“Itu, kok, kayak
suaranya Anah?” tanya Nadiya, kedua alisnya nyaris bertaut.
“Bukan sekadar kayak.
Itu emang suaranya Hasanah.” Andika memakai lagi kacamatanya. Dia menoleh pada
Hasanah yang terduduk kaku di kursinya, wajahnya penuh horor. “Nggak perlu
analisis frekuensi gelombang suara buat tahu kalau itu suaranya Hasanah. Sama
persis.”
Hasanah menelan ludah.
“A—apa artinya?”
“Aku
punya teori.” Andika melangkah papan tulis dan menulis. “Kemungkinan pertama,
itu orang yang suaranya mirip sama Hasanah. Tapi ini meragukan. Well, kita
emang gak tahu kalau-kalau misalnya ada orang dari Ujunggenteng yang punya
suara begini juga, tapi aku berani melakukan analisis frekuensi gelombang suara
dan aku yakin frekuensinya sama persis kayak frekuensi suara Hasanah. Lagian,
nggak ada dua orang di dunia ini yang suaranya bakalan sama persis. Yang kembar
identik pun mustahil.” Kemudian Andika mencoret kemungkinan pertama itu.
“Terus?” Nadiya
bertanya lagi.
“Kedua, bisa jadi ini
memang suara Hasanah. Hasanah yang di sini.” Andika menulis kemungkinan itu,
kemudian melirik teman sekelasnya itu, yang masih tampak ketakutan. “Tapi di
masa depan. Retakan alam semesta yang ada di Doctor Who itu
bisa tersambung kemanapun di ruang dan waktu, termasuk masa depan. Mungkin aja,
ini dari masa depan Hasanah. Tapi…”
Nadiya
menimbang-nimbang sejenak, lalu menyadari sesuatu. “Suaranya, kan, suara
Hasanah yang sekarang. Padahal suara orang biasanya berubah kalau udah dewasa.”
Andika mengangguk,
lalu mencoret kemungkinan yang baru saja ditulisnya. “Yang ketiga, yang paling
meyakinkan…”
“Itu aku dari dunia
paralel…” cicit Hasanah.
Suasana hening.
Ketegangan memercik di udara. Mereka bertiga bertukar pandang satu sama lain.
“Nggak ada kemungkinan
lain yang lebih logis.” Sahut Andika pada akhirnya. “Suara yang sama persis,
dalam rentang usia sama, tapi bukan orang yang ada di sini. Artinya, yang
bener-bener logis, suara itu adalah Hasanah versi dunia paralel. Dan retakan
itu adalah portal ke sana.”
Rasa penasaran Hasanah
pada dunia paralel tiba-tiba lenyap. Api antusiasmenya mendadak mati, seperti
baru saja disiram air dari Samudera Antartika. Entah kenapa, ide keberadaan
manusiia yang sama persis dengan dirinya di dunia lain itu terasa menakutkan.
Sayangnya, kedua
temannya tidak berpikir demikian.
Mendadak, keduanya
bersorak kegirangan dan melakukan high-five. Baik Andika maupun
Nadiya tampak luar biasa terkesan.
“Ini hebat! Ini keren!
Ah, dunia paralel itu bener-bener ada! Huh, kukira aku cuma bakalan bisa ngayal
soal ini sampe mati!” Andika memukul-mukul papan tulis dengan semangat.
“Yah, siapa yang bisa
duga kalau yang kamu biasa tonton ternyata bukan cuma fiksi?” timpal Nadiya,
tanpa mengalihkan mata dari layar Xperia-nya. Dia mengetik dengan semangat.
“Wah, keren, keren. Orang-orang mesti tahu!”
Andika mengernyit.
“Kamu update itu di LINE?”
Nadiya mengangguk
semangat. Andika menepuk dahi keras-keras, berdecak jengkel dan menggerutu.
“Omong-omong, kamu
kalah lagi, lho, sama Hasanah.” Kata Nadiya. “Teorinya soal dunia paralel
bener, sementara teorimu soal penjelajahan waktu nggak terbukti. Haha!”
“Belum terbukti.”
Koreksi Andika. “Lagian, bisa jadi retakan itu bisa time travel juga.
Cuma belum ketahuan aja.”
“Teman-teman…” ucap
Hasanah lemah. “Bisa tolong lepasin semua ini dari aku?”
