Saturday, 11 November 2017

The Crest of Five, Episode 1


September 2067, Cibadak International School, Distrik Sukabumi, Indonesia
Pagi itu cuaca cerah tak berawan. Gedung sekolah Cibadak International School—sering disingkat CIS—berdiri megah di Jalan Perintis Kemerdekaan. Arsitekturnya merupakan paduan antara gaya Sunda dan Jawa klasik, dengan sentuhan modern di beberapa bagian. Selain megah, CIS juga luas. Secara keseluruhan, CIS memiliki luas kurang lebih empat ratus hektar termasuk Taman Biologi.
Fasilitasnya tergolong paling lengkap dan canggih se-Asia Tenggara. Tidak heran, siswanya pun terbatas. Ada sepuluh kelas tiap angkatan, tiap kelas maksimal diisi dua puluh orang. Para siswanya adalah kumpulan siswa terbaik dari seluruh penjuru dunia, setelah melalui seleksi yang ketat. Sekolah juga menyediakan fasilitas asrama, tapi terbatas.
Para siswa CIS berdatangan dari segala penjuru untuk memulai aktivitas pembelajaran pada hari itu. Entah menggunakan Kereta Gravitasi yang stasiunnya tepat berada di seberang gerbang CIS, Motor Hidrogen, atau, bagi yang punya uang lebih, menggunakan Teleporter Photon Expedition. Sapaan, obrolan, dan canda tawa menghiasi gerbang utara CIS ketika para siswa masuk ke sekolah.
Di antara mereka, ada tiga orang yang paling berisik.
Kim Sung Yoon, siswi asal Korea Selatan yang entah kenapa memanggil dirinya sendiri Tiffany—dan memaksa semua orang memanggilnya begitu—yang terkenal cerewet dan volume suaranya sulit dikendalikan, apalagi ketika bicara tentang negara asalnya yang katanya dipenuhi orang-orang yang cantik dan tampan bukan main. Ditambah, mereka dikenal memiliki suara yang bagus dan jago menari. Tidak bosan-bosannya dia membicarakan itu, sampai akhirnya banyak yang ikut menggemari mereka. Sementara itu, di belakangnya, para laki-laki mengata-ngatai orang-orang Korea Selatan sebagai manusia hasil tambalan plastik.
Begitu pula pagi itu, Tiffany dengan semangat membicarakan masalah SNSG, girlband idolanya di Korea sana. Dia terus berkicau tanpa henti kepada kedua sahabatnya, Katrijn van Velzen dan Susanti Setiawan. Katrijn yang berasal dari Belanda punya penampilan yang aneh. Gaya pakaian yang dikenakannya selalu tabrakan, entah motif atau warnanya. Seperti pagi itu, dia mengenakan blus motif macan tutul diluar kaos tanpa lengan warna hijau stabilo dipadukan celana jins agak kelonggaran. Rambut lurusnya yang setengah-pirang setengah-merah dikepang tinggi sebelah kiri dengan jepit rambut dari tembaga. Sementara Susanti, siswi asli Indonesia ini punya suara yang melengking dan tinggi, cocok dengan posturnya yang kurus kecil, sampai-sampai dia masih bisa mengenakan pakaiannya semasa SMP. Beberapa orang menyarankannya untuk menjadi penyanyi Sopran, tapi Susanti tampak tersinggung.
Mereka bertiga baru saja melewati gerbang ketika obrolan mereka mendadak terhenti.Ketiganya menoleh ke gerbang dengan sinis, kepada apa yang baru saja masuk melewatinya.
