Tuesday, 7 November 2017

The Hunting Game, Episode 2

 “Retakan di alam semesta? Nemu istilah itu di mana?” tanya Nadiya skeptis.

 “Doctor Who.” Andika menjawab, matanya terpaku pada celah tipis bersinar di dinding belakang sekolah itu. “Story arc untuk series lima, ketika The Doctor berurusan dengan retakan yang muncul di berbagai tempat yang diakibatkan… oh, lupakan.”

“Eh, serius, gimana jadinya?”

“Nggak, aku cuma terlalu banyak nonton Doctor Who. Yang itu jelas nggak mungkin.”

“Tapi ini mirip, kan? Ayolah, kamu harusnya tahu apa alasan ilmiah yang beginian bisa muncul. Nggak mungkin jauh-jauh dari Fisika.”

“Bukan berarti aku harus tahu segalanya, kan?” Andika mengangkat bahu. “Bahkan sampai sekarang aku nggak tahu soal penurunan persamaan Fermi. Well, itu memang materi kuiah, sih.”

“Apa retakan ini tersambung ke dimensi paralel?” tanya Hasanah.

Andika dan Nadiya spontan berpaling ke Hasanah. Mereka hampir lupa keberadaannya di sana.

“Er…” Andika mendadak kehabisan kata-kata mendengarnya. “Nggak tahu.”

Nadiya cuma menggeleng tanda tidak mengerti.

“Tapi itu mungkin, kan? Iya, kan? Kan?” Hasanah menatap kedua temannya bolak balik, matanya berbinar penuh harapan.

Baik Andika dan Nadiya tidak ada yang menjawab. Keduanya bertukar pandang, seolah ingin mengatakan

Andika  : Apa Hasanah pernah se-tertarik begini pada sesuatu pas SMP dulu?
Nadiya  : Nggak yakin. Tapi dia emang orangnya bosenan, sih. Pengen nyari sesuatu yang baru terus.
Andika  : Kayak kamu bosen sama pacarmu dan udah enam kali gonta ganti pacar sejak awal kelas X?
Nadiya  : Hei!
Andika  : Well, tapi itu menjelaskan dia bisa nemu hal-hal aneh bin gak jelas di sekolah ini.
Nadiya  : Barangkali dia bosen sama dunia ini.
Andika  : Dunia para otak puding. Yang itu, aku bisa ngerti.

“Teman-teman?”

Andika dan Nadiya tersadar dari komunikasi-dalam-diam mereka.

“Bisa jadi apa aja. Dan kita nggak bisa sembarangan ngecek, kan? Siapa tahu kayu tadi nyasar ke Mars atau apalah.” kata Nadiya.

Woo-hoo, Mars. Kalau beneran sampai sana, NASA bener-bener rugi bandar. Ngeluarin milyaran Dollar buat ekspedisi sementara ada jalan pintas ke sana.” Andika nyengir.

“Terus gimana?” Hasanah tampak agak patah semangat.

Kedua temannya merasa serba salah. Mereka tidak mau menghilangkan harapan Hasanah, tapi tidak mungkin juga mengambil risiko. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik retakan itu.

“Tinggalin aja dulu. Kita belum tahu apa yang mau kita lakukan sama yang ini.” usul Andika.

Nadiya mengangguk setuju. “Tapi tetep diamanin, biar nggak ada yang sembarangan nyelipin jarinya ke sana, terus kesedot dan tiba-tiba nyasar ke permukaan Venus dan terpanggang dalam sekejap. Ha! Panggangan steak raksasa! Hahaha!”

Saat Andika dan Hasanah menatapnya dengan tatapan Kamu-pelarian-rumah-sakit-jiwa-mana?,Nadiya baru berhenti tertawa dan berdiri canggung.

“Kukira aku yang paling psikopat di sini.” dengus Andika.

Ketiganya kembali menyembunyikan retakan tadi dibalik lembaran seng. Suara desisan yang memancar menggoda ketiganya untuk mengamati retakan itu lebih jauh, tapi Andika dan Nadiya punya resistensi cukup untuk mencegah diri mereka sendiri dan Hasanah melakukannya. Baru setelah memastikan retakan itu tersembunyi sepenuhnya dan posisinya tidak tampak mencurigakan, mereka pergi.

“Sejujurnya, aku penasaran. Gimana ceritanya kamu bisa nemu yang satu itu?” tanya Andika saat mereka sampai di koridor kelas X.

