Thursday, 2 November 2017

The Terratomic Thief Pilot: Harris’ Scheme

Gedung Putih, Washington, Republik Federal Amerika, 28 Agustus 2064, 07.55 AM

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Klik.

Victor Harris menghela napas. Video Call tadi baru saja berakhir, meninggalkan proyeksi layar di atas mejanya gelap. Dia duduk bersandar di kursi, menatap proyeksi layar tersebut sembari meremas-remas tangannya. Kacamata full-frame tipisnya dibiarkan melorot ke hidung, pikirannya terlalu sibuk untuk repot-repot membenarkannya.

Mendadak, pintu Ruang Kabinet bergeser terbuka. Dua orang berpakaian resmi masuk sembari mengobrol dengan suara keras, agak tertegun melihat ruangan yang gelap dan keberadaan seseorang di ujung ruangan.

“Presiden Harris.” Pria yang pertama membungkukkan diri sejenak dengan hormat. “Maaf, saya tidak tahu Anda sudah datang…”

“Tidak apa-apa, Castellan. Silakan duduk, dan kau, Hoban.” Harris menyilakan keduanya.

Keduanya duduk dengan canggung di meja lingkar lonjong Ruang Kabinet, sebelah kiri dari sudut pandang Presiden Harris.

“Maaf, tadi saya sedang berpikir. Kalian tahu, saya lebih lancar berpikir dalam kondisi gelap. Juga ada satu-dua hal yang mesti saya urus.” Kata Presiden Harris.

Dia menekan panel di dekat komputernya, dan lampu Ruang Kabinet pun menyala. Sosok Victor Harris, presiden Republik Federal Amerika, pun tampak lebih jelas. Pria berusia sekitar lima puluh lima, rambut abu-abu pendek, dengan gurat wajah tegas dan rahang yang kokoh. Namun, sorot matanya yang agak sayu dibalik kacamatanya menampakkan keletihannya.

“Maaf menyinggung, Presiden Harris, tidak biasanya Anda memberi pemberitahuan mendadak seperti ini.” Castellan berkata hati-hati. “Dua hari sebelumnya. Tidakkah ini terlalu cepat, untuk pertemuan penting begini?”

Harris tidak menunjukkan tanda-tanda tersinggung. “Ya. Situasi sudah berubah.” Timpalnya singkat. Kedua menterinya bertukar pandang satu sama lain, bertanya-tanya apa yang terjadi.

Dalam waktu kurang dari lima menit, kursi di Ruang Kabinet sudah penuh. Kebanyakan wajah di sana bertanya-tanya, sebagian berbisik-bisik. Sang presiden sendiri tidak merasa terganggu karena itu, matanya tetap menatap proyeksi layar komputernya, kali ini menampilkan peta dunia yang sebagian areanya sudah ditandai; area yang membentang lebar dari wilayah yang dulunya merupakan Afrika Barat sampai Asia Tenggara. Saat bel pada jam kuno di sudut ruangan berbunyi delapan kali, menandakan pukul delapan, barulah Harris berdiri. Ruangan mendadak hening, semuanya mata mengarah pada presiden mereka.

“Selamat pagi, jajaran senat dan anggota kongres Republik Federal Amerika.” Harris membuka suara. “Mohon maaf atas terlalu mendadaknya informasi mengenai pertemuan ini. Seperti yang kita ketahui bersama, keadaan sudah berubah…”

Beberapa menteri berbisik-bisik penasaran, tapi seketika senyap lagi.

“Normalnya, saya akan mengajak Anda semua untuk membawakan himne nasional kita, sebelum memulai apapun. Namun, kali ini saya melewatinya, untuk membahas perkara lain yang lebih…” Harris ragu-ragu. “…penting.”

Mau tidak mau hal ini mengundang bisik-bisik baru di kalangan kongres dan senat. Presiden Harris tidak pernah sekalipun melewatkan ritual menyanyikan himne nasional Amerika dalam pertemuannya. Kalau kali ini dia sampai melewatkannya, tentu sesuatu yang sangat penting sedang terjadi.

