Saturday, 27 January 2018

The Crest of Five, Episode 12

Dua minggu berlalu sejak Professor Douglas menggantikan tugas Professor Morello. Patut diakui, kualitas pengajaran Professor Douglas memang baik, tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Bahkan, apa yang tidak diajarkan oleh Professor Morello karena pertimbangan tertentu malah diajarkan olehnya, utamanya tentang tanaman beracun dan berbagai jenis tanaman langka yang bahkan namanya baru kali ini didengar siswa. Salah satunya adalah Asam Jawa, tanaman asli Indonesia yang nyaris punah dua puluh tahun yang lalu, tapi Professor Douglas meyakinkan para siswa bahwa Professor Morello telah berhasil menyelamatkannya. Walter, yang sangat antusias dengan khasiatnya, bertanya dimana Professor Morello memelihara tanaman itu, tapi berakhir dengan kekecewaan karena Professor Douglas tidak akan memberitahukannya sampai beberapa minggu lagi.
Namun, para siswa tidak begitu menyukai sikapnya. Selain dingin dan tidak ramah, Professor Douglas tidak pernah ragu mengeluarkan kritik pedas pada para siswa. Memang, Professor Douglascukup menghargai mereka yang mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugasnya dengan baik. Namun, untuk yang tidak maksimal, dia tidak segan-segan menghukumnya dengan poin E bahkan F. Dia bahkan bisa tahu jika seseorang mengerjakan tugas hanya dengan menyalin dari temannya, yang berimbas poin buruk juga baginya. Malvina lagi-lagi menjadi korban, disamping Tiffany, Susanti, dan untuk pertama kalinya, Clark.
Professor Douglas pun benar-benar membuktikan perkataannya. Pada pertemuan kedua dan ketiga di kelas Kompas, Malvina diusir keluar karena—lagi-lagi—tertidur dan tidak juga mengubah gaya berpakaiannya. Pada pertemuan ketiga, Professor Douglas tanpa ragu-ragu mengatakan akan memberinya nilai F di laporan semester. Namun, setelah lobi-lobi memelas dari Maribel dan Mudiwa, Professor Douglas akhirnya dengan enggan memberi kelonggaran dengan memberikan hukuman berupa mengerjakan setumpuk tugas yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Efeknya, seminggu kemudian, Malvina terlihat seperti zombi yang kurang tidur.
Dalam sekejap, Metabiologi jadi momok baru bagi para siswa.
That bloody Scot must be nuts! Aku disuruh membuat essai empat belas halaman tentang Ekosistem Gurun Australia! Tulis tangan pula!” gerutu Gavin Bradbrook, siswa kelas Posfor di kantin sekolah.
“Salah sendiri. Malah tidur di kelas.” timpal temannya, Angga Saputra.
“Hei! Aku nyaris tidak tidur semalaman untuk mengerjakan tugas Professor Nurdiantoro! Apa dia tidak bisa memaklumi sedikit?” sungut Gavin.
Angga menghela nafas. “Tahu sendiri Professor Douglas tidak setoleran Professor Morello. Kau ini memang tidak pernah belajar.”
The Epic mendengarkan keluhan-keluhan Gavin dari meja di sebelahnya. Mereka pasang telinga soal topik pembicaraan di kantin, yang sebagian besarnya sama: Professor Douglas.
“Kalian dengar itu? Bahkan kelas lain pun banyak yang tidak menyukainya.” kata Kazuki.
“Hampir semua, mungkin. Cuma yang pakar di Metabiologi saja yang tidak bermasalah dengannya.” sambung Clark, melirik Niels dan Hendrik.
“Hei, vente, aku juga tidak suka orang itu! Cara mengajarnya memang bagus, tapi sikapnya membuatku jengah.” sergah Niels. Hendrik mengangguk setuju.
Clark menyeruput jus mangganya. “Yang membuatku heran, kenapa Professor Morello meminta Professor Douglas untuk menggantikannya? Kenapa tidak yang lain, Sabilah misalnya?” dia berdecak sebal. “Anak kecil itu nggak akan mempermasalahkan dari mana aku dapat jawaban tugasku.”
“Sabilah diberi tugas di Tingkat Dua. Biar bagaimanapun, Sabilah dan Professor Douglas sama-sama punya tugas lain yang tidak mudah. Kau pikir Taman Biologi itu berapa besar?” terang Niels.
Kazuki berdecak gusar. “Mattaku, kenapa bukan Sabilah saja yang ditugaskan di Tingkat Tiga? Lebih kekanakkan daripada Nia, memang, tapi setidaknya lebih menyenangkan daripada Professor Douglas.”
“Tingkat Dua. Mengeluh. Pasti. Lingkaran tak terbatas.” gumam Hendrik.
“Materi untuk Tingkat Tiga pun cukup kompleks. Pihak sekolah pasti memperhitungkan itu juga. Mereka pasti ambil yang terbaik untuk Tingkat Tiga.” Niels menambahkan. “Mau bagaimana lagi? Berharap saja Kepala Sekolah cepat menemukan guru Metabiologi baru.”
Mereka membayar makanan dan kembali ke kelas. Di koridor dekat Perpustakaan, mereka melihat Pavel berjalan ke arah mereka. Dia membawa setumpuk buku usang dan mengapit bergulung-gulung perkamen tua kecoklatan di tangannya. Mata abu-abunya mendelik sinis pada The Epic saat mereka berpapasan.
“Kau mau apa dengan tumpukan kertas usang itu, kepala landak? Cari mantra untuk mengubah rambutmu?” sindir Clark.
Pavel menyeringai dingin. “Barangkali aku bisa nemu s’suatu buat m’ubahmu jadi tongkat pel sungguhan. S’gaknya itu bikin kau s’dikit l’bih b’guna.”
Clark melotot. Pavel memberinya tatapan sinis terakhir dan melengos pergi, melanjutkan langkahnya ke perpustakaan.
“Ada yang pakai sektor A-3, Nita?” tanyanya pada penjaga perpustakaan di meja registrasi.
Nita Ernawati, penjaga perpustakaan berwajah gepeng dan beralis tebal dengan raut wajah cemberut permanen menggeleng. “Buat apa kau kesana? Kalau butuh privasi khusus, kau,‘kan, bisa pakai Ruang Diskusi.”
“’gak, makasih. Aku mau cek s’suatu d’sana.” sahut Pavel sambil menuju sektor itu.
Nita menggelengkan kepala bosan. “Apa yang ada di pikirannya? Berkutat dengan sejarah super membosankan seperti itu.”
Sektor ini berupa ruang cukup luas yang dikelilingi empat rak buku besar berisi ratusan buku tebal, sebagian besarnya bersampul kusam. Rak dekat koridor perpustakaan lebih sempit, menyisakan jalan masuk kecil di sudut. Di tengahnya, terdapat sebuah meja kayu segiempat dan empat kursi di masing-masing sisi. Pavel menaruh buku dan perkamen yang dibawanya di atas meja, lalu meraih empat buku dari rak di dekat dinding. Dia membuka gulungan salah satu perkamen dan mulai menelusuri isinya.
