Professor Delaware sedang
mencari data laporan di lemari di ruangannya saat terdengar bunyi notifikasi
e-mail masuk dari iComp-nya. Dia segera memburu iComp di meja kerjanya dan
membuka pesan itu. Dari Komite Sekolah. Membaca isinya, kening Professor Delaware
berkerut.
“Benarkah?
Cepat sekali, kukira akan butuh waktu setidaknya sebulan.” gumamnya. Professor Delaware
duduk dan mengetik pesan baru, lalu mengirimnya ke alamat lain. Beberapa saat
kemudian, muncul pesan balasan.
“Memang
begitu, ya?” Professor Delaware menghela nafas. “Baguslah. Berjalan sesuai
rencana. Anak muda itu memang bisa diandalkan,” dia termenung sejenak. “Atau
mungkin memang jujur.”
Sekali
lagi, Professor Delaware mengetik pesan baru. Kali ini berupa surat perintah
resmi. Dia menggoreskan tanda tangannya di layar monitor, lalu mengirimnya pada
alamat baru. Matanya menatap layar iComp dengan gugup.
“Berhati-hatilah...”
gumamnya.
***
Sudah
dua minggu setelah kematian Professor Morello.
Hari
itu, kelas Metabiologi masih kosong. Sampai saat itu, pihak sekolah belum juga
menentukan guru baru untuk mengisi kelas Metabiologi. Para ketua kelas Klaster
Sains berembug mengajukan Professor Kurniati, yang mengajar Metabiologi Tingkat
Satu, agar mengisi kelas mereka untuk sementara. Tapi pihak sekolah menolaknya,
seraya mengingatkan soal usia Professor Kurniati yang tidak lagi muda. Ketua
kelas Posfor, Vivi Anggraini, mengajukan asisten Professor Morello, Sabilah Al
Samarqandi, tapi pihak sekolah masih dalam tahap pertimbangan.
Walhasil,
jam kosong itu dipakai para siswa Kompas untuk mendiskusikan mengenai progres
penyelidikan mereka—kecuali The K-Rocks yang asyik menonton streaming konser SNSG yang sedang tampil
di Kanada.
“Pavel
bilang dia belum tahu,” kata Walter. “Ada lebih dari sepuluh ribu simbol yang
harus diperiksanya. Jelas bukan pekerjaan gampang.”
“Sepuluh
ribu? Yang benar?” tanya Nia, matanya terbelalak. Dia sudah kembali ke mode happy-go-lucky-nya dua hari yang lalu. “Ya
ampun, aku sih nggak bakal kuat mencari satu simbol dari segitu banyaknya.
Ckckck.”
“Bagaimana
dengan kain yang anta temukan?” tanya
Hanifah, matanya tidak lepas dari iComp-nya.
Walter
menggeleng. “Aku belum bisa memastikan apa bahannya. Seratnya unik dan kuat.
Tidak mungkin robek tanpa menggunakan benda super tajam, pisau biasa tidak akan
cukup.”
“Kain
jubah staf sekolah, mungkin?” usul Nia. “Dari jubah Professor Morello?”
“Akukho. Aku sudah cek sendiri ke rumah
sakit, dan jubahnya utuh. Tapi soal kain staf sekolah, aku memang menduga
kesana. Sayangnya, aku tidak tahu apa bahannya.” kata Walter.
“Kenapa
harus cari tahu bahannya juga? Kan bisa dibandingkan saja dengan kain jubah Professor
Morello.”
“Tidak
semudah itu. Kalau itu bukan bahan khusus yang dipesan custom oleh sekolah, artinya kemungkinan pelakunya masih lebar. Dan
aku ragu ada staf sekolah yang mau capek-capek mencari tahu material pembentuk
jubah mereka. Aku hanya tahu jubah ini dibuat di daerah Pekalongan, jadi aku
coba mencari info di daerah sana,” dia menoleh ke Hanifah. “Atau kau saja yang
mencari?”
“Terserah,”
jawab Hanifah datar. “Kalau anta sudah
tahu bahannya dan cocok dengan yang bahan pembentuk kain jubah staf, setidaknya
kita tahu, kalau pembunuh Professor Morello adalah orang dalam sekolah.”
Udara
di sekitar mereka menegang. Nia menggeliat gelisah, sementara Walter dan
Hanifah tertunduk diam. Kemungkinan itu terasa mengerikan, bahkan bagi mereka.
Di
sisi lain, The Epic membicarakan masalah kemungkinan-kemungkinan siapa pembunuh
Professor Morello secara acak, mulai dari kriminal internasional Vladislav
Ignashevich sampai pembobol kelas dunia Shane Forthstander. Tapi tidak ada dari
mereka yang mendekati logis.
“Bagaimana
soal orang-orang yang kau tanyai, Hendrik? Ada informasi?” tanya Niels.