Sekretaris presiden, yang duduk di sebelah kanan Harris, berdiri dan menghampiri perapian kuno di belakang kursi Harris. Dia menekan tombol-tombol di panel kotak di samping perapian, dan lampu-lampu pun sontak mati, diiringi layar besar terproyeksi di atas tempat presiden berdiri. Harris berdehem, tatapannya diedarkan ke seluruh anggota Kongres dan Senat yang hadir.

“Sejak tahun 1945, pasca Perang Dunia II, Amerika, yang saat itu bernama Amerika Serikat, menjadi kekuatan baru di kancah perpolitikan dan ekonomi dunia.” Harris memulai pidatonya. Layar menampakkan peta dunia, dengan wilayah Amerika Serikat berwarna merah kontras dengan area lain yang hijau. “Inggris Raya mengalami kemunduran dan berutang banyak pada Amerika Serikat, dan sejak saat itu, pengaruhnya di dunia menurun. Kemudian, Amerika Serikat mengambil alih menjadi kekuatan politik nomor satu dunia. Meski sampai puluhan tahun kemudian, mereka masih bermain licik untuk memastikan bahwa mereka masih memegang kendali atas beberapa bagian dunia. Tidak terlalu relevan, tentu saja. Lompati bagian ini.

“Dengan kekuatan teknologi dan ekonomi yang luar biasa, selama nyaris sembilan puluh tahun, Amerika Serikat menjadi penguasa sebagian besar dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Para penguasa negara dunia ketiga tunduk pada Amerika Serikat. Negara-negara kaya sumber daya, seperti Indonesia, Saudi Arabia, Pakistan, dan lainnya, penguasa mereka tunduk pada kemauan Amerika Serikat. Begitu pula dengan negara-negara Timur Tengah, tidak ada dari mereka yang tidak tunduk. Tidak terkecuali Iran, yang walaupun penguasa mereka beretorika anti-Amerika, nyatanya itu hanya lipservice untuk memuaskan pendukungnya saja. Amerika Serikat tentu tidak mempermasalahkannya, mereka tahu persis itu hanya skenario. Karena itulah, kerjasama kedua negara pada hakikatnya tidak pernah terhenti.

“Saat itu pula, Amerika Serikat mengambil alih peran utama pelindung keberadaan negara Israel di Timur Tengah. Amerika Serikat dengan luar biasa tetap mempertahankan kepentingan dan eksistensi Israel di sana, serta memaksa agar penguasa negara-negara Timur Tengah tetap bungkam atas keberadaannya, meski orang-orang Islam menentang keras Israel. Tentu saja, orang-orang Islam itu tidak bisa berbuat apa-apa, pemimpin mereka berada dalam genggaman Amerika Serikat.

“Memang, patut diakui bahwa kala itu, Amerika Serikat membuat beberapa kesalahan fatal. Perang melawan terorisme, yang dimulai oleh mendiang presiden George Walker Bush, justru menjadi blunder fatal ketika diterapkan di Irak dan Afganistan. Amerika Serikat memasuki periode perang tak berkesudahan yang menghabiskan banyak sekali anggaran. Perang yang tidak mungkin dimenangkan. Sampai akhirnya, Amerika Serikat berutang banyak ke luar negeri. Hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah sebenarnya dari utang itu. Ekonomi mulai melemah, meski masih cukup untuk tetap menjadi kekuatan ekonomi makro dunia. Secara teknologi, Amerika Serikat cepat tersaingi oleh Eropa dan negara-negara lemah seperti Jepang dan Korea Selatan.”

Harris menuangkan air mineral ke gelas dan meneguknya sedikit sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Namun, dengan segala kerapuhan dan kelemahan yang ada, termasuk perebutan pengaruh konstan dengan Inggris dan, tentu saja, teman lama kita Rusia, Amerika Serikat terus menjadi negara adidaya yang kekuatannya bisa dirasakan nyaris di seluruh penjuru Bumi. Sampai kemudian mereka muncul.”

Peta dunia kini diperbesar di titik area di Timur Tengah dan Mediterania.