Hasanah melihat-lihat sekelilingnya, memastikan tidak ada orang lain. Cuma ada beberapa orang di sekitar sana. Tidak ada yang dikenalnya, dan tidak cukup peduli untuk memerhatikan mereka. Dia kembali memuntir-muntir ujung kerudungnya.

“Aku… nggak tahu persis. Yah, mungkin… Gimana, ya?”

“Yang jelas, dong, Anah. Nggak biasanya kamu gitu.” Timpal Nadiya, jemarinya kembali memainkansmartphone-nya. Dua langkah kemudian, dia menabrak pilar di depan kelas X-6.

Andika menatapnya dengan geli, sementara Hasanah tidak kelihatan khawatir sama sekali. Nadiya cuma menggerutu sebal sembari mengusap-usap dahinya.

“Apa perlu smartphone-mu itu dipasang sensor penunjuk jalan?” tanya Andika saat ketiganya kembali berjalan.

“Buat apa?” tuntut Nadiya ketus.

“Entahlah. Mungkin bisa menyelamatkanmu dari gegar otak gara-gara nabrak pilar atau kesandung terlalu sering. Oh, tunggu dulu. Kamu udah kelihatan kayak psikopat belakangan ini, apa itu simptomnya?”

“Diem, lah.” Gerutu Nadiya. Andika cuma nyengir. “Eh, Anah. Gimana itu tadi? Belum jawab, kamu.”

“Emm… gimana yah? Aku kayak…”

“Kayak apa?” koor Nadiya dan Andika berbarengan.

Hasanah menelan ludah. “Kayak dengar suara-suara…”

Bersama dengan itu, langkah Andika dan Nadiya terhenti. Hasanah kebingungan.

“Kenapa?”

Sunyi sejenak.

“Teman-teman?”

“Suara?” tanya Nadiya.

“Kayak bisikan, gitu?” sambung Andika.

“Atau dari dalam mimpi?”

“Atau dari dalam kepalamu?”

“Atau apa?” Andika dan Nadiya koor bareng lagi.

Hasanah menoleh bolak-balik, kebingungan. “Ng… bisikan. Tapi kadang-kadang kayak dari dalam kepalaku juga. Atau mungkin bukan dua-duanya, aku nggak yakin,”

“Intinya suara itu menuntunmu ke retakan tadi, kan?” kata Nadiya. Hasanah mengangguk. “Apa katanya?”

“Aku nggak yakin juga. Aku nggak bener-bener nangkep kata-katanya. Tapi iya, aku dituntun ke tempat itu. Sambil aku juga sadar ada retakan-retakan baru di tempat yang seharusnya nggak ada.”

Sunyi lagi sejenak.

Andika berdehem. “Ikut aku.”

“Kemana?”

“Lab Fisika. Sekarang. Nanya belakangan.”
***

Lab Fisika terletak di blok bangunan berlantai dua, tepat di atas Ruang Guru. Tidak ada orang di sana, mengingat ekskul KIR tidak mengadakan pertemuan di hari Rabu. Andika memberi isyarat pada Nadiya, dan dia langsung menggiring Hasanah ke meja praktikum sebelah kanan, kedua dari depan.

“Eh? Kalian mau ngapain?” tuntut Hasanah panik.

“Udah, nggak usah banyak komentar.” Kata Nadiya. Hasanah didudukkan di kursi seperti di kelas-kelas, alih-alih kursi tinggi ala lab praktikum. Di sebelahnya, Andika mengurai kabel nan njlimet yang tersambung ke sebuah perangkat aneh sambil menggerutu kesal.

Meski tangannya mulai gemetaran, Hasanah tidak berontak. Dia masih percaya kedua temannya, utamanya Andika, tidak akan melakukan hal macam-macam pada dirinya. Memang, seringkali Hasanah jadi kelinci percobaan perangkat-perangkat hasil eksperimen Andika—sebagaimana dia sering menjadikan Andika dan Nadiya kelinci percobaan eksperimen Biologi-nya. Namun, sejauh ini, Hasanah tidak pernah mendapatkan yang lebih buruk daripada tersetrum selama dua detik, disorientasi langkah selama setengah jam akibat penguat gravitasi di sepatunya, atau pingsan selama sehari penuh akibat energinya tersedot habis untuk menjalankan perangkat telekinesis—yang hasilnya tidak terlalu baik.