Hendrik
menggeleng. “Jarvado. Suarez. Haryanto. Cuma mereka. Bisa diandalkan. Tahu
simbologi. Tapi belum. Belum ada informasi baru. Masih mencari. Mungkin.”
“Sebastian,
ya.” Niels mengetuk-ngetuk dagunya. “Jaringan informasinya memang banyak, tapi
aku tidak tahu kalau dia punya pengetahuan soal simbolog—”
Tiba-tiba
pintu kelas bergeser terbuka dan masuklah seorang guru laki-laki berpostur jangkung
yang mengenakan kacamata. Rambut hitamnya berantakan, seolah dia tidak mau
repot-repot merapikannya. Jubah biru gelapnya nyaris hitam, serasi dengan
matanya yang biru kelam nan tajam. Dia duduk di kursi guru dan menyalakan
iComp-nya—layarnya teriluminasi biru alih-alih hijau. Para siswa Kompas
mendadak bengong.
“Kepala
sekolah baru memberi tahu saya delapan menit yang lalu. Jadi saya terlambat,”
kata guru itu tanpa menoleh kepada siswanya.
The
K-Rocks dan The Great M berbisik-bisik, sementara Walter mengambil inisiatif
bertanya.
“Maaf,
Professor. Apa Anda—”
“Ya,
saya guru Metabiologi kalian yang baru,” potong guru itu. Seisi kelas sontak
terkejut. Sang guru mengeluarkan Laser Painter dari saku jubahnya dan menulis
namanya di Digital Board.
“Alastair
Cameron Douglas. Kalian bisa panggil saya Professor Douglas. Tahun ini, saya
juga mengajar Megalomatika di Tingkat Satu, Klaster Sains.” katanya,
mengantongi lagi Laser Painternya dan menatap seisi kelas. Dia menyipitkan mata
kanannya dengan skeptis.
Seisi
kelas masih kebingungan. The Epic berbisik-bisik satu sama lain, membicarakan
apa yang dikatakan Professor Toro tadi.
“Er...
Professor?” tanya Maribel.
Professor
Douglas melirik Maribel. “Ya?”
“Anda...
Anda benar-benar menggantikan Professor Morello? Untuk sementara atau
permanen?”
Professor
Douglas menatap Maribel dingin, matanya berkilat tajam. Maribel tiba-tiba
menyesal bertanya seperti tadi. Namun, Professor Douglas hanya menghela nafas.
“Pada
dasarnya, saya hanya diminta menggantikan Silvana untuk sementara, sampai
Kepala Sekolah menetapkan guru Metabiologi baru yang permanen. Dan kalau bukan
karena ini permintaan Silvana, saya tidak tertarik menerima tugas ini.” terang
Professor Douglas. “Seolah-olah meladeni anak-anak Tingkat Satu tidak cukup
menjengkelkan saja.”
“Maaf,
Professor,” sela Walter, berusaha sesopan mungkin. “Tadi Anda bilang Professor
Morello yang meminta Anda menggantikannya, maksudnya itu—”
“Barangkali
ada dari kalian yang masih bertanya-tanya, clan
bheag, Silvana menyatakan hal itu jauh-jauh hari sebelum kematiannya.”
potong Professor Douglas. “Dia mengatakan hal itu pada asistennya, Sabilah.
Saya tidak tahu alasannya, tapi saya menghormati permintaan Silvana.”
“Lalu—”
“Surat
Perintah baru masuk beberapa saat yang lalu. Saya kira memori Anda masih cukup
baik, tapi mungkin saya salah.”
“Oh,”
Walter terkejut dikatai seperti itu, tapi dia mengangguk sopan. “Terima kasih
penjelasannya, Professor.”
Professor
Douglas mengecek presensi.
“Catatan
kehadiran kalian tidak buruk,” ujar Professor Douglas sambil menggeser-geser
layar iComp. “Tidak ada yang hobi terlambat masuk, bolos, atau tidur di kelas. Ach a-mhĂ in,” keningnya berkerut.
“Malvina Ivanov Abramovich.”
Morena
yang duduk di sebelah Malvina tersentak ketika mengetahui temannya itu masih
tertidur pulas. Keterkejutan itu makin bertambah saat Professor Douglas
tiba-tiba sudah berdiri di depannya, membawa sebuah botol biru yang dikeluarkan
dari dalam jubahnya.
“Kalian
tahu kalau kafein itu cukup baik untuk membantu menahan sementara rasa kantuk?”
tanyanya sambil membuka tutup botol. Tidak ada yang merespon.
“Mungkin
teman kalian ini sekali-sekali perlu minum kopi supaya tidak tidur di kelas,”
lanjut Professor Douglas sambil menuangkan cairan hitam kental ke kepala
Malvina.
Seisi
kelas menatap dengan horor kejadian di depan mata mereka. Malvina tersentak
bangun dan sontak marah-marah.