“Berkisar tahun 2011, pemberontakan besar-besaran muncul di TimurTengah. Diawali di negara yang dulu bernama Tunisia, kemudian menyebar ke sebagian besar Timur Tengah. Mereka menyebutnya Arab Spring. Negara-negara pion Amerika Serikat tidak terpengaruh, untungnya. Saudi Arabia memiliki kekuatan yang lama terbentuk untuk mencegah pemberontakan itu terjadi—terima kasih untuk teman lama kita Inggris Raya yang membentuk pondasi monarki absolut di sana. Tapi, persoalan utama justru terjadi di sini, di negara yang awalnya bernama Suriah.”

Sebuah petak wilayah di dekat Mediterania berubah warna menjadi merah.

“Pemberontakan di sana sangat sengit. Kaum militan Islam dengan gigih berusaha menumbangkan rezim saat itu. Seandainya kasusnya seperti di Libya, Tunisia, dan Mesir, tentunya Amerika Serikat tidak akan mempersoalkannya. Pasang pion baru yang tampak pro perubahan, tapi tetap berada pada garis arahan. Masalahnya, kaum militan ekstremis Islam ini tidak menginginkan yang seperti Mesir atau Libya. Mereka menginginkan lebih. Selain itu, Amerika Serikat dan sekutunya belum memiliki pion yang cocok untuk mengganti kedudukan penguasa sebelumnya.

“Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat terus menggencarkan usaha untuk memelihara pionnya di Suriah itu. Mulai dari mengadakan perundingan, membantu munculnya kelompok ISIS untuk mengalihkan fokus para milisi ekstremis, sampai meminta pion mereka yang lain—Saudi Arabia—untuk mengalihkan isu dengan memicu konflik sektarian diantara orang-orang Islam. Usaha itu cukup berhasil untuk beberapa lama. Tapi tidak selamanya.”

Sampai sini, Harris berhenti. Dia mengamati air muka para anggota Kongres dan Senat yang hadir di tengah pencahayaan remang. Wajah keheranan yang tampak pada sebagian besar mereka, Harris menangkapnya sebagai sebuah keterkejutan dan ketidaktahuan akan informasi seperti ini sebelumnya. Harris meneguk air lagi, kemudian melanjutkan.

“Pada tahun 2020, sembilan tahun setelah Arab Spring dimulai, ketakutan terbesar Amerika Serikat, juga ketakutan terbesar Inggris Raya serta Rusia, ketakutan yang membuat mereka mati-matian berusaha mengendalikan Timur Tengah, ketakutan yang membuat mendiang presiden Bush melakukan perang melawan terorisme untuk pertama kali, ketakutan yang membuat Amerika Serikat tanpa henti-hentinya mempromosikan demokrasi di dunia Islam, ketakutan yang membuat dunia Barat melakukan propaganda untuk membuat orang-orang Islam menjadi moderat serta memusuhi orang-orang radikal diantara mereka sendiri, ketakutan itu benar-benar terjadi.”

Seorang anggota Senat di ujung lain meja lingkar menahan napas.

“Dan ketakutan itu adalah…” anggota Senat itu menggumam.

Harris mengangguk. “Ya. Khilafah Islam.”

Herbert dan koleganya yang masuk bersamanya bertukar pandang gelisah. Keduanya tidak tahu mengenai sejarah itu, tidak juga tahu kenapa Presiden Harris mengungkapkannya.

“Khilafah Islam. Sebuah imperium orang-orang Islam yang pernah menjadi penguasa dunia selama lebih dari 13 abad. Sejak kedatangan Nabi mereka, Muhammad, sampai akhir hayatnya di Turki. Sebuah imperium kuat yang membuat raja-raja Eropa pada saat itu ketakutan dan memusuhinya. Mengapa? Alasannya jelas, tentu saja. Keberadaan Khilafah mengancam posisi mereka. Alasan yang sama mengapa Amerika Serikat dan dunia Barat begitu ketakutan akan imperium ini.

“Benar, Khilafah Islam pernah runtuh. Lagi-lagi, terima kasih untuk teman lama kita, Inggris Raya, yang puluhan, mungkin ratusan tahun berusaha untuk menumbangkan imperium ini. Dan mereka berhasil. Tapi, satu hal yang tidak benar-benar berhasil, mengubur ide Khilafah dari pemikiran orang-orang Islam.

