan.

“Udah, sekarang jangan dipikirin dulu. Ayo pulang, istirahat. Aku anterin.” Nadiya bangkit dan mengulurkan tangannya.
***

Besok paginya, Andika tersandung jatuh ketika memasuki kelas.

Berita baiknya, kelas masih sepi. Andika memang sering datang pagi, bahkan saat kebanyakan teman sekelasnya masih menguap di meja makan dengan rambut acak-acakan dan wajah kusut. Berita buruknya, dari kelas yang sepi itu, ada yang sudah datang. Siswi bernama Jessica. Cewek bertampang agak Cina—padahal tidak ada keturunan Cina sama sekali—dan berkacamata half-frame tebal ini adalah satu-satunya orang yang datangnya hampir selalu lebih pagi dari Andika. Tidak ada yang tahu kenapa, dia tidak pernah bicara soal itu. Dan Andika terlalu canggung untuk menanyainya.

Tentu saja, Jessica melihat Andika jatuh.

“Dik, kamu kenapa?” tanya Jessica, yang saat itu baru berdiri dari kursinya. Dia buru-buru menghambur menghampiri Andika.

Lagi main hula hoop pake tarian balerina. Gerutu Andika dalam hati. Pake nanya lagi.

Jessica mengulurkan tangannya, mau membantu Andika berdiri. Andika tertegun sejenak, sekujur sarafnya mendadak kaku. Detak jantungnya bertambah satu setengan kali lipat.

“Dik? Kenapa?” Jessica mengerutkan dahi.

Sontak Andika tersadar, dan dengan canggung menerima uluran tangan Jessica. Sekujur tubuhnya bergetar saat Jessica membantunya berdiri, dan butuh lima detik baginya untuk menyadari posisi berdirinya sudah sempurna, dengan Jessica menatapnya tidak mengerti.

“Kok kamu bisa kesandung gitu, sih?” tanyanya heran.

Andika tidak berani menatap mata Jessica langsung. Itu selalu membuatnya tegang. Jadi, dia menoleh ke tempatnya jatuh. “Nggak tahu, tad—”

Andika tidak menyelesaikan kalimatnya. Hentakan baru menghujam jantungnya saat melihat apa penyebabnya tersandung tadi.

“Jes… Sejak kapan lantai depan kelas retak begini?”

Jessica menoleh ke lantai yang dilihat Andika dan sama-sama kaget. “Lho? Kok? Tadi gak ada.”

“Eh?”

“Beneran, deh. Tadi pas aku masuk gak ada ginian, lantainya gak kenapa-kenapa.” Jessica mengernyit. “Asa gak ada gempa juga, ah.”

Andika menelan ludah. “Shit just got serious.

“Apa?”

“Bukan apa-apa.” Andika menggeleng.

“Tapi kayaknya tadi aku denger suara, sih, Dik. Kayak kayu patah gitu, dari luar. Aku kira itu Mang Oman. Masa’ itu suara lantai retak ini, ah? Kan ini keramik, yang tadi jelas bukan suara keramik.”

Well…” Andika menggosok-gosok tangannya gelisah. Pikirannya berputar cepat, menyambungkan berbagai informasi yang didapatkannya sejak kemarin. “Jes, boleh aku… aku…”

Jessica menoleh, mengangkat alis. Keheningan melanda, sampai Jessica memecahkannya dengan bertanya, “Kamu kenapa, sih, Dik?”

“A… eh, aku…” Andika menelan ludah. “Bisa… minta tolong? Jangan cerita soal retakan ini ke siapa-siapa, terus jangan deket-deket apalagi megang-megang.”

“Lho? Kenapa? Kan mending dikasih tahu ke Mang Oman, gitu, biar dib—”

“Ceritanya panjang. Well, yah… panjang. Yang jelas, tolong jangan kasih tahu siapa-siapa, ya?”

Jessica tidak kelihatan benar-benar mengerti atau yakin dengan apa yang dikatakan teman sekelasnya itu, tapi dia mengangguk.

“Satu lagi. Di mana Ainun naro keset?”
***

Tidak ada yang bertanya-tanya soal keberadaan keset di depan pintu kelas selain Nadiya dan Hasanah. Saat mereka diberitahu apa yang terjadi, keduanya cuma bisa terkesiap kaget. Utamanya Hasanah.

“A—apa artinya?” cicit Hasanah. Dia duduk di kursi Prima, teman semeja Andika.

