Saturday, 13 January 2018

The Crest of Five, Episode 10

Lima hari berlalu setelah pemakaman Professor Morello.
Hari itu, seharusnya kelas Kompas belajar Metabiologi. Namun, belum adanya guru baru untuk menggantikan Professor Morello membuat kelas pagi itu kosong. Maribel masih tampak murung, meski tidak separah sebelumnya. Sementara, Mudiwa membuat puisi norak soal kesedihannya ditinggal guru kesayangannya untuk hari kelima berturut-turut dan membacakannya dengan mendayu-dayu di depan kelas. The Great M patah semangat mendengarnya, juga tidak luput dari ocehan pedas The K-Rocks.
“Lagi-lagi ribut tidak penting,” gerutu Clark, melihat The K-Rocks dan The Great M bertengkar lagi di depan kelas. “Mereka punya berapa ratus mulut, sih?”
“Tebak sendiri,” timpal Niels bosan. Matanya agak merah, seolah tidak tidur semalaman.
Tsumaranai...” keluh Kazuki. Dia melompat berdiri dari kursi sambil dengan sengaja mengentakkan kaki di lantai keras-keras, sedikit mengalihkan perhatian kedua kelompok yang berseteru. “Ayo keluar. Kepalaku bisa meledak kalau terus diam di sini.” Ujarnya sambil melangkah bosan. Ketiga temannya bertukar pandang setuju, lalu mengikuti Kazuki.
“Kazuki-sempai, mau kemana, nich?” Mudiwa setengah bertanya-setengah menggoda. Di sampingnya, Malvina dan Katrijn menggumamkan jengkel tentang ‘belagu’. Telinga Kazuki jadi panas.
Urusai, kisamatachi.” tukasnya kaku.
Tiffany dan Malvina yang mengerti artinya naik darah. “Bilang apa tadi?!”
Kazuki melemparkan tatapan dingin ke kedua perempuan, memercikkan ketegangan sejenak di udara. Tapi tampaknya Kazuki tidak berminat menanggapi mereka terlalu jauh, dia hanya memberi isyarat pada ketiga temannya untuk pergi sambil menggumam, “Kozo yarou.”
The Epic tidak menoleh ke belakang lagi sampai mereka keluar kelas, meski Malvina dan Tiffany meneriaki Kazuki dengan bahasa Rusia dan Korea kasar. Kazuki mengerti apa arti makian mereka, tapi kebosanannya mengalahkan kekesalannya.
“Mereka bicara apa, sih?” tanya Clark, melirik sekilas ke belakangnya. “Kedengaran seperti bahasa dari Neptunus.”
Hendrik merengut. “Neptunus? Manusia? Eksis? Alien?”
Yare yare, Hendrik-chan.” Kazuki menimpali, nyengir sejenak. “Kau bukan anak SD yang terjebak di tubuh anak SMA, kan?”
“Barangkali SMP,” Clark mengangkat bahu.
“Bukan, SD,” komentar Niels.
“TK,”
Playgroup,”
“Ada yang lebih rendah lagi?”
Niels, Kazuki dan Clark tergelak. Hendrik mendengus kuat-kuat, gusar.
Mereka menyusuri koridor timur, berpapasan dengan beberapa siswa Tingkat Dua yang juga jadwalnya kosong. Bahkan mereka bertemu juga dengan Professor Toro, guru Sistem Informasi dan Teknologi yang memiliki perut buncit dan kepala nyaris botak dengan antusiasme berlebih. Untungnya dia bukan guru yang ketat mengenai jadwal, jadi dia tidak mempermasalahkan keberadaan The Epic di luar kelas pada saat itu. The Epic menyapanya dengan semangat, sambil Kazuki menyindir masalah taruhan sepakbola yang lagi-lagi gagal dimenangkannya.
“Entahlah, rasanya saya nggak pernah beruntung soal tebak menebak,” kekehnya. “Saya yakin saya nggak bisa jadi pebisnis saat sudah pensiun nanti, pasti saya nggak bisa nebak pasar!”
“Omong-omong, itu tebakan Anda juga, bukan?” sahut Clark. “Saya taruhan Anda juga salah dalam menebak masa depan Anda ini.”
Mereka tergelak.