“Amerika Serikat adalah pengemban demokrasi terbesar di dunia. Sebuah negara dimana pengusaha dan penguasa bisa bersinergi dengan baik untuk membentuk hegemoni di seluruh penjuru Bumi. Walau begiitu, hegemoni Amerika Serikat akan sangat terancam jika Khilafah Islam bangkit. Amerika Serikat akan kehilangan kekuatannya di dunia. Orang-orang Islam akan menguasai dunia dan memaksakan hukum ekstrem kadaluarsa mereka kepada seluruh negara yang ditaklukkannya, dan mengancam dunia Barat dengan senjata. Tentu, tidak semua dari yang saya katakan itu benar, yang tidak benar darinya adalah yang dipropagandakan Amerika Serikat untuk mencegah Khilafah Islam kembali berdiri. Kalian tahu yang mana?”

Tidak ada anggota sidang yang menjawab. Masing-masing hanya mengerutkan kening atau bertanya pada rekan di sebelahnya, yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala.

Harris sudah mengantisipasi respon itu. Dia tahu persis bahwa pemikiran-pemikiran itulah yang tepat berada di pikiran penguasa tinggi negaranya. Dia menghela napas lagi.

“Para anggota Senat dan Kongres.” Harris kembali memecah kesunyian. “Pada tahun 2020, Khilafah Islam tegak kembali di wilayah yang dulunya bernama Suriah. Dan pada tahun yang sama, gelombang seruan penyatuan negara-negara orang Islam dalam Khilafah bergaung keras. Seruan-seruan yang terus menguat sejak tahun 2011, dan tidak mampu dibendung oleh Amerika Serikat dan sekutu. Dalam waktu setahun saja, sebagian besar negara di dunia Islam bergabung dengan Khilafah. Saudi Arabia kehilangan otoritasnya, raja mereka dijatuhkan dan kekuasaan diserahkan pada pimpinan baru umat Islam, Khalifah mereka. Hampir seluruh Timur Tengah bergabung dengan Khilafah Islam tahun itu juga. Di tahun yang sama, mereka menyerang Israel dan meluluhlantakkannya. Mereka merebut kembali tanah suci dari kaum Yahudi Israel.”

Beberapa anggota Senat mengepalkan tangan kuat-kuat. Harris bisa membaca air muka kemarahan di wajah mereka, dan Harris tahu persis bahwa mereka adalah anggota Senat yang beragama Yahudi.

“Setahap demi setahap, satu demi satu, negara-negara orang Islam bergabung dengan Khilafah. Entah dengan damai, seperti Mesir, Turki, dan Pakistan, atau melalui penaklukkan, seperti Iran dan Irak. Bangladesh, negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, turut bergabung kemudian. Tidak begitu lama setelahnya, India tunduk dibawah Khilafah Islam. Tidak puas, selama bertahun-tahun berikutnya, mereka meluaskan kekuatan ke Afrika bahkan Eropa Timur.” Peta dunia di-zoom out dan sebuah area di Eropa Timur berkedip-kedip merah. “Bosnia dan Herzegovina adalah negara terakhir yang masuk ke dalam wilayah mereka. Sementara di Afrika, wilayah mereka meluas sampai Tanzania.” Sebuah petak besar di benua Afrika menyala merah.

“Sejak masuknya Indonesia dalam Khilafah Islam, Amerika Serikat tahu bahwa waktunya sudah tiba; Perang Dunia III. Tidak ada lagi yang peduli soal demokrasi dan perdamaian dunia. Tidak ada lagi gunanya PBB. Untuk mencegah hegemoni Amerika Serikat terancam lebih jauh, akhirnya mereka dan sekutunya memilih untuk berperang. Hancurkan Khilafah Islam sampai akar-akarnya.”

“Yang merupakan blunder terbesar Amerika Serikat, bukan begitu, Presiden?” timpal seorang anggota Kongres dari South Dakota.