“Aku nggak bener-bener yakin.” Ucap Andika, mulai menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sensasi genggaman tangan Jessica masih terasa, dan itu membuatnya tidak nyaman dan sulit berpikir fokus. “Tapi mungkin penjelasannya nggak beda jauh sama kenapa tembok belakang meja si Dimas mendadak retak.” Dia menoleh ke belakang kelas. Retakan yang dimaksud masih terpampang jelas.

“Yaaa-iii-tuuu?” koor Nadiya. Dia berdiri bersandar ke tembok di depan meja Andika—lagi-lagi tidak lepas dari Xperia-nya.

Mbuh. Nggak tahu. Yang ini beda sama retakan alam semesta di Doctor Who, nggak bisa merujuk dari sana. Dan itu, well… fiksi.”

“Jadi?” tanya Hasanah.

“Kita cek lagi ntar pulang sekolah. Pas waktu istirahat terlalu riskan.”

Maka, setelah bel jam pelajaran terakhir berbunyi, mereka segera berkemas. Nadiya menolak permintaan Halida untuk belajar Geografi, sementara Hasanah menunda kerja kelompok untuk tugas Biologi sampai besok, diiringi gerutuan tanpa henti Prima.

Andika baru keluar kelas setelah berbicara sejenak dengan Jessica.

“Cieee. Ngobrol apa barusan?” tanya Nadiya, cengar cengir.

Andika mengernyit. “Kenapa kamu pake ‘cieee’ segala?”

“Ah, jangan pura-pura. Aku tahu, kok. Kamu sama Jessica.”

Walau Andika tetap memasang pokerface seolah-olah tidak mengerti apa-apa, dalam hati dia memaki-maki, Duh, gawat.  Gimana dia bisa mikir kesana?

“Udah jadi gosip anak-anak pojok, tahu. Kamu suka salting kalau ngomong sama Jessica.” Sambung Nadiya, masih nyengir kuda.

“Bah.” Andika mendengus. “Aku tadi ngeyakinin dia buat nggak ngomong apa-apa soal retakan ini.” Andika menoleh ke keset biru di depan pintu kelas. “Tapi kayaknya dia bukan orang yang banyak mulut.”

“Cieee, tahu bener, nih, soal Jeje.”

Well, kalau dibanding mulut besarmu, dia emang kelihatan lebih diem.” Cela Andika.

“Teman-teman?” panggil Hasanah. Kedua temannya menoleh.

“Oh, iya.” Andika berdehem. “Ayo.”

Di belakang sekolah, setelah memastikan suasana sepi dan tidak ada orang aneh yang tiba-tiba membuntuti mereka, ketiganya membuka tingkap seng yang menutupi retakan kemarin. Retakan itu masih ada, beserta desisan asap dan cahaya yang keluar dari celahnya. Yang membuat ketiganya menelan ludah, celahnya membesar dan cahayanya makin terang.

“Jadi… apa yang sebenernya terjadi?” tanya Andika retoris. Kedua temannya kompak menggeleng.

“Kamu nggak denger suara apa-apa lagi, Anah?” tanya Nadiya.

“Baru pas ini kebuka aja.” aku Hasanah.

“Transmisi suaranya mungkin bermasalah. Entah kenapa. Tapi nggak usah kuatir, aku bisa bantu.” Andika membuka tas dan mengeluarkan sejenis helm yang mirip dengan yang dipakaikannya ke Hasanah.

Nadiya menautkan alis skeptis. “Helm sepeda?”

“Helm wireless!” protes Andika. “Aku beresin tadi malam, nyambung ke Mesin Manipulator Psikik di lab Fisika.” Dia menekan tombol merah di belakang helm, yang kemudian menyala. “Sip. Mesin udah kunyalain tadi pas jam istirahat kedua. Baterainya tahan kira-kira dua jam, tapi kita nggak butuh waktu selama itu. Nih, pasang.”

Hasanah menerima helm itu dengan ragu-ragu. Baru setelah Nadiya dan Andika memberi gestur Yakin-deh-semua-bakalan-baik-baik-aja (yang biasanya berakhir tidak baik-baik saja), Hasanah memasang helm itu di kepalanya.

Sensasi menggelitik seperti saat mengenakan mesin kemarin kembali terasa. Bedanya, kali ini Hasanah cuma merasakannya di kepalanya. Di sisi lain, Andika memainkan Lumia-nya.

“Yeh, sekarang malah dia yang main hp.” Gerutu Nadiya.

