September 2067, Cibadak
International School, Distrik Sukabumi, Indonesia
Pagi
itu cuaca cerah tak berawan. Gedung sekolah Cibadak International School—sering
disingkat CIS—berdiri megah di Jalan Perintis Kemerdekaan. Arsitekturnya
merupakan paduan antara gaya Sunda dan Jawa klasik, dengan sentuhan modern di
beberapa bagian. Selain megah, CIS juga luas. Secara keseluruhan, CIS memiliki
luas kurang lebih empat ratus hektar termasuk Taman Biologi.
Fasilitasnya
tergolong paling lengkap dan canggih se-Asia Tenggara. Tidak heran, siswanya
pun terbatas. Ada sepuluh kelas tiap angkatan, tiap kelas maksimal diisi dua
puluh orang. Para siswanya adalah kumpulan siswa terbaik dari seluruh penjuru
dunia, setelah melalui seleksi yang ketat. Sekolah juga menyediakan fasilitas
asrama, tapi terbatas.
Para
siswa CIS berdatangan dari segala penjuru untuk memulai aktivitas pembelajaran
pada hari itu. Entah menggunakan Kereta Gravitasi yang stasiunnya tepat berada
di seberang gerbang CIS, Motor Hidrogen, atau, bagi yang punya uang lebih,
menggunakan Teleporter Photon Expedition. Sapaan, obrolan, dan canda tawa
menghiasi gerbang utara CIS ketika para siswa masuk ke sekolah.
Di
antara mereka, ada tiga orang yang paling berisik.
Kim
Sung Yoon, siswi asal Korea Selatan yang entah kenapa memanggil dirinya sendiri
Tiffany—dan memaksa semua orang memanggilnya begitu—yang terkenal cerewet dan
volume suaranya sulit dikendalikan, apalagi ketika bicara tentang negara
asalnya yang katanya dipenuhi orang-orang yang cantik dan tampan bukan main.
Ditambah, mereka dikenal memiliki suara yang bagus dan jago menari. Tidak
bosan-bosannya dia membicarakan itu, sampai akhirnya banyak yang ikut
menggemari mereka. Sementara itu, di belakangnya, para laki-laki mengata-ngatai
orang-orang Korea Selatan sebagai manusia hasil tambalan plastik.
Begitu
pula pagi itu, Tiffany dengan semangat membicarakan masalah SNSG, girlband idolanya di Korea sana. Dia
terus berkicau tanpa henti kepada kedua sahabatnya, Katrijn van Velzen dan
Susanti Setiawan. Katrijn yang berasal dari Belanda punya penampilan yang aneh.
Gaya pakaian yang dikenakannya selalu tabrakan, entah motif atau warnanya.
Seperti pagi itu, dia mengenakan blus motif macan tutul diluar kaos tanpa
lengan warna hijau stabilo dipadukan celana jins agak kelonggaran. Rambut
lurusnya yang setengah-pirang setengah-merah dikepang tinggi sebelah kiri dengan
jepit rambut dari tembaga. Sementara Susanti, siswi asli Indonesia ini punya
suara yang melengking dan tinggi, cocok dengan posturnya yang kurus kecil,
sampai-sampai dia masih bisa mengenakan pakaiannya semasa SMP. Beberapa orang
menyarankannya untuk menjadi penyanyi Sopran, tapi Susanti tampak tersinggung.
Mereka
bertiga baru saja melewati gerbang ketika obrolan mereka mendadak
terhenti.Ketiganya menoleh ke gerbang dengan sinis, kepada apa yang baru saja
masuk melewatinya.
Iringan
empat buah Motor Hidrogen masuk dengan gagah ke area parkir CIS, diiringi beberapa siswi
yang bisik-bisik terpana satu sama lain melihatnya. Mereka adalah The Epic.
Empat orang siswa CIS yang terkenal seantero sekolah karena talentanya
masing-masing. Keluar paling pertama dari area parkir, Niels Gerd Heisenberg.
