Lima hari berlalu setelah pemakaman
Professor Morello.
Hari
itu, seharusnya kelas Kompas belajar Metabiologi. Namun, belum adanya guru baru
untuk menggantikan Professor Morello membuat kelas pagi itu kosong. Maribel
masih tampak murung, meski tidak separah sebelumnya. Sementara, Mudiwa membuat
puisi norak soal kesedihannya ditinggal guru kesayangannya untuk hari kelima berturut-turut
dan membacakannya dengan mendayu-dayu di depan kelas. The Great M patah
semangat mendengarnya, juga tidak luput dari ocehan pedas The K-Rocks.
“Lagi-lagi
ribut tidak penting,” gerutu Clark, melihat The K-Rocks dan The Great M
bertengkar lagi di depan kelas. “Mereka punya berapa ratus mulut, sih?”
“Tebak
sendiri,” timpal Niels bosan. Matanya agak merah, seolah tidak tidur semalaman.
“Tsumaranai...” keluh Kazuki. Dia
melompat berdiri dari kursi sambil dengan sengaja mengentakkan kaki di lantai keras-keras,
sedikit mengalihkan perhatian kedua kelompok yang berseteru. “Ayo keluar.
Kepalaku bisa meledak kalau terus diam di sini.” Ujarnya sambil melangkah
bosan. Ketiga temannya bertukar pandang setuju, lalu mengikuti Kazuki.
“Kazuki-sempai,
mau kemana, nich?” Mudiwa setengah bertanya-setengah menggoda. Di sampingnya,
Malvina dan Katrijn menggumamkan jengkel tentang ‘belagu’. Telinga Kazuki jadi panas.
“Urusai, kisamatachi.” tukasnya kaku.
Tiffany
dan Malvina yang mengerti artinya naik darah. “Bilang apa tadi?!”
Kazuki
melemparkan tatapan dingin ke kedua perempuan, memercikkan ketegangan sejenak
di udara. Tapi tampaknya Kazuki tidak berminat menanggapi mereka terlalu jauh,
dia hanya memberi isyarat pada ketiga temannya untuk pergi sambil menggumam, “Kozo yarou.”
The
Epic tidak menoleh ke belakang lagi sampai mereka keluar kelas, meski Malvina
dan Tiffany meneriaki Kazuki dengan bahasa Rusia dan Korea kasar. Kazuki
mengerti apa arti makian mereka, tapi kebosanannya mengalahkan kekesalannya.
“Mereka
bicara apa, sih?” tanya Clark, melirik sekilas ke belakangnya. “Kedengaran
seperti bahasa dari Neptunus.”
Hendrik
merengut. “Neptunus? Manusia? Eksis? Alien?”
“Yare yare, Hendrik-chan.” Kazuki menimpali, nyengir sejenak. “Kau bukan anak SD yang
terjebak di tubuh anak SMA, kan?”
“Barangkali
SMP,” Clark mengangkat bahu.
“Bukan,
SD,” komentar Niels.
“TK,”
“Playgroup,”
“Ada
yang lebih rendah lagi?”
Niels,
Kazuki dan Clark tergelak. Hendrik mendengus kuat-kuat, gusar.
Mereka
menyusuri koridor timur, berpapasan dengan beberapa siswa Tingkat Dua yang juga
jadwalnya kosong. Bahkan mereka bertemu juga dengan Professor Toro, guru Sistem
Informasi dan Teknologi yang memiliki perut buncit dan kepala nyaris botak
dengan antusiasme berlebih. Untungnya dia bukan guru yang ketat mengenai
jadwal, jadi dia tidak mempermasalahkan keberadaan The Epic di luar kelas pada
saat itu. The Epic menyapanya dengan semangat, sambil Kazuki menyindir masalah
taruhan sepakbola yang lagi-lagi gagal dimenangkannya.
“Entahlah,
rasanya saya nggak pernah beruntung soal tebak menebak,” kekehnya. “Saya yakin
saya nggak bisa jadi pebisnis saat sudah pensiun nanti, pasti saya nggak bisa
nebak pasar!”
“Omong-omong,
itu tebakan Anda juga, bukan?” sahut Clark. “Saya taruhan Anda juga salah dalam
menebak masa depan Anda ini.”
Mereka
tergelak.
“Professor,
bagaimana soal penyelidikan sistem pengawasan? Apa Anda sudah menemukan sesuatu
yang aneh?” tanya Niels, mendadak teringat dengan siapa mereka bicara.