Lima menit kemudian, Professor Hartmann masuk ke dalam sektor itu dan menelusuri rak buku di sebelah kanannya. Dia baru menyadari keberadaan Pavel saat dia berpaling ke rak berikutnya.
“Ah, Koutnik!” sapa Professor Hartmann ramah. “Sedang apa di sini? Kelasmu sedang kosong?”
Pavel mendelik pada Professor Hartmann. Tatapannya sinis dan jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan.
“Professor Hummels ‘gak datang.” sahutnya malas. Dia menggulung perkamen yang tergelar dan membuka perkamen baru.
Professor Hartmann menghampirinya dan melihat isi perkamen yang tergelar di meja. Puluhan simbol dan tulisan dalam kuruf kuno yang sebagian sudah mengabur tersebar di sana. Professor Hartmann menatapnya dengan penuh ketertarikan.
“Kamu suka simbologi, Koutnik?” tanyanya sambil tersenyum. “Tampaknya ini simbol-simbol tua. Dari zaman mana?”
“Dark Age. Transilvania.” jawab Pavel ketus.
“Hmmm. Tugas dari Professor Munajat?”
Pavel menggeleng, lalu menggulung perkamen dan membuka lagi yang baru.
Professor Hartmann menarik kursi ke dekat Pavel dan duduk. Dia menatap siswanya lembut, tetap tersenyum. “Lalu apa? Kamu pasti punya alasan untuk membuka rekaman lama seperti ini.”
Jari telunjuk Pavel berhenti menelusuri permukaan perkamen, matanya kembali mendelik tidak suka pada guru yang duduk di sebelahnya. Tatapan Professor Hartmann masih tetap hangat, biar begitu. Mereka bertukar pandang beberapa saat, dengan Pavel berusaha mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran gurunya. Sampai kemudian, Pavel berdecak jengkel dan kembali menelusuri simbol-simbol.
“Cocok’in simbol. Baru p’tama li’at. Bukan tugas.” Jawabnya kaku.
“Wah, simbol apa itu? Dapat dari mana?”
“Dari t’man k’las lain. Dia n’mu simbol aneh.”
“Simbol seperti apa?”
Pavel kembali menatap gurunya. Dia menatap lekat-lekat mata coklat gelap Professor Hartmann. Mata yang dalam dan sulit ditebak—aneh, Pavel biasanya mudah menebak niat seseorang cukup dengan mengamati tatapan matanya. Namun, Pavel tidak bisa menghilangkan kecurigaannya begitu saja hanya karena dia tidak bisa membaca niat.
“Simbol kuno. Kaya’nya simbol sihir tua. Eropa, mungkin. Zaman pertenga’an.” Dia menjawab cuek.
Demi mendengar soal itu, mata Professor Hartmann agak melebar. Meski sedikit sekali, tapi wajahnya menegang. Pavel menyadari perubahan sikap ini dan mulai curiga—dia selalu curiga pada perubahan sikap seseorang.
“Simbol sihir? Zaman pertengahan? Wah, kedengarannya menarik.” Kata Professor Hartmann, tetap tenang. Tapi Pavel tahu, nada suaranya berubah lebih tegang, meski sedikit sekali. “Simbol seperti apa, itu?”
Pavel mendengus. “Anda s’diri ‘napa nanya-nanya so’al ini? Saya yakin ini ‘gak ada hubungannya sama subyek Anda. Apa yang guru Alkimia laku’in di sektor buku Sejarah, k’lo boleh ta’u? Pastinya ‘gak ada apa-apa so’al Alkimia di t’mpat b’gini.”
Professor Hartmann terdiam sejenak, raut wajah dan sorot matanya sulit ditebak. Lalu, Pavel melihatnya. Dibalik senyumnya yang kembali terkembang, sorot matanya berubah—samar, tapi itu sorot mata yang mengancam.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu tidak ada salahnya, bukan?” jawab Professor Hartmann. Dia berdiri dan mengembalikan kursi ke tempatnya. “Saya mencari buku tentang sejarah Alkimia di zaman pertengahan juga, tapi mungkin saya salah sektor. Saya tidak menemukannya di rak.” Dia memberi Pavel senyuman terakhir dan beranjak keluar dari sektor itu.
Pavel menatapnya sampai sang guru hilang dari pandangan. Rasa curiga terus memenuhinya. Dia tahu persis kalau Professor Hartmann tidak mungkin salah sektor begitu mudahnya—ada katalog perpustakaan. Dan sejarah Alkimia, itu terkesan terlalu dibuat-buat.
Pavel mengeluarkan iTelph dari sakunya dan menghubungi seseorang.
“Hati-hati d’ngan Hartmann.” ujarnya singkat, lalu menutup telponnya.
***
Di kelas Kompas, The Epic sedang menebak-nebak apa yang dilakukan Pavel saat Professor Douglas masuk. Dia meletakkan iComp-nya di meja guru dan berdiri menghadap para siswa.
“Apa tugas terakhir yang diberikan Silvana pada kalian?” tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, para siswa berbisik-bisik tidak nyaman.
“Er... anu, tugas essai, Professor.” jawab Clark.
Professor Douglas menatap Clark tajam. “Tentunya kita tahu bahwa Professor Morello selalu memberikan tugas berupa essai. Saya mengharapkan jawaban yang lebih cerdas darimu, Henderson. Saya dengar ini kelas unggulan, apa benar?”
Tiba-tiba semua siswa jadi tertarik dengan sepatunya sendiri. Clark mencaci dirinya sendiri dalam hati.
“Walter Tuanzebe,” Professor Douglas menoleh pada Walter. “Sebagai ketua kelas, kau seharusnya masih ingat.”
Walter menjawab ragu-ragu. “Eh, tugas itu essai tentang... emm... Underworld Citron.”
Sekilas, mata Professor Douglas berkilat terkejut.
“Underworld Citron?”
“Iya, Professor.”
Professor Douglas merengut, raut mukanya tampak tidak mengerti campur berpikir keras. Seisi kelas menegang, seolah-olah Professor Douglas akan memberi mereka tugas menulis jurnal ilmiah.
“Baiklah,” Professor Douglas memecah keheningan dan duduk di kursi guru. “Sepertinya saya kurang teliti. Dalam arsipnya, Silvana memberikan tugas pada tanggal 2 September dan dikumpulkan tanggal 4 September. Sementara, tugas terakhir yang saya temukan dari arsip Silvana adalah tanggal 14 Agustus. Bicara soal itu, apa alasan Silvana menyuruh kalian mencarinya?”
Seisi kelas tertunduk tegang lagi.
