“Doctor Who.”
Andika menjawab, matanya terpaku pada celah tipis bersinar di dinding belakang
sekolah itu. “Story arc untuk series lima, ketika The Doctor
berurusan dengan retakan yang muncul di berbagai tempat yang diakibatkan… oh,
lupakan.”
“Eh, serius, gimana
jadinya?”
“Tapi ini mirip, kan?
Ayolah, kamu harusnya tahu apa alasan ilmiah yang beginian bisa muncul. Nggak mungkin
jauh-jauh dari Fisika.”
“Bukan berarti aku
harus tahu segalanya, kan?” Andika mengangkat bahu. “Bahkan sampai sekarang aku
nggak tahu soal penurunan persamaan Fermi. Well, itu memang
materi kuiah, sih.”
“Apa retakan ini
tersambung ke dimensi paralel?” tanya Hasanah.
Andika dan Nadiya
spontan berpaling ke Hasanah. Mereka hampir lupa keberadaannya di sana.
“Er…” Andika mendadak
kehabisan kata-kata mendengarnya. “Nggak tahu.”
Nadiya cuma menggeleng
tanda tidak mengerti.
“Tapi itu mungkin,
kan? Iya, kan? Kan?” Hasanah menatap kedua temannya bolak balik, matanya
berbinar penuh harapan.
Baik Andika dan Nadiya
tidak ada yang menjawab. Keduanya bertukar pandang, seolah ingin mengatakan
Andika : Apa Hasanah pernah
se-tertarik begini pada sesuatu pas SMP dulu?
Nadiya : Nggak yakin. Tapi dia emang
orangnya bosenan, sih. Pengen nyari sesuatu yang baru terus.
Andika : Kayak kamu bosen sama
pacarmu dan udah enam kali gonta ganti pacar sejak awal kelas X?
Nadiya : Hei!
Andika : Well, tapi
itu menjelaskan dia bisa nemu hal-hal aneh bin gak jelas di sekolah ini.
Nadiya : Barangkali dia bosen sama
dunia ini.
Andika : Dunia para otak puding.
Yang itu, aku bisa ngerti.
“Teman-teman?”
Andika dan Nadiya
tersadar dari komunikasi-dalam-diam mereka.
“Bisa jadi apa aja.
Dan kita nggak bisa sembarangan ngecek, kan? Siapa tahu kayu tadi nyasar ke
Mars atau apalah.” kata Nadiya.
“Woo-hoo, Mars.
Kalau beneran sampai sana, NASA bener-bener rugi bandar. Ngeluarin milyaran
Dollar buat ekspedisi sementara ada jalan pintas ke sana.” Andika nyengir.
“Terus gimana?”
Hasanah tampak agak patah semangat.
Kedua temannya merasa
serba salah. Mereka tidak mau menghilangkan harapan Hasanah, tapi tidak mungkin
juga mengambil risiko. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik retakan itu.
“Tinggalin aja dulu.
Kita belum tahu apa yang mau kita lakukan sama yang ini.” usul Andika.
Nadiya mengangguk
setuju. “Tapi tetep diamanin, biar nggak ada yang sembarangan nyelipin jarinya
ke sana, terus kesedot dan tiba-tiba nyasar ke permukaan Venus dan terpanggang
dalam sekejap. Ha! Panggangan steak raksasa! Hahaha!”
Saat Andika dan
Hasanah menatapnya dengan tatapan Kamu-pelarian-rumah-sakit-jiwa-mana?,Nadiya
baru berhenti tertawa dan berdiri canggung.
“Kukira aku yang
paling psikopat di sini.” dengus Andika.
Ketiganya kembali
menyembunyikan retakan tadi dibalik lembaran seng. Suara desisan yang memancar
menggoda ketiganya untuk mengamati retakan itu lebih jauh, tapi Andika dan
Nadiya punya resistensi cukup untuk mencegah diri mereka sendiri dan Hasanah
melakukannya. Baru setelah memastikan retakan itu tersembunyi sepenuhnya dan
posisinya tidak tampak mencurigakan, mereka pergi.
“Sejujurnya, aku
penasaran. Gimana ceritanya kamu bisa nemu yang satu itu?” tanya Andika saat
mereka sampai di koridor kelas X.
Hasanah melihat-lihat
sekelilingnya, memastikan tidak ada orang lain. Cuma ada beberapa orang di
sekitar sana. Tidak ada yang dikenalnya, dan tidak cukup peduli untuk
memerhatikan mereka. Dia kembali memuntir-muntir ujung kerudungnya.