Raut
wajah Professor Toro mengeras. “Entahlah. Saya baru menemukan ada sedikit
gangguan di sistem kamera pada hari kejadian. Seperti ada bug yang mengalihkan tampilan sistem pengawasan di depan ruang
Professor Morello ke kamera di koridor Timur,” Professor Toro menunjuk ruang
guru di lantai dua tidak jauh di belakangnya. “Saya nggak tahu apa itu yang
bikin Professor Morello kurang awas terhadap apapun yang mengancamnya, tapi
saya khawatir saya jadi punya spekulasi nggak logis. Nggak ada yang tahu
rangkaian sistem pengawas sekolah ini kecuali para staf—dan seorang siswa
tertentu, mungkin.”
The
Epic bertukar pandang, bertanya-tanya apa maksudnya. Sampai kemudian Niels terhenyak.
“Yang—yang
benar saja? Maksud anda—“
Professor
Toro mengangkat bahu. “Yah, tapi, kan, itu cuma spekulasi saya doang. Saya
nggak bisa membayangkan ada di antara kita yang cukup berani membunuh orang.
Professor Douglas, sih, ada kemungkinan, tapi dia nggak pernah kelihatan
antusias akan apapun.”
“Professor
Douglas?” tanya The Epic berbarengan.
“Lho?
Kalian belum pernah diajar dia? Ah, tentu.” Professor Toro menepuk kedua
telapak tangannya. “Dia awalnya mengajar Tingkat Dua dan Tiga, tapi kemudian
dipindahkan ke Tingkat Satu saat kalian naik ke Tingkat Dua. Tentu, tentu. Ah,
tapi nggak usah terlalu dipikirkan, sih. Itu cuma spekulasi saya, kok.
Spekulasi! Hahaha!”
Meski
begitu, The Epic tetap menaruh ketertarikan tentang apa yang dikatakan
Professor Toro. Saat Professor Toro akhirnya pergi, mereka mendiskusikannya.
“Mudah-mudahan
itu benar-benar cuma spekulasi, bukan realita.” Niels bergidik. “Spekulasi yang
mengerikan.”
“Tapi
bukan mustahil juga. Banyak orang dengan wajah tak berdosa tapi dibaliknya
adalah pembunuh haus darah,” Clark menimpali. “Seenggaknya untuk membuktikannya
memang kita harus tahu dulu apa yang dipakai untuk membunuh Professor Morello.
Jadi bagaimana? Sudah ketemu?”
“Apa?
Oh, itu.” Niels menggeleng. “Tidak semudah itu. Bukunya memang sudah kupegang,
Professor Hummels tidak sulit untuk meminjamkannya, tapi itu pakai bahasa Slovakia.
Menerjemahkannya susah, tidak ada daftar isi atau bagan petunjuk apapun. Aku
jelas tidak mungkin mengambil secara acak, kan?”
“Kenapa
tidak tanyakan saja pada Professor Hummels, kalau begitu? Dia pasti tahu, kan?”
gugat Clark.
“Kalau
Professor Hummels tahu, dia pasti sudah mengatakannya sejak kemarin,” jawab Niels.
“Tidak, aku yakin sejauh ini belum ada yang tahu. Aku harus mencobanya satu
persatu.” Niels menggertakkan gigi. “Kuharap bukan yang terakhir. Buku itu
tebalnya 800 halaman.”
“Jadi
itu alasannya kenapa kau mengurung diri di kamar tiap malam dan menghilang tiap
jam istirahat?” sahut Kazuki malas. Dia menyepak buah mangga muda yang jatuh
tidak jauh darinya dan tepat masuk ke tong sampah. “Yare yare, usahakan saja percobaan itu tidak ada yang membuatmu
meledak.”
“Atau
berkepala besar,” timpal Clark.
“Kanker
otak.” kata Hendrik.
“Tapi
kepalamu sudah besar, sih.”
“Sepertinya
karena kanker otak,”
“Bum.”
“Lukke op,” gerutu Niels. Kazuki dan
Clark tergelak.
Mereka
sampai di taman kecil di sebelah timur. Tidak sebesar taman utama, taman ini
hanya sedikit lebih luas dari lapangan basket, dengan air mancur mini di tengah
yang dikelilingi rumpun bunga dan rumput yang terpangkas rapi. Sebuah kursi
panjang pada masing-masing sisi, salah satu yang paling ujung diduduki oleh
tukang kebun, Joseph Marst-Svenningsen. Dia tertidur, wajah tirusnya tampak
kelelahan.