Lagi-lagi Andika dan
Nadiya tertegun saat menyadari bahwa Hasanah ada di sana. Andika menoleh
sekilas ke layar mesinnya, dan spontan memberi instruksi pada Nadiya untuk
membantunya. Semenit kemudian, Hasanah lepas dari jeratan kabel mesin tadi. Dia
memijit-mijit kepala sebelah kirinya, agak meringis.
“Udah kubilang,
migrain.” Andika melihat jam tangannya. “Paling lama dua jam. Kayaknya. Kalau
Desty sih gitu.”
“Terus, berikutnya
kita ngapain? Soal retakan itu.” Sahut Nadiya yang memapah Hasanah keluar dari
Lab Fisika.
“Biarin aja dulu. Toh
nggak ada yang tahu selain kita. Lagian…” Andika melirik Hasanah. “Teman kita
nggak kelihatan bener-bener antusias.”
Nadiya menatap
Hasanah, meminta penjelasan. Hasanah melontarkan tatapan nanti aja
kukasih tahu, dan Nadiya tidak bertanya apa-apa lagi.
***
“Kenapa mendadak
tegang gitu, sih, Nah?”
Hasanah dan Nadiya
duduk di depan ruang piala, dekat tempat parkir. Hasanah memuntir-muntir ujung
kerudungnya tanpa henti, pikirannya melayang kemana-mana. Andika sudah pulang
duluan setelah memberitahu keduanya untuk “mengecek lagi besok”.
“Anah?”
“Eh? Oh, nggak… nggak
apa-apa, Nad. Cuman…”
“Iya, kenapa? Kok
tumben gitu. Biasanya kamu justru paling antusias kalau teori kamu bener. Kayak
waktu nemu rumah di belakang sana.”
Hasanah menelan ludah.
“Entahlah. Rasanya aneh, denger suara sendiri diucapkan sama orang yang beda,
tapi itu aku sendiri. Aku yang bukan aku, aku yang nggak ada di sini, tapi juga
di sini.”
Nadiya garuk-garuk
kepala. “Duh… kata-katamu bikin pusing.”
“Yah… aku agak
bergidik aja ngebayanginnya. Apalagi, aku—dia, maksudku, kedengeran ketakutan.
Apapun itu, sesuatu mengancam nyawanya. Itu, itu bikin aku takut…”
Nadiya merangkul bahu
Hasanah. “Udah, ah, nggak usah terlalu dibawa takut gitu. Besok juga kita cari
tahu soal itu lebih jauh lagi.”
“Tapi, gimana kalau
misalnya aku—dia, dia udah ketangkep? Kalau dia ternyata udah diapa-apain? Aku
takut… tapi…”
“Kamu takut dia
kenapa-kenapa, tapi kamu juga takut dengan keberadaannya. Aku nggak ngerti,
sumpah. Andika bilang kalau cewek itu susah dingertiin,” Nadiya berdecak sebal,
“tapi kamu kayaknya lebih susah lagi, deh.”
Hasanah mendesah
pelan. Dia memijit-mijit kepala sebelah kirinya lagi. Obat pereda migrain yang
dibelikan Andika tadi tidak terlalu manjur, kepalanya mulai berdenyut lagi.
Ditambah perasaan campur aduk soal yang didengarnya tadi, pikiran Hasanah
terasa makin tak karuan.
“Udah, sekarang jangan
dipikirin dulu. Ayo pulang, istirahat. Aku anterin.” Nadiya bangkit dan
mengulurkan tangannya.
***
Besok paginya, Andika
tersandung jatuh ketika memasuki kelas.
Berita baiknya, kelas
masih sepi. Andika memang sering datang pagi, bahkan saat kebanyakan teman
sekelasnya masih menguap di meja makan dengan rambut acak-acakan dan wajah
kusut. Berita buruknya, dari kelas yang sepi itu, ada yang sudah datang. Siswi
bernama Jessica. Cewek bertampang agak Cina—padahal tidak ada keturunan Cina
sama sekali—dan berkacamata half-frame tebal ini adalah
satu-satunya orang yang datangnya hampir selalu lebih pagi dari Andika. Tidak
ada yang tahu kenapa, dia tidak pernah bicara soal itu. Dan Andika terlalu
canggung untuk menanyainya.
Tentu saja, Jessica
melihat Andika jatuh.