Siswa dari Denmark yang dikenal sebagai salah satu siswa terbaik di
angkatannya. Tidak ada yang meragukan kemampuannya, utamanya di Gigafisika,
yang merupakan bidang spesialisasinya. Niels yang bertubuh tinggi kurus
membenarkan kacamatanya, lalu menyisir rambut hitam lurusnya dengan
jari-jarinya. Gaya berpakaiannya standar anak muda Indonesia masa itu; T-Shirt
dan kemeja kotak-kotak yang tidak dikancing serta celana jins. Niels tidak
terlalu suka penampilan aneh-aneh.
“Hei,
apa yang kalian lakukan? Lama sekali.” katanya, melirik ke belakang.
Dua
orang lainnya menyusul keluar. Yang satu hampir setinggi Niels, dengan rambut
coklat kemerahan ikal dan raut wajah yang agak kaku. Hendrik Rahmawan Sulaksana,
siswa lokal yang rajin dan cukup cerdas, tapi lebih pendiam. Penampilannya
selalu sama tiap hari, jaket biru tua yang tertutup rapat dan celana bahan
hijau tua.
“Clark.
Biasa. Lagi.” katanya.
“Mattaku, aitsu.” keluh Kazuki
Hiashimaru, teman mereka yang satu lagi. Tubuh dan potongan rambut hitamnya
lebih pendek dari kedua temannya, dan kulitnya agak coklat. Jaket merah-emas
tersampir di bahunya. Alih-alih sepatu kets, pagi itu dia mengenakan sepatu
futsal merah-hitam dengan logo Manchester United terukir di sisinya. Kaos polo
merah dan celana olahraga yang dikenakannya mengesankan dia akan melatih
sepakbola alih-alih bersekolah. “Selalu punya sesuatu untuk ditinggalkan.”
“Bah,
sial!” maki teman mereka yang terakhir, keluar dari area parkir dengan raut
wajah jengkel. Clark Michael Henderson, siswa dari Australia. Tubuhnya paling
berotot dibanding teman-temannya. Dia punya mata biru tajam dan rambut pirang
acak-acakan yang dibiarkan memanjang sampai bahu. Kaos hitamnya bergambar
kelima anggota Des Fazio—band metal kegemarannya—dan celana jins longgarnya
dipenuhi rantai berhiaskan pernak pernik Des Fazio. “Buku Metabiologi Lanjut-ku ketinggalan lagi! Aku yakin sekali, buku itu
sudah ada di tasku sejak kemarin!”
“Bukan
yang pertama kali kau begitu. Kau kira sudah menyiapkan semuanya, tapi ternyata
itu dua malam yang lalu,” Niels mendelik ke atas. “Sebentar, rasanya kau sudah
melakukan itu mungkin dua kali.”
“Atau
tiga kali,” timpal Kazuki.
“Empat
kali,” sahut Hendrik.
“Tiap hari,”
“Tiap
minggu,”
“Tiap
saat,”
“Tutup
mulut.” sergah Clark jengkel. Niels mengangkat alis, lalu memberi isyarat untuk
jalan.
Mereka
melangkah mantap menuju kelas. Namun, baru beberapa langkah, mereka berpapasan
dengan Tiffany dan kedua temannya yang sejak tadi berdiri dengan wajah tidak
suka.
“Hoe, omae tachi, sedang apa kalian
dengan muka kusut begitu? Belum sempat disetrika tadi pagi?” tanya Kazuki.
“Heh,
enak saja kalian bicara, eolgan-i!
Lihat diri kalian sendiri! Tampang kucel begitu, belum mandi, ya?” balas
Tiffany sambil tertawa.
Hendrik
melihat ke sekelilingnya. “Benarkah? Tiffany bilang?” tanyanya kepada
orang-orang di sekitarnya. Semuanya menggeleng.
“Bicara
apa kau, Hendrik? Kalau kalian terlihat kucel, tentu saja para perempuan di
sekitar kalian sudah menyadarinya sejak tadi.” sahut Luis Sebastian Jarvado
Alcaraz, siswa kelas Nasa yang baru saja melewati mereka sambil nyengir.