“Apa
yang dia lakukan? Tidur di waktu-waktu begini?” gumam Kazuki tidak suka.
“Mungkin
dia benar-benar kelelahan. Kau tahu, kan, seberapa luas sekolah ini?” Niels mengomentari.
“Biarkan sajalah, kau sendiri kadang-kadang suka tidur di kelas setelah nonton
Liga Champions.”
Kazuki
cuma nyengir tak berdosa. Mereka lalu berdebat sesaat mau kemana lagi, sampai kemudian
sepakat akan ke kantin. Namun, baru saja The Epic mau masuk ke koridor, ekor
mata Niels menangkap sesuatu yang ganjil.
Nyaris
luput dari penglihatannya, sesosok bayangan hitam tampak menyelinap di balik
pepohonan yang berderet dari arah gerbang selatan, lalu ke pilar laboraturium
Alkimia. Sosok itu mengarah ke taman. Niels merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Hei,
kalian!” bisik Niels, sembari menarik Clark dan Kazuki merapat ke dinding. Hendrik
tidak perlu, dia selalu refleks melakukan apapun yang tiba-tiba dilakukan Niels.
Dengan hati-hati, Niels mengintip ke arah taman.
“Apaan,
sih? Lihat apa?” bisik Clark tidak sabar, kepalanya dijulurkan ingin melihat,
tapi ditahan oleh Niels.
“Psst!”
Niels menyipitkan mata. “Diam sebentar.”
Tidak
lama kemudian, sosok itu keluar dari balik pilar terdekat dengan Joe. Dia
mengenakan jubah hijau tua panjang yang lusuh, dengan tudung menutupi kepalanya
dan masker serta kacamata hitam menyembunyikan wajahnya. Kepalanya menoleh ke
kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain di sana, lalu berjalan menghampiri
Joe.
Perasaan
Niels makin tidak enak. Apa yang orang
itu lakukan di sini? Dari mana dia masuk? Bagaimana bisa?Pikiran-pikiran
itu berkelebat di benaknya. Penasaran, dia menekan sisi gagang kanan
kacamatanya. Detektor di sebelah lensa sebelah kanan menyala, dan kedua lensa
kacanya menjadi monitor. Dengannya, Niels bisa mendeteksi keberadaan
benda-benda di balik pakaian seseorang. Dia mengarahkannya ke jubah si penyusup,
yang sudah makin dekat dengan Joe.
Jantung
Niels berdegup kencang. Penyusup itu membawa dua bilah parang panjang—paling
tidak bilahnya sepanjang 40 cm—diselipkan di pinggang. Sekarang, tangan kirinya
diselipkan ke balik jubah, menyentuh gagang parangnya...
Instingnya
mengambil alih. Niels melompat keluar dari persembunyian dan berseru. “Hei!”
Si
penyusup nyaris terlonjak. Teriakan Niels tadi cukup kencang, sampai-sampai Joe
sendiri tersentak bangun dari tidurnya, linglung. Ketiga Epic lainnya berdiri
di belakang Niels, sama-sama kaget melihat si penyusup.
“Mau
apa kau?” tuntut Kazuki.
“Siapa
kau?” seru Clark.
“Kau!”
Hendrik menunjuk si penyusup.
Joe
akhirnya menyadari keberadaan si penyusup, dan demi melihatnya, nyaris
terlonjak dari kursi. Si penyusup sendiri menggeram, lalu menyelipkan kedua
tangannya ke balik jubah dan mengeluarkan sepasang parangnya, mengacungkannya
pada The Epic.
Demi
melihat parang itu, Clark terbelalak sekejap, lalu menyadari sesuatu. “Kau!”
tunjuknya. “Kau pasti yang menyerangku di asrama dulu!”
Sementara
Joe masih tampak bimbang—bimbang? Niels
tidak mengerti raut wajah Joe, tidak ada yang mengerti apa yang ada dalam
pikirannya—si penyusup meraung dan menyerbu ke arah The Epic. Clark sudah
bersiap-siap, tapi Kazuki yang pertama bereaksi.