“Mengesankan sekali,” ketus Professor Douglas. “Dan sebagian guru mengatakan ini kelas terbaik? Biasanya Silvana memberitahu apa alasannya menugaskan kalian sesuatu, saya yakin. Tentunya ada setidaknya, satu atau dua orang yang kapasitas otaknya agak mencukupi, yang menyadari bahwa Silvana tidak memberikan alasan seperti biasanya?”
Kelas hening sama sekali. Mata Professor Douglas menyapu seluruh kelas.
“Tidak ada yang menjawab?” nadanya tambah berbahaya.
“Dia... dia sedang terburu-buru, Professor.” jawab Walter, setengah memaksakan diri. “Segera setelah memberikan kami tugas, dia langsung pergi.”
“Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa Silvana tidak akan menjawab pertanyaan tentang itu jika ditanya, Tuanzebe?” Professor Douglas bertanya balik. “Saya tahu Silvana seringkali pelupa, tapi dia tidak pernah mengeluh saat diingatkan.”
Dan Walter pun kembali tertunduk, bergabung dengan teman-temannya.
“Saya tidak punya hobi menghukum di kesempatan pertama, jadi anggap ini peringatan.” Professor Douglas menggeser layar iComp ke bawah dan membuka sebuah e-book. “Mengenai tugas itu, kirim ke e-mail saya,” sebuah alamat e-mail muncul di Digital Board. “Paling lambat pukul 20.00. Tidak ada toleransi waktu.”
Setengah kelas menghela nafas lega.
Professor Douglas mendelik kepada siswanya. “Masih tidak ada yang bertanya kenapa saya menyuruh kalian tetap mengumpulkannya?”
Ketegangan kali ini lebih buruk dari sebelumnya.
“Maaf, Professor?” Maribel mengangkat tangan hati-hati. “Boleh saya bertanya... tapi bukan tentang alasan atau apa...”
“Ya?”
“Saya menemukan... di referensi... kalau tanaman itu... Underworld Citron...” Maribel  menelan ludah, menimbang dengan hati-hati. “Ter—terkutuk. Apa—apa benar?”
“Terkutuk?” Professor Douglas menyipitkan matanya, lalu menatap Maribel lekat-lekat. Wajah Maribel mendadak dipenuhi horor. “Kalau boleh saya tahu, apa referensi yang kau pakai?”
“Eh? I—itu... er...” lidah Maribel mendadak kelu.
“Miller Sheringham, Professor.” Hanifah yang menjawab. Wajahnya juga tegang, tidak seperti biasanya.
“Saya tidak ingat menanyaimu, Al Jaziri,” Professor Douglas memberikan delikan tajam pada Hanifah, yang kembali menatap sepatunya. “Walau begitu, Miller Sheringham, benar begitu, Martinez?”
Maribel mengangguk kaku, seperti lupa bagaimana melakukannya dengan benar.
“Sekarang jelaskan, apakah dia ilmuwan Metabiologi atau penulis buku sejarah?”
Maribel tiba-tiba lupa caranya bicara.
“Saya tahu kau tidak benar-benar mengerjakan tugas itu, Martinez. Kau dan teman-temanmu yang namanya berawalan huruf-M. Saya sudah menganalisis tugas-tugas kalian terdahulu.” The Great M gemetaran. “Kau tahu Gavin Bradbrook dan Hendra Nugroho dari kelas Reiga, bukan? Keduanya sangat senang tidur di kelas, tapi mereka selalu profesional dalam menyelesaikan kewajiban mereka. Tidak menghalangi saya dari memberi mereka tugas tambahan, tentu saja, tapi apa kau yakin tidak tertukar kelas dengan mereka?”
Maribel hampir tidak bisa menahan diri—dia hampir terisak.
Professor Douglas menghela nafas. “Saya akan mempertimbangkan hal menyedihkan ini baik-baik untuk evaluasi semester kalian berempat. Bicara soal Miller Sheringham, jika kalian tidak tahu siapa dia, saya akan terkejut jika Munajat memberi kalian sekadar poin B.”
Professor Douglas lalu membuka sebuah file di iCompnya. Digital Board menampilkan foto hitam putih seorang laki-laki paruh baya dengan rambut bergelombang yang dibelah samping.
“Miller Sheringham,” katanya. “Terkenal karena keberpihakannya yang luar biasa pada Kerajaan Inggris, buku sejarah yang ditulisnya banyak sekali mengandung omong kosong. Ratusan kritik sudah menghujamnya selama bertahun-tahun, tapi bukunya masih saja beredar di berbagai belahan dunia. Barangkali kalian belum ada yang membacanya, di halaman dua puluh tiga, kalian akan menemukan tulisan tentang penindasan Sultan Mehmed Al Fatih saat dia dan pasukannya menaklukkan kota Konstantinopel pada tahun 1453. Apa ini fakta? Puluhan sejarawan lain membantahnya dan mengatakan bahwa rakyat Konstantinopel ketika itu justru hidup jauh lebih baik di bawah kekuasaannya, sebagaimana dia memerintah Kesultanan Ottoman.”
“Atau Kerusuhan Nottingham pada halaman seratus empat. Nama Perdana Menteri Inggris pada saat itu, David Cameron, dihilangkan dari daftar terduga. Padahal, Cameron adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kerusuhan dan pembunuhan massal yang terjadi. Dia yang menerima perintah langsung dari Pangeran William untuk melenyapkan para protestan di Nottingham.”
“Halaman lima ratus tiga, disebutkan bahwa Tragedi Stoke-on-Trent yang menimpa keluarga Huddersville adalah ulah dari keturunan Stewart Huddersville. Tentu saja ini omong kosong besar. Yang melakukan pembantaian itu adalah Craig Huddersville, keturunan Hugo Huddersville yang memiliki ikatan darah yang jauh dari Stewart.”
Professor Douglas berhenti sejenak, memerhatikan seisi kelas yang tampak terguncang akan informasi yang diberikannya.
“Kalian akan tahu lebih banyak penyimpangan orang ini kalau kalian mau menyisihkan waktu sedikit saja untuk membaca,” gambar Miller Sheringham lenyap dari Digital Board. “Kalian terlalu banyak ditipu oleh sejarah. Termasuk soal Underworld Citron. Apa kalian pikir, setelah mendengar apa yang saya katakan tadi, kalian bisa percaya begitu saja pernyataan Sheringham?”
Tidak ada yang menjawab.
Niels memberanikan diri bertanya. “Tapi Professor, kalau benar buku itu banyak penyimpangan, lalu—”
“Kenapa pihak sekolah masih menyimpannya di perpustakaan?” potong Professor Douglas. “Apa Munajat belum menguji kalian masalah selektivitas dalam memilih sumber sejarah?”
Kelas sunyi total. Tidak ada yang mau menambah buruk suasana dengan mengatakan sudah.