Lagipula, anak itu justru pernah melakukan yang lebih buruk pada Andika dan Hasanah, gara-gara eksperimennya. Nadiya pernah mengalami konstipasi selama dua minggu akibat racikan herba-nya yang awalnya ditujukan untuk menaikkan berat badan (Nadiya sering mengeluh soal dirinya terlalu kurus), dan Andika malah sempat tidak bisa mengendalikan gerak tangan kirinya selama seminggu gara-gara Hasanah salah meramu neurotoksin laba-laba yang awalnya ditujukan untuk memperkuat otot lengan (hasilnya, orang-orang di sekitar Andika minimal kena tiga kali tinjuan atau tamparan yang tentunya tidak disengaja—tangannya bergerak sendiri. Termasuk guru).

Demi mengingatnya, Hasanah berusaha untuk tidak terlalu banyak protes saat dia dijadikan objek ujicoba.

Namun, saat melihat perangkat yang Andika susun di meja di depannya, Hasanah bergidik.

“Dik? Itu—itu alat telekinesis lagi?” suara Hasanah bergetar lemah.

Andika melihat benda sejenis helm yang dipenuhi sambungan kabel merah dan hitam di tangan kanannya. “Well, mirip. Tapi sebenernya bukan. Ntar aja tanyanya, aku harus beresin kabel sialan ini dulu.”

Nadiya mendengus. “Sini, biar kubantu. Ngomong-ngomong, kamu yakin aman? Kang Ridwan ada, gak, di ruang sebelah?”

“Nggak. Tadi dia pulang duluan, pas Dzuhur. Nah! Lepas juga. Nad, bantu aku pasang ini ke pergelangan tangan Hasanah. Dua-duanya.”

Dua menit kemudian, Andika dan Nadiya sibuk memasang perangkat sejenis helm dan gelang besar ke tubuh Hasanah, yang cuma melihatnya dengan gelisah. Semua perangkat itu tersambung ke mesin berbentuk kotak di atas dasbor di sebelah meja. Saat Nadiya memasang gelang di pergelangan tangan Hasanah, layar di mesin tadi menampilkan gelombang sinusoidal ritmis. Detak jantung Hasanah.

“Sial, kebanyakan kabel. Kuharap sekolah mau ngasih dana lebih buat modifikasi benda ini pake sistem wireless.” Gerutu Andika saat dia menyambungkan dua kabel lagi ke mesin.

“Andika, ini apa? Bikinanmu lagi?” Hasanah kembali bertanya.

“Bukan. Well, nggak sepenuhnya bikinanku, maksudnya. Kerjaan Pak Hien dan Pak Kandar. Aku cuma ngerjain sekitar… well, dua puluh persen. Di penyelesaian akhirnya. Hei, aku handal di penyelesaian akhir! Makanya kemarin di Liga Futsal aku jadi penyerang? Dan lihat? Top skorer! Padahal cuma sampai semifinal!”

Yeah, bla bla bla. Intinya, ini alat apa?” sahut Nadiya cuek.

Andika menyeringai—Hasanah membacanya sebagai pertanda buruk. “Lihat aja. Matiin lampu, Nad, kita butuh daya listrik penuh.”

Nadiya mematikan sakelar lampu di ujung ruangan, dan Andika menekan tombol merah besar di samping layar mesin.

Sensasi menggelitik terasa di kepala, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki Hasanah yang tersambung dengan mesin. Otot-otot tubuhnya terasa sedikit menegang, tapi sejenak kemudian jadi lebih rileks. Kepalanya sendiri jadi terasa sedikit pusing.

“Nggak usah kuatir, kali ini kamu bukan kelinci percobaan pertama. Desty dari X-2 yang pertama diuji, dan berjalan baik.” Kata Andika, menatap bolak balik antara layar dan Hasanah dengan puas. “Kali ini juga menyala dengan baik.”

“Ada efek sampingnya?” tanya Hasanah.

“Migrain selama kira-kira dua jam. Tapi selain itu nggak ada apa-apa lagi.” Andika mengangkat bahu, lalu menekan beberapa tombol lain.

“Tapi katanya kulitnya makin pucat. Jadi kayak vampir gituh.” Timpal Nadiya.

“Ah, dia ngeluh soal itu tiap saat, kan?”