Iringan empat buah Motor Hidrogen masuk dengan gagah ke area parkir CIS, diiringi beberapa siswi yang bisik-bisik terpana satu sama lain melihatnya. Mereka adalah The Epic. Empat orang siswa CIS yang terkenal seantero sekolah karena talentanya masing-masing. Keluar paling pertama dari area parkir, Niels Gerd Heisenberg. Siswa dari Denmark yang dikenal sebagai salah satu siswa terbaik di angkatannya. Tidak ada yang meragukan kemampuannya, utamanya di Gigafisika, yang merupakan bidang spesialisasinya. Niels yang bertubuh tinggi kurus membenarkan kacamatanya, lalu menyisir rambut hitam lurusnya dengan jari-jarinya. Gaya berpakaiannya standar anak muda Indonesia masa itu; T-Shirt dan kemeja kotak-kotak yang tidak dikancing serta celana jins. Niels tidak terlalu suka penampilan aneh-aneh.
“Hei, apa yang kalian lakukan? Lama sekali.” katanya, melirik ke belakang.
Dua orang lainnya menyusul keluar. Yang satu hampir setinggi Niels, dengan rambut coklat kemerahan ikal dan raut wajah yang agak kaku. Hendrik Rahmawan Sulaksana, siswa lokal yang rajin dan cukup cerdas, tapi lebih pendiam. Penampilannya selalu sama tiap hari, jaket biru tua yang tertutup rapat dan celana bahan hijau tua.
“Clark. Biasa. Lagi.” katanya.
Mattaku, aitsu.” keluh Kazuki Hiashimaru, teman mereka yang satu lagi. Tubuh dan potongan rambut hitamnya lebih pendek dari kedua temannya, dan kulitnya agak coklat. Jaket merah-emas tersampir di bahunya. Alih-alih sepatu kets, pagi itu dia mengenakan sepatu futsal merah-hitam dengan logo Manchester United terukir di sisinya. Kaos polo merah dan celana olahraga yang dikenakannya mengesankan dia akan melatih sepakbola alih-alih bersekolah. “Selalu punya sesuatu untuk ditinggalkan.”
“Bah, sial!” maki teman mereka yang terakhir, keluar dari area parkir dengan raut wajah jengkel. Clark Michael Henderson, siswa dari Australia. Tubuhnya paling berotot dibanding teman-temannya. Dia punya mata biru tajam dan rambut pirang acak-acakan yang dibiarkan memanjang sampai bahu. Kaos hitamnya bergambar kelima anggota Des Fazio—band metal kegemarannya—dan celana jins longgarnya dipenuhi rantai berhiaskan pernak pernik Des Fazio. “Buku Metabiologi Lanjut-ku ketinggalan lagi! Aku yakin sekali, buku itu sudah ada di tasku sejak kemarin!”
“Bukan yang pertama kali kau begitu. Kau kira sudah menyiapkan semuanya, tapi ternyata itu dua malam yang lalu,” Niels mendelik ke atas. “Sebentar, rasanya kau sudah melakukan itu mungkin dua kali.”
“Atau tiga kali,” timpal Kazuki.
“Empat kali,” sahut Hendrik.
“Tiap hari,”
“Tiap minggu,”
“Tiap saat,”
“Tutup mulut.” sergah Clark jengkel. Niels mengangkat alis, lalu memberi isyarat untuk jalan.
Mereka melangkah mantap menuju kelas. Namun, baru beberapa langkah, mereka berpapasan dengan Tiffany dan kedua temannya yang sejak tadi berdiri dengan wajah tidak suka.
Hoe, omae tachi, sedang apa kalian dengan muka kusut begitu? Belum sempat disetrika tadi pagi?” tanya Kazuki.
“Heh, enak saja kalian bicara, eolgan-i! Lihat diri kalian sendiri! Tampang kucel begitu, belum mandi, ya?” balas Tiffany sambil tertawa.
Hendrik melihat ke sekelilingnya. “Benarkah? Tiffany bilang?” tanyanya kepada orang-orang di sekitarnya. Semuanya menggeleng.
“Bicara apa kau, Hendrik? Kalau kalian terlihat kucel, tentu saja para perempuan di sekitar kalian sudah menyadarinya sejak tadi.” sahut Luis Sebastian Jarvado Alcaraz, siswa kelas Nasa yang baru saja melewati mereka sambil nyengir.