“Hei, ini remote control buat Mesin Manipulator Psikik.” Protes Andika. “Beda sama kamu, aku bisa memfungsikan hp dengan lebih baik. Oke, tunggu. Kemarin di frekuensi segini… harusnya bisa jalan juga. Yak!”

Hasanah tidak begitu memerhatikan pembicaraan kedua temannya. Suara desisan yang keluar dari celah retakan perlahan berubah menjadi gema di kepalanya. Lalu, saat suara-suara di kepalanya mulai jelas, Hasanah gemetaran. Mendengar suaranya sendiri yang ketakutan yang bukan berasal dari dirinya sendiri membuatnya merasa tidak akan bisa tidur nanti malam.

Tolong kami!

“Permintaan tolong lagi.” Gumam Nadiya. “Ada apa, sih, sebenernya?”

Tolong! Adakah yang bisa mendengar kami>? Seseorang? Tolong!

Diluar dugaan, mulut Hasanah bergerak sendiri. “Ka—kamu siapa?”

Andika dan Nadiya menatap Hasanah, raut wajah mereka mengisyaratkan Ngapain kamu?

Gema suara di kepala Hasanah terhenti sejenak. Lima detik kemudian, suara itu muncul lagi.

Ada orang kah di sana?

Baik Andika maupun Nadiya sama tercengang, bolak balik menatap Hasanah, Lumia-nya Andika dan retakan di tembok, menuntut penjelasan. Tapi Hasanah entah bagaimana kehilangan rasa gugupnya, mengetahui dia bisa bicara dengan siapapun di sisi lain retakan—dirinya sendiri.

“Iya. Ka—kami di sini. Siapa kalian?”

Hei, Hasanah. Kok suaranya mirip kamu, sih? Suara lain mendadak terdengar.

Andika tercekat. “Itu—suaraku?”

Nggak penting, Dik! Yang penting ada orang di sana! Sahut suara baru lainnya.

Nadiya ternganga dan menunjuk dirinya sendiri saat mendengar suara itu.

Tolong kami! Kami dikejar-kejar! Mereka mengejar kami! Kami tahu—kami tahu apa yang mereka rencanakan! Mereka mau mencelakakan semua orang! Suara pertama kembali menyeru.

“Sebentar! Sebentar!” potong Andika. Dia bicara melalui Lumia-nya. “Halo? Halo? Kalian bisa dengar aku? Kalian di mana? Apa yang terjadi? Dan gimana kalian bisa menghubungi kami?”

Ya! Kam—hei, tunggu. Itu suaraku! Sahut suara kedua. Kenapa suaraku juga ada di sana?

Eh? Yang bener? tanya suara ketiga.

Iya, itu suaraku! Aku yakin banget! Masa’ aku gak kenal suaraku sendiri?

Walah. Apa jangan-jangan ada suaraku juga di sana? Kok bisa, sih?

“Hei, hei, guys? Guys!” potong Andika. “Lupain dulu soal itu, kami juga sama kaget, tahu. Coba pelan-pelan jelasin, kalian di mana? Ada apa? Gimana kalian bisa menghubungi kami?”

Sini, biar aku yang jelasin. Suara kedua mengambil alih. Halo? Halo? Siapapun-di-sana-yang-suaranya-sama-denganku? Kami siswa SMAN 1 Cibadak! Aku Andika, sama dua temanku Hasanah dan Nadiya. Kami, well… dapat masalah besar. Well, sangat besar. Besar banget. Kami nggak bisa minta tolong ke orang-orang di sini, nggak ada yang percaya! Bahkan kami nggak bisa keluar dari Lab Fisika. Orang-orang itu nyariin kami.

Ekspresi Hasanah dkk mendadak horor mendengar nama-nama dan lokasi itu disebut. Andika menelan ludah dan lanjut bicara.

“Orang-orang mana? Siapa yang kalian bicarain?”

REND Corporation! Siapa lagi, kalian pikir? Eh, tunggu. Apa di tempat kalian nggak ada REND Corporation?

Kita lagi bicara sama orang di dunia yang beda, ya bisa jadi di mereka nggak ada. Cetus suara Nadiya.

Andika berdehem. “Adanya RAND Corporation, tapi aku nggak tahu kerjaannya sama atau ngg—tunggu.” Dia tersadar sesuatu. “Dunia lain? Kalian bener-bener dari dunia lain? Dunia paralel?”

Ya! Well, kayaknya sih gitu. Kalian dari planet Bumi juga, kan?