“Tidak perlu lagi mengirimkan omong kosong Sheringham itu. Tapi jika kalian bersikeras dengan data itu, saya tidak keberatan. Akan saya pertimbangkan untuk memberinya poin E, paling tidak. Tapi, jika kalian ingin tahu soal tanaman-tanaman langka yang tidak banyak diketahui, sebagaimana saya jelaskan sebelumnya tentang Sensivore Zanzabil dan Herpedian Jackfruit, kalian akan mencarinya dari sumber yang lebih reliabel. Dua minggu dari hari ini pada jam yang sama. Sekarang, buka handbook kalian halaman empat ratus lima puluh.”
Para siswa bertukar pandang dengan teman-teman kelompoknya, sama-sama tidak yakin, lalu membuka handbook masing-masing dengan lemas. Katrijn memberi Professor Douglas tatapan beracun, tapi untungnya sang guru tidak melihatnya.
Selepas pelajaran, Clark dan Kazuki bertanya pada Niels.
“Apa kami masih perlu meminta salinan itu? Setelah pembantaian Douglas tadi?” tanya Clark gusar.
“Ya.” Niels menjawab spontan. “Kita tidak cuma mengincar soal data itu, tapi juga soal simbolnya. Siapa tahu, siapa tahu ada penjelasan soal simbol itu di sana.”
Yare yare, kau memang susah sekali menyerah untuk usahamu, Niels-kun. Nah, tapi itu sisi baiknya. Barangkali kau nggak akan menyerah kelak kalau baru ditolak sekali oleh Maribel.” Kazuki dan Clark tertawa.
Niels menggeleng-gelengkan kepala, lalu memijit-mijit dahinya. “Uanset. Yang pasti, peluang adanya petunjuk dari salinan itu masih ada. Kita tidak boleh menyia-nyiakannya.” Dia mendesah. “Hari ini gila dan juga menyebalkan.”
“Kuharap besok cepat datang,” Clark merebahkan punggungnya di kursi elektrik, matanya menatap ke langit-langit, sementara pikirannya melayang-layang. “Seenggaknya, Professor Hartmann bisa mengembalikan semangat kita.”
“Kita?” Hendrik merengut skeptis. “Kau saja. Aku biasa. Niels. Kazuki. Naksir? Kau?”
Niels dan Kazuki terkikik pelan membayangkan kemungkinan itu.

Saturday, 20 January 2018

The Crest of Five, Episode 11

Professor Delaware sedang mencari data laporan di lemari di ruangannya saat terdengar bunyi notifikasi e-mail masuk dari iComp-nya. Dia segera memburu iComp di meja kerjanya dan membuka pesan itu. Dari Komite Sekolah. Membaca isinya, kening Professor Delaware berkerut.
“Benarkah? Cepat sekali, kukira akan butuh waktu setidaknya sebulan.” gumamnya. Professor Delaware duduk dan mengetik pesan baru, lalu mengirimnya ke alamat lain. Beberapa saat kemudian, muncul pesan balasan.
“Memang begitu, ya?” Professor Delaware menghela nafas. “Baguslah. Berjalan sesuai rencana. Anak muda itu memang bisa diandalkan,” dia termenung sejenak. “Atau mungkin memang jujur.”
Sekali lagi, Professor Delaware mengetik pesan baru. Kali ini berupa surat perintah resmi. Dia menggoreskan tanda tangannya di layar monitor, lalu mengirimnya pada alamat baru. Matanya menatap layar iComp dengan gugup.
“Berhati-hatilah...” gumamnya.
***
Sudah dua minggu setelah kematian Professor Morello.
Hari itu, kelas Metabiologi masih kosong. Sampai saat itu, pihak sekolah belum juga menentukan guru baru untuk mengisi kelas Metabiologi. Para ketua kelas Klaster Sains berembug mengajukan Professor Kurniati, yang mengajar Metabiologi Tingkat Satu, agar mengisi kelas mereka untuk sementara. Tapi pihak sekolah menolaknya, seraya mengingatkan soal usia Professor Kurniati yang tidak lagi muda. Ketua kelas Posfor, Vivi Anggraini, mengajukan asisten Professor Morello, Sabilah Al Samarqandi, tapi pihak sekolah masih dalam tahap pertimbangan.
Walhasil, jam kosong itu dipakai para siswa Kompas untuk mendiskusikan mengenai progres penyelidikan mereka—kecuali The K-Rocks yang asyik menonton streaming konser SNSG yang sedang tampil di Kanada.
“Pavel bilang dia belum tahu,” kata Walter. “Ada lebih dari sepuluh ribu simbol yang harus diperiksanya. Jelas bukan pekerjaan gampang.”
“Sepuluh ribu? Yang benar?” tanya Nia, matanya terbelalak. Dia sudah kembali ke mode happy-go-lucky-nya dua hari yang lalu. “Ya ampun, aku sih nggak bakal kuat mencari satu simbol dari segitu banyaknya. Ckckck.”
“Bagaimana dengan kain yang anta temukan?” tanya Hanifah, matanya tidak lepas dari iComp-nya.
Walter menggeleng. “Aku belum bisa memastikan apa bahannya. Seratnya unik dan kuat. Tidak mungkin robek tanpa menggunakan benda super tajam, pisau biasa tidak akan cukup.”
“Kain jubah staf sekolah, mungkin?” usul Nia. “Dari jubah Professor Morello?”
Akukho. Aku sudah cek sendiri ke rumah sakit, dan jubahnya utuh. Tapi soal kain staf sekolah, aku memang menduga kesana. Sayangnya, aku tidak tahu apa bahannya.” kata Walter.
“Kenapa harus cari tahu bahannya juga? Kan bisa dibandingkan saja dengan kain jubah Professor Morello.”
“Tidak semudah itu. Kalau itu bukan bahan khusus yang dipesan custom oleh sekolah, artinya kemungkinan pelakunya masih lebar. Dan aku ragu ada staf sekolah yang mau capek-capek mencari tahu material pembentuk jubah mereka. Aku hanya tahu jubah ini dibuat di daerah Pekalongan, jadi aku coba mencari info di daerah sana,” dia menoleh ke Hanifah. “Atau kau saja yang mencari?”
“Terserah,” jawab Hanifah datar. “Kalau anta sudah tahu bahannya dan cocok dengan yang bahan pembentuk kain jubah staf, setidaknya kita tahu, kalau pembunuh Professor Morello adalah orang dalam sekolah.”
Udara di sekitar mereka menegang. Nia menggeliat gelisah, sementara Walter dan Hanifah tertunduk diam. Kemungkinan itu terasa mengerikan, bahkan bagi mereka.
Di sisi lain, The Epic membicarakan masalah kemungkinan-kemungkinan siapa pembunuh Professor Morello secara acak, mulai dari kriminal internasional Vladislav Ignashevich sampai pembobol kelas dunia Shane Forthstander. Tapi tidak ada dari mereka yang mendekati logis.
“Bagaimana soal orang-orang yang kau tanyai, Hendrik? Ada informasi?” tanya Niels.