Keempat anggota The Epic menatap ketiga perempuan di depannya dengan puas dan dan berlalu sambil pasang senyum mengejek.
“Tapi mereka memang kelihatan kucel, kok! Lee Chung Min yang baru bangun tidur saja lebih keren dari mereka!” kata Tiffany heran.
“Ah, sepertinya kau harus membedakan standar kucel disini dengan di Korea sana, deh. Di sana, kan, memang mukanya segar buatan.” ejek Susanti, seolah baru menyadari hal itu.
Tiffany merengut kesal dan berlalu menuju kelas, kali ini tanpa disertai ocehan khasnya.
Sesampainya di kelas, The Epic sudah berada di dalam beserta beberapa teman sekelasnya yang lain. Ketiga perempuan itu segera mengambil tempat duduk di baris kedua, di pojok sebelah Barat kelas, jauh dari tempat duduk yang diambil The Epic. Di kursi di belakang mereka, ada Nia Mutia Kiranasari.
Nia punya tubuh kecil dan wajah agak kekanakkan. Termasuk salah satu siswi jenius di angkatannya, sikap siswi lokal ini tak bisa ditebak. Kadang-kadang dia pendiam dan dingin, serta senang merendahkan orang lain. Pada saat yang lain, dia begitu hiperaktif, bergerak kesana-kemari hanya untuk mencari obrolan hangat dan bertingkah seperti anak kecil. Tak ada yang tahu kenapa dia bisa seperti itu.
Pagi itu Nia sedang dalam mode diam. Dia serius membaca buku Seratus Tanaman Langka: Dari Beracun Sampai Menyembuhkan di iComp-nya sambil sesekali membenarkan sandaran kursi elektronis dan kerudung hijau muda yang menutupi kepalanya, yang biasanya dilakukan tiap semenit sekali. Pakaian terusan hijau tua-nya memanjang sampai kaki, membuatnya tampak beda dengan siswi lain di kelas.
Tiga kursi di samping kanannya, seorang siswi berpakaian pendek—baju terusan merah tanpa lengan selutut—tertidur pulas, rambut awut-awutan menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan anting emas besar di telinganya. Namanya Malvina Ivanov Abramovich, siswi asal Rusia. Kulitnya pucat, dengan bintik-bintik kecil di pipi dan hidungnya. Tubuhnya agak gemuk, dan jika diajak lari, dia akan kalah oleh anak usia 10 tahun. Anak milyuner Rusia ini memang gampang sekali tidur, tapi hanya sedikit temannya yang tahu kalau dia mengidap narkolepsi.
Di sudut kelas, seorang siswa sibuk melakukan push-up, back-up dan sit-up. Walter Tuanzebe, ketua kelas asal Afrika Selatan yang terobsesi menjadi Angkatan Bersenjata. Kulitnya kecoklatan terbakar matahari. Fisiknya kekar dan kuat, menunjukkan tipenya yang pekerja keras. Diluar itu, dia juga termasuk berotak cemerlang.
Selain Nia dan Walter, dan tentu saja Niels, masih ada satu lagi seorang jenius di kelas itu, Hanifah Al Jaziri. Tak banyak yang diketahui tentang dirinya. Siswi asal Maroko ini tertutup dan hanya sering berbicara dengan Nia dan Walter. Pagi itu dia belum datang.
Para jenius itu tergabung dalam The Dream Team, minus Niels yang bergabung dalam The Epic. Sebutan ini diberikan oleh para siswa lain di seluruh sekolah, meski mereka bertiga sama sekali tak merasa telah membuat geng atau sejenisnya.
Di sudut ruangan, ada seorang lagi siswi yang tertidur. Bukan karena memang suka tidur, tapi kelelahan akibat begadang menyelesaikan tugas tambahan Sastra Dunia. Morena Alfonsina Casilla Ribas, siswi asal Argentina berwajah bulat dengan ekspresi polos sepanjang waktu yang terkenal sering telat mikir.