“Tepat.” Harris mengakui dengan berat hati. “Amerika Serikat tidak belajar dari sejarah. Orang-orang Islam bukanlah pasukan militer yang mudah dikalahkan begitu saja. Prajurit militer Islam bukan kumpulan orang-orang yang takut mati seperti, mohon maaf, tentara Israel dan Amerika Serikat sendiri. Mereka tidak takut mati, mereka mencari kematian. Menurut ajaran mereka, kematian dalam ‘perang suci’ adalah kematian mulia, yang akan mengantarkan mereka pada surga.”

Beberapa orang berdecak geli, sebagian jijik.

“Amerika Serikat, Rusia, Inggris Raya, dan beberapa negara Eropa menyerang Khilafah Islam dari segala penjuru. Namun, dari tiga ratus serangan yang dilakukan pada tahun pertama, hanya tiga yang dimenangkan koalisi itu. Sisanya berantakan. Serangan Khilafah Islam, sebaliknya. Mereka berhasil melumpuhkan Rusia, mendesak mundur Inggris Raya, dan…” Harris menelan ludah. “Memorakmorandakan Amerika Serikat.”

Udara menegang.

“Hawaii, yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat, hancur sama sekali. Pasukan militer Amerika Serikat berkurang drastis selama tiga tahun pertama, sementara pasukan Islam seolah tidak ada habisnya. Ekonomi Amerika Serikat terjun bebas, utang luar negeri membengkak drastis, kemiskinan dan pemberontakan dalam negeri makin merajalela, sementara kemenangan yang diharapkan tidak kunjung tiba. Lebih buruk lagi, Inggris Raya berkhianat dan mengambil kesempatan terdesaknya Amerika Serikat untuk membentuk kembali Imperium Britania Raya. Mereka mengambil alih Newfoundland, diikuti Kanada, Afrika Selatan, dan wilayah-wilayah lain yang sempat menjadi wilayah mereka dulu. Mereka meninggalkan sama sekali perang melawan Khilafah, bahkan—terkutuklah mereka—mengadakan perjanjian damai dengan Khilafah Islam untuk menyelamatkan pantat mereka yang mulai terbakar!”

Harris menggebrak meja, membuat hadirin yang duduk di dekatnya terlonjak. Butuh beberapa saat bagi Harris untuk mengatur napasnya kembali normal.

“Maaf, saya agak terbawa emosi. Jadi, pada tahun keempat, ekonomi Amerika Serikat benar-benar runtuh. Peluang menang perang menjadi nol persen. Rusia sudah terkepung dan menyerah, lalu mengadakan perjanjian damai dengan Khilafah Islam, tunduk pada mereka. Sebagian politisi Amerika Serikat, yang sejak awal menentang perang melawan Khilafah, bangkit bersama sebagian besar rakyat Amerika Serikat untuk mengambil alih kekuasaan. Presiden Amerika Serikat tumbang, dan tepat saat itu, Amerika Serikat pun resmi runtuh, digantikan dengan negara kita saat ini, Republik Federal Amerika. Meski secara sistemik kita tidak berbeda jauh dengan Amerika Serikat, tapi tentu saja, kita berbeda dari mereka.

“Presiden pertama, Colin Connard, mengumumkan bahwa Republik Federal Amerika menghentikan perang melawan Khilafah Islam, dan meminta perjanjian damai dengan Khilafah Islam. Akhirnya, Perang Dunia III pun berakhir. Khilafah Islam menang mutlak. Republik Federal Amerika, tiap tahunnya harus membayar upeti kepada Khilafah Islam sebagai bentuk kesepakatan damai. Tuhan yang tahu berapa besarnya nilai upeti itu.

“Tidak cukup sampai di sana. Perkembangan sains dan teknologi mereka kini jauh mengungguli yang bisa dilakukan Amerika Serikat pada masa jayanya. Isu yang saya dengar terakhir mengatakan bahwa mereka sudah bisa membangun reaktor nuklir fusi dan warp. Persis dengan yang mereka pernah lakukan pada periode pertama Khilafah Islam itu ada. Kalian tahu yang lebih mengesalkan? Semakin banyak warga Republik Federal Amerika yang pindah ke Khilafah Islam bahkan mengganti agamanya menjadi Islam!”