Andika menarik tuas di tepi mesin, lalu suara bernada tinggi berbunyi selama sedetik. Merasa puas, Andika mengeluarkan Lumia-nya dari saku celana, mengotak-atiknya sejenak, dan meletakkannya di meja guru, yang terpisah lima meter dari Hasanah.

“Sekarang,” Andika menggosok-gosok kedua telapak tangannya dengan semangat. “coba fokus ke hp-ku. Nggak usah terlalu keras konsentrasi ke sana, yang jelas fokuskan. Coba dengerin, apa suara yang keluar dari sana?”

Baik Hasanah dan Nadiya memasang ekspresi yang-bener-aja?, tapi Hasanah tahu untuk 
nggak komplain. Biar bagaimanapun, Andika hampir sama cerdas dengan dirinya—meski selalu sedikit di belakang. Dan lagi, kali ini dia bukan kelinci percobaan pertama.

Karena itu, Hasanah menarik napas dalam-dalam, lalu memfokuskan pendengaran pada Lumia-nya Andika.

Selama beberapa saat, tidak terdengar apa-apa. Bahkan mesinnya pun sama sekali sunyi. Seolah-olah dia berada di ruangan yang benar-benar kedap suara—bahkan suara dari dalam dirinya sendiri.

“Nggak kedengeran apa-apa.” Kata Nadiya tiba-tiba, membuyarkan fokus Hasanah.

“Ya iyalah, kamu nggak pake alat ini. Udah, diem. Jangan ganggu fokus orang. Hasanah, ayo fokus lagi.”

Dengan itu, Hasanah mencoba fokus lagi. Seperti tadi, awalnya tidak terdengar apa-apa. Lalu, perlahan-lahan, telinganya menangkap suatu suara. Pelan, tidak jelas, tapi terdengar. Hasanah tahu untuk tetap menjaga fokus dan mengabaikan semua keterkejutannya dulu. Lama kelamaan, suara itu makin jelas di telinganya. Dan Hasanah bisa menangkap kata-katanya.

Glaciers melting in the dead of night,
And the superstar sucked into the supermassive,
Glaciers melting in the dead of night,
And the superstar sucked into the,
Supermassive black hole”

Kemampuan listening Bahasa Inggris Hasanah tidak terlalu buruk, tapi jelas dia tidak tahu yang tadi itu lagu siapa.

“Gimana?” tanya Andika, mengamati perubahan air muka Hasanah.

“Tadi aku kayak denger lagu, tapi nggak tahu lagu apa.” Jawabnya.

“Liriknya?”

Hasanah mengucapkan kata-kata yang dia dengar dengan pelafalan yang membuat Nadiya nyengir.

Well…” Andika mengambil Lumia-nya dan mengecek layarnya. “Yang tadi itu Supermassive Black Hole-nya Muse. Lagu yang barusan kuputar pake volume nol. Alias nggak ada suaranya sama sekali.”

“Eh? Nggak ada suaranya?” Hasanah dan Nadiya sama tercengang.

Andika mengangguk. “Medan telepatik level rendah. Memungkinkanmu untuk mendengar apa yang nggak terdengar, melihat apa yang nggak terlihat, merasa apa yang nggak terasa, oleh indera normal. Dalam batas tertentu, sih. Biasanya lebih soal respon pendengaran, meski mungkin juga kamu bisa melakukan sesuatu dari jarak jauh—kayak Bluetooh Control gitu, lah. Para ilmuwan berdebat gak beres-beres soal teori keberadaannya dan gimana mekanismenya, tapi bodo amat sama mereka.” dia menatap Hasanah penuh arti. “Aku punya buktinya di depan mataku.”

Hasanah menunjuk dirinya sendiri dengan mata sedikit melebar dan mulut agak terbuka.

“Yep. Kamu punya itu. Medan telepatik level rendah. Makanya kamu bisa mendengar yang orang-orang biasa nggak bisa dengar. Medan telepatik itu bisa menerobos batasan kemampuan inderamu, bikin telingamu bisa denger frekuensi gelombang suara yang nyaris nggak ada. Itu ngejelasin kenapa kamu bisa nemuin hal-hal aneh dari dulu. Oh…” Andika berjalan bolak-balik sembari menggosok-gosok kedua tangannya penuh semangat. “Oh… menarik. Ini baru menarik. Medan telepati.”

“Jadi, maksudnya Anah bisa dengar suara bisikan itu gara-gara medan telepatik? Itu sebenernya apa, sih? Baru denger.” Nadiya menuntut penjelasan.