“Aku… nggak tahu
persis. Yah, mungkin… Gimana, ya?”
“Yang jelas, dong,
Anah. Nggak biasanya kamu gitu.” Timpal Nadiya, jemarinya kembali memainkansmartphone-nya.
Dua langkah kemudian, dia menabrak pilar di depan kelas X-6.
Andika menatapnya
dengan geli, sementara Hasanah tidak kelihatan khawatir sama sekali. Nadiya
cuma menggerutu sebal sembari mengusap-usap dahinya.
“Apa perlu smartphone-mu
itu dipasang sensor penunjuk jalan?” tanya Andika saat ketiganya kembali
berjalan.
“Buat apa?” tuntut
Nadiya ketus.
“Entahlah. Mungkin
bisa menyelamatkanmu dari gegar otak gara-gara nabrak pilar atau kesandung
terlalu sering. Oh, tunggu dulu. Kamu udah kelihatan kayak psikopat belakangan
ini, apa itu simptomnya?”
“Diem, lah.” Gerutu
Nadiya. Andika cuma nyengir. “Eh, Anah. Gimana itu tadi? Belum jawab, kamu.”
“Emm… gimana yah? Aku
kayak…”
“Kayak apa?” koor
Nadiya dan Andika berbarengan.
Hasanah menelan ludah.
“Kayak dengar suara-suara…”
Bersama dengan itu,
langkah Andika dan Nadiya terhenti. Hasanah kebingungan.
“Kenapa?”
Sunyi sejenak.
“Teman-teman?”
“Suara?” tanya Nadiya.
“Kayak bisikan, gitu?”
sambung Andika.
“Atau dari dalam
mimpi?”
“Atau dari dalam
kepalamu?”
“Atau apa?” Andika dan
Nadiya koor bareng lagi.
Hasanah menoleh
bolak-balik, kebingungan. “Ng… bisikan. Tapi kadang-kadang kayak dari dalam
kepalaku juga. Atau mungkin bukan dua-duanya, aku nggak yakin,”
“Intinya suara itu
menuntunmu ke retakan tadi, kan?” kata Nadiya. Hasanah mengangguk. “Apa
katanya?”
“Aku nggak yakin juga.
Aku nggak bener-bener nangkep kata-katanya. Tapi iya, aku dituntun ke tempat
itu. Sambil aku juga sadar ada retakan-retakan baru di tempat yang seharusnya
nggak ada.”
Sunyi lagi sejenak.
Andika berdehem. “Ikut
aku.”
“Kemana?”
“Lab Fisika. Sekarang.
Nanya belakangan.”
***
Lab Fisika terletak di
blok bangunan berlantai dua, tepat di atas Ruang Guru. Tidak ada orang di sana,
mengingat ekskul KIR tidak mengadakan pertemuan di hari Rabu. Andika memberi
isyarat pada Nadiya, dan dia langsung menggiring Hasanah ke meja praktikum
sebelah kanan, kedua dari depan.
“Eh? Kalian mau
ngapain?” tuntut Hasanah panik.
“Udah, nggak usah
banyak komentar.” Kata Nadiya. Hasanah didudukkan di kursi seperti di
kelas-kelas, alih-alih kursi tinggi ala lab praktikum. Di sebelahnya, Andika
mengurai kabel nan njlimet yang tersambung ke sebuah perangkat
aneh sambil menggerutu kesal.
Meski tangannya mulai
gemetaran, Hasanah tidak berontak. Dia masih percaya kedua temannya, utamanya
Andika, tidak akan melakukan hal macam-macam pada dirinya. Memang, seringkali
Hasanah jadi kelinci percobaan perangkat-perangkat hasil eksperimen
Andika—sebagaimana dia sering menjadikan Andika dan Nadiya kelinci percobaan
eksperimen Biologi-nya. Namun, sejauh ini, Hasanah tidak pernah mendapatkan
yang lebih buruk daripada tersetrum selama dua detik, disorientasi langkah
selama setengah jam akibat penguat gravitasi di sepatunya, atau pingsan selama
sehari penuh akibat energinya tersedot habis untuk menjalankan perangkat
telekinesis—yang hasilnya tidak terlalu baik.
