Sosok berjubah dan bertopi caping itu bergerak cepat di
tengah kegelapan. Dia menyelinap melewati gerbang masuk gang sambil melambaikan
sebuah kotak kecil—bel peringatan gerbang itu tidak berbunyi. Orang ini
berjalan dengan gelisah, menengok ke kanan kirinya seolah mencari seseorang.
Ketukan langkah kakinya di aspal hitam menjadi satu-satunya suara yang
terdengar di jalan.
Setelah berjalan sekitar lima ratus meter, dia berhenti.
Dua puluh meter di depannya, di bawah penerangan lampu
jalan, berdiri seseorang yang sama-sama berjubah hitam, namun mengenakan tudung
biru. Orang itu menoleh ke temannya yang baru datang. Sorot matanya yang dingin
memaksa temannya buru-buru menghampirinya.
“Maaf, saya terlambat,” kata si tudung hitam. Suaranya
agak cempreng.
Si tudung biru mendengus. “Dua belas menit. Kau pikir
enak menunggu selama itu di tempat ini?”
Suara orang bertudung biru ini terdengar lebih berkuasa
dan kejam daripada si topi caping. Rekannya menundukkan kepala.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya si tudung biru.
Si topi caping terdiam beberapa lama. “Saya punya
kecurigaan, Yang Mulia De—”
“Kau selalu punya kecurigaan, tapi tidak pernah ada
bukti.” potong tudung biru gusar. “Kali ini siapa lagi? Heisenberg?”
Si topi caping menggeleng cepat-cepat. “Bukan, bukan dia.
Tapi dia memang dekat dengan Heisenberg.”
“Lalu siapa?”
“Henderson.”
Terdengar suara erangan lemah. Si topi caping menoleh ke
arah suara dengan terkejut. Asalnya dari balik semak-semak di pinggir jalan.
“Tak usah kau pedulikan. Sebentar lagi dia mati.” kata
tudung biru dingin.
“Tapi...”
“Berkat si gila Tozijevic,” tudung biru mengeluarkan
sebotol kecil cairan kebiruan dari balik saku jubahnya. “Dia percobaan pertama,
tampaknya sukses.”
Si topi caping menelan ludah, gemetaran. “Anda, Anda
berhasil membuatnya?”
“Tentu saja,” tudung biru menyelipkan botol itu ke
sakunya lagi. “Formulasi apa yang tidak bisa kuwujudkan? Kembali ke topik, kau
bilang Henderson?”
Pertanyaan itu membuat topi caping terhenyak. “Ya, dia. Saya
mendapatkan akses ke data para siswa dan garis keturunannya. Sebenarnya ada
tiga yang mencurigakan, tapi Henderson ini paling kuat.”
Hening beberapa saat. Tampaknya tudung biru masih
menunggu penjelasan detail, jadi topi caping melanjutkan.
“Intinya, salah satu generasi pendahulu Henderson ada
yang hilang. Meski hal yang sama terjadi pada dua orang lain, tapi jika
dibandingkan dengan apa yang Anda beritahu, maka Henderson ini yang paling
cocok.”
“Sekitar tahun 1986?”
“Tepatnya 1987.”
Tudung biru menoleh ke semak-semak. Erangan lemah masih
terdengar dari baliknya. Dua detik kemudian, erangan itu berhenti. Setengah
menit berlalu dan tidak terdengar suara apa-apa lagi. Tudung biru mendengus.
“Baiklah, pastikan pernyataanmu bahwa Henderson memang
keturunan Evans. Sekalipun dia tidak tahu di mana letak benda itu, kita bisa
memanfaatkannya untuk hal lain.”
“Hal lain apa?” tanya topi caping bingung.
Tudung biru sedikit mengangkat kepalanya menghadap temannya.
Sulit melihat wajahnya di bawah cahaya remang-remang, tapi si topi caping bisa
melihat orang di depannya itu tersenyum dingin.
“Kau akan lihat nanti. Sekarang, pergilah. Kutunggu
kepastiannya dalam dua hari ke depan. Dan jika benar-benar pasti, awasi terus
anak itu.”
“Baiklah, Yang Mulia.”
Tudung biru berbalik. Namun, baru beberapa langkah, dia
berhenti dan menoleh ke belakang.
“Satu lagi, orang Italia itu,” katanya. “Statusnya sudah
bisa dipastikan. Kau tahu tugasmu.”
Si topi caping menegang. “Baiklah.”
Tudung biru menatap rekannya beberapa saat, lalu kembali
berbalik dan berjalan menjauh. Si topi caping masih berdiri kaku di tempatnya,
matanya terpaku pada sebuah simbol yang terbordir kecil di bagian punggung atas
jubah si tudung bitu. Sebuah bintang heksagram dengan dua ular yang
melingkarinya.
***


0 comments:
Post a Comment