“Professor, bagaimana soal penyelidikan sistem pengawasan? Apa Anda sudah menemukan sesuatu yang aneh?” tanya Niels, mendadak teringat dengan siapa mereka bicara.
Raut wajah Professor Toro mengeras. “Entahlah. Saya baru menemukan ada sedikit gangguan di sistem kamera pada hari kejadian. Seperti ada bug yang mengalihkan tampilan sistem pengawasan di depan ruang Professor Morello ke kamera di koridor Timur,” Professor Toro menunjuk ruang guru di lantai dua tidak jauh di belakangnya. “Saya nggak tahu apa itu yang bikin Professor Morello kurang awas terhadap apapun yang mengancamnya, tapi saya khawatir saya jadi punya spekulasi nggak logis. Nggak ada yang tahu rangkaian sistem pengawas sekolah ini kecuali para staf—dan seorang siswa tertentu, mungkin.”
The Epic bertukar pandang, bertanya-tanya apa maksudnya. Sampai kemudian Niels terhenyak.
“Yang—yang benar saja? Maksud anda—“
Professor Toro mengangkat bahu. “Yah, tapi, kan, itu cuma spekulasi saya doang. Saya nggak bisa membayangkan ada di antara kita yang cukup berani membunuh orang. Professor Douglas, sih, ada kemungkinan, tapi dia nggak pernah kelihatan antusias akan apapun.”
“Professor Douglas?” tanya The Epic berbarengan.
“Lho? Kalian belum pernah diajar dia? Ah, tentu.” Professor Toro menepuk kedua telapak tangannya. “Dia awalnya mengajar Tingkat Dua dan Tiga, tapi kemudian dipindahkan ke Tingkat Satu saat kalian naik ke Tingkat Dua. Tentu, tentu. Ah, tapi nggak usah terlalu dipikirkan, sih. Itu cuma spekulasi saya, kok. Spekulasi! Hahaha!”
Meski begitu, The Epic tetap menaruh ketertarikan tentang apa yang dikatakan Professor Toro. Saat Professor Toro akhirnya pergi, mereka mendiskusikannya.
“Mudah-mudahan itu benar-benar cuma spekulasi, bukan realita.” Niels bergidik. “Spekulasi yang mengerikan.”
“Tapi bukan mustahil juga. Banyak orang dengan wajah tak berdosa tapi dibaliknya adalah pembunuh haus darah,” Clark menimpali. “Seenggaknya untuk membuktikannya memang kita harus tahu dulu apa yang dipakai untuk membunuh Professor Morello. Jadi bagaimana? Sudah ketemu?”
“Apa? Oh, itu.” Niels menggeleng. “Tidak semudah itu. Bukunya memang sudah kupegang, Professor Hummels tidak sulit untuk meminjamkannya, tapi itu pakai bahasa Slovakia. Menerjemahkannya susah, tidak ada daftar isi atau bagan petunjuk apapun. Aku jelas tidak mungkin mengambil secara acak, kan?”
“Kenapa tidak tanyakan saja pada Professor Hummels, kalau begitu? Dia pasti tahu, kan?” gugat Clark.
“Kalau Professor Hummels tahu, dia pasti sudah mengatakannya sejak kemarin,” jawab Niels. “Tidak, aku yakin sejauh ini belum ada yang tahu. Aku harus mencobanya satu persatu.” Niels menggertakkan gigi. “Kuharap bukan yang terakhir. Buku itu tebalnya 800 halaman.”
“Jadi itu alasannya kenapa kau mengurung diri di kamar tiap malam dan menghilang tiap jam istirahat?” sahut Kazuki malas. Dia menyepak buah mangga muda yang jatuh tidak jauh darinya dan tepat masuk ke tong sampah. “Yare yare, usahakan saja percobaan itu tidak ada yang membuatmu meledak.”
“Atau berkepala besar,” timpal Clark.
“Kanker otak.” kata Hendrik.
“Tapi kepalamu sudah besar, sih.”
“Sepertinya karena kanker otak,”
“Bum.”
Lukke op,” gerutu Niels. Kazuki dan Clark tergelak.