“HEEII!
SIAPA YANG MENYIRAMKU?! SIAAALLL!” teriaknya.
Professor
Douglas berhenti menuangkan kopi. Malvina menatapnya kikuk, salah tingkah.
Profeesor Douglas balik menatapnya dingin, jauh lebih dingin ketimbang saat dia
menatap Maribel. Agak jauh dari sana, The K-Rocks terkikik pelan.
“Eh,
maaf, Professor...” Malvina nyengir bercampur ngeri. “Kemarin saya terjaga
semalaman, mengerjakan tugas. Jadi saya agak mengantuk...”
Professor
Douglas mendengus. Dia mengacungkan sebuah silinder di tangan kirinya dan
menekan ujung atasnya. Layar persegi panjang beriluminasi biru terproyeksi dari
sisi silinder itu, menampilkan sejumlah data pada Malvina.
“Catatan
disiplinmu paling buruk. Sering datang terlambat, sering tidak mengerjakan
tugas, dan tentu saja, sering tertidur di kelas. Untuk dua hal pertama,
lagi-lagi itu disebabkan oleh tidur. Narkolepsi, barangkali?” tanya Professor Douglassinis.
Lagi-lagi The K-Rocks cekikikan pelan. Malvina tertunduk, wajahnya memerah.
“Kalau
saya boleh menebak, kau adalah keturunan dari Roman Abramovich, bukan begitu?”
tanyanya lagi.
“I—i—iya...
Da—dari ayah... Saya... c—cucunya...” jawab Malvina gagap. Tubuhnya gemetaran.
Dia mencengkeram ujung roknya yang tidak sampai lutut.
“Tidak
mengherankan,” Professor Douglas mendengus jengkel. “Saya pernah bertemu dengan
dua orang keturunan Roman, dan keduanya hanya anak-anak manja yang brengsek.
Tampaknya Roman memang tidak pernah mewariskan keturunan baik-baik.”
Wajah
pucat Malvina memerah. The Great M menatapnya dengan gelisah, seolah-olah dia
adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
“Nah,
catatanmu selama ini mewakili segalanya,” Professor Douglas menggeser layar ke
bawah dan mengernyit. “Ya ampun. Kau juga terkenal sering bermasalah karena
gaya berpakaianmu,” dia menatap Malvina yang tertunduk dari atas sampai bawah.
“Yah, saya bisa mengerti. Saya sendiri akan dengan senang hati memberimu poin F
untuk Poin Etika-mu. Dan tidak usah tertawa, Nona van Velzen. Kau sendiri
tampak seperti puip siorcais. Badut
sirkus.” Lanjutnya, membuat Katrijn berhenti terkikik dan tertunduk. Dia
mengetuk-ngetuk ikat rambut sebelah kanannya yang dihiasi bola-bola kecil
berwarna-warni.
Sang
guru membenarkan posisi kacamatanya yang longgar dan kembali ke depan kelas.
“Seharusnya kalian berdua belajar sedikit soal etika berpakaian, kalau kalian
punya cukup tata krama.”
“Tapi,
Professor!” Malvina protes. “Apa yang salah dengan cara berpakaian saya? Ini,
kan—”
“Baju
tanpa lengan dan rok sembilan senti di atas lutut,” potong Professor Douglas,
nadanya meninggi. “Sepertinya kau lupa, Nona Abramovich. Ini sekolah, bukan
kolam renang pribadimu. Lagipula, apa kau merasa lebih menawan atau apalah dengan
pakaian minim seperti itu? Barangkali iya, di kebun binatang.”
Selain
The Great M, tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Dan
sebaiknya tidak ada juga yang membuat dirinya terlihat seperti badut murahan,”
Professor Douglas mendelik sinis pada Katrijn, yang kembali berhenti tertawa
dan berusaha menghindari tatapan gurunya itu. “Kali ini saya masih mengampuni
kalian. Namun, jika di pertemuan berikutnya saya masih melihat kebodohan yang
sama,” Dia menjentikkan jari. Pintu kelas bergeser terbuka.
Semua
siswa merasa tertarik melihat sepatunya. Tiba-tiba mereka berharap agar kelas
Metabiologi segera berakhir. Baru beberapa menit saja, mereka langsung tidak
menyukai guru baru mereka ini.
“Anggap
itu sebagai perkenalan. Sekarang, buka handbook
kalian halaman empat ratus dua puluh tiga, tentang Wizenstones.”
Sisa pelajaran berlangsung cukup sunyi. Tidak banyak
yang bersuara, kecuali The Dream Team yang sesekali bertanya dengan ragu-ragu
soal materi hari itu. Mereka masih bertanya-tanya, apa alasan Professor Morello
menunjuk Professor Douglas yang sama sekali tidak bersahabat ini sebagai
penggantinya?


0 comments:
Post a Comment