Gedung Putih,
Washington, Republik Federal Amerika, 28 Agustus 2064, 07.55 AM
“Kau tahu apa yang
harus kau lakukan.”
Klik.
Victor Harris menghela
napas. Video Call tadi baru saja berakhir, meninggalkan proyeksi layar di atas
mejanya gelap. Dia duduk bersandar di kursi, menatap proyeksi layar tersebut
sembari meremas-remas tangannya. Kacamata full-frame tipisnya dibiarkan melorot
ke hidung, pikirannya terlalu sibuk untuk repot-repot membenarkannya.
Mendadak, pintu Ruang
Kabinet bergeser terbuka. Dua orang berpakaian resmi masuk sembari mengobrol
dengan suara keras, agak tertegun melihat ruangan yang gelap dan keberadaan
seseorang di ujung ruangan.
“Presiden Harris.”
Pria yang pertama membungkukkan diri sejenak dengan hormat. “Maaf, saya tidak
tahu Anda sudah datang…”
“Tidak apa-apa,
Castellan. Silakan duduk, dan kau, Hoban.” Harris menyilakan keduanya.
Keduanya duduk dengan
canggung di meja lingkar lonjong Ruang Kabinet, sebelah kiri dari sudut pandang
Presiden Harris.
“Maaf, tadi saya sedang
berpikir. Kalian tahu, saya lebih lancar berpikir dalam kondisi gelap. Juga ada
satu-dua hal yang mesti saya urus.” Kata Presiden Harris.
Dia menekan panel di
dekat komputernya, dan lampu Ruang Kabinet pun menyala. Sosok Victor Harris,
presiden Republik Federal Amerika, pun tampak lebih jelas. Pria berusia sekitar
lima puluh lima, rambut abu-abu pendek, dengan gurat wajah tegas dan rahang
yang kokoh. Namun, sorot matanya yang agak sayu dibalik kacamatanya menampakkan
keletihannya.
“Maaf menyinggung,
Presiden Harris, tidak biasanya Anda memberi pemberitahuan mendadak seperti
ini.” Castellan berkata hati-hati. “Dua hari sebelumnya. Tidakkah ini terlalu
cepat, untuk pertemuan penting begini?”
Harris tidak
menunjukkan tanda-tanda tersinggung. “Ya. Situasi sudah berubah.” Timpalnya
singkat. Kedua menterinya bertukar pandang satu sama lain, bertanya-tanya apa
yang terjadi.
Dalam waktu kurang
dari lima menit, kursi di Ruang Kabinet sudah penuh. Kebanyakan wajah di sana
bertanya-tanya, sebagian berbisik-bisik. Sang presiden sendiri tidak merasa
terganggu karena itu, matanya tetap menatap proyeksi layar komputernya, kali
ini menampilkan peta dunia yang sebagian areanya sudah ditandai; area yang
membentang lebar dari wilayah yang dulunya merupakan Afrika Barat sampai Asia
Tenggara. Saat bel pada jam kuno di sudut ruangan berbunyi delapan kali,
menandakan pukul delapan, barulah Harris berdiri. Ruangan mendadak hening,
semuanya mata mengarah pada presiden mereka.
“Selamat pagi, jajaran
senat dan anggota kongres Republik Federal Amerika.” Harris membuka suara.
“Mohon maaf atas terlalu mendadaknya informasi mengenai pertemuan ini. Seperti
yang kita ketahui bersama, keadaan sudah berubah…”
Beberapa menteri
berbisik-bisik penasaran, tapi seketika senyap lagi.
“Normalnya, saya akan
mengajak Anda semua untuk membawakan himne nasional kita, sebelum memulai
apapun. Namun, kali ini saya melewatinya, untuk membahas perkara lain yang
lebih…” Harris ragu-ragu. “…penting.”
Mau tidak mau hal ini
mengundang bisik-bisik baru di kalangan kongres dan senat. Presiden Harris
tidak pernah sekalipun melewatkan ritual menyanyikan himne nasional Amerika
dalam pertemuannya. Kalau kali ini dia sampai melewatkannya, tentu sesuatu yang
sangat penting sedang terjadi.