Merekalah para siswa Kompas yang sudah datang. Sebuah kelas di CIS yang—katanya—dihuni oleh para siswa pilihan dan terbaik di sekolah itu.
Beberapa menit kemudian, lonceng kuno raksasa berbunyi menandakan sudah masuk jam belajar. Tepat saat itu, dua orang siswi masuk ke dalam kelas. Yang paling depan, perempuan berkulit gelap dan bertubuh tinggi besar dengan rambut keriting yang diikat ekor kuda berjalan masuk dengan gaya bak selebritis yang berjalan di atas catwalk. Dengan sangat percaya diri, dia menyapa setiap temannya seolah-olah mereka itu penggemarnya.
“Hai, ganteng! Udah lama menungguin aku, ya? Oh, so sweet sekali, sih! Aku harus mendandan dulu kan biar cantik, jadi lama deh!” dia menggoda Hendrik dengan bahasa Indonesia yang agak kaku sambil memutar tubuhnya dengan gaya, memamerkan baju lengan panjang dan rok lebar sebetisnya yang penuh hiasan kerlap-kerlip.
Hendrik memandang teman-temannya dengan tatapan ngeri, sementara mereka susah payah menahan tawa.
Mudiwa Mabusela, siswi asal Zimbabwe ini sepertinya urat malunya sudah putus. Penampilan yang pas-pasan sama sekali tak mengganggu eksistensi dan kepercayaan dirinya. Berjalan bak artis, menggoda hampir setiap laki-laki, dan berbicara seolah-olah dia orang terkenal setiap hari. Tapi, hal itu justru membuat banyak orang tersenyum.
Satunya lagi adalah Maribel Fernando Martinez Souza. Siswi tinggi kurus berambut hitam sebahu yang ramai, cerewet dan seringkali ceroboh. Dia nyengir lebar, lalu merapikan rambut hitam sebahunya. Dia mengenakan blus dan rok selutut berwarna biru muda, dilengkapistocking hitam panjang.
Kedua siswi itu segera mengambil tempat duduk di belakang The Epic. Morena terbangun dan sontak segera duduk di sebelah mereka. Semua sudah siap belajar, kecuali Malvina yang masih tidur.
“Hei! Bangun, Malvina! Kelas sudah masuk, kau tidak ingin dapat tugas tambahan, kan?” Maribel mengguncang-guncang tubuh Malvina.
Malvina menggeliat enggan dan menguap, lalu kembali tertidur. Maribel garuk-garuk kepala. Dia mengambil sebotol air mineral di tasnya dan menyiram kepala Malvina. Spontan Malvina terbangun dengan kaget.
“HEEEIII!!! Chyort voz’mi!! Siapa yang menyiramku?! Aku lagi mimpi indah, tahu! Kenapa dibangunkan?!” Malvina marah-marah setengah teriak, setengah ngantuk.
“Sudah masuk jam pelajaran, Putri Tidur,” sindir Morena. “Kau nggak mau dapat tugas tambahan dari Professor Morello, kan?” Dia menegaskan ulang kalimat Maribel.
Chto? Sudah masuk, ya? Aduh, kenapa kalian nggak membangunkanku?” pekik Malvina linglung. Maribel mendengus keras dan memutar-mutar bola matanya.
Tidak berapa lama, Professor Morello masuk ke kelas dan duduk di kursi guru. Guru Metabiologi ini merupakan salah satu guru favorit di CIS. Usianya sudah lima puluh tiga tahun, tapi penampilannya belum setua itu. Hari ini dia mengenakan jubah hitam dan kerudung putih yang cukup panjang. Cara mengajarnya menyenangkan dan dia hafal semua nama siswa yang diajarnya. Biasanya, Professor Morello membawa beberapa buku cetak untuk referensi, tapi kali ini dia tidak membawa satupun.
“Selamat pagi, studenti.” salam Professor Morello.