“Kisama!” teriaknya. Dia membanting bola
kecil yang diambil dari sakunya ke lantai. Bola itu mengembang menjadi seukuran
bola sepak dalam waktu kurang dari sedetik. Kazuki lalu menekan logo Manchester
United di sepatu kanannya, membuat sepatunya berdengung pelan.
“KORRAAA!!!” Kazuki meraung bersamaan
dengan menyepak bola itu keras-keras dengan kaki kanannya. Bola melesat dengan
kecepatan luar biasa, meninggalkan sangat sedikit waktu bagi si penyusup untuk
bereaksi, dan tepat menghantam wajahnya. Sepakan tadi pastinya kuat sekali,
sampai-sampai si penyusup terjungkir balik, parang terlepas dari tangan. Namun,
tidak butuh waktu lama baginya untuk bangun lagi, meski agak terhuyung.
“SERANG!”
kali ini Clark yang berteriak. Dia, Kazuki dan Hendrik menyerbu si penyusup
sebelum dia sempat mengambil parang.
Tahu
kesempatannya berkurang, si penyusup bertindak bijak dengan berusaha kabur,
melewati jalan setapak sepi menuju gerbang selatan. The Epic tidak
membiarkannya. Niels ikut bergabung mengejar si penyusup, setelah sebelumnya
agak bimbang sedikit antara ikut mengejar atau menanyai Joe. Kazuki memimpin, dengan
reputasinya sebagai pelari tercepat di CIS. Tidak sampai semenit, mereka tiba
di Gerbang Selatan CIS yang mengarah ke lembah dan Taman Biologi. Si penyusup
sudah mencapai gerbang yang sepi kecuali oleh satu orang. Staf Keamanan di sana,
Ji Dong-Un, berusaha mencegatnya, tapi penyusup itu menjatuhkannya dengan
sekali tinju.
“Tunggu
kau, bajingan!” raung Clark.
Gerbang
tidak berbunyi apa-apa saat si penyusup berlari melewatinya—mengejutkan semua
orang—tapi The Epic tidak mau memikirkannya dulu. Mereka terus mengejar,
menerobos semak-semak kemana si penyusup kabur. Tidak ada jalan setapak dan
tanahnya agak menjorok ke bawah, ditambah agak licin. Hendrik sempat
terpeleset, meski untungnya bisa mencengkeram dedaunan di semak-semak—walaupun
telapak tangannya jadi agak lecet. Di sisi lain, saat mereka berbelok ke kiri,
kaki kiri Clark terperosok ke sebuah lubang.
“Kejar
terus! Aku bisa mengatasinya!” seru Clark, meski agak meringis. Ketiga temannya
tidak pikir panjang, terus mengejar si penyusup.
Untungnya,
si penyusup juga sedikit kesulitan melewati semak-semak lebat seperti ini.
Kazuki bisa lebih cepat mengejarnya. Saat tanah kembali menjadi landai dan
bebas semak-semak, Kazuki mempercepat larinya. Dia makin dekat dengan si
penyusup, yang tampak panik dan sekuat tenaga berusaha menembus rimbunan
tanaman perdu tidak terlalu jauh di depannya.
Sial
bagi sang penyusup, kakinya terjerat akar belukar lebat di dekat sebuah pohon. Dia
menggeram sambil menarik-narik kakinya dengan susah payah. Kazuki melihat
kesempatan itu dan menyerbu lebih kencang. Memanfaatkan batang pohon rubuh di
depannya, Kazuki bertolak di atasnya dan melompat, menerjang sang penyusup.
Saat si penyusup menoleh, Kazuki melepaskan tendangan diagonal yang menyambar
sisi kanan kepala lawannya.
Si
penyusup melenguh dan roboh. Kazuki mendarat kurang mulus, kaki kirinya jadi
sedikit terkilir. Kazuki berjengit, tapi berusaha menghilangkan rasa sakit
itu—dia sudah pernah mengalami cedera yang lebih buruk lagi—dan kembali
melompat menerjang. Si penyusup tidak punya kesempatan saat Kazuki meninju
rahangnya.
Niels
dan Hendrik tiba tidak lama setelahnya, dengan Hendrik lebih dulu menarik kerah
jubah si penyusup dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu
membantingnya kuat-kuat ke batang pohon rubuh. Teriakan nelangsa bergema di
lembah seiring punggung si penyusup membentur keras balok kayu.
Clark
tiba beberapa saat kemudian, dengan nafas terengah-engah dan tampang meringis,
tapi ikut mengambil peran dengan memukuli si penyusup di berbagai bagian tubuhnya.
