Saturday, 20 January 2018

The Crest of Five, Episode 11

Professor Delaware sedang mencari data laporan di lemari di ruangannya saat terdengar bunyi notifikasi e-mail masuk dari iComp-nya. Dia segera memburu iComp di meja kerjanya dan membuka pesan itu. Dari Komite Sekolah. Membaca isinya, kening Professor Delaware berkerut.
“Benarkah? Cepat sekali, kukira akan butuh waktu setidaknya sebulan.” gumamnya. Professor Delaware duduk dan mengetik pesan baru, lalu mengirimnya ke alamat lain. Beberapa saat kemudian, muncul pesan balasan.
“Memang begitu, ya?” Professor Delaware menghela nafas. “Baguslah. Berjalan sesuai rencana. Anak muda itu memang bisa diandalkan,” dia termenung sejenak. “Atau mungkin memang jujur.”
Sekali lagi, Professor Delaware mengetik pesan baru. Kali ini berupa surat perintah resmi. Dia menggoreskan tanda tangannya di layar monitor, lalu mengirimnya pada alamat baru. Matanya menatap layar iComp dengan gugup.
“Berhati-hatilah...” gumamnya.
***
Sudah dua minggu setelah kematian Professor Morello.
Hari itu, kelas Metabiologi masih kosong. Sampai saat itu, pihak sekolah belum juga menentukan guru baru untuk mengisi kelas Metabiologi. Para ketua kelas Klaster Sains berembug mengajukan Professor Kurniati, yang mengajar Metabiologi Tingkat Satu, agar mengisi kelas mereka untuk sementara. Tapi pihak sekolah menolaknya, seraya mengingatkan soal usia Professor Kurniati yang tidak lagi muda. Ketua kelas Posfor, Vivi Anggraini, mengajukan asisten Professor Morello, Sabilah Al Samarqandi, tapi pihak sekolah masih dalam tahap pertimbangan.
Walhasil, jam kosong itu dipakai para siswa Kompas untuk mendiskusikan mengenai progres penyelidikan mereka—kecuali The K-Rocks yang asyik menonton streaming konser SNSG yang sedang tampil di Kanada.
“Pavel bilang dia belum tahu,” kata Walter. “Ada lebih dari sepuluh ribu simbol yang harus diperiksanya. Jelas bukan pekerjaan gampang.”
“Sepuluh ribu? Yang benar?” tanya Nia, matanya terbelalak. Dia sudah kembali ke mode happy-go-lucky-nya dua hari yang lalu. “Ya ampun, aku sih nggak bakal kuat mencari satu simbol dari segitu banyaknya. Ckckck.”
“Bagaimana dengan kain yang anta temukan?” tanya Hanifah, matanya tidak lepas dari iComp-nya.
Walter menggeleng. “Aku belum bisa memastikan apa bahannya. Seratnya unik dan kuat. Tidak mungkin robek tanpa menggunakan benda super tajam, pisau biasa tidak akan cukup.”
“Kain jubah staf sekolah, mungkin?” usul Nia. “Dari jubah Professor Morello?”
Akukho. Aku sudah cek sendiri ke rumah sakit, dan jubahnya utuh. Tapi soal kain staf sekolah, aku memang menduga kesana. Sayangnya, aku tidak tahu apa bahannya.” kata Walter.
“Kenapa harus cari tahu bahannya juga? Kan bisa dibandingkan saja dengan kain jubah Professor Morello.”
“Tidak semudah itu. Kalau itu bukan bahan khusus yang dipesan custom oleh sekolah, artinya kemungkinan pelakunya masih lebar. Dan aku ragu ada staf sekolah yang mau capek-capek mencari tahu material pembentuk jubah mereka. Aku hanya tahu jubah ini dibuat di daerah Pekalongan, jadi aku coba mencari info di daerah sana,” dia menoleh ke Hanifah. “Atau kau saja yang mencari?”
“Terserah,” jawab Hanifah datar. “Kalau anta sudah tahu bahannya dan cocok dengan yang bahan pembentuk kain jubah staf, setidaknya kita tahu, kalau pembunuh Professor Morello adalah orang dalam sekolah.”
Udara di sekitar mereka menegang. Nia menggeliat gelisah, sementara Walter dan Hanifah tertunduk diam. Kemungkinan itu terasa mengerikan, bahkan bagi mereka.
Di sisi lain, The Epic membicarakan masalah kemungkinan-kemungkinan siapa pembunuh Professor Morello secara acak, mulai dari kriminal internasional Vladislav Ignashevich sampai pembobol kelas dunia Shane Forthstander. Tapi tidak ada dari mereka yang mendekati logis.
“Bagaimana soal orang-orang yang kau tanyai, Hendrik? Ada informasi?” tanya Niels.