Mereka sampai di taman kecil di sebelah timur. Tidak sebesar taman utama, taman ini hanya sedikit lebih luas dari lapangan basket, dengan air mancur mini di tengah yang dikelilingi rumpun bunga dan rumput yang terpangkas rapi. Sebuah kursi panjang pada masing-masing sisi, salah satu yang paling ujung diduduki oleh tukang kebun, Joseph Marst-Svenningsen. Dia tertidur, wajah tirusnya tampak kelelahan.
“Apa yang dia lakukan? Tidur di waktu-waktu begini?” gumam Kazuki tidak suka.
“Mungkin dia benar-benar kelelahan. Kau tahu, kan, seberapa luas sekolah ini?” Niels mengomentari. “Biarkan sajalah, kau sendiri kadang-kadang suka tidur di kelas setelah nonton Liga Champions.”
Kazuki cuma nyengir tak berdosa. Mereka lalu berdebat sesaat mau kemana lagi, sampai kemudian sepakat akan ke kantin. Namun, baru saja The Epic mau masuk ke koridor, ekor mata Niels menangkap sesuatu yang ganjil.
Nyaris luput dari penglihatannya, sesosok bayangan hitam tampak menyelinap di balik pepohonan yang berderet dari arah gerbang selatan, lalu ke pilar laboraturium Alkimia. Sosok itu mengarah ke taman. Niels merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Hei, kalian!” bisik Niels, sembari menarik Clark dan Kazuki merapat ke dinding. Hendrik tidak perlu, dia selalu refleks melakukan apapun yang tiba-tiba dilakukan Niels. Dengan hati-hati, Niels mengintip ke arah taman.
“Apaan, sih? Lihat apa?” bisik Clark tidak sabar, kepalanya dijulurkan ingin melihat, tapi ditahan oleh Niels.
“Psst!” Niels menyipitkan mata. “Diam sebentar.”
Tidak lama kemudian, sosok itu keluar dari balik pilar terdekat dengan Joe. Dia mengenakan jubah hijau tua panjang yang lusuh, dengan tudung menutupi kepalanya dan masker serta kacamata hitam menyembunyikan wajahnya. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain di sana, lalu berjalan menghampiri Joe.
Perasaan Niels makin tidak enak. Apa yang orang itu lakukan di sini? Dari mana dia masuk? Bagaimana bisa?Pikiran-pikiran itu berkelebat di benaknya. Penasaran, dia menekan sisi gagang kanan kacamatanya. Detektor di sebelah lensa sebelah kanan menyala, dan kedua lensa kacanya menjadi monitor. Dengannya, Niels bisa mendeteksi keberadaan benda-benda di balik pakaian seseorang. Dia mengarahkannya ke jubah si penyusup, yang sudah makin dekat dengan Joe.
Jantung Niels berdegup kencang. Penyusup itu membawa dua bilah parang panjang—paling tidak bilahnya sepanjang 40 cm—diselipkan di pinggang. Sekarang, tangan kirinya diselipkan ke balik jubah, menyentuh gagang parangnya...
Instingnya mengambil alih. Niels melompat keluar dari persembunyian dan berseru. “Hei!”
Si penyusup nyaris terlonjak. Teriakan Niels tadi cukup kencang, sampai-sampai Joe sendiri tersentak bangun dari tidurnya, linglung. Ketiga Epic lainnya berdiri di belakang Niels, sama-sama kaget melihat si penyusup.
“Mau apa kau?” tuntut Kazuki.
“Siapa kau?” seru Clark.
“Kau!” Hendrik menunjuk si penyusup.
Joe akhirnya menyadari keberadaan si penyusup, dan demi melihatnya, nyaris terlonjak dari kursi. Si penyusup sendiri menggeram, lalu menyelipkan kedua tangannya ke balik jubah dan mengeluarkan sepasang parangnya, mengacungkannya pada The Epic.
Demi melihat parang itu, Clark terbelalak sekejap, lalu menyadari sesuatu. “Kau!” tunjuknya. “Kau pasti yang menyerangku di asrama dulu!”
Sementara Joe masih tampak bimbang—bimbang? Niels tidak mengerti raut wajah Joe, tidak ada yang mengerti apa yang ada dalam pikirannya—si penyusup meraung dan menyerbu ke arah The Epic. Clark sudah bersiap-siap, tapi Kazuki yang pertama bereaksi.