Tidak ketinggalan, dia memelintir tangan kanannya sampai patah, meninggalkan
raungan kesakitan sang penyusup yang lebih bergema dibanding sebelumnya. Detik
berikutnya, orang itu pingsan.
“Fuah!”
Kazuki meludah, lalu melangkah mendekati si penyusup, menatapnya dengan jijik.
“Hanya bisa segitu, eh? Kau nggak layak untuk masuk klub Yakuza kelas teri
sekalipun.”
Sunyi
sejenak, sebelum dipecahkan suara tonggeret dari rimbunan pohon di dekat sana. Niels
berjongkok dan menarik tudung si penyusup terbuka, lalu melepas kacamata dan
maskernya. Tampaklah wajah seorang laki-laki paruh baya berkulit kecoklatan dan
berkumis tebal, matanya terbuka lebar seperti baru saja melihat hantu. Lebam
menghiasi sebagian besar wajahnya, tampaknya karena sepakan bola dan kaki Kazuki
tadi.
Clark
mengamati wajahnya, mengernyit. “Kita nggak membunuhnya, kan?”
“Kau,
bukan kita.” koreksi Kazuki. “Kau yang mematahkan tangannya.”
“Tapi
kau juga menghajarnya habis-habisan tadi,” balas Clark sengit.
“Kalian,
cukup.” Niels menengahi. Dia berdiri dan berkomentar, “Dia hanya pingsan, tentu
saja. Dan wajahnya... sepertinya dia orang Indonesia.”
“Apa?”
tanya Clark. “Orang negara ini menyerangku di asrama?”
“Belum
tentu.” Niels menggeleng. “Siapa yang bisa menjamin orang ini yang menyerangmu
dulu? Lagipula dia membawa parang, bukan sabit. Kau juga bilang yang
menyerangmu itu tinggi kurus, kan?”
“Itu...”
Clark jadi ragu-ragu. Niels menghela nafas dan menyeka keningnya.
“Sekarang
kita bawa ke staf keamanan. Dan Joe. Mungkin dia tahu sesuatu.”
Hendrik
mengangkut tubuh pingsan di penyusup di bahunya dengan mudah. Niels yang
berdiri di belakang Hendrik melihat ada simbol kecil di punggung atas jubah si
penyusup. Heran, Niels mengamati simbol itu lebih dekat. Sebuah heksagram unikursal
dengan simbol seperti ular yang melingkarinya.
“Apa
yang kau lihat?” tanya Clark.
Niels
menggeleng. “Bukan apa-apa. Ayo.”
Dengan
susah payah, mereka kembali menerobos semak-semak dan menanjak naik, sesekali
tergores dedaunan tajam. Clark menggerutu soal ini, sementara Niels menyuruhnya
tidak banyak komplain mengenai alam.
“Bersyukurlah
sekolah ini masih menjaga lingkungan alamnya dengan baik,” ketus Niels. “Sydney
panasnya seperti neraka, tahu.”
Lima
menit kemudian, mereka akhirnya berhasil sampai di jalan setapak dan berjalan
kelelahan ke Gerbang Selatan. Di sana, Ji, Haruka Masakawa, Riza Santoso, dan
Joe sudah menunggu, berdebat satu sama lain. Saat Riza menengok ke arah The
Epic, staf keamanan bertubuh agak tambun itu memberitahu ketiga rekannya dan
mereka menghampiri The Epic.
“Kalian
berhasil menangkapnya?” mata Riza berbinar-binar melihat tubuh pingsan si
penyusup yang dibanting Hendrik begitu saja ke tanah.
“Merepotkan.
Kemana kalian?” Hendrik menepuk-nepuk tangannya dengan jengkel.
“Gomennasai,” Haruka membungkuk minta
maaf, lalu satuan keamanan perempuan ini berjongkok di samping tubuh si
penyusup. “Kami kecolongan, dua dari kami ada di Gerbang Utara.”
“Dan
rekanmu ini benar-benar nggak berguna,” Clark mendelik pada Ji, yang balas
melotot.
Niels
teringat sesuatu, lalu berpaling pada Joe. “Joe, apa kau kenal orang ini?”
Joe
yang sedari tadi berdiri tanpa ekspresi menunduk, melihat wajah si penyusup.
Dua detik kemudian dia menggeleng. “Tidak pernah lihat.”