Sekretaris presiden,
yang duduk di sebelah kanan Harris, berdiri dan menghampiri perapian kuno di
belakang kursi Harris. Dia menekan tombol-tombol di panel kotak di samping
perapian, dan lampu-lampu pun sontak mati, diiringi layar besar terproyeksi di
atas tempat presiden berdiri. Harris berdehem, tatapannya diedarkan ke seluruh
anggota Kongres dan Senat yang hadir.
“Sejak tahun 1945,
pasca Perang Dunia II, Amerika, yang saat itu bernama Amerika Serikat, menjadi
kekuatan baru di kancah perpolitikan dan ekonomi dunia.” Harris memulai pidatonya.
Layar menampakkan peta dunia, dengan wilayah Amerika Serikat berwarna merah
kontras dengan area lain yang hijau. “Inggris Raya mengalami kemunduran dan
berutang banyak pada Amerika Serikat, dan sejak saat itu, pengaruhnya di dunia
menurun. Kemudian, Amerika Serikat mengambil alih menjadi kekuatan politik
nomor satu dunia. Meski sampai puluhan tahun kemudian, mereka masih bermain
licik untuk memastikan bahwa mereka masih memegang kendali atas beberapa bagian
dunia. Tidak terlalu relevan, tentu saja. Lompati bagian ini.
“Dengan kekuatan
teknologi dan ekonomi yang luar biasa, selama nyaris sembilan puluh tahun,
Amerika Serikat menjadi penguasa sebagian besar dunia, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Para penguasa negara dunia ketiga tunduk pada Amerika
Serikat. Negara-negara kaya sumber daya, seperti Indonesia, Saudi Arabia,
Pakistan, dan lainnya, penguasa mereka tunduk pada kemauan Amerika Serikat.
Begitu pula dengan negara-negara Timur Tengah, tidak ada dari mereka yang tidak
tunduk. Tidak terkecuali Iran, yang walaupun penguasa mereka beretorika
anti-Amerika, nyatanya itu hanya lipservice untuk memuaskan pendukungnya saja.
Amerika Serikat tentu tidak mempermasalahkannya, mereka tahu persis itu hanya
skenario. Karena itulah, kerjasama kedua negara pada hakikatnya tidak pernah
terhenti.
“Saat itu pula,
Amerika Serikat mengambil alih peran utama pelindung keberadaan negara Israel
di Timur Tengah. Amerika Serikat dengan luar biasa tetap mempertahankan
kepentingan dan eksistensi Israel di sana, serta memaksa agar penguasa
negara-negara Timur Tengah tetap bungkam atas keberadaannya, meski orang-orang
Islam menentang keras Israel. Tentu saja, orang-orang Islam itu tidak bisa
berbuat apa-apa, pemimpin mereka berada dalam genggaman Amerika Serikat.
“Memang, patut diakui
bahwa kala itu, Amerika Serikat membuat beberapa kesalahan fatal. Perang
melawan terorisme, yang dimulai oleh mendiang presiden George Walker Bush,
justru menjadi blunder fatal ketika diterapkan di Irak dan Afganistan. Amerika
Serikat memasuki periode perang tak berkesudahan yang menghabiskan banyak
sekali anggaran. Perang yang tidak mungkin dimenangkan. Sampai akhirnya,
Amerika Serikat berutang banyak ke luar negeri. Hanya Tuhan yang tahu berapa
jumlah sebenarnya dari utang itu. Ekonomi mulai melemah, meski masih cukup
untuk tetap menjadi kekuatan ekonomi makro dunia. Secara teknologi, Amerika
Serikat cepat tersaingi oleh Eropa dan negara-negara lemah seperti Jepang dan
Korea Selatan.”
Harris menuangkan air
mineral ke gelas dan meneguknya sedikit sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Namun, dengan segala
kerapuhan dan kelemahan yang ada, termasuk perebutan pengaruh konstan dengan
Inggris dan, tentu saja, teman lama kita Rusia, Amerika Serikat terus menjadi
negara adidaya yang kekuatannya bisa dirasakan nyaris di seluruh penjuru Bumi.
Sampai kemudian mereka muncul.”
Peta dunia kini
diperbesar di titik area di Timur Tengah dan Mediterania.