Kisama!” teriaknya. Dia membanting bola kecil yang diambil dari sakunya ke lantai. Bola itu mengembang menjadi seukuran bola sepak dalam waktu kurang dari sedetik. Kazuki lalu menekan logo Manchester United di sepatu kanannya, membuat sepatunya berdengung pelan.
KORRAAA!!!” Kazuki meraung bersamaan dengan menyepak bola itu keras-keras dengan kaki kanannya. Bola melesat dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan sangat sedikit waktu bagi si penyusup untuk bereaksi, dan tepat menghantam wajahnya. Sepakan tadi pastinya kuat sekali, sampai-sampai si penyusup terjungkir balik, parang terlepas dari tangan. Namun, tidak butuh waktu lama baginya untuk bangun lagi, meski agak terhuyung.
“SERANG!” kali ini Clark yang berteriak. Dia, Kazuki dan Hendrik menyerbu si penyusup sebelum dia sempat mengambil parang.
Tahu kesempatannya berkurang, si penyusup bertindak bijak dengan berusaha kabur, melewati jalan setapak sepi menuju gerbang selatan. The Epic tidak membiarkannya. Niels ikut bergabung mengejar si penyusup, setelah sebelumnya agak bimbang sedikit antara ikut mengejar atau menanyai Joe. Kazuki memimpin, dengan reputasinya sebagai pelari tercepat di CIS. Tidak sampai semenit, mereka tiba di Gerbang Selatan CIS yang mengarah ke lembah dan Taman Biologi. Si penyusup sudah mencapai gerbang yang sepi kecuali oleh satu orang. Staf Keamanan di sana, Ji Dong-Un, berusaha mencegatnya, tapi penyusup itu menjatuhkannya dengan sekali tinju.
“Tunggu kau, bajingan!” raung Clark.
Gerbang tidak berbunyi apa-apa saat si penyusup berlari melewatinya—mengejutkan semua orang—tapi The Epic tidak mau memikirkannya dulu. Mereka terus mengejar, menerobos semak-semak kemana si penyusup kabur. Tidak ada jalan setapak dan tanahnya agak menjorok ke bawah, ditambah agak licin. Hendrik sempat terpeleset, meski untungnya bisa mencengkeram dedaunan di semak-semak—walaupun telapak tangannya jadi agak lecet. Di sisi lain, saat mereka berbelok ke kiri, kaki kiri Clark terperosok ke sebuah lubang.
“Kejar terus! Aku bisa mengatasinya!” seru Clark, meski agak meringis. Ketiga temannya tidak pikir panjang, terus mengejar si penyusup.
Untungnya, si penyusup juga sedikit kesulitan melewati semak-semak lebat seperti ini. Kazuki bisa lebih cepat mengejarnya. Saat tanah kembali menjadi landai dan bebas semak-semak, Kazuki mempercepat larinya. Dia makin dekat dengan si penyusup, yang tampak panik dan sekuat tenaga berusaha menembus rimbunan tanaman perdu tidak terlalu jauh di depannya.
Sial bagi sang penyusup, kakinya terjerat akar belukar lebat di dekat sebuah pohon. Dia menggeram sambil menarik-narik kakinya dengan susah payah. Kazuki melihat kesempatan itu dan menyerbu lebih kencang. Memanfaatkan batang pohon rubuh di depannya, Kazuki bertolak di atasnya dan melompat, menerjang sang penyusup. Saat si penyusup menoleh, Kazuki melepaskan tendangan diagonal yang menyambar sisi kanan kepala lawannya.
Si penyusup melenguh dan roboh. Kazuki mendarat kurang mulus, kaki kirinya jadi sedikit terkilir. Kazuki berjengit, tapi berusaha menghilangkan rasa sakit itu—dia sudah pernah mengalami cedera yang lebih buruk lagi—dan kembali melompat menerjang. Si penyusup tidak punya kesempatan saat Kazuki meninju rahangnya.
Niels dan Hendrik tiba tidak lama setelahnya, dengan Hendrik lebih dulu menarik kerah jubah si penyusup dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu membantingnya kuat-kuat ke batang pohon rubuh. Teriakan nelangsa bergema di lembah seiring punggung si penyusup membentur keras balok kayu.