Hendrik menggeleng. “Jarvado. Suarez. Haryanto. Cuma mereka. Bisa diandalkan. Tahu simbologi. Tapi belum. Belum ada informasi baru. Masih mencari. Mungkin.”
“Sebastian, ya.” Niels mengetuk-ngetuk dagunya. “Jaringan informasinya memang banyak, tapi aku tidak tahu kalau dia punya pengetahuan soal simbolog—”
Tiba-tiba pintu kelas bergeser terbuka dan masuklah seorang guru laki-laki berpostur jangkung yang mengenakan kacamata. Rambut hitamnya berantakan, seolah dia tidak mau repot-repot merapikannya. Jubah biru gelapnya nyaris hitam, serasi dengan matanya yang biru kelam nan tajam. Dia duduk di kursi guru dan menyalakan iComp-nya—layarnya teriluminasi biru alih-alih hijau. Para siswa Kompas mendadak bengong.
“Kepala sekolah baru memberi tahu saya delapan menit yang lalu. Jadi saya terlambat,” kata guru itu tanpa menoleh kepada siswanya.
The K-Rocks dan The Great M berbisik-bisik, sementara Walter mengambil inisiatif bertanya.
“Maaf, Professor. Apa Anda—”
“Ya, saya guru Metabiologi kalian yang baru,” potong guru itu. Seisi kelas sontak terkejut. Sang guru mengeluarkan Laser Painter dari saku jubahnya dan menulis namanya di Digital Board.
“Alastair Cameron Douglas. Kalian bisa panggil saya Professor Douglas. Tahun ini, saya juga mengajar Megalomatika di Tingkat Satu, Klaster Sains.” katanya, mengantongi lagi Laser Painternya dan menatap seisi kelas. Dia menyipitkan mata kanannya dengan skeptis.
Seisi kelas masih kebingungan. The Epic berbisik-bisik satu sama lain, membicarakan apa yang dikatakan Professor Toro tadi.
“Er... Professor?” tanya Maribel.
Professor Douglas melirik Maribel. “Ya?”
“Anda... Anda benar-benar menggantikan Professor Morello? Untuk sementara atau permanen?”
Professor Douglas menatap Maribel dingin, matanya berkilat tajam. Maribel tiba-tiba menyesal bertanya seperti tadi. Namun, Professor Douglas hanya menghela nafas.
“Pada dasarnya, saya hanya diminta menggantikan Silvana untuk sementara, sampai Kepala Sekolah menetapkan guru Metabiologi baru yang permanen. Dan kalau bukan karena ini permintaan Silvana, saya tidak tertarik menerima tugas ini.” terang Professor Douglas. “Seolah-olah meladeni anak-anak Tingkat Satu tidak cukup menjengkelkan saja.”
“Maaf, Professor,” sela Walter, berusaha sesopan mungkin. “Tadi Anda bilang Professor Morello yang meminta Anda menggantikannya, maksudnya itu—”
“Barangkali ada dari kalian yang masih bertanya-tanya, clan bheag, Silvana menyatakan hal itu jauh-jauh hari sebelum kematiannya.” potong Professor Douglas. “Dia mengatakan hal itu pada asistennya, Sabilah. Saya tidak tahu alasannya, tapi saya menghormati permintaan Silvana.”
“Lalu—”
“Surat Perintah baru masuk beberapa saat yang lalu. Saya kira memori Anda masih cukup baik, tapi mungkin saya salah.”
“Oh,” Walter terkejut dikatai seperti itu, tapi dia mengangguk sopan. “Terima kasih penjelasannya, Professor.”
Professor Douglas mengecek presensi.
“Catatan kehadiran kalian tidak buruk,” ujar Professor Douglas sambil menggeser-geser layar iComp. “Tidak ada yang hobi terlambat masuk, bolos, atau tidur di kelas. Ach a-mhàin,” keningnya berkerut. “Malvina Ivanov Abramovich.”
Morena yang duduk di sebelah Malvina tersentak ketika mengetahui temannya itu masih tertidur pulas. Keterkejutan itu makin bertambah saat Professor Douglas tiba-tiba sudah berdiri di depannya, membawa sebuah botol biru yang dikeluarkan dari dalam jubahnya.
“Kalian tahu kalau kafein itu cukup baik untuk membantu menahan sementara rasa kantuk?” tanyanya sambil membuka tutup botol. Tidak ada yang merespon.
“Mungkin teman kalian ini sekali-sekali perlu minum kopi supaya tidak tidur di kelas,” lanjut Professor Douglas sambil menuangkan cairan hitam kental ke kepala Malvina.
Seisi kelas menatap dengan horor kejadian di depan mata mereka. Malvina tersentak bangun dan sontak marah-marah.
“HEEII! SIAPA YANG MENYIRAMKU?! SIAAALLL!” teriaknya.
Professor Douglas berhenti menuangkan kopi. Malvina menatapnya kikuk, salah tingkah. Profeesor Douglas balik menatapnya dingin, jauh lebih dingin ketimbang saat dia menatap Maribel. Agak jauh dari sana, The K-Rocks terkikik pelan.
“Eh, maaf, Professor...” Malvina nyengir bercampur ngeri. “Kemarin saya terjaga semalaman, mengerjakan tugas. Jadi saya agak mengantuk...”
Professor Douglas mendengus. Dia mengacungkan sebuah silinder di tangan kirinya dan menekan ujung atasnya. Layar persegi panjang beriluminasi biru terproyeksi dari sisi silinder itu, menampilkan sejumlah data pada Malvina.
“Catatan disiplinmu paling buruk. Sering datang terlambat, sering tidak mengerjakan tugas, dan tentu saja, sering tertidur di kelas. Untuk dua hal pertama, lagi-lagi itu disebabkan oleh tidur. Narkolepsi, barangkali?” tanya Professor Douglassinis. Lagi-lagi The K-Rocks cekikikan pelan. Malvina tertunduk, wajahnya memerah.
“Kalau saya boleh menebak, kau adalah keturunan dari Roman Abramovich, bukan begitu?” tanyanya lagi.
“I—i—iya... Da—dari ayah... Saya... c—cucunya...” jawab Malvina gagap. Tubuhnya gemetaran. Dia mencengkeram ujung roknya yang tidak sampai lutut.
“Tidak mengherankan,” Professor Douglas mendengus jengkel. “Saya pernah bertemu dengan dua orang keturunan Roman, dan keduanya hanya anak-anak manja yang brengsek. Tampaknya Roman memang tidak pernah mewariskan keturunan baik-baik.”