“Gimana caranya kalian bisa bikin koneksi ke sini? Nggak mungkin karena ada TARDIS meledak, kan?”

Ya nggaklah, ngaco. Eh, kamu nonton Doctor Who juga?

“Jawab aja!”

Suara Andika di sisi lain berdecak sebal. Kami nyolong mesin punya REND Corporation waktu kami lari dari mereka. Digabung sama mesin yang dibikin aku sama Nadiya, kami nemu beberapa titik dimana ikatan fabrik alam semestanya agak longgar. Dari sana, aku berspekulasi kalau ada dunia paralel dibalik dunia ini. Dan kayaknya spekulasiku bener.

“Jadi di sana kamu yang berspekulasi begitu, bukan Hasanah.” Bisik Nadiya.

“Jadi kamu yang bikin retakan-retakan di alam semesta ini?” tuntut Andika.

Kira-kira begitulah. Lagi beruntung aja, aku asal ngoperasiin mesin REND dan tiba-tiba KRAK! Muncul retakan ngambang di udara. Kata Nadiya, Hasanah punya kemampuan psikik, jadi coba kuhubungkan dia ke retakan ini, biar bisa komunikasi sama yang ada di sisi sebelah sana. Pakai teriakan biasa nggak bisa, frekuensinya nggak klop. Omong-omong, kalian yang ngelempar kayu ke sini semenit yang lalu?

“Semenit?” tanya Nadiya.

“Kelihatannya aliran waktu lebih cepat di sana.” Gumam Andika. “Hei, kalau bener kamu yang bikin retakan itu, aku mau nanya. Kenapa banyak retakan lain mulai bermunculan di mana-mana?”

Itu, eh? Aduh, gawat.

“Gawat kenapa?”

Well… Ini cuma teoriku. Tapi kelihatannya tindakan kami merobek fabrik realitas bikin dinding antar dimensi jadi nggak stabil. Kalau kami pakai mesin ini kelamaan, bisa jadi dindingnya bakalan kolaps.

“Apa yang bakalan terjadi, kalau gitu?”

Nggak tahu. Yang jelas nggak mungkin berita baikKami baru nyalain mesin ini sepuluh menit, dan kayaknya udara mulai kerasa nggak beres.

“Sepuluh menit…” Hasanah tiba-tiba menggumam. Dia memuntir-muntir ujung kerudungnya.

Tolong… suara Hasanah di seberang kembali terdengar. Dibanding kedua temannya, suaranya paling putus asa.Bisakah kalian menolong kami?

Ketiga siswa X-1 itu bertukar pandang satu sama lain. Berbagai emosi campuraduk di sorot mata mereka, tapi ada satu yang pasti: Keraguan.

Teman-teman?

Well, gimana caranya? Apa yang harus kami lakuin?” tanya Andika.

Kami—AAAH!

Suara jeritan, teriakan, raungan, derap kaki dan suara benda-benda dilempar dan membentur mendadak terdengar silih berganti. Hasanah dkk terkejut dengan kejadian itu. Hasanah baru mau berteriak, tapi Nadiya melompat untuk membungkam mulutnya.

“Jangan! Kalau sampai kedengeran kita bisa kena masalah juga!” sergah Nadiya setengah berbisik.

Tapi kali ini Hasanah berontak. Dialog Andika dengan Andika 2.0 di seberang sana membuat pikirannya kacau. Bayangan menemui dirinya sendiri diluar dirinya di tempat yang sama tapi bukan di dunia ini membuatnya agak ngeri, tapi mengetahui dirinya yang satu lagi—atau dirinya sendiri, Hasanah tidak bisa menentukan yang mana yang benar—mendapat masalah yang mungkin mengancam nyawanya, Hasanah jauh lebih ngeri lagi. Dia harus melakukan sesuatu.

Seolah mendapat tenaga ekstra, Hasanah melepaskan diri dari Nadiya dan melompat ke retakan.

“Hasanah!” seru Nadiya dan Andika berbarengan. Keduanya berhasil menangkap bahu Hasanah.

Tapi, Hasanah sudah mencengkeram celah retakan dengan kedua tangannya.

Dunia terasa berputar. Ketiganya tersedot ke dalam retakan oleh gravitasi sepuluh kali lebih kuat dari gravitasi Bumi. Mereka berteriak, saat tubuh mereka berputar tanpa henti dalam pusaran ruang waktu.

(bersambung…)


0 comments:

Post a Comment