“Berkisar tahun 2011,
pemberontakan besar-besaran muncul di TimurTengah. Diawali di negara yang dulu
bernama Tunisia, kemudian menyebar ke sebagian besar Timur Tengah. Mereka
menyebutnya Arab Spring. Negara-negara pion Amerika Serikat tidak terpengaruh,
untungnya. Saudi Arabia memiliki kekuatan yang lama terbentuk untuk mencegah
pemberontakan itu terjadi—terima kasih untuk teman lama kita Inggris Raya yang
membentuk pondasi monarki absolut di sana. Tapi, persoalan utama justru terjadi
di sini, di negara yang awalnya bernama Suriah.”
Sebuah petak wilayah
di dekat Mediterania berubah warna menjadi merah.
“Pemberontakan di sana
sangat sengit. Kaum militan Islam dengan gigih berusaha menumbangkan rezim saat
itu. Seandainya kasusnya seperti di Libya, Tunisia, dan Mesir, tentunya Amerika
Serikat tidak akan mempersoalkannya. Pasang pion baru yang tampak pro
perubahan, tapi tetap berada pada garis arahan. Masalahnya, kaum militan
ekstremis Islam ini tidak menginginkan yang seperti Mesir atau Libya. Mereka
menginginkan lebih. Selain itu, Amerika Serikat dan sekutunya belum memiliki
pion yang cocok untuk mengganti kedudukan penguasa sebelumnya.
“Selama
bertahun-tahun, Amerika Serikat terus menggencarkan usaha untuk memelihara
pionnya di Suriah itu. Mulai dari mengadakan perundingan, membantu munculnya
kelompok ISIS untuk mengalihkan fokus para milisi ekstremis, sampai meminta
pion mereka yang lain—Saudi Arabia—untuk mengalihkan isu dengan memicu konflik
sektarian diantara orang-orang Islam. Usaha itu cukup berhasil untuk beberapa
lama. Tapi tidak selamanya.”
Sampai sini, Harris
berhenti. Dia mengamati air muka para anggota Kongres dan Senat yang hadir di
tengah pencahayaan remang. Wajah keheranan yang tampak pada sebagian besar
mereka, Harris menangkapnya sebagai sebuah keterkejutan dan ketidaktahuan akan
informasi seperti ini sebelumnya. Harris meneguk air lagi, kemudian
melanjutkan.
“Pada tahun 2020,
sembilan tahun setelah Arab Spring dimulai, ketakutan terbesar Amerika Serikat,
juga ketakutan terbesar Inggris Raya serta Rusia, ketakutan yang membuat mereka
mati-matian berusaha mengendalikan Timur Tengah, ketakutan yang membuat
mendiang presiden Bush melakukan perang melawan terorisme untuk pertama kali,
ketakutan yang membuat Amerika Serikat tanpa henti-hentinya mempromosikan
demokrasi di dunia Islam, ketakutan yang membuat dunia Barat melakukan
propaganda untuk membuat orang-orang Islam menjadi moderat serta memusuhi
orang-orang radikal diantara mereka sendiri, ketakutan itu benar-benar
terjadi.”
Seorang anggota Senat
di ujung lain meja lingkar menahan napas.
“Dan ketakutan itu
adalah…” anggota Senat itu menggumam.
Harris mengangguk.
“Ya. Khilafah Islam.”
Herbert dan koleganya
yang masuk bersamanya bertukar pandang gelisah. Keduanya tidak tahu mengenai
sejarah itu, tidak juga tahu kenapa Presiden Harris mengungkapkannya.
“Khilafah Islam.
Sebuah imperium orang-orang Islam yang pernah menjadi penguasa dunia selama
lebih dari 13 abad. Sejak kedatangan Nabi mereka, Muhammad, sampai akhir
hayatnya di Turki. Sebuah imperium kuat yang membuat raja-raja Eropa pada saat
itu ketakutan dan memusuhinya. Mengapa? Alasannya jelas, tentu saja. Keberadaan
Khilafah mengancam posisi mereka. Alasan yang sama mengapa Amerika Serikat dan
dunia Barat begitu ketakutan akan imperium ini.
“Benar, Khilafah Islam
pernah runtuh. Lagi-lagi, terima kasih untuk teman lama kita, Inggris Raya,
yang puluhan, mungkin ratusan tahun berusaha untuk menumbangkan imperium ini.
Dan mereka berhasil. Tapi, satu hal yang tidak benar-benar berhasil, mengubur
ide Khilafah dari pemikiran orang-orang Islam.