Lagipula, anak itu
justru pernah melakukan yang lebih buruk pada Andika dan Hasanah, gara-gara
eksperimennya. Nadiya pernah mengalami konstipasi selama dua minggu akibat
racikan herba-nya yang awalnya ditujukan untuk menaikkan berat badan (Nadiya
sering mengeluh soal dirinya terlalu kurus), dan Andika malah sempat tidak bisa
mengendalikan gerak tangan kirinya selama seminggu gara-gara Hasanah salah
meramu neurotoksin laba-laba yang awalnya ditujukan untuk memperkuat otot
lengan (hasilnya, orang-orang di sekitar Andika minimal kena tiga kali tinjuan
atau tamparan yang tentunya tidak disengaja—tangannya bergerak sendiri.
Termasuk guru).
Demi mengingatnya,
Hasanah berusaha untuk tidak terlalu banyak protes saat dia dijadikan objek
ujicoba.
Namun, saat melihat
perangkat yang Andika susun di meja di depannya, Hasanah bergidik.
“Dik? Itu—itu alat
telekinesis lagi?” suara Hasanah bergetar lemah.
Andika melihat benda
sejenis helm yang dipenuhi sambungan kabel merah dan hitam di tangan kanannya.
“Well, mirip. Tapi sebenernya bukan. Ntar aja tanyanya, aku harus
beresin kabel sialan ini dulu.”
Nadiya mendengus.
“Sini, biar kubantu. Ngomong-ngomong, kamu yakin aman? Kang Ridwan ada, gak, di
ruang sebelah?”
“Nggak. Tadi dia
pulang duluan, pas Dzuhur. Nah! Lepas juga. Nad, bantu aku pasang ini ke
pergelangan tangan Hasanah. Dua-duanya.”
Dua menit kemudian,
Andika dan Nadiya sibuk memasang perangkat sejenis helm dan gelang besar ke
tubuh Hasanah, yang cuma melihatnya dengan gelisah. Semua perangkat itu
tersambung ke mesin berbentuk kotak di atas dasbor di sebelah meja. Saat Nadiya
memasang gelang di pergelangan tangan Hasanah, layar di mesin tadi menampilkan
gelombang sinusoidal ritmis. Detak jantung Hasanah.
“Sial, kebanyakan
kabel. Kuharap sekolah mau ngasih dana lebih buat modifikasi benda ini pake
sistem wireless.” Gerutu Andika saat dia menyambungkan dua kabel
lagi ke mesin.
“Andika, ini apa?
Bikinanmu lagi?” Hasanah kembali bertanya.
“Bukan. Well,
nggak sepenuhnya bikinanku, maksudnya. Kerjaan Pak Hien dan Pak Kandar. Aku
cuma ngerjain sekitar… well, dua puluh persen. Di penyelesaian
akhirnya. Hei, aku handal di penyelesaian akhir! Makanya kemarin di Liga Futsal
aku jadi penyerang? Dan lihat? Top skorer! Padahal cuma sampai semifinal!”
“Yeah, bla bla
bla. Intinya, ini alat apa?” sahut Nadiya cuek.
Andika
menyeringai—Hasanah membacanya sebagai pertanda buruk. “Lihat aja. Matiin
lampu, Nad, kita butuh daya listrik penuh.”
Nadiya mematikan
sakelar lampu di ujung ruangan, dan Andika menekan tombol merah besar di
samping layar mesin.
Sensasi menggelitik
terasa di kepala, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki Hasanah yang
tersambung dengan mesin. Otot-otot tubuhnya terasa sedikit menegang, tapi
sejenak kemudian jadi lebih rileks. Kepalanya sendiri jadi terasa sedikit
pusing.
“Nggak usah kuatir,
kali ini kamu bukan kelinci percobaan pertama. Desty dari X-2 yang pertama
diuji, dan berjalan baik.” Kata Andika, menatap bolak balik antara layar dan
Hasanah dengan puas. “Kali ini juga menyala dengan baik.”
“Ada efek sampingnya?”
tanya Hasanah.
“Migrain selama
kira-kira dua jam. Tapi selain itu nggak ada apa-apa lagi.” Andika mengangkat
bahu, lalu menekan beberapa tombol lain.
“Tapi katanya kulitnya
makin pucat. Jadi kayak vampir gituh.” Timpal Nadiya.
“Ah, dia ngeluh soal
itu tiap saat, kan?”
Andika menarik tuas di
tepi mesin, lalu suara bernada tinggi berbunyi selama sedetik. Merasa puas,
Andika mengeluarkan Lumia-nya dari saku celana, mengotak-atiknya sejenak, dan
meletakkannya di meja guru, yang terpisah lima meter dari Hasanah.