Keempat
anggota The Epic menatap ketiga perempuan di depannya dengan puas dan dan
berlalu sambil pasang senyum mengejek.
“Tapi
mereka memang kelihatan kucel, kok! Lee Chung Min yang baru bangun tidur saja
lebih keren dari mereka!” kata Tiffany heran.
“Ah,
sepertinya kau harus membedakan standar kucel disini dengan di Korea sana, deh.
Di sana, kan, memang mukanya segar buatan.” ejek Susanti, seolah baru menyadari
hal itu.
Tiffany
merengut kesal dan berlalu menuju kelas, kali ini tanpa disertai ocehan
khasnya.
Sesampainya
di kelas, The Epic sudah berada di dalam beserta beberapa teman sekelasnya yang
lain. Ketiga perempuan itu segera mengambil tempat duduk di baris kedua, di
pojok sebelah Barat kelas, jauh dari tempat duduk yang diambil The Epic. Di
kursi di belakang mereka, ada Nia Mutia Kiranasari.
Nia punya
tubuh kecil dan wajah agak kekanakkan. Termasuk salah satu siswi jenius di
angkatannya, sikap siswi lokal ini tak bisa ditebak. Kadang-kadang dia pendiam
dan dingin, serta senang merendahkan orang lain. Pada saat yang lain, dia
begitu hiperaktif, bergerak kesana-kemari hanya untuk mencari obrolan hangat
dan bertingkah seperti anak kecil. Tak ada yang tahu kenapa dia bisa seperti
itu.
Pagi
itu Nia sedang dalam mode diam. Dia serius membaca buku Seratus Tanaman Langka: Dari Beracun Sampai Menyembuhkan di
iComp-nya sambil sesekali membenarkan sandaran kursi elektronis dan kerudung
hijau muda yang menutupi kepalanya, yang biasanya dilakukan tiap semenit
sekali. Pakaian terusan hijau tua-nya memanjang sampai kaki, membuatnya tampak
beda dengan siswi lain di kelas.
Tiga
kursi di samping kanannya, seorang siswi berpakaian pendek—baju terusan merah
tanpa lengan selutut—tertidur pulas, rambut awut-awutan menutupi sebagian
wajahnya, menyembunyikan anting emas besar di telinganya. Namanya Malvina
Ivanov Abramovich, siswi asal Rusia. Kulitnya pucat, dengan bintik-bintik kecil
di pipi dan hidungnya. Tubuhnya agak gemuk, dan jika diajak lari, dia akan
kalah oleh anak usia 10 tahun. Anak milyuner Rusia ini memang gampang sekali
tidur, tapi hanya sedikit temannya yang tahu kalau dia mengidap narkolepsi.
Di
sudut kelas, seorang siswa sibuk melakukan push-up,
back-up dan sit-up. Walter Tuanzebe,
ketua kelas asal Afrika Selatan yang terobsesi menjadi Angkatan Bersenjata. Kulitnya
kecoklatan terbakar matahari. Fisiknya kekar dan kuat, menunjukkan tipenya yang
pekerja keras. Diluar itu, dia juga termasuk berotak cemerlang.
Selain
Nia dan Walter, dan tentu saja Niels, masih ada satu lagi seorang jenius di
kelas itu, Hanifah Al Jaziri. Tak banyak yang diketahui tentang dirinya. Siswi
asal Maroko ini tertutup dan hanya sering berbicara dengan Nia dan Walter. Pagi
itu dia belum datang.
Para
jenius itu tergabung dalam The Dream Team, minus Niels yang bergabung dalam The
Epic. Sebutan ini diberikan oleh para siswa lain di seluruh sekolah, meski
mereka bertiga sama sekali tak merasa telah membuat geng atau sejenisnya.
Di
sudut ruangan, ada seorang lagi siswi yang tertidur. Bukan karena memang suka
tidur, tapi kelelahan akibat begadang menyelesaikan tugas tambahan Sastra
Dunia. Morena Alfonsina Casilla Ribas, siswi asal Argentina berwajah bulat
dengan ekspresi polos sepanjang waktu yang terkenal sering telat mikir.