“Medan gak terlihat yang menyelubungi Hasanah, menurut teori memancar dari kekuatan pemikirannya. Energi psychic. Well, nggak heran, sih. Aku hampir nggak bisa mengungguli kamu dalam apapun, kecuali Fisika dan Bahasa Inggris.” Andika mengangkat bahu. “Gimana medan itu bisa bekerja dan kenapa cuma ada di orang-orang tertentu, nggak ada yang tahu. Well, belum. Well,mungkin nggak akan ada yang tahu. Entahlah. Nggak ada yang bisa ngejelasin kenapa beberapa orang lahir dengan energi psychic dalam dirinya dan yang lain nggak. Yang jelas, medan itu pada dasarnya ada dan berpengaruh pada diri seseorang. Tamat.”

Sunyi sejenak.

“Tapi, kenapa aku nggak bisa baca pemikiran orang, kalau gitu?” tanya Hasanah.

“Mungkin belum terlatih. Mungkin karena kamu belum sadar. Mungkin juga, karena pemikiran manusia itu ribet. Njlimet. Lebih kompleks daripada lilitan kabel sialan mesin manipulator psychic ini. Lebih susah ditembus daripada suara musik dengan volume nol. Aku cuma bisa berspekulasi, nggak tahu bener salahnya. Tapi…” Andika membaca info di layar monitor. “Mungkin kamu bisa mengekstrapolasi frekuensi suara yang kamu dengar melalui refleksi memori pada medan telepatikmu, supaya bisa membantuk kata-kata dari suara itu.”

Nadiya membuat gestur mengipas-ngipas kepala. “Errr… Mak-sud-nya?”

“Intinya membentuk kata-kata dari ingatanku soal suara dari retakan.” Hasanah menjelaskan. Kali ini ada sensasi aneh dalam dirinya—semangat. Dia tidak ketakutan, tidak khawatir, tapi justru semangat. Senang. “Aku—aku coba. Mudah-mudahan bisa.”

Kali ini, Hasanah memejamkan mata. Pikirannya difokuskan pada ingatan mengenai suara desisan tidak jelas yang memandunya menemukan retakan di belakang sekolah. Saat suara tombol-tombol yang ditekan dan bunyi notifikasi LINE Nadiya hilang dari kepalanya, Hasanah memanggil kembali memorinya soal suara itu.

Perlahan tapi pasti, seolah datang dari belakang kepalanya, terdengar desisan pelan yang mirip suara asap yang keluar dari retakan. Sesekali, suara itu memang muncul dari sana, seolah berasal dari dalam kepalanya. Namun, kali ini kata-katanya mulai terbentuk jelas. Pertama-tama terdengar beberapa huruf, tapi kemudian mulai membentuk potongan-potongan kata yang lebih jelas.

Tol-o…
Kami…
Jeb…
…ul
…NUH!

Potongan kata terakhir terdengar seperti teriakan Chester Bennington lewat speaker konser yang diperkuat seratus kali. Hasanah tersentak kencang dan memekik. Jantungnya berdegup kencang.

“Anah? Kamu kenapa?” Nadiya mendekatinya, panik.

Hasanah mengelus dadanya. “Nggak, aku cuma kaget… yang tadi itu keras banget suaranya. Pffft.”

Well…” Andika menggumam. Nadanya gelap, memaksa Nadiya dan Hasanah berpaling padanya. “Bukan hal yang bagus.”

“Bukan hal bagus? Kenapa? Apa sebenernya isi pesannya? Kata-katanya masih kepotong-kepotong di kepalaku tadi.” Tuntut Hasanah.

Andika melepas kacamata dan menggosok dahinya. “Nah, mungkin pemikiranmu soal dunia paralel benar.”

Anak itu menekan tombol di bawah layar. Kata-kata yang terpotong-potong di kepala Hasanah kini terdengar jelas. Rupanya mesin itu bisa merekam suara di dalam kepalanya. Namun, kata-kata itu membuat Hasanah merinding. Yang membuatnya lebih merinding lagi, yang terdengar adalah suaranya. Suara dirinya sendiri yang sedang berteriak putus asa.

Tolong! Kami dijebak! Mereka akan memburu kami! Kami tahu rahasia mereka dan mereka akan memburu kami! Kalau sampai tertangkap, kami bisa dibunuh!

(bersambung)

0 comments:

Post a Comment