“Dik, kamu kenapa?”
tanya Jessica, yang saat itu baru berdiri dari kursinya. Dia buru-buru
menghambur menghampiri Andika.
Lagi main hula hoop pake tarian balerina. Gerutu
Andika dalam hati. Pake nanya lagi.
Jessica mengulurkan
tangannya, mau membantu Andika berdiri. Andika tertegun sejenak, sekujur
sarafnya mendadak kaku. Detak jantungnya bertambah satu setengan kali lipat.
“Dik? Kenapa?” Jessica
mengerutkan dahi.
Sontak Andika
tersadar, dan dengan canggung menerima uluran tangan Jessica. Sekujur tubuhnya
bergetar saat Jessica membantunya berdiri, dan butuh lima detik baginya untuk
menyadari posisi berdirinya sudah sempurna, dengan Jessica menatapnya tidak
mengerti.
“Kok kamu bisa
kesandung gitu, sih?” tanyanya heran.
Andika tidak berani
menatap mata Jessica langsung. Itu selalu membuatnya tegang. Jadi, dia menoleh
ke tempatnya jatuh. “Nggak tahu, tad—”
Andika tidak
menyelesaikan kalimatnya. Hentakan baru menghujam jantungnya saat melihat apa
penyebabnya tersandung tadi.
“Jes… Sejak kapan
lantai depan kelas retak begini?”
Jessica menoleh ke
lantai yang dilihat Andika dan sama-sama kaget. “Lho? Kok? Tadi gak ada.”
“Eh?”
“Beneran, deh. Tadi
pas aku masuk gak ada ginian, lantainya gak kenapa-kenapa.” Jessica mengernyit.
“Asa gak ada gempa juga, ah.”
Andika menelan ludah.
“Shit just got serious.”
“Apa?”
“Bukan apa-apa.”
Andika menggeleng.
“Tapi kayaknya tadi
aku denger suara, sih, Dik. Kayak kayu patah gitu, dari luar. Aku kira itu Mang
Oman. Masa’ itu suara lantai retak ini, ah? Kan ini keramik, yang tadi jelas
bukan suara keramik.”
“Well…” Andika
menggosok-gosok tangannya gelisah. Pikirannya berputar cepat, menyambungkan
berbagai informasi yang didapatkannya sejak kemarin. “Jes, boleh aku… aku…”
Jessica menoleh,
mengangkat alis. Keheningan melanda, sampai Jessica memecahkannya dengan
bertanya, “Kamu kenapa, sih, Dik?”
“A… eh, aku…” Andika
menelan ludah. “Bisa… minta tolong? Jangan cerita soal retakan ini ke
siapa-siapa, terus jangan deket-deket apalagi megang-megang.”
“Lho? Kenapa? Kan
mending dikasih tahu ke Mang Oman, gitu, biar dib—”
“Ceritanya
panjang. Well, yah… panjang. Yang jelas, tolong jangan kasih tahu
siapa-siapa, ya?”
Jessica tidak
kelihatan benar-benar mengerti atau yakin dengan apa yang dikatakan teman
sekelasnya itu, tapi dia mengangguk.
“Satu lagi. Di mana
Ainun naro keset?”
***
Tidak ada yang
bertanya-tanya soal keberadaan keset di depan pintu kelas selain Nadiya dan
Hasanah. Saat mereka diberitahu apa yang terjadi, keduanya cuma bisa terkesiap
kaget. Utamanya Hasanah.
“A—apa artinya?” cicit
Hasanah. Dia duduk di kursi Prima, teman semeja Andika.
“Aku nggak bener-bener
yakin.” Ucap Andika, mulai menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sensasi
genggaman tangan Jessica masih terasa, dan itu membuatnya tidak nyaman dan
sulit berpikir fokus. “Tapi mungkin penjelasannya nggak beda jauh sama kenapa tembok
belakang meja si Dimas mendadak retak.” Dia menoleh ke belakang kelas. Retakan
yang dimaksud masih terpampang jelas.
“Yaaa-iii-tuuu?” koor
Nadiya. Dia berdiri bersandar ke tembok di depan meja Andika—lagi-lagi tidak
lepas dari Xperia-nya.
“Mbuh. Nggak
tahu. Yang ini beda sama retakan alam semesta di Doctor Who, nggak
bisa merujuk dari sana. Dan itu, well… fiksi.”