“Sekarang,” Andika
menggosok-gosok kedua telapak tangannya dengan semangat. “coba fokus ke hp-ku.
Nggak usah terlalu keras konsentrasi ke sana, yang jelas fokuskan. Coba
dengerin, apa suara yang keluar dari sana?”
Baik Hasanah dan
Nadiya memasang ekspresi yang-bener-aja?, tapi Hasanah tahu untuk
nggak komplain. Biar bagaimanapun, Andika hampir sama cerdas dengan
dirinya—meski selalu sedikit di belakang. Dan lagi, kali ini dia bukan kelinci
percobaan pertama.
Karena itu, Hasanah
menarik napas dalam-dalam, lalu memfokuskan pendengaran pada Lumia-nya Andika.
Selama beberapa saat,
tidak terdengar apa-apa. Bahkan mesinnya pun sama sekali sunyi. Seolah-olah dia
berada di ruangan yang benar-benar kedap suara—bahkan suara dari dalam dirinya
sendiri.
“Nggak kedengeran
apa-apa.” Kata Nadiya tiba-tiba, membuyarkan fokus Hasanah.
“Ya iyalah, kamu nggak
pake alat ini. Udah, diem. Jangan ganggu fokus orang. Hasanah, ayo fokus lagi.”
Dengan itu, Hasanah
mencoba fokus lagi. Seperti tadi, awalnya tidak terdengar apa-apa. Lalu,
perlahan-lahan, telinganya menangkap suatu suara. Pelan, tidak jelas, tapi
terdengar. Hasanah tahu untuk tetap menjaga fokus dan mengabaikan semua
keterkejutannya dulu. Lama kelamaan, suara itu makin jelas di telinganya. Dan
Hasanah bisa menangkap kata-katanya.
“Glaciers melting
in the dead of night,
And the superstar
sucked into the supermassive,
Glaciers melting in
the dead of night,
And the superstar
sucked into the,
Supermassive black
hole”
Kemampuan listening Bahasa
Inggris Hasanah tidak terlalu buruk, tapi jelas dia tidak tahu yang tadi itu
lagu siapa.
“Gimana?” tanya
Andika, mengamati perubahan air muka Hasanah.
“Tadi aku kayak denger
lagu, tapi nggak tahu lagu apa.” Jawabnya.
“Liriknya?”
Hasanah mengucapkan
kata-kata yang dia dengar dengan pelafalan yang membuat Nadiya nyengir.
“Well…” Andika
mengambil Lumia-nya dan mengecek layarnya. “Yang tadi itu Supermassive Black
Hole-nya Muse. Lagu yang barusan kuputar pake volume nol. Alias nggak ada
suaranya sama sekali.”
“Eh? Nggak ada
suaranya?” Hasanah dan Nadiya sama tercengang.
Andika mengangguk.
“Medan telepatik level rendah. Memungkinkanmu untuk mendengar apa yang nggak
terdengar, melihat apa yang nggak terlihat, merasa apa yang nggak terasa, oleh
indera normal. Dalam batas tertentu, sih. Biasanya lebih soal respon
pendengaran, meski mungkin juga kamu bisa melakukan sesuatu dari jarak
jauh—kayak Bluetooh Control gitu, lah. Para ilmuwan berdebat gak beres-beres
soal teori keberadaannya dan gimana mekanismenya, tapi bodo amat sama mereka.”
dia menatap Hasanah penuh arti. “Aku punya buktinya di depan mataku.”
Hasanah menunjuk
dirinya sendiri dengan mata sedikit melebar dan mulut agak terbuka.
“Yep. Kamu punya itu.
Medan telepatik level rendah. Makanya kamu bisa mendengar yang orang-orang
biasa nggak bisa dengar. Medan telepatik itu bisa menerobos batasan kemampuan
inderamu, bikin telingamu bisa denger frekuensi gelombang suara yang nyaris
nggak ada. Itu ngejelasin kenapa kamu bisa nemuin hal-hal aneh dari dulu. Oh…”
Andika berjalan bolak-balik sembari menggosok-gosok kedua tangannya penuh
semangat. “Oh… menarik. Ini baru menarik. Medan telepati.”
“Jadi, maksudnya Anah
bisa dengar suara bisikan itu gara-gara medan telepatik? Itu sebenernya apa,
sih? Baru denger.” Nadiya menuntut penjelasan.