Clark tiba beberapa saat kemudian, dengan nafas terengah-engah dan tampang meringis, tapi ikut mengambil peran dengan memukuli si penyusup di berbagai bagian tubuhnya. Tidak ketinggalan, dia memelintir tangan kanannya sampai patah, meninggalkan raungan kesakitan sang penyusup yang lebih bergema dibanding sebelumnya. Detik berikutnya, orang itu pingsan.
“Fuah!” Kazuki meludah, lalu melangkah mendekati si penyusup, menatapnya dengan jijik. “Hanya bisa segitu, eh? Kau nggak layak untuk masuk klub Yakuza kelas teri sekalipun.”
Sunyi sejenak, sebelum dipecahkan suara tonggeret dari rimbunan pohon di dekat sana. Niels berjongkok dan menarik tudung si penyusup terbuka, lalu melepas kacamata dan maskernya. Tampaklah wajah seorang laki-laki paruh baya berkulit kecoklatan dan berkumis tebal, matanya terbuka lebar seperti baru saja melihat hantu. Lebam menghiasi sebagian besar wajahnya, tampaknya karena sepakan bola dan kaki Kazuki tadi.
Clark mengamati wajahnya, mengernyit. “Kita nggak membunuhnya, kan?”
“Kau, bukan kita.” koreksi Kazuki. “Kau yang mematahkan tangannya.”
“Tapi kau juga menghajarnya habis-habisan tadi,” balas Clark sengit.
“Kalian, cukup.” Niels menengahi. Dia berdiri dan berkomentar, “Dia hanya pingsan, tentu saja. Dan wajahnya... sepertinya dia orang Indonesia.”
“Apa?” tanya Clark. “Orang negara ini menyerangku di asrama?”
“Belum tentu.” Niels menggeleng. “Siapa yang bisa menjamin orang ini yang menyerangmu dulu? Lagipula dia membawa parang, bukan sabit. Kau juga bilang yang menyerangmu itu tinggi kurus, kan?”
“Itu...” Clark jadi ragu-ragu. Niels menghela nafas dan menyeka keningnya.
“Sekarang kita bawa ke staf keamanan. Dan Joe. Mungkin dia tahu sesuatu.”
Hendrik mengangkut tubuh pingsan di penyusup di bahunya dengan mudah. Niels yang berdiri di belakang Hendrik melihat ada simbol kecil di punggung atas jubah si penyusup. Heran, Niels mengamati simbol itu lebih dekat. Sebuah heksagram unikursal dengan simbol seperti ular yang melingkarinya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Clark.
Niels menggeleng. “Bukan apa-apa. Ayo.”
Dengan susah payah, mereka kembali menerobos semak-semak dan menanjak naik, sesekali tergores dedaunan tajam. Clark menggerutu soal ini, sementara Niels menyuruhnya tidak banyak komplain mengenai alam.
“Bersyukurlah sekolah ini masih menjaga lingkungan alamnya dengan baik,” ketus Niels. “Sydney panasnya seperti neraka, tahu.”
Lima menit kemudian, mereka akhirnya berhasil sampai di jalan setapak dan berjalan kelelahan ke Gerbang Selatan. Di sana, Ji, Haruka Masakawa, Riza Santoso, dan Joe sudah menunggu, berdebat satu sama lain. Saat Riza menengok ke arah The Epic, staf keamanan bertubuh agak tambun itu memberitahu ketiga rekannya dan mereka menghampiri The Epic.
“Kalian berhasil menangkapnya?” mata Riza berbinar-binar melihat tubuh pingsan si penyusup yang dibanting Hendrik begitu saja ke tanah.
“Merepotkan. Kemana kalian?” Hendrik menepuk-nepuk tangannya dengan jengkel.
Gomennasai,” Haruka membungkuk minta maaf, lalu satuan keamanan perempuan ini berjongkok di samping tubuh si penyusup. “Kami kecolongan, dua dari kami ada di Gerbang Utara.”
“Dan rekanmu ini benar-benar nggak berguna,” Clark mendelik pada Ji, yang balas melotot.
Niels teringat sesuatu, lalu berpaling pada Joe. “Joe, apa kau kenal orang ini?”
Joe yang sedari tadi berdiri tanpa ekspresi menunduk, melihat wajah si penyusup. Dua detik kemudian dia menggeleng. “Tidak pernah lihat.”