“Amerika Serikat
adalah pengemban demokrasi terbesar di dunia. Sebuah negara dimana pengusaha
dan penguasa bisa bersinergi dengan baik untuk membentuk hegemoni di seluruh
penjuru Bumi. Walau begiitu, hegemoni Amerika Serikat akan sangat terancam jika
Khilafah Islam bangkit. Amerika Serikat akan kehilangan kekuatannya di dunia.
Orang-orang Islam akan menguasai dunia dan memaksakan hukum ekstrem kadaluarsa
mereka kepada seluruh negara yang ditaklukkannya, dan mengancam dunia Barat
dengan senjata. Tentu, tidak semua dari yang saya katakan itu benar, yang tidak
benar darinya adalah yang dipropagandakan Amerika Serikat untuk mencegah
Khilafah Islam kembali berdiri. Kalian tahu yang mana?”
Tidak ada anggota
sidang yang menjawab. Masing-masing hanya mengerutkan kening atau bertanya pada
rekan di sebelahnya, yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala.
Harris sudah
mengantisipasi respon itu. Dia tahu persis bahwa pemikiran-pemikiran itulah
yang tepat berada di pikiran penguasa tinggi negaranya. Dia menghela napas
lagi.
“Para anggota Senat
dan Kongres.” Harris kembali memecah kesunyian. “Pada tahun 2020, Khilafah
Islam tegak kembali di wilayah yang dulunya bernama Suriah. Dan pada tahun yang
sama, gelombang seruan penyatuan negara-negara orang Islam dalam Khilafah
bergaung keras. Seruan-seruan yang terus menguat sejak tahun 2011, dan tidak
mampu dibendung oleh Amerika Serikat dan sekutu. Dalam waktu setahun saja,
sebagian besar negara di dunia Islam bergabung dengan Khilafah. Saudi Arabia
kehilangan otoritasnya, raja mereka dijatuhkan dan kekuasaan diserahkan pada
pimpinan baru umat Islam, Khalifah mereka. Hampir seluruh Timur Tengah
bergabung dengan Khilafah Islam tahun itu juga. Di tahun yang sama, mereka
menyerang Israel dan meluluhlantakkannya. Mereka merebut kembali tanah suci dari
kaum Yahudi Israel.”
Beberapa anggota Senat
mengepalkan tangan kuat-kuat. Harris bisa membaca air muka kemarahan di wajah
mereka, dan Harris tahu persis bahwa mereka adalah anggota Senat yang beragama
Yahudi.
“Setahap demi setahap,
satu demi satu, negara-negara orang Islam bergabung dengan Khilafah. Entah
dengan damai, seperti Mesir, Turki, dan Pakistan, atau melalui penaklukkan,
seperti Iran dan Irak. Bangladesh, negara-negara Asia Tenggara termasuk
Indonesia, turut bergabung kemudian. Tidak begitu lama setelahnya, India tunduk
dibawah Khilafah Islam. Tidak puas, selama bertahun-tahun berikutnya, mereka
meluaskan kekuatan ke Afrika bahkan Eropa Timur.” Peta dunia di-zoom out dan
sebuah area di Eropa Timur berkedip-kedip merah. “Bosnia dan Herzegovina adalah
negara terakhir yang masuk ke dalam wilayah mereka. Sementara di Afrika,
wilayah mereka meluas sampai Tanzania.” Sebuah petak besar di benua Afrika
menyala merah.
“Sejak masuknya
Indonesia dalam Khilafah Islam, Amerika Serikat tahu bahwa waktunya sudah tiba;
Perang Dunia III. Tidak ada lagi yang peduli soal demokrasi dan perdamaian
dunia. Tidak ada lagi gunanya PBB. Untuk mencegah hegemoni Amerika Serikat
terancam lebih jauh, akhirnya mereka dan sekutunya memilih untuk berperang.
Hancurkan Khilafah Islam sampai akar-akarnya.”
“Yang merupakan
blunder terbesar Amerika Serikat, bukan begitu, Presiden?” timpal seorang
anggota Kongres dari South Dakota.
“Tepat.” Harris
mengakui dengan berat hati. “Amerika Serikat tidak belajar dari sejarah.
Orang-orang Islam bukanlah pasukan militer yang mudah dikalahkan begitu saja.