Wajah pucat Malvina memerah. The Great M menatapnya dengan gelisah, seolah-olah dia adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
“Nah, catatanmu selama ini mewakili segalanya,” Professor Douglas menggeser layar ke bawah dan mengernyit. “Ya ampun. Kau juga terkenal sering bermasalah karena gaya berpakaianmu,” dia menatap Malvina yang tertunduk dari atas sampai bawah. “Yah, saya bisa mengerti. Saya sendiri akan dengan senang hati memberimu poin F untuk Poin Etika-mu. Dan tidak usah tertawa, Nona van Velzen. Kau sendiri tampak seperti puip siorcais. Badut sirkus.” Lanjutnya, membuat Katrijn berhenti terkikik dan tertunduk. Dia mengetuk-ngetuk ikat rambut sebelah kanannya yang dihiasi bola-bola kecil berwarna-warni.
Sang guru membenarkan posisi kacamatanya yang longgar dan kembali ke depan kelas. “Seharusnya kalian berdua belajar sedikit soal etika berpakaian, kalau kalian punya cukup tata krama.”
“Tapi, Professor!” Malvina protes. “Apa yang salah dengan cara berpakaian saya? Ini, kan—”
“Baju tanpa lengan dan rok sembilan senti di atas lutut,” potong Professor Douglas, nadanya meninggi. “Sepertinya kau lupa, Nona Abramovich. Ini sekolah, bukan kolam renang pribadimu. Lagipula, apa kau merasa lebih menawan atau apalah dengan pakaian minim seperti itu? Barangkali iya, di kebun binatang.”
Selain The Great M, tidak ada yang bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Dan sebaiknya tidak ada juga yang membuat dirinya terlihat seperti badut murahan,” Professor Douglas mendelik sinis pada Katrijn, yang kembali berhenti tertawa dan berusaha menghindari tatapan gurunya itu. “Kali ini saya masih mengampuni kalian. Namun, jika di pertemuan berikutnya saya masih melihat kebodohan yang sama,” Dia menjentikkan jari. Pintu kelas bergeser terbuka.
Semua siswa merasa tertarik melihat sepatunya. Tiba-tiba mereka berharap agar kelas Metabiologi segera berakhir. Baru beberapa menit saja, mereka langsung tidak menyukai guru baru mereka ini.
“Anggap itu sebagai perkenalan. Sekarang, buka handbook kalian halaman empat ratus dua puluh tiga, tentang Wizenstones.”
Sisa pelajaran berlangsung cukup sunyi. Tidak banyak yang bersuara, kecuali The Dream Team yang sesekali bertanya dengan ragu-ragu soal materi hari itu. Mereka masih bertanya-tanya, apa alasan Professor Morello menunjuk Professor Douglas yang sama sekali tidak bersahabat ini sebagai penggantinya? 

Saturday, 13 January 2018

The Crest of Five, Episode 10

Lima hari berlalu setelah pemakaman Professor Morello.
Hari itu, seharusnya kelas Kompas belajar Metabiologi. Namun, belum adanya guru baru untuk menggantikan Professor Morello membuat kelas pagi itu kosong. Maribel masih tampak murung, meski tidak separah sebelumnya. Sementara, Mudiwa membuat puisi norak soal kesedihannya ditinggal guru kesayangannya untuk hari kelima berturut-turut dan membacakannya dengan mendayu-dayu di depan kelas. The Great M patah semangat mendengarnya, juga tidak luput dari ocehan pedas The K-Rocks.
“Lagi-lagi ribut tidak penting,” gerutu Clark, melihat The K-Rocks dan The Great M bertengkar lagi di depan kelas. “Mereka punya berapa ratus mulut, sih?”
“Tebak sendiri,” timpal Niels bosan. Matanya agak merah, seolah tidak tidur semalaman.
Tsumaranai...” keluh Kazuki. Dia melompat berdiri dari kursi sambil dengan sengaja mengentakkan kaki di lantai keras-keras, sedikit mengalihkan perhatian kedua kelompok yang berseteru. “Ayo keluar. Kepalaku bisa meledak kalau terus diam di sini.” Ujarnya sambil melangkah bosan. Ketiga temannya bertukar pandang setuju, lalu mengikuti Kazuki.
“Kazuki-sempai, mau kemana, nich?” Mudiwa setengah bertanya-setengah menggoda. Di sampingnya, Malvina dan Katrijn menggumamkan jengkel tentang ‘belagu’. Telinga Kazuki jadi panas.
Urusai, kisamatachi.” tukasnya kaku.
Tiffany dan Malvina yang mengerti artinya naik darah. “Bilang apa tadi?!”
Kazuki melemparkan tatapan dingin ke kedua perempuan, memercikkan ketegangan sejenak di udara. Tapi tampaknya Kazuki tidak berminat menanggapi mereka terlalu jauh, dia hanya memberi isyarat pada ketiga temannya untuk pergi sambil menggumam, “Kozo yarou.”
The Epic tidak menoleh ke belakang lagi sampai mereka keluar kelas, meski Malvina dan Tiffany meneriaki Kazuki dengan bahasa Rusia dan Korea kasar. Kazuki mengerti apa arti makian mereka, tapi kebosanannya mengalahkan kekesalannya.
“Mereka bicara apa, sih?” tanya Clark, melirik sekilas ke belakangnya. “Kedengaran seperti bahasa dari Neptunus.”
Hendrik merengut. “Neptunus? Manusia? Eksis? Alien?”
Yare yare, Hendrik-chan.” Kazuki menimpali, nyengir sejenak. “Kau bukan anak SD yang terjebak di tubuh anak SMA, kan?”
“Barangkali SMP,” Clark mengangkat bahu.
“Bukan, SD,” komentar Niels.
“TK,”
Playgroup,”
“Ada yang lebih rendah lagi?”
Niels, Kazuki dan Clark tergelak. Hendrik mendengus kuat-kuat, gusar.
Mereka menyusuri koridor timur, berpapasan dengan beberapa siswa Tingkat Dua yang juga jadwalnya kosong. Bahkan mereka bertemu juga dengan Professor Toro, guru Sistem Informasi dan Teknologi yang memiliki perut buncit dan kepala nyaris botak dengan antusiasme berlebih. Untungnya dia bukan guru yang ketat mengenai jadwal, jadi dia tidak mempermasalahkan keberadaan The Epic di luar kelas pada saat itu. The Epic menyapanya dengan semangat, sambil Kazuki menyindir masalah taruhan sepakbola yang lagi-lagi gagal dimenangkannya.
“Entahlah, rasanya saya nggak pernah beruntung soal tebak menebak,” kekehnya. “Saya yakin saya nggak bisa jadi pebisnis saat sudah pensiun nanti, pasti saya nggak bisa nebak pasar!”
“Omong-omong, itu tebakan Anda juga, bukan?” sahut Clark. “Saya taruhan Anda juga salah dalam menebak masa depan Anda ini.”
Mereka tergelak.
“Professor, bagaimana soal penyelidikan sistem pengawasan? Apa Anda sudah menemukan sesuatu yang aneh?” tanya Niels, mendadak teringat dengan siapa mereka bicara.