“Jadi?” tanya Hasanah.
“Kita cek lagi ntar
pulang sekolah. Pas waktu istirahat terlalu riskan.”
Maka, setelah bel jam
pelajaran terakhir berbunyi, mereka segera berkemas. Nadiya menolak permintaan
Halida untuk belajar Geografi, sementara Hasanah menunda kerja kelompok untuk
tugas Biologi sampai besok, diiringi gerutuan tanpa henti Prima.
Andika baru keluar
kelas setelah berbicara sejenak dengan Jessica.
“Cieee. Ngobrol apa
barusan?” tanya Nadiya, cengar cengir.
Andika mengernyit.
“Kenapa kamu pake ‘cieee’ segala?”
“Ah, jangan pura-pura.
Aku tahu, kok. Kamu sama Jessica.”
Walau Andika tetap
memasang pokerface seolah-olah tidak mengerti apa-apa, dalam
hati dia memaki-maki, Duh, gawat. Gimana dia bisa mikir
kesana?
“Udah jadi gosip
anak-anak pojok, tahu. Kamu suka salting kalau ngomong sama Jessica.” Sambung
Nadiya, masih nyengir kuda.
“Bah.” Andika
mendengus. “Aku tadi ngeyakinin dia buat nggak ngomong apa-apa soal retakan
ini.” Andika menoleh ke keset biru di depan pintu kelas. “Tapi kayaknya dia
bukan orang yang banyak mulut.”
“Cieee, tahu bener,
nih, soal Jeje.”
“Well, kalau
dibanding mulut besarmu, dia emang kelihatan lebih diem.” Cela Andika.
“Teman-teman?” panggil
Hasanah. Kedua temannya menoleh.
“Oh, iya.” Andika
berdehem. “Ayo.”
Di belakang sekolah,
setelah memastikan suasana sepi dan tidak ada orang aneh yang tiba-tiba
membuntuti mereka, ketiganya membuka tingkap seng yang menutupi retakan
kemarin. Retakan itu masih ada, beserta desisan asap dan cahaya yang keluar
dari celahnya. Yang membuat ketiganya menelan ludah, celahnya membesar dan
cahayanya makin terang.
“Jadi… apa yang
sebenernya terjadi?” tanya Andika retoris. Kedua temannya kompak menggeleng.
“Kamu nggak denger
suara apa-apa lagi, Anah?” tanya Nadiya.
“Baru pas ini kebuka
aja.” aku Hasanah.
“Transmisi suaranya
mungkin bermasalah. Entah kenapa. Tapi nggak usah kuatir, aku bisa bantu.”
Andika membuka tas dan mengeluarkan sejenis helm yang mirip dengan yang
dipakaikannya ke Hasanah.
Nadiya menautkan alis
skeptis. “Helm sepeda?”
“Helm wireless!”
protes Andika. “Aku beresin tadi malam, nyambung ke Mesin Manipulator Psikik di
lab Fisika.” Dia menekan tombol merah di belakang helm, yang kemudian menyala.
“Sip. Mesin udah kunyalain tadi pas jam istirahat kedua. Baterainya tahan
kira-kira dua jam, tapi kita nggak butuh waktu selama itu. Nih, pasang.”
Hasanah menerima helm
itu dengan ragu-ragu. Baru setelah Nadiya dan Andika memberi gestur Yakin-deh-semua-bakalan-baik-baik-aja (yang
biasanya berakhir tidak baik-baik saja), Hasanah memasang helm itu di
kepalanya.
Sensasi menggelitik
seperti saat mengenakan mesin kemarin kembali terasa. Bedanya, kali ini Hasanah
cuma merasakannya di kepalanya. Di sisi lain, Andika memainkan Lumia-nya.
“Yeh, sekarang malah
dia yang main hp.” Gerutu Nadiya.
“Hei, ini remote
control buat Mesin Manipulator Psikik.” Protes Andika. “Beda sama
kamu, aku bisa memfungsikan hp dengan lebih baik. Oke, tunggu. Kemarin di
frekuensi segini… harusnya bisa jalan juga. Yak!”
Hasanah tidak begitu
memerhatikan pembicaraan kedua temannya. Suara desisan yang keluar dari celah
retakan perlahan berubah menjadi gema di kepalanya. Lalu, saat suara-suara di
kepalanya mulai jelas, Hasanah gemetaran. Mendengar suaranya sendiri yang
ketakutan yang bukan berasal dari dirinya sendiri membuatnya merasa tidak akan
bisa tidur nanti malam.