Hendrik menggeleng. “Jarvado. Suarez. Haryanto. Cuma mereka. Bisa diandalkan. Tahu simbologi. Tapi belum. Belum ada informasi baru. Masih mencari. Mungkin.”
“Sebastian, ya.” Niels mengetuk-ngetuk dagunya. “Jaringan informasinya memang banyak, tapi aku tidak tahu kalau dia punya pengetahuan soal simbolog—”
Tiba-tiba pintu kelas bergeser terbuka dan masuklah seorang guru laki-laki berpostur jangkung yang mengenakan kacamata. Rambut hitamnya berantakan, seolah dia tidak mau repot-repot merapikannya. Jubah biru gelapnya nyaris hitam, serasi dengan matanya yang biru kelam nan tajam. Dia duduk di kursi guru dan menyalakan iComp-nya—layarnya teriluminasi biru alih-alih hijau. Para siswa Kompas mendadak bengong.
“Kepala sekolah baru memberi tahu saya delapan menit yang lalu. Jadi saya terlambat,” kata guru itu tanpa menoleh kepada siswanya.
The K-Rocks dan The Great M berbisik-bisik, sementara Walter mengambil inisiatif bertanya.
“Maaf, Professor. Apa Anda—”
“Ya, saya guru Metabiologi kalian yang baru,” potong guru itu. Seisi kelas sontak terkejut. Sang guru mengeluarkan Laser Painter dari saku jubahnya dan menulis namanya di Digital Board.
“Alastair Cameron Douglas. Kalian bisa panggil saya Professor Douglas. Tahun ini, saya juga mengajar Megalomatika di Tingkat Satu, Klaster Sains.” katanya, mengantongi lagi Laser Painternya dan menatap seisi kelas. Dia menyipitkan mata kanannya dengan skeptis.
Seisi kelas masih kebingungan. The Epic berbisik-bisik satu sama lain, membicarakan apa yang dikatakan Professor Toro tadi.
“Er... Professor?” tanya Maribel.
Professor Douglas melirik Maribel. “Ya?”
“Anda... Anda benar-benar menggantikan Professor Morello? Untuk sementara atau permanen?”
Professor Douglas menatap Maribel dingin, matanya berkilat tajam. Maribel tiba-tiba menyesal bertanya seperti tadi. Namun, Professor Douglas hanya menghela nafas.
“Pada dasarnya, saya hanya diminta menggantikan Silvana untuk sementara, sampai Kepala Sekolah menetapkan guru Metabiologi baru yang permanen. Dan kalau bukan karena ini permintaan Silvana, saya tidak tertarik menerima tugas ini.” terang Professor Douglas. “Seolah-olah meladeni anak-anak Tingkat Satu tidak cukup menjengkelkan saja.”
“Maaf, Professor,” sela Walter, berusaha sesopan mungkin. “Tadi Anda bilang Professor Morello yang meminta Anda menggantikannya, maksudnya itu—”
“Barangkali ada dari kalian yang masih bertanya-tanya, clan bheag, Silvana menyatakan hal itu jauh-jauh hari sebelum kematiannya.” potong Professor Douglas. “Dia mengatakan hal itu pada asistennya, Sabilah. Saya tidak tahu alasannya, tapi saya menghormati permintaan Silvana.”
“Lalu—”
“Surat Perintah baru masuk beberapa saat yang lalu. Saya kira memori Anda masih cukup baik, tapi mungkin saya salah.”
“Oh,” Walter terkejut dikatai seperti itu, tapi dia mengangguk sopan. “Terima kasih penjelasannya, Professor.”
Professor Douglas mengecek presensi.
“Catatan kehadiran kalian tidak buruk,” ujar Professor Douglas sambil menggeser-geser layar iComp. “Tidak ada yang hobi terlambat masuk, bolos, atau tidur di kelas. Ach a-mhĂ in,” keningnya berkerut. “Malvina Ivanov Abramovich.”
Morena yang duduk di sebelah Malvina tersentak ketika mengetahui temannya itu masih tertidur pulas. Keterkejutan itu makin bertambah saat Professor Douglas tiba-tiba sudah berdiri di depannya, membawa sebuah botol biru yang dikeluarkan dari dalam jubahnya.
“Kalian tahu kalau kafein itu cukup baik untuk membantu menahan sementara rasa kantuk?” tanyanya sambil membuka tutup botol. Tidak ada yang merespon.
“Mungkin teman kalian ini sekali-sekali perlu minum kopi supaya tidak tidur di kelas,” lanjut Professor Douglas sambil menuangkan cairan hitam kental ke kepala Malvina.
Seisi kelas menatap dengan horor kejadian di depan mata mereka. Malvina tersentak bangun dan sontak marah-marah.