“Selamat pagi, Professor!” jawab seluruh kelas serentak.
Scusa, saya tidak bisa mengisi kelas hari ini. Ada keperluan penting di luar, jadi saya akan memberi tugas.” papar Professor Morello.
Seisi kelas mengeluh.
“Cari informasi tentang Underworld Citron sebanyak mungkin, dari berbagai sumber yang bisa kalian dapatkan,” Professor Morello menjelaskan. Meski samar-samar, terdengar nada keraguan dalam suaranya,“Batasan waktu sampai lusa pukul lima sore di kantor saya, kumpulkan secara kolektif. Terlambat satu detik saja, tugas tambahan menanti kalian.”
Satu-satunya hal yang tidak disukai dari Professor Morello adalah dia sangat suka memberi tugas tambahan terhadap pelanggaran ketentuannya.
“Ada pertanyaan?” tanya Professor Morello kepada seisi kelas.
Semua kompak menjawab, “Tidak!”
Bene. Sekarang silahkan mulai mengerjakan, saya tinggal dulu.” Professor Morello bangkit dan beranjak pergi.
Kelas kembali berisik dengan obrolan dengan gengnya masing-masing, kali ini tentang Underworld Citron.
“Underworld Citron? Fu fu fu, kedengaran seperti Underwear Citron. Apa mungkin itu peliharaan para Kappa?” kata Kazuki.
“Itu tanaman seperti apa, ya? Namanya agak menyeramkan,” Susanti menebak-nebak.
“Aneh, aku sudah membaca ratusan buku referensi tentang tumbuhan dari seluruh dunia, tapi tak ada satupun yang menyebutkan tentang Underworld Citron, satu paragrafpun.” gumam Hanifah, yang disambut anggukan Walter dan Nia.
Seluruh kelas spontan mengalihkan pandangannya ke Hanifah dengan kaget. Siswi berkulit gelap dengan tampang serius yang mengenakan kerudung panjang dan pakaian terusan coklat muda itu sudah duduk di kursi di sebelah Nia.
“Sejak kapan dia berada di dalam kelas?” tanya Morena bingung.
Hanifah tidak menggubris. Masih menyimpan keheranan yang luar biasa, para siswa yang lain kembali mengobrol dengan gengnya masing-masing.
“Selesaikan malam ini. Besok Gigafisika. Fokus. Oke?” kata Hendrik, yang disetujui ketiga temannya.
Jam kosong dimanfaatkan The Epic untuk bermain sepakbola dengan kelas Reiga yang sedang jam pelajaran Olahraga. Tiffany dan kawan-kawannya, yang menamakan diri The K-Rocks, mengobrol seru di dalam kelas tentang gosip-gosip terhangat para artis Korea.
Sementara itu, Maribel, Malvina, Mudiwa, dan Morena, yang tergabung dalam The Great M, menonton pertandingan sepakbola sambil asyik mengerjai para penonton. The Dream Team? Mereka pergi ke Perpustakaan Sekolah dan sibuk membongkar-bongkar rak buku dan mengakses iComp untuk mencari referensi tentang Underworld Citron. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
***
Sore menjelang. Langit kemerahan menyambut sebagian kecil siswa CIS yang masih tersisa di area sekolah. Ada yang bermain sepakbola, mengerjakan laporan, dan juga yang masih ada kelas tambahan. Biasanya, itu gara-gara seisi kelas melanggar ketentuan tugas dari guru mereka.
Kelas Kompas baru keluar dari kelas Sastra Dunia dua puluh menit yang lalu. Professor Nurdiantoro, seperti biasanya, menerangkan dengan sangat membosankan tentang berbagai jenis kebudayaan di dunia. Kali ini dia bercerita panjang lebar tentang kebudayaan Ukraina, yang sama sekali tidak menarik perhatian seisi kelas. Bahkan The Dream Team pun tidak bersemangat mendengarkan.