Tolong kami!
“Permintaan tolong
lagi.” Gumam Nadiya. “Ada apa, sih, sebenernya?”
Tolong! Adakah yang
bisa mendengar kami>? Seseorang? Tolong!
Diluar dugaan, mulut
Hasanah bergerak sendiri. “Ka—kamu siapa?”
Andika dan Nadiya
menatap Hasanah, raut wajah mereka mengisyaratkan Ngapain kamu?
Gema suara di kepala
Hasanah terhenti sejenak. Lima detik kemudian, suara itu muncul lagi.
Ada orang kah di
sana?
Baik Andika maupun
Nadiya sama tercengang, bolak balik menatap Hasanah, Lumia-nya Andika dan
retakan di tembok, menuntut penjelasan. Tapi Hasanah entah bagaimana kehilangan
rasa gugupnya, mengetahui dia bisa bicara dengan siapapun di sisi lain
retakan—dirinya sendiri.
“Iya. Ka—kami di sini.
Siapa kalian?”
Hei, Hasanah. Kok
suaranya mirip kamu, sih? Suara
lain mendadak terdengar.
Andika tercekat.
“Itu—suaraku?”
Nggak penting, Dik!
Yang penting ada orang di sana! Sahut suara baru lainnya.
Nadiya ternganga dan
menunjuk dirinya sendiri saat mendengar suara itu.
Tolong kami! Kami
dikejar-kejar! Mereka mengejar kami! Kami tahu—kami tahu apa yang mereka
rencanakan! Mereka mau mencelakakan semua orang! Suara pertama kembali menyeru.
“Sebentar! Sebentar!”
potong Andika. Dia bicara melalui Lumia-nya. “Halo? Halo? Kalian bisa dengar
aku? Kalian di mana? Apa yang terjadi? Dan gimana kalian bisa menghubungi
kami?”
Ya! Kam—hei,
tunggu. Itu suaraku! Sahut
suara kedua. Kenapa suaraku juga ada di sana?
Eh? Yang
bener? tanya suara
ketiga.
Iya, itu suaraku!
Aku yakin banget! Masa’ aku gak kenal suaraku sendiri?
Walah. Apa
jangan-jangan ada suaraku juga di sana? Kok bisa, sih?
“Hei, hei, guys?
Guys!” potong Andika. “Lupain dulu soal itu, kami juga sama kaget, tahu.
Coba pelan-pelan jelasin, kalian di mana? Ada apa? Gimana kalian bisa
menghubungi kami?”
Sini, biar aku yang
jelasin. Suara kedua mengambil
alih. Halo? Halo? Siapapun-di-sana-yang-suaranya-sama-denganku? Kami
siswa SMAN 1 Cibadak! Aku Andika, sama dua temanku Hasanah dan Nadiya.
Kami, well… dapat masalah besar. Well, sangat
besar. Besar banget. Kami nggak bisa minta tolong ke orang-orang di
sini, nggak ada yang percaya! Bahkan kami nggak bisa keluar dari Lab Fisika.
Orang-orang itu nyariin kami.
Ekspresi Hasanah dkk
mendadak horor mendengar nama-nama dan lokasi itu disebut. Andika menelan ludah
dan lanjut bicara.
“Orang-orang mana?
Siapa yang kalian bicarain?”
REND Corporation!
Siapa lagi, kalian pikir? Eh, tunggu. Apa di tempat kalian nggak ada REND
Corporation?
Kita lagi bicara
sama orang di dunia yang beda, ya bisa jadi di mereka nggak ada. Cetus suara Nadiya.
Andika berdehem.
“Adanya RAND Corporation, tapi aku nggak tahu kerjaannya sama atau ngg—tunggu.”
Dia tersadar sesuatu. “Dunia lain? Kalian bener-bener dari dunia lain?
Dunia paralel?”
Ya! Well, kayaknya sih gitu. Kalian dari
planet Bumi juga, kan?
“Gimana caranya kalian
bisa bikin koneksi ke sini? Nggak mungkin karena ada TARDIS meledak, kan?”
Ya nggaklah, ngaco.
Eh, kamu nonton Doctor
Who juga?
“Jawab aja!”