Merekalah
para siswa Kompas yang sudah datang. Sebuah kelas di CIS yang—katanya—dihuni
oleh para siswa pilihan dan terbaik di sekolah itu.
Beberapa
menit kemudian, lonceng kuno raksasa berbunyi menandakan sudah masuk jam
belajar. Tepat saat itu, dua orang siswi masuk ke dalam kelas. Yang paling
depan, perempuan berkulit gelap dan bertubuh tinggi besar dengan rambut
keriting yang diikat ekor kuda berjalan masuk dengan gaya bak selebritis yang
berjalan di atas catwalk. Dengan
sangat percaya diri, dia menyapa setiap temannya seolah-olah mereka itu
penggemarnya.
“Hai,
ganteng! Udah lama menungguin aku, ya? Oh, so
sweet sekali, sih! Aku harus mendandan dulu kan biar cantik, jadi lama deh!”
dia menggoda Hendrik dengan bahasa Indonesia yang agak kaku sambil memutar
tubuhnya dengan gaya, memamerkan baju lengan panjang dan rok lebar sebetisnya
yang penuh hiasan kerlap-kerlip.
Hendrik
memandang teman-temannya dengan tatapan ngeri, sementara mereka susah payah
menahan tawa.
Mudiwa Mabusela,
siswi asal Zimbabwe ini sepertinya urat malunya sudah putus. Penampilan yang
pas-pasan sama sekali tak mengganggu eksistensi dan kepercayaan dirinya.
Berjalan bak artis, menggoda hampir setiap laki-laki, dan berbicara seolah-olah
dia orang terkenal setiap hari. Tapi, hal itu justru membuat banyak orang
tersenyum.
Satunya
lagi adalah Maribel Fernando Martinez Souza. Siswi tinggi kurus berambut hitam
sebahu yang ramai, cerewet dan seringkali ceroboh. Dia nyengir lebar, lalu
merapikan rambut hitam sebahunya. Dia mengenakan blus dan rok selutut berwarna
biru muda, dilengkapistocking hitam
panjang.
Kedua
siswi itu segera mengambil tempat duduk di belakang The Epic. Morena terbangun dan
sontak segera duduk di sebelah mereka. Semua sudah siap belajar, kecuali
Malvina yang masih tidur.
“Hei!
Bangun, Malvina! Kelas sudah masuk, kau tidak ingin dapat tugas tambahan, kan?”
Maribel mengguncang-guncang tubuh Malvina.
Malvina
menggeliat enggan dan menguap, lalu kembali tertidur. Maribel garuk-garuk
kepala. Dia mengambil sebotol air mineral di tasnya dan menyiram kepala
Malvina. Spontan Malvina terbangun dengan kaget.
“HEEEIII!!!
Chyort voz’mi!! Siapa yang
menyiramku?! Aku lagi mimpi indah, tahu! Kenapa dibangunkan?!” Malvina
marah-marah setengah teriak, setengah ngantuk.
“Sudah
masuk jam pelajaran, Putri Tidur,” sindir Morena. “Kau nggak mau dapat tugas
tambahan dari Professor Morello, kan?” Dia menegaskan ulang kalimat Maribel.
“Chto? Sudah masuk, ya? Aduh, kenapa
kalian nggak membangunkanku?” pekik Malvina linglung. Maribel mendengus keras
dan memutar-mutar bola matanya.
Tidak
berapa lama, Professor Morello masuk ke kelas dan duduk di kursi guru. Guru
Metabiologi ini merupakan salah satu guru favorit di CIS. Usianya sudah lima
puluh tiga tahun, tapi penampilannya belum setua itu. Hari ini dia mengenakan
jubah hitam dan kerudung putih yang cukup panjang. Cara mengajarnya
menyenangkan dan dia hafal semua nama siswa yang diajarnya. Biasanya, Professor
Morello membawa beberapa buku cetak untuk referensi, tapi kali ini dia tidak
membawa satupun.
“Selamat
pagi, studenti.” salam Professor
Morello.