“Kau
yakin?” Niels terpikir ide aneh di kepalanya. “Mungkinkah... dia yang membunuh
Professor Morello?”
Hampir
semua terkejut mendengar perkataan Niels, tapi Joe dengan sigap menggeleng.
“Kenapa?
Dia, kan, bisa menyusup masuk sekolah begitu saja!” Niels menuntut, heran
dengan sikap Joe. Kecurigaan baru muncul di kepalanya.
“Pembunuh
Professor Morello pasti cerdas sekali.” Joe ikut berjongkok di dekat si
penyusup, menatap wajahnya. “Tindakan orang ini bodoh sekali.”
“Lantas bagaimana caranya dia bisa menembus sistem
keamanan sekolah?” Kazuki mendelik pada Ji. “Hoe, omae, kenapa orang ini bisa lolos?”
Ji tidak menjawab, hanya membuang muka dengan sebal.
Kazuki berdecak dan menggumam dalam bahasa Jepang—tampaknya kasar, sebab Haruka
merengut tidak setuju.
“Tetap bukan.” Joe menggeleng lagi. Dia merogoh bagian
dalam jubah, mencari-cari sesuatu, lalu menarik keluar sebuah kartu identitas.
Kartu Staf milik Dr. Maulana, asisten Laboraturium Alkimia. Dia mengacungkannya
pada The Epic. Keempatnya tersentak.
“Benar, dia bisa masuk menggunakan itu. Tapi...” Niels tersentak.
“Dr. Maulana!”
Joe mengangguk. “Masakawa, Ji, Santoso, tolong ke Lab
Alkimia sekarang.” Ketiganya mengangguk dan buru-buru menghambur ke arah Taman
Biologi. Tinggal mereka berlima.
“Kami
akan urus orang ini. kalian kembali saja ke kelas. Dan terima kasih.” Kata Joe
kaku.
The
Epic bertukar pandang satu sama lain, mengangkat bahu, lalu melangkah pergi.
“Satu
lagi.” Joe menyela, menghentikan langkah The Epic. “Jangan beritahukan ini pada
Kepala Sekolah. Tolong.”
Kazuki
mendengus sinis. “Nani? Kepala
Sekolah? Ha! Siapa juga yang mau mencari masalah baru? Ano yarou, dia muncul saja sudah cukup jadi masalah besar hari
ini.”
“Beruntung
kami muncul, Joe. Kalau tidak kau pasti sudah mati.” cetus Clark. “Ayo.”
The
Epic meninggalkan Joe yang membisu tanpa ekspresi. Mereka mampir dulu ke
toilet, membersihkan pakaian mereka yang kotor dan membasuh lecet-lecet di
tubuh mereka.
“Seriously, apa yang orang itu pikirkan?
Apa dia sudah gila?” tanya Clark saat mereka sudah kembali berjalan ke kelas. “Menyerang
orang CIS siang-siang begini? Dan dia punya kartu identitas Dr. Maulana...”
“Dia?
Baik-baik saja? Apa?” tanya Hendrik.
“Mudah-mudahan.
Seingatku dia harusnya memandu Praktikum Alkimia kelas Posfor di jam ini—Rizki
Kurniawan yang memberitahuku—tapi tidak ada kerusuhan apa-apa. Mungkin penyusup
itu hanya mencuri kartu identitasnya saja.” Niels berspekulasi.
“Menyerang
Joe. Untuk apa? Lagipula.”
“Entahlah.
Tapi orang itu tentunya bukan yang mengincarmu kemarin, Clark. Bukan juga yang
membunuh Professor Morello.”
“Kau
percaya begitu saja apa yang dikatakan Joe?” tanya Kazuki.
Niels
mengangkat bahu. “Aku tidak bisa bilang begitu. Tapi apa yang dikatakannya
logis juga. Paling tidak aku berspekulasi kalau pembunuh Professor Morello
tidak bekerja sendiri. Pasti berkelompok.”
“Kau
yakin? Apa berarti anak ini ada kaitannya dengan kasus Professor Morello?”
Kazuki menunjuk Clark.
“Apa
maksudmu?” tuntut Clark.
“Itu
suatu kemungkinan. Tapi kita masih tidak tahu apa kaitannya, jadi sebaiknya
tidak usah dipikirkan dulu.”