Harris kembali menggebrak meja, kali ini lebih keras dan membuat lebih banyak audiens berjengit. Presiden mereka jarang sekali kehilangan kendali seperti ini, kecuali sesuatu yang benar-benar buruk sedang terjadi. Harris meneguk air minumnya lagi, menghirup napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan.

“Maaf, Presiden.” Seorang Senator dari wilayah Florida mengangkat tangannya. Harris memberi gestur agar sang Senator mengatakan keperluannya. “Dengan semua pembicaraan ini, apakah… apakah Anda bermaksud untuk memerangi negara Khilafah Islam lagi?”

Beberapa Senator dan anggota Kongres menggumamkan sesuatu tentang ‘mereka berpikir yang sama’, tapi masing-masing penuh keraguan. Harris memerhatikan mereka satu persatu, lalu berdehem. Susasana kembali hening.

“Tidak sepenuhnya salah, meski redaksi yang Anda gunakan tidak begitu tepat, Tuan Mendez.” Harris mengonfirmasi. “Kita sudah terlalu lama berada di bawah ketiak Khilafah Islam. Sudah terlalu lama tunduk pada negara yang dulunya tidak ada apa-apanya dibandingkan kita. Ketundukan Amerika terhadap Khilafah Islam adalah sebuah hal yang sangat memalukan, dan kita dipaksa menanggung malu ini selama puluhan tahun. Tidak lagi. Kita tidak bisa lagi begini. Republik Federal Amerika harus menjadi pimpinan dunia! Menguasai dua pertiga pelosok Bumi sebagaimana Amerika Serikat pernah melakukannya!”

Seorang anggota Kongres mengangkat tangannya. “Tapi bagaimana, Presiden? Kita semua tahu bahwa Khilafah Islam itu terlalu kuat bagi kita. Apalagi, kondisi Republik Federal Amerika belum benar-benar pulih pasca Perang Dunia. Militer dan ekonomi kita tidak akan mampu menandingi mereka. Bahkan dalam kondisi prima sekalipun, Amerika Serikat tidak mampu mengalahkan Khilafah Islam yang waktu itu belum sebesar ini. Britania Raya jelas tidak bisa dimintai bantuan. Kerajaan Prussia, kita sudah terlalu banyak utang pada mereka. Kalau sudah begini, harapan apa yang kita punya?”

Harris mengulaskan seringai dingin, yang membuat beberapa orang bergidik.

“Tentu kita tidak akan memerangi mereka secara fisik, Tuan Cain. Amerika Serikat hancur karena memerangi Khilafah Islam dengan perang fisik. Tidak, tidak, kita juga tidak akan menyerang mereka secara pemikiran.” Beberapa orang tidak jadi mengungkapkan idenya. “Pemikiran mereka tidak bisa disimpangkan dua kali. Proteksi negara itu terhadap ide-ide mereka luar biasa, butuh waktu lebih lama bagi kita untuk menghancurkannya—seandainya itu bisa dilakukan. Tidak, kita hancurkan mereka dari dalam.”

Beberapa Senator bertukar pandang tidak mengerti. Untuk menjawabnya, Harris melambaikan tangannya pada layar, dan tampilan pun berubah menjadi gambar sebuah instalasi nuklir.

“Khilafah Islam memiliki banyak sekali fasilitas nuklir. PLTN mereka ada 623 unit. Belum lagi senjata nuklir mereka. Saya tidak tahu jumlah pastinya, yang jelas lebih dari 100 ribu unit. Mereka benar-benar menggunakan teknologi nuklir semaksimal mungkin untuk keperluan-keperluan strategis. Karena itu, hampir semua negara di dunia ini takut pada mereka—kecuali Uni Rusia dan Kerajaan Prussia, yang pertama karena mereka sendiri sedang terlibat konflik perbatasan. Walau begitu, tetap ada celah. Tidak semua dari mereka setuju dengan nuklir, LSM-LSM yang menentang nuklir masih ada dan aktif. Termasuk masyarakatnya, tidak semua sepakat mengenai penggunaan nuklir. Nah, di sanalah kita bergerak. Anda tahu apa maksud saya?”

Udara menegang. Raut wajah para Senator dan anggota Kongres yang gugup, antusias, terkejut, tidak percaya, semua membuat Harris puas.