“Medan gak terlihat
yang menyelubungi Hasanah, menurut teori memancar dari kekuatan pemikirannya.
Energi psychic. Well, nggak heran, sih. Aku hampir nggak bisa
mengungguli kamu dalam apapun, kecuali Fisika dan Bahasa Inggris.” Andika
mengangkat bahu. “Gimana medan itu bisa bekerja dan kenapa cuma ada di
orang-orang tertentu, nggak ada yang tahu. Well, belum. Well,mungkin
nggak akan ada yang tahu. Entahlah. Nggak ada yang bisa ngejelasin kenapa
beberapa orang lahir dengan energi psychic dalam dirinya dan
yang lain nggak. Yang jelas, medan itu pada dasarnya ada dan
berpengaruh pada diri seseorang. Tamat.”
Sunyi sejenak.
“Tapi, kenapa aku
nggak bisa baca pemikiran orang, kalau gitu?” tanya Hasanah.
“Mungkin belum
terlatih. Mungkin karena kamu belum sadar. Mungkin juga, karena pemikiran
manusia itu ribet. Njlimet. Lebih kompleks daripada lilitan kabel
sialan mesin manipulator psychic ini. Lebih susah ditembus
daripada suara musik dengan volume nol. Aku cuma bisa berspekulasi, nggak tahu
bener salahnya. Tapi…” Andika membaca info di layar monitor. “Mungkin kamu bisa
mengekstrapolasi frekuensi suara yang kamu dengar melalui refleksi memori pada
medan telepatikmu, supaya bisa membantuk kata-kata dari suara itu.”
Nadiya membuat gestur
mengipas-ngipas kepala. “Errr… Mak-sud-nya?”
“Intinya membentuk
kata-kata dari ingatanku soal suara dari retakan.” Hasanah menjelaskan. Kali
ini ada sensasi aneh dalam dirinya—semangat. Dia tidak ketakutan, tidak
khawatir, tapi justru semangat. Senang. “Aku—aku coba. Mudah-mudahan bisa.”
Kali ini, Hasanah
memejamkan mata. Pikirannya difokuskan pada ingatan mengenai suara desisan
tidak jelas yang memandunya menemukan retakan di belakang sekolah. Saat suara
tombol-tombol yang ditekan dan bunyi notifikasi LINE Nadiya hilang dari
kepalanya, Hasanah memanggil kembali memorinya soal suara itu.
Perlahan tapi pasti,
seolah datang dari belakang kepalanya, terdengar desisan pelan yang mirip suara
asap yang keluar dari retakan. Sesekali, suara itu memang muncul dari sana,
seolah berasal dari dalam kepalanya. Namun, kali ini kata-katanya mulai
terbentuk jelas. Pertama-tama terdengar beberapa huruf, tapi kemudian mulai
membentuk potongan-potongan kata yang lebih jelas.
Tol-o…
Kami…
Jeb…
…ul
…NUH!
Potongan kata terakhir
terdengar seperti teriakan Chester Bennington lewat speaker konser yang
diperkuat seratus kali. Hasanah tersentak kencang dan memekik. Jantungnya
berdegup kencang.
“Anah? Kamu kenapa?”
Nadiya mendekatinya, panik.
Hasanah mengelus
dadanya. “Nggak, aku cuma kaget… yang tadi itu keras banget suaranya. Pffft.”
“Well…” Andika
menggumam. Nadanya gelap, memaksa Nadiya dan Hasanah berpaling padanya. “Bukan
hal yang bagus.”
“Bukan hal bagus?
Kenapa? Apa sebenernya isi pesannya? Kata-katanya masih kepotong-kepotong di
kepalaku tadi.” Tuntut Hasanah.
Andika melepas
kacamata dan menggosok dahinya. “Nah, mungkin pemikiranmu soal dunia paralel
benar.”
Anak itu menekan
tombol di bawah layar. Kata-kata yang terpotong-potong di kepala Hasanah kini
terdengar jelas. Rupanya mesin itu bisa merekam suara di dalam kepalanya.
Namun, kata-kata itu membuat Hasanah merinding. Yang membuatnya lebih merinding
lagi, yang terdengar adalah suaranya. Suara dirinya sendiri yang sedang
berteriak putus asa.
Tolong! Kami
dijebak! Mereka akan memburu kami! Kami tahu rahasia mereka dan mereka akan
memburu kami! Kalau sampai tertangkap, kami bisa dibunuh!
(bersambung)


0 comments:
Post a Comment