“Kau yakin?” Niels terpikir ide aneh di kepalanya. “Mungkinkah... dia yang membunuh Professor Morello?”
Hampir semua terkejut mendengar perkataan Niels, tapi Joe dengan sigap menggeleng.
“Kenapa? Dia, kan, bisa menyusup masuk sekolah begitu saja!” Niels menuntut, heran dengan sikap Joe. Kecurigaan baru muncul di kepalanya.
“Pembunuh Professor Morello pasti cerdas sekali.” Joe ikut berjongkok di dekat si penyusup, menatap wajahnya. “Tindakan orang ini bodoh sekali.”
“Lantas bagaimana caranya dia bisa menembus sistem keamanan sekolah?” Kazuki mendelik pada Ji. “Hoe, omae, kenapa orang ini bisa lolos?”
Ji tidak menjawab, hanya membuang muka dengan sebal. Kazuki berdecak dan menggumam dalam bahasa Jepang—tampaknya kasar, sebab Haruka merengut tidak setuju.
“Tetap bukan.” Joe menggeleng lagi. Dia merogoh bagian dalam jubah, mencari-cari sesuatu, lalu menarik keluar sebuah kartu identitas. Kartu Staf milik Dr. Maulana, asisten Laboraturium Alkimia. Dia mengacungkannya pada The Epic. Keempatnya tersentak.
“Benar, dia bisa masuk menggunakan itu. Tapi...” Niels tersentak. “Dr. Maulana!”
Joe mengangguk. “Masakawa, Ji, Santoso, tolong ke Lab Alkimia sekarang.” Ketiganya mengangguk dan buru-buru menghambur ke arah Taman Biologi. Tinggal mereka berlima.
“Kami akan urus orang ini. kalian kembali saja ke kelas. Dan terima kasih.” Kata Joe kaku.
The Epic bertukar pandang satu sama lain, mengangkat bahu, lalu melangkah pergi.
“Satu lagi.” Joe menyela, menghentikan langkah The Epic. “Jangan beritahukan ini pada Kepala Sekolah. Tolong.”
Kazuki mendengus sinis. “Nani? Kepala Sekolah? Ha! Siapa juga yang mau mencari masalah baru? Ano yarou, dia muncul saja sudah cukup jadi masalah besar hari ini.”
“Beruntung kami muncul, Joe. Kalau tidak kau pasti sudah mati.” cetus Clark. “Ayo.”
The Epic meninggalkan Joe yang membisu tanpa ekspresi. Mereka mampir dulu ke toilet, membersihkan pakaian mereka yang kotor dan membasuh lecet-lecet di tubuh mereka.
Seriously, apa yang orang itu pikirkan? Apa dia sudah gila?” tanya Clark saat mereka sudah kembali berjalan ke kelas. “Menyerang orang CIS siang-siang begini? Dan dia punya kartu identitas Dr. Maulana...”
“Dia? Baik-baik saja? Apa?” tanya Hendrik.
“Mudah-mudahan. Seingatku dia harusnya memandu Praktikum Alkimia kelas Posfor di jam ini—Rizki Kurniawan yang memberitahuku—tapi tidak ada kerusuhan apa-apa. Mungkin penyusup itu hanya mencuri kartu identitasnya saja.” Niels berspekulasi.
“Menyerang Joe. Untuk apa? Lagipula.”
“Entahlah. Tapi orang itu tentunya bukan yang mengincarmu kemarin, Clark. Bukan juga yang membunuh Professor Morello.”
“Kau percaya begitu saja apa yang dikatakan Joe?” tanya Kazuki.
Niels mengangkat bahu. “Aku tidak bisa bilang begitu. Tapi apa yang dikatakannya logis juga. Paling tidak aku berspekulasi kalau pembunuh Professor Morello tidak bekerja sendiri. Pasti berkelompok.”
“Kau yakin? Apa berarti anak ini ada kaitannya dengan kasus Professor Morello?” Kazuki menunjuk Clark.
“Apa maksudmu?” tuntut Clark.
“Itu suatu kemungkinan. Tapi kita masih tidak tahu apa kaitannya, jadi sebaiknya tidak usah dipikirkan dulu.”