“Apakah artinya kita akan menyerang fasilitas nuklir itu, Presiden?” tanya senator dari New England.

“Menghancurkan adalah redaksi yang lebih tepat.” Harris mengoreksi. “Kita akan hancurkan fasilitas nuklir mereka, PLTN, hulu ledak, dengan efek yang jauh lebih mengerikan dari tragedi Chernobyl. Ini akan dengan mudah meledakkan paranoia di tengah penduduk Khilafah menjadi kekacauan. Lalu, picu kontroversi lebih masif dari kalangan mereka—tidak sulit membayar LSM-LSM itu untuk melakukan propagandanya—untuk makin mendestabilisasi Khilafah Islam. Lalu, perburuk kondisinya dengan membuat senjata-senjata nukir itu ditembakkan ke berbagai negara—Skandinavia, Uni Rusia, Kerajaan Bohemia, Imperium Britania, termasuk Kerajaan Prussia. Hal yang akan dengan sangat mudah memicu negara-negara itu memerangi Khilafah. Dan kalau seluruh negara itu bersatu memerangi Khilafah, negara yang sama sekali goyang ini akan dengan mudah dikalahkan. Prajurit-prajurit militer mereka tidak akan berguna, jika kesetiaan mereka pada negara sudah sama sekali goyah. Dengan begini, Khilafah Islam akan terkubur sama sekali. Lalu, tidak akan terlalu sulit untuk kembali menduduki wilayah-wilayah itu seperti dulu.”

Hening yang melanda terasa berabad-abad. Para Senator dan anggota Kongres sama-sama terkejut dengan ide brilian sekaligus gila ini. Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka, tapi yang pertama adalah

“Kenapa harus kita?” tanya Hoban. “Bukankah Uni Rusia dan Kerajaan Prussia berada dalam kondisi lebih kuat dari kita? Bahkan Imperium Romawi Baur pun… yah…” dia mengangkat bahu.

Jantung Harris berdegup agak kencang mendengarnya. Dia tahu pertanyaan ini akan datang.

“Bukankah saya sudah tekankan tadi, bahwa ini demi kejayaan kembali Republik Federal Amerika? Berada di bawah ketiak Khilafah Islam selama puluhan tahun adalah hal paling menyedihkan dan memalukan sepanjang sejarah negara ini. jelas kita harus keluar dari jebakan itu!”

“Kami setuju soal itu, Presiden. Tapi pernyataan Tuan Cain juga benar adanya. Ekonomi kita masih belum pulih, dan kita berutang banyak pada Kerajaan Prussia. Kekuatan kita masih belum begitu diperhitungkan. Kalaupun memang kita menang nanti, apakah kita akan mendapat kue besar kemenangan itu? Maaf, saya benar-benar minta maaf soal ini, Presiden, tapi saya tidak yakin soal itu.”

Harris menghela napas dan menundukkan kepala sejenak. Pembicaraan pada Video Call beberapa waktu yang lalu terbayang-bayang di pikirannya.

“Itu… sudah dipertimbangkan.” Jika terdengar keraguan dalam suaranya, tidak ada seorangpun yang menyadarinya. “Dengan negara-negara lain. jika kita menjadi pemicu ledakannya, kita akan menjadi pemeran utama runtuhnya Khilafah Islam. Tentu… saya yakin kita akan mendapat perhargaan besar.”

Para peserta pertemuan berbisik dan menggumam satu sama lain, tampak jelas mempertimbangkan hal-hal itu. Harris tidak bersuara, membiarkan para Senator dan anggota Kongres menyimpulkan sendiri pembicaraannya kali ini. Dan kalau dia bisa memberikan sentuhan terakhir itu…

Seorang Senator yang tampak paling tidak antusias mengangkat tangannya. “Lalu, Presiden, bagaimana kita melaksanakannya? Kedengarannya bukan hal yang bisa terwujud dengan mudah, kalau bukan mustahil sama sekali.”

Harris tersenyum dingin. Waktunya memberikan polesan utamanya.

“Kita hancurkan mereka, Tuan De Carlos, dengan kerjasama.”
***


0 comments:

Post a Comment