Prajurit militer Islam bukan kumpulan orang-orang yang takut mati seperti,
mohon maaf, tentara Israel dan Amerika Serikat sendiri. Mereka tidak takut
mati, mereka mencari kematian. Menurut ajaran mereka, kematian dalam ‘perang
suci’ adalah kematian mulia, yang akan mengantarkan mereka pada surga.”
Beberapa orang
berdecak geli, sebagian jijik.
“Amerika Serikat,
Rusia, Inggris Raya, dan beberapa negara Eropa menyerang Khilafah Islam dari
segala penjuru. Namun, dari tiga ratus serangan yang dilakukan pada tahun
pertama, hanya tiga yang dimenangkan koalisi itu. Sisanya berantakan. Serangan
Khilafah Islam, sebaliknya. Mereka berhasil melumpuhkan Rusia, mendesak mundur
Inggris Raya, dan…” Harris menelan ludah. “Memorakmorandakan Amerika Serikat.”
Udara menegang.
“Hawaii, yang menjadi
pangkalan militer Amerika Serikat, hancur sama sekali. Pasukan militer Amerika
Serikat berkurang drastis selama tiga tahun pertama, sementara pasukan Islam
seolah tidak ada habisnya. Ekonomi Amerika Serikat terjun bebas, utang luar
negeri membengkak drastis, kemiskinan dan pemberontakan dalam negeri makin
merajalela, sementara kemenangan yang diharapkan tidak kunjung tiba. Lebih
buruk lagi, Inggris Raya berkhianat dan mengambil kesempatan terdesaknya
Amerika Serikat untuk membentuk kembali Imperium Britania Raya. Mereka
mengambil alih Newfoundland, diikuti Kanada, Afrika Selatan, dan
wilayah-wilayah lain yang sempat menjadi wilayah mereka dulu. Mereka
meninggalkan sama sekali perang melawan Khilafah, bahkan—terkutuklah
mereka—mengadakan perjanjian damai dengan Khilafah Islam untuk menyelamatkan
pantat mereka yang mulai terbakar!”
Harris menggebrak
meja, membuat hadirin yang duduk di dekatnya terlonjak. Butuh beberapa saat
bagi Harris untuk mengatur napasnya kembali normal.
“Maaf, saya agak
terbawa emosi. Jadi, pada tahun keempat, ekonomi Amerika Serikat benar-benar
runtuh. Peluang menang perang menjadi nol persen. Rusia sudah terkepung dan
menyerah, lalu mengadakan perjanjian damai dengan Khilafah Islam, tunduk pada
mereka. Sebagian politisi Amerika Serikat, yang sejak awal menentang perang
melawan Khilafah, bangkit bersama sebagian besar rakyat Amerika Serikat untuk
mengambil alih kekuasaan. Presiden Amerika Serikat tumbang, dan tepat saat itu,
Amerika Serikat pun resmi runtuh, digantikan dengan negara kita saat ini,
Republik Federal Amerika. Meski secara sistemik kita tidak berbeda jauh dengan
Amerika Serikat, tapi tentu saja, kita berbeda dari mereka.
“Presiden pertama,
Colin Connard, mengumumkan bahwa Republik Federal Amerika menghentikan perang
melawan Khilafah Islam, dan meminta perjanjian damai dengan Khilafah Islam.
Akhirnya, Perang Dunia III pun berakhir. Khilafah Islam menang mutlak. Republik
Federal Amerika, tiap tahunnya harus membayar upeti kepada Khilafah Islam
sebagai bentuk kesepakatan damai. Tuhan yang tahu berapa besarnya nilai upeti
itu.
“Tidak cukup sampai di
sana. Perkembangan sains dan teknologi mereka kini jauh mengungguli yang bisa dilakukan
Amerika Serikat pada masa jayanya. Isu yang saya dengar terakhir mengatakan
bahwa mereka sudah bisa membangun reaktor nuklir fusi dan warp. Persis dengan
yang mereka pernah lakukan pada periode pertama Khilafah Islam itu ada. Kalian
tahu yang lebih mengesalkan? Semakin banyak warga Republik Federal Amerika yang
pindah ke Khilafah Islam bahkan mengganti agamanya menjadi Islam!”