“Ngomong-ngomong,
kau masih yakin mau meminta salinan buku digital itu pada si kembar?” tanya
Kazuki malas. “Anak-anak itu selalu bikin repot, tahu.”
“Ya,
lakukan saja. Aku yakin itu pasti berguna. Mungkin kita bisa dapat petunjuk
soal simbol aneh itu di salinan digitalnya.” Tiba-tiba Niels teringat simbol
yang dilihatnya di jubah si penyusup tadi.
Di
depan kelas Nasa, mereka berpapasan dengan The Dream Team. Walter melihat
kedatangan The Epic dan melemparkan tatapan dingin pada Niels, yang dibalas
sama dingin selama beberapa detik, sebelum keduanya membuang muka satu sama
lain. The Epic melewati The Dream Team begitu saja, tidak menyadari mereka sedang
bicara dengan siswa nyentrik kelas Nasa, Pavel Koutnik.
“Aku
‘gak p’nah li’at,” Pavel menatap simbol di layar iComp Hanifah dengan kening
berkerut. Rambut merahnya masih berdiri runcing layaknya landak seperti biasa. “K’lian
dapat ini dari mana?”
“Buku,”
sahut Walter cepat. “Aku dapat kemarin dari perpustakaan. Kelihatannya aneh,
makanya aku tanya.”
Pavel
merengut, menatap ketiga orang di depannya tidak yakin. “K’lau k’lian tahu,
t’rus mau diapakan?”
“Well...” Walter mendelikkan mata ke
langit-langit koridor. “Intinya kami ingin tahu apa simbol itu ada hubungannya
dengan apa yang kami baca. Soalnya tidak ada keterangan sama sekali. Kau
tahulah, Professor Munajat. Dia akan merasa sia-sia mengajar kalau tidak
memberikan tugas aneh.”
Tidak
ada yang bicara selama beberapa saat. Pavel menatap bolak-balik antara layar
iComp dan Walter, seolah menimbang-nimbang apakah Walter layak dipercaya atau
tidak. Nia, sementara itu, menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh
Hanifah—apapun itu, Hanifah menggeleng tidak nyaman.
Akhirnya,
Pavel menghela nafas dan mengangguk. “Oke, aku akan coba cari. Aku punya rekap
data t’ntang ilmu sihir Eropa dari nenek moyangku, dan s’bagian dari Afrika
juga Asia.” Dia kembali melirik Walter kaku. “Kau ‘gak akan bantu The Epic,
kan? Buat tugas ini?”
“The
Epic? Oh, untuk apa aku membantu mereka?” Walter mengangkat bahu.
“Oke,”
Pavel mengeluarkan keping iComp dari sakunya dan menyalakannya. “Kirim
gambarnya. Oh, untuk t’man k’cilmu ini, tolong kasih ta’u biar ‘gak bicara
miring. Cuma kar’na terdengar ‘gak logis, bukan b’arti sihir itu ‘gak ada.”
Nia
terkesiap kaget dan menatap Hanifah yang sama bingungnya.
“Itu
bukan sihir,” Walter meyakinkan kedua temannya ketika mereka berjalan kembali
ke kelas. Sebagian siswa Reiga dan Nasa berlari-lari kecil melewati mereka,
tertawa-tawa. “Kudengar dia punya pendengaran diatas normal. Itu saja.”
“Anta
yakin?” Hanifah tampak skeptis.
“Memang
apa lagi? Simbol itu bisa jadi simbol dari Underworld Citron sendiri. Tanaman
itu pertama ditemukan tahun 1372, pada Abad Pertengahan. Tentu ada kemungkinan
simbol itu muncul pada masa itu juga. Dan apa lagi yang dianggap mistis pada
saat itu kalau bukan ilmu sihir?”
“Aku
tidak bisa memercayai orang yang memercayai sihir,” ujar Nia kaku. Dia memeluk
buku Metabiologi Lanjut-nya erat-erat. “Aku tetap tidak percaya sihir.”
Walter
menghela nafas. “Aku heran kenapa manusia cuma percaya dengan apa yang bisa
dilihatnya saja. Percayalah sedikit padanya. Penyakitmu yang suka meremehkan
itu menyedihkan, kau tahu. Omong-omong, kalau kau begitu terus dalam waktu dua
bulan, bisa-bisa kau jadi psikopat. Mau kubantu carikan dokter saraf yang
handal?”
Nia memberikan Walter tatapan beracun.


0 comments:
Post a Comment