Raut wajah Professor Toro mengeras. “Entahlah. Saya baru menemukan ada sedikit gangguan di sistem kamera pada hari kejadian. Seperti ada bug yang mengalihkan tampilan sistem pengawasan di depan ruang Professor Morello ke kamera di koridor Timur,” Professor Toro menunjuk ruang guru di lantai dua tidak jauh di belakangnya. “Saya nggak tahu apa itu yang bikin Professor Morello kurang awas terhadap apapun yang mengancamnya, tapi saya khawatir saya jadi punya spekulasi nggak logis. Nggak ada yang tahu rangkaian sistem pengawas sekolah ini kecuali para staf—dan seorang siswa tertentu, mungkin.”
The Epic bertukar pandang, bertanya-tanya apa maksudnya. Sampai kemudian Niels terhenyak.
“Yang—yang benar saja? Maksud anda—“
Professor Toro mengangkat bahu. “Yah, tapi, kan, itu cuma spekulasi saya doang. Saya nggak bisa membayangkan ada di antara kita yang cukup berani membunuh orang. Professor Douglas, sih, ada kemungkinan, tapi dia nggak pernah kelihatan antusias akan apapun.”
“Professor Douglas?” tanya The Epic berbarengan.
“Lho? Kalian belum pernah diajar dia? Ah, tentu.” Professor Toro menepuk kedua telapak tangannya. “Dia awalnya mengajar Tingkat Dua dan Tiga, tapi kemudian dipindahkan ke Tingkat Satu saat kalian naik ke Tingkat Dua. Tentu, tentu. Ah, tapi nggak usah terlalu dipikirkan, sih. Itu cuma spekulasi saya, kok. Spekulasi! Hahaha!”
Meski begitu, The Epic tetap menaruh ketertarikan tentang apa yang dikatakan Professor Toro. Saat Professor Toro akhirnya pergi, mereka mendiskusikannya.
“Mudah-mudahan itu benar-benar cuma spekulasi, bukan realita.” Niels bergidik. “Spekulasi yang mengerikan.”
“Tapi bukan mustahil juga. Banyak orang dengan wajah tak berdosa tapi dibaliknya adalah pembunuh haus darah,” Clark menimpali. “Seenggaknya untuk membuktikannya memang kita harus tahu dulu apa yang dipakai untuk membunuh Professor Morello. Jadi bagaimana? Sudah ketemu?”
“Apa? Oh, itu.” Niels menggeleng. “Tidak semudah itu. Bukunya memang sudah kupegang, Professor Hummels tidak sulit untuk meminjamkannya, tapi itu pakai bahasa Slovakia. Menerjemahkannya susah, tidak ada daftar isi atau bagan petunjuk apapun. Aku jelas tidak mungkin mengambil secara acak, kan?”
“Kenapa tidak tanyakan saja pada Professor Hummels, kalau begitu? Dia pasti tahu, kan?” gugat Clark.
“Kalau Professor Hummels tahu, dia pasti sudah mengatakannya sejak kemarin,” jawab Niels. “Tidak, aku yakin sejauh ini belum ada yang tahu. Aku harus mencobanya satu persatu.” Niels menggertakkan gigi. “Kuharap bukan yang terakhir. Buku itu tebalnya 800 halaman.”
“Jadi itu alasannya kenapa kau mengurung diri di kamar tiap malam dan menghilang tiap jam istirahat?” sahut Kazuki malas. Dia menyepak buah mangga muda yang jatuh tidak jauh darinya dan tepat masuk ke tong sampah. “Yare yare, usahakan saja percobaan itu tidak ada yang membuatmu meledak.”
“Atau berkepala besar,” timpal Clark.
“Kanker otak.” kata Hendrik.
“Tapi kepalamu sudah besar, sih.”
“Sepertinya karena kanker otak,”
“Bum.”
Lukke op,” gerutu Niels. Kazuki dan Clark tergelak.
Mereka sampai di taman kecil di sebelah timur. Tidak sebesar taman utama, taman ini hanya sedikit lebih luas dari lapangan basket, dengan air mancur mini di tengah yang dikelilingi rumpun bunga dan rumput yang terpangkas rapi. Sebuah kursi panjang pada masing-masing sisi, salah satu yang paling ujung diduduki oleh tukang kebun, Joseph Marst-Svenningsen. Dia tertidur, wajah tirusnya tampak kelelahan.
“Apa yang dia lakukan? Tidur di waktu-waktu begini?” gumam Kazuki tidak suka.
“Mungkin dia benar-benar kelelahan. Kau tahu, kan, seberapa luas sekolah ini?” Niels mengomentari. “Biarkan sajalah, kau sendiri kadang-kadang suka tidur di kelas setelah nonton Liga Champions.”
Kazuki cuma nyengir tak berdosa. Mereka lalu berdebat sesaat mau kemana lagi, sampai kemudian sepakat akan ke kantin. Namun, baru saja The Epic mau masuk ke koridor, ekor mata Niels menangkap sesuatu yang ganjil.
Nyaris luput dari penglihatannya, sesosok bayangan hitam tampak menyelinap di balik pepohonan yang berderet dari arah gerbang selatan, lalu ke pilar laboraturium Alkimia. Sosok itu mengarah ke taman. Niels merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Hei, kalian!” bisik Niels, sembari menarik Clark dan Kazuki merapat ke dinding. Hendrik tidak perlu, dia selalu refleks melakukan apapun yang tiba-tiba dilakukan Niels. Dengan hati-hati, Niels mengintip ke arah taman.
“Apaan, sih? Lihat apa?” bisik Clark tidak sabar, kepalanya dijulurkan ingin melihat, tapi ditahan oleh Niels.
“Psst!” Niels menyipitkan mata. “Diam sebentar.”
Tidak lama kemudian, sosok itu keluar dari balik pilar terdekat dengan Joe. Dia mengenakan jubah hijau tua panjang yang lusuh, dengan tudung menutupi kepalanya dan masker serta kacamata hitam menyembunyikan wajahnya. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain di sana, lalu berjalan menghampiri Joe.
Perasaan Niels makin tidak enak. Apa yang orang itu lakukan di sini? Dari mana dia masuk? Bagaimana bisa?Pikiran-pikiran itu berkelebat di benaknya. Penasaran, dia menekan sisi gagang kanan kacamatanya. Detektor di sebelah lensa sebelah kanan menyala, dan kedua lensa kacanya menjadi monitor. Dengannya, Niels bisa mendeteksi keberadaan benda-benda di balik pakaian seseorang. Dia mengarahkannya ke jubah si penyusup, yang sudah makin dekat dengan Joe.
Jantung Niels berdegup kencang. Penyusup itu membawa dua bilah parang panjang—paling tidak bilahnya sepanjang 40 cm—diselipkan di pinggang. Sekarang, tangan kirinya diselipkan ke balik jubah, menyentuh gagang parangnya...
