Saturday, 4 November 2017

The Crest of Five, Prolog



Sosok berjubah dan bertopi caping itu bergerak cepat di tengah kegelapan. Dia menyelinap melewati gerbang masuk gang sambil melambaikan sebuah kotak kecil—bel peringatan gerbang itu tidak berbunyi. Orang ini berjalan dengan gelisah, menengok ke kanan kirinya seolah mencari seseorang. Ketukan langkah kakinya di aspal hitam menjadi satu-satunya suara yang terdengar di jalan.
Setelah berjalan sekitar lima ratus meter, dia berhenti.
Dua puluh meter di depannya, di bawah penerangan lampu jalan, berdiri seseorang yang sama-sama berjubah hitam, namun mengenakan tudung biru. Orang itu menoleh ke temannya yang baru datang. Sorot matanya yang dingin memaksa temannya buru-buru menghampirinya.
“Maaf, saya terlambat,” kata si tudung hitam. Suaranya agak cempreng.
Si tudung biru mendengus. “Dua belas menit. Kau pikir enak menunggu selama itu di tempat ini?”
Suara orang bertudung biru ini terdengar lebih berkuasa dan kejam daripada si topi caping. Rekannya menundukkan kepala.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya si tudung biru.
Si topi caping terdiam beberapa lama. “Saya punya kecurigaan, Yang Mulia De—”
“Kau selalu punya kecurigaan, tapi tidak pernah ada bukti.” potong tudung biru gusar. “Kali ini siapa lagi? Heisenberg?”
Si topi caping menggeleng cepat-cepat. “Bukan, bukan dia. Tapi dia memang dekat dengan Heisenberg.”
“Lalu siapa?”
“Henderson.”
Terdengar suara erangan lemah. Si topi caping menoleh ke arah suara dengan terkejut. Asalnya dari balik semak-semak di pinggir jalan.
“Tak usah kau pedulikan. Sebentar lagi dia mati.” kata tudung biru dingin.
“Tapi...”
“Berkat si gila Tozijevic,” tudung biru mengeluarkan sebotol kecil cairan kebiruan dari balik saku jubahnya. “Dia percobaan pertama, tampaknya sukses.”
Si topi caping menelan ludah, gemetaran. “Anda, Anda berhasil membuatnya?”
“Tentu saja,” tudung biru menyelipkan botol itu ke sakunya lagi. “Formulasi apa yang tidak bisa kuwujudkan? Kembali ke topik, kau bilang Henderson?”
Pertanyaan itu membuat topi caping terhenyak. “Ya, dia. Saya mendapatkan akses ke data para siswa dan garis keturunannya. Sebenarnya ada tiga yang mencurigakan, tapi Henderson ini paling kuat.”
Hening beberapa saat. Tampaknya tudung biru masih menunggu penjelasan detail, jadi topi caping melanjutkan.
“Intinya, salah satu generasi pendahulu Henderson ada yang hilang. Meski hal yang sama terjadi pada dua orang lain, tapi jika dibandingkan dengan apa yang Anda beritahu, maka Henderson ini yang paling cocok.”
“Sekitar tahun 1986?”
“Tepatnya 1987.”
Tudung biru menoleh ke semak-semak. Erangan lemah masih terdengar dari baliknya. Dua detik kemudian, erangan itu berhenti. Setengah menit berlalu dan tidak terdengar suara apa-apa lagi. Tudung biru mendengus.
“Baiklah, pastikan pernyataanmu bahwa Henderson memang keturunan Evans. Sekalipun dia tidak tahu di mana letak benda itu, kita bisa memanfaatkannya untuk hal lain.”
“Hal lain apa?” tanya topi caping bingung.
Tudung biru sedikit mengangkat kepalanya menghadap temannya. Sulit melihat wajahnya di bawah cahaya remang-remang, tapi si topi caping bisa melihat orang di depannya itu tersenyum dingin.
“Kau akan lihat nanti. Sekarang, pergilah. Kutunggu kepastiannya dalam dua hari ke depan. Dan jika benar-benar pasti, awasi terus anak itu.”
“Baiklah, Yang Mulia.”
Tudung biru berbalik. Namun, baru beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh ke belakang.
“Satu lagi, orang Italia itu,” katanya. “Statusnya sudah bisa dipastikan. Kau tahu tugasmu.”
Si topi caping menegang. “Baiklah.”
Tudung biru menatap rekannya beberapa saat, lalu kembali berbalik dan berjalan menjauh. Si topi caping masih berdiri kaku di tempatnya, matanya terpaku pada sebuah simbol yang terbordir kecil di bagian punggung atas jubah si tudung bitu. Sebuah bintang heksagram dengan dua ular yang melingkarinya.
***

0 comments:

Post a Comment