Harris kembali
menggebrak meja, kali ini lebih keras dan membuat lebih banyak audiens
berjengit. Presiden mereka jarang sekali kehilangan kendali seperti ini,
kecuali sesuatu yang benar-benar buruk sedang terjadi. Harris meneguk air
minumnya lagi, menghirup napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan.
“Maaf, Presiden.”
Seorang Senator dari wilayah Florida mengangkat tangannya. Harris memberi
gestur agar sang Senator mengatakan keperluannya. “Dengan semua pembicaraan
ini, apakah… apakah Anda bermaksud untuk memerangi negara Khilafah Islam lagi?”
Beberapa Senator dan
anggota Kongres menggumamkan sesuatu tentang ‘mereka berpikir yang sama’, tapi
masing-masing penuh keraguan. Harris memerhatikan mereka satu persatu, lalu
berdehem. Susasana kembali hening.
“Tidak sepenuhnya
salah, meski redaksi yang Anda gunakan tidak begitu tepat, Tuan Mendez.” Harris
mengonfirmasi. “Kita sudah terlalu lama berada di bawah ketiak Khilafah Islam.
Sudah terlalu lama tunduk pada negara yang dulunya tidak ada apa-apanya
dibandingkan kita. Ketundukan Amerika terhadap Khilafah Islam adalah sebuah hal
yang sangat memalukan, dan kita dipaksa menanggung malu ini selama puluhan
tahun. Tidak lagi. Kita tidak bisa lagi begini. Republik Federal Amerika harus
menjadi pimpinan dunia! Menguasai dua pertiga pelosok Bumi sebagaimana Amerika
Serikat pernah melakukannya!”
Seorang anggota
Kongres mengangkat tangannya. “Tapi bagaimana, Presiden? Kita semua tahu bahwa
Khilafah Islam itu terlalu kuat bagi kita. Apalagi, kondisi Republik Federal
Amerika belum benar-benar pulih pasca Perang Dunia. Militer dan ekonomi kita
tidak akan mampu menandingi mereka. Bahkan dalam kondisi prima sekalipun,
Amerika Serikat tidak mampu mengalahkan Khilafah Islam yang waktu itu belum
sebesar ini. Britania Raya jelas tidak bisa dimintai bantuan. Kerajaan Prussia,
kita sudah terlalu banyak utang pada mereka. Kalau sudah begini, harapan apa yang
kita punya?”
Harris mengulaskan
seringai dingin, yang membuat beberapa orang bergidik.
“Tentu kita tidak akan
memerangi mereka secara fisik, Tuan Cain. Amerika Serikat hancur karena
memerangi Khilafah Islam dengan perang fisik. Tidak, tidak, kita juga tidak
akan menyerang mereka secara pemikiran.” Beberapa orang tidak jadi
mengungkapkan idenya. “Pemikiran mereka tidak bisa disimpangkan dua kali.
Proteksi negara itu terhadap ide-ide mereka luar biasa, butuh waktu lebih lama
bagi kita untuk menghancurkannya—seandainya itu bisa dilakukan. Tidak, kita
hancurkan mereka dari dalam.”
Beberapa Senator
bertukar pandang tidak mengerti. Untuk menjawabnya, Harris melambaikan
tangannya pada layar, dan tampilan pun berubah menjadi gambar sebuah instalasi
nuklir.
“Khilafah Islam
memiliki banyak sekali fasilitas nuklir. PLTN mereka ada 623 unit. Belum lagi
senjata nuklir mereka. Saya tidak tahu jumlah pastinya, yang jelas lebih dari
100 ribu unit. Mereka benar-benar menggunakan teknologi nuklir semaksimal
mungkin untuk keperluan-keperluan strategis. Karena itu, hampir semua negara di
dunia ini takut pada mereka—kecuali Uni Rusia dan Kerajaan Prussia, yang
pertama karena mereka sendiri sedang terlibat konflik perbatasan. Walau begitu,
tetap ada celah. Tidak semua dari mereka setuju dengan nuklir, LSM-LSM yang
menentang nuklir masih ada dan aktif. Termasuk masyarakatnya, tidak semua
sepakat mengenai penggunaan nuklir. Nah, di sanalah kita bergerak. Anda tahu
apa maksud saya?”
Udara menegang. Raut
wajah para Senator dan anggota Kongres yang gugup, antusias, terkejut, tidak
percaya, semua membuat Harris puas.