“Selamat
pagi, Professor!” jawab seluruh kelas serentak.
“Scusa, saya tidak bisa mengisi kelas
hari ini. Ada keperluan penting di luar, jadi saya akan memberi tugas.” papar
Professor Morello.
Seisi
kelas mengeluh.
“Cari
informasi tentang Underworld Citron sebanyak mungkin, dari berbagai sumber yang
bisa kalian dapatkan,” Professor Morello menjelaskan. Meski samar-samar,
terdengar nada keraguan dalam suaranya,“Batasan waktu sampai lusa pukul lima
sore di kantor saya, kumpulkan secara kolektif. Terlambat satu detik saja,
tugas tambahan menanti kalian.”
Satu-satunya
hal yang tidak disukai dari Professor Morello adalah dia sangat suka memberi
tugas tambahan terhadap pelanggaran ketentuannya.
“Ada
pertanyaan?” tanya Professor Morello kepada seisi kelas.
Semua
kompak menjawab, “Tidak!”
“Bene. Sekarang silahkan mulai
mengerjakan, saya tinggal dulu.” Professor Morello bangkit dan beranjak pergi.
Kelas
kembali berisik dengan obrolan dengan gengnya masing-masing, kali ini tentang Underworld
Citron.
“Underworld
Citron? Fu fu fu, kedengaran seperti Underwear Citron. Apa mungkin itu
peliharaan para Kappa?” kata Kazuki.
“Itu
tanaman seperti apa, ya? Namanya agak menyeramkan,” Susanti menebak-nebak.
“Aneh,
aku sudah membaca ratusan buku referensi tentang tumbuhan dari seluruh dunia,
tapi tak ada satupun yang menyebutkan tentang Underworld Citron, satu
paragrafpun.” gumam Hanifah, yang disambut anggukan Walter dan Nia.
Seluruh
kelas spontan mengalihkan pandangannya ke Hanifah dengan kaget. Siswi berkulit
gelap dengan tampang serius yang mengenakan kerudung panjang dan pakaian
terusan coklat muda itu sudah duduk di kursi di sebelah Nia.
“Sejak
kapan dia berada di dalam kelas?” tanya Morena bingung.
Hanifah
tidak menggubris. Masih menyimpan keheranan yang luar biasa, para siswa yang
lain kembali mengobrol dengan gengnya masing-masing.
“Selesaikan
malam ini. Besok Gigafisika. Fokus. Oke?” kata Hendrik, yang disetujui ketiga
temannya.
Jam
kosong dimanfaatkan The Epic untuk bermain sepakbola dengan kelas Reiga yang sedang
jam pelajaran Olahraga. Tiffany dan kawan-kawannya, yang menamakan diri The
K-Rocks, mengobrol seru di dalam kelas tentang gosip-gosip terhangat para artis
Korea.
Sementara
itu, Maribel, Malvina, Mudiwa, dan Morena, yang tergabung dalam The Great M,
menonton pertandingan sepakbola sambil asyik mengerjai para penonton. The Dream
Team? Mereka pergi ke Perpustakaan Sekolah dan sibuk membongkar-bongkar rak
buku dan mengakses iComp untuk mencari referensi tentang Underworld Citron.
Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
***
Sore
menjelang. Langit kemerahan menyambut sebagian kecil siswa CIS yang masih
tersisa di area sekolah. Ada yang bermain sepakbola, mengerjakan laporan, dan
juga yang masih ada kelas tambahan. Biasanya, itu gara-gara seisi kelas melanggar
ketentuan tugas dari guru mereka.
Kelas
Kompas baru keluar dari kelas Sastra Dunia dua puluh menit yang lalu. Professor
Nurdiantoro, seperti biasanya, menerangkan dengan sangat membosankan tentang
berbagai jenis kebudayaan di dunia. Kali ini dia bercerita panjang lebar
tentang kebudayaan Ukraina, yang sama sekali tidak menarik perhatian seisi
kelas. Bahkan The Dream Team pun tidak bersemangat mendengarkan.