“HEEII! SIAPA YANG MENYIRAMKU?! SIAAALLL!” teriaknya.
Professor Douglas berhenti menuangkan kopi. Malvina menatapnya kikuk, salah tingkah. Profeesor Douglas balik menatapnya dingin, jauh lebih dingin ketimbang saat dia menatap Maribel. Agak jauh dari sana, The K-Rocks terkikik pelan.
“Eh, maaf, Professor...” Malvina nyengir bercampur ngeri. “Kemarin saya terjaga semalaman, mengerjakan tugas. Jadi saya agak mengantuk...”
Professor Douglas mendengus. Dia mengacungkan sebuah silinder di tangan kirinya dan menekan ujung atasnya. Layar persegi panjang beriluminasi biru terproyeksi dari sisi silinder itu, menampilkan sejumlah data pada Malvina.
“Catatan disiplinmu paling buruk. Sering datang terlambat, sering tidak mengerjakan tugas, dan tentu saja, sering tertidur di kelas. Untuk dua hal pertama, lagi-lagi itu disebabkan oleh tidur. Narkolepsi, barangkali?” tanya Professor Douglassinis. Lagi-lagi The K-Rocks cekikikan pelan. Malvina tertunduk, wajahnya memerah.
“Kalau saya boleh menebak, kau adalah keturunan dari Roman Abramovich, bukan begitu?” tanyanya lagi.
“I—i—iya... Da—dari ayah... Saya... c—cucunya...” jawab Malvina gagap. Tubuhnya gemetaran. Dia mencengkeram ujung roknya yang tidak sampai lutut.
“Tidak mengherankan,” Professor Douglas mendengus jengkel. “Saya pernah bertemu dengan dua orang keturunan Roman, dan keduanya hanya anak-anak manja yang brengsek. Tampaknya Roman memang tidak pernah mewariskan keturunan baik-baik.”
Wajah pucat Malvina memerah. The Great M menatapnya dengan gelisah, seolah-olah dia adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
“Nah, catatanmu selama ini mewakili segalanya,” Professor Douglas menggeser layar ke bawah dan mengernyit. “Ya ampun. Kau juga terkenal sering bermasalah karena gaya berpakaianmu,” dia menatap Malvina yang tertunduk dari atas sampai bawah. “Yah, saya bisa mengerti. Saya sendiri akan dengan senang hati memberimu poin F untuk Poin Etika-mu. Dan tidak usah tertawa, Nona van Velzen. Kau sendiri tampak seperti puip siorcais. Badut sirkus.” Lanjutnya, membuat Katrijn berhenti terkikik dan tertunduk. Dia mengetuk-ngetuk ikat rambut sebelah kanannya yang dihiasi bola-bola kecil berwarna-warni.
Sang guru membenarkan posisi kacamatanya yang longgar dan kembali ke depan kelas. “Seharusnya kalian berdua belajar sedikit soal etika berpakaian, kalau kalian punya cukup tata krama.”
“Tapi, Professor!” Malvina protes. “Apa yang salah dengan cara berpakaian saya? Ini, kan—”
“Baju tanpa lengan dan rok sembilan senti di atas lutut,” potong Professor Douglas, nadanya meninggi. “Sepertinya kau lupa, Nona Abramovich. Ini sekolah, bukan kolam renang pribadimu. Lagipula, apa kau merasa lebih menawan atau apalah dengan pakaian minim seperti itu? Barangkali iya, di kebun binatang.”
Selain The Great M, tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Dan sebaiknya tidak ada juga yang membuat dirinya terlihat seperti badut murahan,” Professor Douglas mendelik sinis pada Katrijn, yang kembali berhenti tertawa dan berusaha menghindari tatapan gurunya itu. “Kali ini saya masih mengampuni kalian. Namun, jika di pertemuan berikutnya saya masih melihat kebodohan yang sama,” Dia menjentikkan jari. Pintu kelas bergeser terbuka.
Semua siswa merasa tertarik melihat sepatunya. Tiba-tiba mereka berharap agar kelas Metabiologi segera berakhir. Baru beberapa menit saja, mereka langsung tidak menyukai guru baru mereka ini.
“Anggap itu sebagai perkenalan. Sekarang, buka handbook kalian halaman empat ratus dua puluh tiga, tentang Wizenstones.”
Sisa pelajaran berlangsung cukup sunyi. Tidak banyak yang bersuara, kecuali The Dream Team yang sesekali bertanya dengan ragu-ragu soal materi hari itu. Mereka masih bertanya-tanya, apa alasan Professor Morello menunjuk Professor Douglas yang sama sekali tidak bersahabat ini sebagai penggantinya? 

0 comments:

Post a Comment