“Apakah artinya kita
akan menyerang fasilitas nuklir itu, Presiden?” tanya senator dari New England.
“Menghancurkan adalah
redaksi yang lebih tepat.” Harris mengoreksi. “Kita akan hancurkan fasilitas
nuklir mereka, PLTN, hulu ledak, dengan efek yang jauh lebih mengerikan dari
tragedi Chernobyl. Ini akan dengan mudah meledakkan paranoia di tengah penduduk
Khilafah menjadi kekacauan. Lalu, picu kontroversi lebih masif dari kalangan
mereka—tidak sulit membayar LSM-LSM itu untuk melakukan propagandanya—untuk
makin mendestabilisasi Khilafah Islam. Lalu, perburuk kondisinya dengan membuat
senjata-senjata nukir itu ditembakkan ke berbagai negara—Skandinavia, Uni
Rusia, Kerajaan Bohemia, Imperium Britania, termasuk Kerajaan Prussia. Hal yang
akan dengan sangat mudah memicu negara-negara itu memerangi Khilafah. Dan kalau
seluruh negara itu bersatu memerangi Khilafah, negara yang sama sekali goyang
ini akan dengan mudah dikalahkan. Prajurit-prajurit militer mereka tidak akan
berguna, jika kesetiaan mereka pada negara sudah sama sekali goyah. Dengan
begini, Khilafah Islam akan terkubur sama sekali. Lalu, tidak akan terlalu
sulit untuk kembali menduduki wilayah-wilayah itu seperti dulu.”
Hening yang melanda
terasa berabad-abad. Para Senator dan anggota Kongres sama-sama terkejut dengan
ide brilian sekaligus gila ini. Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka,
tapi yang pertama adalah
“Kenapa harus kita?”
tanya Hoban. “Bukankah Uni Rusia dan Kerajaan Prussia berada dalam kondisi
lebih kuat dari kita? Bahkan Imperium Romawi Baur pun… yah…” dia mengangkat
bahu.
Jantung Harris
berdegup agak kencang mendengarnya. Dia tahu pertanyaan ini akan datang.
“Bukankah saya sudah
tekankan tadi, bahwa ini demi kejayaan kembali Republik Federal Amerika? Berada
di bawah ketiak Khilafah Islam selama puluhan tahun adalah hal paling
menyedihkan dan memalukan sepanjang sejarah negara ini. jelas kita harus keluar
dari jebakan itu!”
“Kami setuju soal itu,
Presiden. Tapi pernyataan Tuan Cain juga benar adanya. Ekonomi kita masih belum
pulih, dan kita berutang banyak pada Kerajaan Prussia. Kekuatan kita masih
belum begitu diperhitungkan. Kalaupun memang kita menang nanti, apakah kita
akan mendapat kue besar kemenangan itu? Maaf, saya benar-benar minta maaf soal
ini, Presiden, tapi saya tidak yakin soal itu.”
Harris menghela napas
dan menundukkan kepala sejenak. Pembicaraan pada Video Call beberapa waktu yang
lalu terbayang-bayang di pikirannya.
“Itu… sudah
dipertimbangkan.” Jika terdengar keraguan dalam suaranya, tidak ada seorangpun
yang menyadarinya. “Dengan negara-negara lain. jika kita menjadi pemicu
ledakannya, kita akan menjadi pemeran utama runtuhnya Khilafah Islam. Tentu…
saya yakin kita akan mendapat perhargaan besar.”
Para peserta pertemuan
berbisik dan menggumam satu sama lain, tampak jelas mempertimbangkan hal-hal
itu. Harris tidak bersuara, membiarkan para Senator dan anggota Kongres
menyimpulkan sendiri pembicaraannya kali ini. Dan kalau dia bisa memberikan
sentuhan terakhir itu…
Seorang Senator yang
tampak paling tidak antusias mengangkat tangannya. “Lalu, Presiden, bagaimana
kita melaksanakannya? Kedengarannya bukan hal yang bisa terwujud dengan mudah,
kalau bukan mustahil sama sekali.”
Harris tersenyum dingin.
Waktunya memberikan polesan utamanya.
“Kita hancurkan
mereka, Tuan De Carlos, dengan kerjasama.”
***


0 comments:
Post a Comment