“Ngomong-ngomong, kau masih yakin mau meminta salinan buku digital itu pada si kembar?” tanya Kazuki malas. “Anak-anak itu selalu bikin repot, tahu.”
“Ya, lakukan saja. Aku yakin itu pasti berguna. Mungkin kita bisa dapat petunjuk soal simbol aneh itu di salinan digitalnya.” Tiba-tiba Niels teringat simbol yang dilihatnya di jubah si penyusup tadi.
Di depan kelas Nasa, mereka berpapasan dengan The Dream Team. Walter melihat kedatangan The Epic dan melemparkan tatapan dingin pada Niels, yang dibalas sama dingin selama beberapa detik, sebelum keduanya membuang muka satu sama lain. The Epic melewati The Dream Team begitu saja, tidak menyadari mereka sedang bicara dengan siswa nyentrik kelas Nasa, Pavel Koutnik.
“Aku ‘gak p’nah li’at,” Pavel menatap simbol di layar iComp Hanifah dengan kening berkerut. Rambut merahnya masih berdiri runcing layaknya landak seperti biasa. “K’lian dapat ini dari mana?”
“Buku,” sahut Walter cepat. “Aku dapat kemarin dari perpustakaan. Kelihatannya aneh, makanya aku tanya.”
Pavel merengut, menatap ketiga orang di depannya tidak yakin. “K’lau k’lian tahu, t’rus mau diapakan?”
Well...” Walter mendelikkan mata ke langit-langit koridor. “Intinya kami ingin tahu apa simbol itu ada hubungannya dengan apa yang kami baca. Soalnya tidak ada keterangan sama sekali. Kau tahulah, Professor Munajat. Dia akan merasa sia-sia mengajar kalau tidak memberikan tugas aneh.”
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Pavel menatap bolak-balik antara layar iComp dan Walter, seolah menimbang-nimbang apakah Walter layak dipercaya atau tidak. Nia, sementara itu, menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Hanifah—apapun itu, Hanifah menggeleng tidak nyaman.
Akhirnya, Pavel menghela nafas dan mengangguk. “Oke, aku akan coba cari. Aku punya rekap data t’ntang ilmu sihir Eropa dari nenek moyangku, dan s’bagian dari Afrika juga Asia.” Dia kembali melirik Walter kaku. “Kau ‘gak akan bantu The Epic, kan? Buat tugas ini?”
“The Epic? Oh, untuk apa aku membantu mereka?” Walter mengangkat bahu.
“Oke,” Pavel mengeluarkan keping iComp dari sakunya dan menyalakannya. “Kirim gambarnya. Oh, untuk t’man k’cilmu ini, tolong kasih ta’u biar ‘gak bicara miring. Cuma kar’na terdengar ‘gak logis, bukan b’arti sihir itu ‘gak ada.”
Nia terkesiap kaget dan menatap Hanifah yang sama bingungnya.
“Itu bukan sihir,” Walter meyakinkan kedua temannya ketika mereka berjalan kembali ke kelas. Sebagian siswa Reiga dan Nasa berlari-lari kecil melewati mereka, tertawa-tawa. “Kudengar dia punya pendengaran diatas normal. Itu saja.”
“Anta yakin?” Hanifah tampak skeptis.
“Memang apa lagi? Simbol itu bisa jadi simbol dari Underworld Citron sendiri. Tanaman itu pertama ditemukan tahun 1372, pada Abad Pertengahan. Tentu ada kemungkinan simbol itu muncul pada masa itu juga. Dan apa lagi yang dianggap mistis pada saat itu kalau bukan ilmu sihir?”
“Aku tidak bisa memercayai orang yang memercayai sihir,” ujar Nia kaku. Dia memeluk buku Metabiologi Lanjut-nya erat-erat. “Aku tetap tidak percaya sihir.”
Walter menghela nafas. “Aku heran kenapa manusia cuma percaya dengan apa yang bisa dilihatnya saja. Percayalah sedikit padanya. Penyakitmu yang suka meremehkan itu menyedihkan, kau tahu. Omong-omong, kalau kau begitu terus dalam waktu dua bulan, bisa-bisa kau jadi psikopat. Mau kubantu carikan dokter saraf yang handal?”
Nia memberikan Walter tatapan beracun. 

0 comments:

Post a Comment