The Dream Team berkumpul di taman utama CIS, mendiskusikan masalah Underworld Citron. Dari The Epic, Kazuki masih asyik bermain sepakbola, sementara Clark bermain drum di Klub Musik. Dua lainnya sibuk mendiskusikan tugas.
“Kamu benar, Hanifah.Semua buku tentang tumbuhan di perpustakaan nggak ada yang membahas masalah Underworld Citron, satupun.” ujar Nia heran.
“Apa mungkin Professor Morello hanya main-main saja? Atau mungkin salah menyebut tumbuhan?” tanya Walter.
Jangan bodoh. Kapan Professor pernah bercanda masalah tugas? Kalaupun salah sebut, harusnya Professor segera memberitahu kita.”
“Iya juga, sih.”
“Mau coba ke Perpustakaan Kota? Mungkin ada judul buku yang tidak ada di sini.”
Ana sudah cek, dan semua buku di sana ada di perpustakaan sekolah.” timpal Hanifah.
Kedua temannya mengeluh.
“Lalu mau kemana lagi?” tanya Walter.
Laa a’rifu,” Hanifah mengangkat bahu, lalu membenarkan posisi kerudungnya.
Sementara itu, Niels dan Hendrik juga membicarakan hal yang sama.
“Tadi aku sudah baca semua buku yang ada kaitannya dengan Sitrun, jeruk nipis, jeruk limau, bahkan segala macam jeruk di Perpustakaan Sekolah, termasuk yang ada di Bagian Khusus. Tapi tidak ada apa-apa soal Underworld Citron.” kata Niels.
“Yang namanya mirip?” tanya Hendrik.
Niels menggeleng. “Yang ada hanya Underwater Levianus, yang punya efek mempercepat degradasi sel pada hewan berdarah panas. Sama sekali nggak mirip Sitrun. Di Taman Biologi ada referensi, nggak?”
“Semua di Perpustakaan.”
“Perpustakaan pribadi Professor Morello?”
“Anggur Pelangi. Mawar Fluoresens. Itu saja.”
Niels mendengus. Dia melirik pada The Dream Team yang tidak jauh dari tempatnya, dan berkesimpulan bahwa mereka juga belum mendapatkan jawaban.
“Minta bantuan? Adik kelas?” Hendrik memecah lamunan.
Niels menatap Hendrik seolah-olah dia sudah kehilangan kewarasannya.
“Kau gila? Kita saja tidak tahu referensinya, apalagi adik kelas?”
Hendrik mengangkat bahu. “Anak Apoteker. Belum tentu. Merahasiakan tanaman. Hobi. Ingat Sensivore Zanzabil? Professor Morello. Tidak tahu.”
Niels mulai menganggap itu masuk akal.
“Oke, jadi siapa yang kau kenal?” tanyanya.
“Elfriede Howedes. Kelas Gamma. Kau?”
“Ernesta Howedes. Anak Jerman dari kelas Omega. Ayahnya ahli obat-obatan herbal ternama.”
Keduanya berpandangan.
“Mereka saudara?” tanya Niels.
“Kudengar kembar,” jawab Hendrik. “Tapi tidak mirip.”
“Oh, mungkin mereka kemb—”
“Lain kali saja,” potong Hendrik. “Yang penting dapat info.”
“Ya sudah. Siapa yang mau mendatangi mereka?”
“Kazuki dan Clark.”
Niels menghela nafas enggan. Dia menatap lapangan serbaguna di kejauhan. Kepalanya penuh pertanyaan, kenapa Professor Morello tiba-tiba memberi tugas aneh seperti itu. Tidak biasanya guru mereka memberikan masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan buku yang ada di perpustakaan. Padahal perpustakaan CIS adalah yang terlengkap di Jawa Barat. Terlebih lagi, Niels menyadari nada ragu dalam suara Professor Morello tadi.
Sepertinya dia berpikir terlalu jauh.
***


0 comments:

Post a Comment