The
Dream Team berkumpul di taman utama CIS, mendiskusikan masalah Underworld
Citron. Dari The Epic, Kazuki masih asyik bermain sepakbola, sementara Clark
bermain drum di Klub Musik. Dua lainnya sibuk mendiskusikan tugas.
“Kamu
benar, Hanifah.Semua buku tentang tumbuhan di perpustakaan nggak ada yang
membahas masalah Underworld Citron, satupun.” ujar Nia heran.
“Apa
mungkin Professor Morello hanya main-main saja? Atau mungkin salah menyebut
tumbuhan?” tanya Walter.
“Jangan
bodoh. Kapan Professor pernah bercanda masalah tugas? Kalaupun
salah sebut, harusnya Professor segera memberitahu kita.”
“Iya
juga, sih.”
“Mau
coba ke Perpustakaan Kota? Mungkin ada judul buku yang tidak ada di sini.”
“Ana sudah cek, dan semua buku di sana
ada di perpustakaan sekolah.” timpal Hanifah.
Kedua
temannya mengeluh.
“Lalu
mau kemana lagi?” tanya Walter.
“Laa a’rifu,” Hanifah mengangkat bahu,
lalu membenarkan posisi kerudungnya.
Sementara
itu, Niels dan Hendrik juga membicarakan hal yang sama.
“Tadi
aku sudah baca semua buku yang ada kaitannya dengan Sitrun, jeruk nipis, jeruk
limau, bahkan segala macam jeruk di Perpustakaan Sekolah, termasuk yang ada di
Bagian Khusus. Tapi tidak ada apa-apa soal Underworld Citron.” kata Niels.
“Yang
namanya mirip?” tanya Hendrik.
Niels
menggeleng. “Yang ada hanya Underwater Levianus, yang punya efek mempercepat
degradasi sel pada hewan berdarah panas. Sama sekali nggak mirip Sitrun. Di
Taman Biologi ada referensi, nggak?”
“Semua
di Perpustakaan.”
“Perpustakaan
pribadi Professor Morello?”
“Anggur
Pelangi. Mawar Fluoresens. Itu saja.”
Niels
mendengus. Dia melirik pada The Dream Team yang tidak jauh dari tempatnya, dan
berkesimpulan bahwa mereka juga belum mendapatkan jawaban.
“Minta
bantuan? Adik kelas?” Hendrik memecah lamunan.
Niels
menatap Hendrik seolah-olah dia sudah kehilangan kewarasannya.
“Kau
gila? Kita saja tidak tahu referensinya, apalagi adik kelas?”
Hendrik
mengangkat bahu. “Anak Apoteker. Belum tentu. Merahasiakan tanaman. Hobi. Ingat
Sensivore Zanzabil? Professor
Morello. Tidak tahu.”
Niels
mulai menganggap itu masuk akal.
“Oke,
jadi siapa yang kau kenal?” tanyanya.
“Elfriede Howedes.
Kelas Gamma. Kau?”
“Ernesta Howedes.
Anak Jerman dari kelas Omega. Ayahnya ahli obat-obatan herbal ternama.”
Keduanya
berpandangan.
“Mereka
saudara?” tanya Niels.
“Kudengar
kembar,” jawab Hendrik. “Tapi tidak mirip.”
“Oh,
mungkin mereka kemb—”
“Lain
kali saja,” potong Hendrik. “Yang penting dapat info.”
“Ya
sudah. Siapa yang mau mendatangi mereka?”
“Kazuki
dan Clark.”
Niels
menghela nafas enggan. Dia menatap lapangan serbaguna di kejauhan. Kepalanya
penuh pertanyaan, kenapa Professor Morello tiba-tiba memberi tugas aneh seperti
itu. Tidak biasanya guru mereka memberikan masalah yang tidak bisa dipecahkan
dengan buku yang ada di perpustakaan. Padahal perpustakaan CIS adalah yang
terlengkap di Jawa Barat. Terlebih lagi, Niels menyadari nada ragu dalam suara
Professor Morello tadi.
Sepertinya dia berpikir terlalu jauh.
***


0 comments:
Post a Comment