Suara Andika di sisi
lain berdecak sebal. Kami nyolong mesin punya REND Corporation waktu
kami lari dari mereka. Digabung sama mesin yang dibikin aku sama Nadiya, kami
nemu beberapa titik dimana ikatan fabrik alam semestanya agak longgar. Dari
sana, aku berspekulasi kalau ada dunia paralel dibalik dunia ini. Dan kayaknya
spekulasiku bener.
“Jadi di sana kamu
yang berspekulasi begitu, bukan Hasanah.” Bisik Nadiya.
“Jadi kamu yang bikin
retakan-retakan di alam semesta ini?” tuntut Andika.
Kira-kira
begitulah. Lagi beruntung aja, aku asal ngoperasiin mesin REND dan tiba-tiba
KRAK! Muncul retakan ngambang di udara. Kata Nadiya, Hasanah punya kemampuan
psikik, jadi coba kuhubungkan dia ke retakan ini, biar bisa komunikasi sama
yang ada di sisi sebelah sana. Pakai teriakan biasa nggak bisa, frekuensinya
nggak klop. Omong-omong, kalian yang ngelempar kayu ke sini semenit yang lalu?
“Semenit?” tanya
Nadiya.
“Kelihatannya aliran
waktu lebih cepat di sana.” Gumam Andika. “Hei, kalau bener kamu yang bikin
retakan itu, aku mau nanya. Kenapa banyak retakan lain mulai
bermunculan di mana-mana?”
Itu, eh? Aduh,
gawat.
“Gawat kenapa?”
Well… Ini cuma
teoriku. Tapi kelihatannya tindakan kami merobek fabrik realitas bikin dinding
antar dimensi jadi nggak stabil. Kalau kami pakai mesin ini kelamaan, bisa jadi
dindingnya bakalan kolaps.
“Apa yang bakalan
terjadi, kalau gitu?”
Nggak tahu. Yang
jelas nggak mungkin berita baik. Kami
baru nyalain mesin ini sepuluh menit, dan kayaknya udara mulai kerasa nggak
beres.
“Sepuluh menit…”
Hasanah tiba-tiba menggumam. Dia memuntir-muntir ujung kerudungnya.
Tolong… suara Hasanah di seberang kembali terdengar.
Dibanding kedua temannya, suaranya paling putus asa.Bisakah kalian menolong
kami?
Ketiga siswa X-1 itu
bertukar pandang satu sama lain. Berbagai emosi campuraduk di sorot mata
mereka, tapi ada satu yang pasti: Keraguan.
Teman-teman?
“Well, gimana
caranya? Apa yang harus kami lakuin?” tanya Andika.
Kami—AAAH!
Suara jeritan,
teriakan, raungan, derap kaki dan suara benda-benda dilempar dan membentur
mendadak terdengar silih berganti. Hasanah dkk terkejut dengan kejadian itu.
Hasanah baru mau berteriak, tapi Nadiya melompat untuk membungkam mulutnya.
“Jangan! Kalau sampai
kedengeran kita bisa kena masalah juga!” sergah Nadiya setengah berbisik.
Tapi kali ini Hasanah
berontak. Dialog Andika dengan Andika 2.0 di seberang sana membuat pikirannya
kacau. Bayangan menemui dirinya sendiri diluar dirinya di tempat yang sama tapi
bukan di dunia ini membuatnya agak ngeri, tapi mengetahui dirinya yang satu
lagi—atau dirinya sendiri, Hasanah tidak bisa menentukan yang mana yang
benar—mendapat masalah yang mungkin mengancam nyawanya, Hasanah jauh lebih
ngeri lagi. Dia harus melakukan sesuatu.
Seolah mendapat tenaga
ekstra, Hasanah melepaskan diri dari Nadiya dan melompat ke retakan.
“Hasanah!” seru Nadiya
dan Andika berbarengan. Keduanya berhasil menangkap bahu Hasanah.
Tapi, Hasanah sudah
mencengkeram celah retakan dengan kedua tangannya.
Dunia terasa berputar.
Ketiganya tersedot ke dalam retakan oleh gravitasi sepuluh kali lebih kuat dari
gravitasi Bumi. Mereka berteriak, saat tubuh mereka berputar tanpa henti dalam
pusaran ruang waktu.
(bersambung…)


0 comments:
Post a Comment