Instingnya mengambil alih. Niels melompat keluar dari persembunyian dan berseru. “Hei!”
Si penyusup nyaris terlonjak. Teriakan Niels tadi cukup kencang, sampai-sampai Joe sendiri tersentak bangun dari tidurnya, linglung. Ketiga Epic lainnya berdiri di belakang Niels, sama-sama kaget melihat si penyusup.
“Mau apa kau?” tuntut Kazuki.
“Siapa kau?” seru Clark.
“Kau!” Hendrik menunjuk si penyusup.
Joe akhirnya menyadari keberadaan si penyusup, dan demi melihatnya, nyaris terlonjak dari kursi. Si penyusup sendiri menggeram, lalu menyelipkan kedua tangannya ke balik jubah dan mengeluarkan sepasang parangnya, mengacungkannya pada The Epic.
Demi melihat parang itu, Clark terbelalak sekejap, lalu menyadari sesuatu. “Kau!” tunjuknya. “Kau pasti yang menyerangku di asrama dulu!”
Sementara Joe masih tampak bimbang—bimbang? Niels tidak mengerti raut wajah Joe, tidak ada yang mengerti apa yang ada dalam pikirannya—si penyusup meraung dan menyerbu ke arah The Epic. Clark sudah bersiap-siap, tapi Kazuki yang pertama bereaksi.
Kisama!” teriaknya. Dia membanting bola kecil yang diambil dari sakunya ke lantai. Bola itu mengembang menjadi seukuran bola sepak dalam waktu kurang dari sedetik. Kazuki lalu menekan logo Manchester United di sepatu kanannya, membuat sepatunya berdengung pelan.
KORRAAA!!!” Kazuki meraung bersamaan dengan menyepak bola itu keras-keras dengan kaki kanannya. Bola melesat dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan sangat sedikit waktu bagi si penyusup untuk bereaksi, dan tepat menghantam wajahnya. Sepakan tadi pastinya kuat sekali, sampai-sampai si penyusup terjungkir balik, parang terlepas dari tangan. Namun, tidak butuh waktu lama baginya untuk bangun lagi, meski agak terhuyung.
“SERANG!” kali ini Clark yang berteriak. Dia, Kazuki dan Hendrik menyerbu si penyusup sebelum dia sempat mengambil parang.
Tahu kesempatannya berkurang, si penyusup bertindak bijak dengan berusaha kabur, melewati jalan setapak sepi menuju gerbang selatan. The Epic tidak membiarkannya. Niels ikut bergabung mengejar si penyusup, setelah sebelumnya agak bimbang sedikit antara ikut mengejar atau menanyai Joe. Kazuki memimpin, dengan reputasinya sebagai pelari tercepat di CIS. Tidak sampai semenit, mereka tiba di Gerbang Selatan CIS yang mengarah ke lembah dan Taman Biologi. Si penyusup sudah mencapai gerbang yang sepi kecuali oleh satu orang. Staf Keamanan di sana, Ji Dong-Un, berusaha mencegatnya, tapi penyusup itu menjatuhkannya dengan sekali tinju.
“Tunggu kau, bajingan!” raung Clark.
Gerbang tidak berbunyi apa-apa saat si penyusup berlari melewatinya—mengejutkan semua orang—tapi The Epic tidak mau memikirkannya dulu. Mereka terus mengejar, menerobos semak-semak kemana si penyusup kabur. Tidak ada jalan setapak dan tanahnya agak menjorok ke bawah, ditambah agak licin. Hendrik sempat terpeleset, meski untungnya bisa mencengkeram dedaunan di semak-semak—walaupun telapak tangannya jadi agak lecet. Di sisi lain, saat mereka berbelok ke kiri, kaki kiri Clark terperosok ke sebuah lubang.
“Kejar terus! Aku bisa mengatasinya!” seru Clark, meski agak meringis. Ketiga temannya tidak pikir panjang, terus mengejar si penyusup.
Untungnya, si penyusup juga sedikit kesulitan melewati semak-semak lebat seperti ini. Kazuki bisa lebih cepat mengejarnya. Saat tanah kembali menjadi landai dan bebas semak-semak, Kazuki mempercepat larinya. Dia makin dekat dengan si penyusup, yang tampak panik dan sekuat tenaga berusaha menembus rimbunan tanaman perdu tidak terlalu jauh di depannya.
Sial bagi sang penyusup, kakinya terjerat akar belukar lebat di dekat sebuah pohon. Dia menggeram sambil menarik-narik kakinya dengan susah payah. Kazuki melihat kesempatan itu dan menyerbu lebih kencang. Memanfaatkan batang pohon rubuh di depannya, Kazuki bertolak di atasnya dan melompat, menerjang sang penyusup. Saat si penyusup menoleh, Kazuki melepaskan tendangan diagonal yang menyambar sisi kanan kepala lawannya.
Si penyusup melenguh dan roboh. Kazuki mendarat kurang mulus, kaki kirinya jadi sedikit terkilir. Kazuki berjengit, tapi berusaha menghilangkan rasa sakit itu—dia sudah pernah mengalami cedera yang lebih buruk lagi—dan kembali melompat menerjang. Si penyusup tidak punya kesempatan saat Kazuki meninju rahangnya.
Niels dan Hendrik tiba tidak lama setelahnya, dengan Hendrik lebih dulu menarik kerah jubah si penyusup dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu membantingnya kuat-kuat ke batang pohon rubuh. Teriakan nelangsa bergema di lembah seiring punggung si penyusup membentur keras balok kayu.
Clark tiba beberapa saat kemudian, dengan nafas terengah-engah dan tampang meringis, tapi ikut mengambil peran dengan memukuli si penyusup di berbagai bagian tubuhnya. Tidak ketinggalan, dia memelintir tangan kanannya sampai patah, meninggalkan raungan kesakitan sang penyusup yang lebih bergema dibanding sebelumnya. Detik berikutnya, orang itu pingsan.
“Fuah!” Kazuki meludah, lalu melangkah mendekati si penyusup, menatapnya dengan jijik. “Hanya bisa segitu, eh? Kau nggak layak untuk masuk klub Yakuza kelas teri sekalipun.”
Sunyi sejenak, sebelum dipecahkan suara tonggeret dari rimbunan pohon di dekat sana. Niels berjongkok dan menarik tudung si penyusup terbuka, lalu melepas kacamata dan maskernya. Tampaklah wajah seorang laki-laki paruh baya berkulit kecoklatan dan berkumis tebal, matanya terbuka lebar seperti baru saja melihat hantu. Lebam menghiasi sebagian besar wajahnya, tampaknya karena sepakan bola dan kaki Kazuki tadi.
Clark mengamati wajahnya, mengernyit. “Kita nggak membunuhnya, kan?”
“Kau, bukan kita.” koreksi Kazuki. “Kau yang mematahkan tangannya.”
“Tapi kau juga menghajarnya habis-habisan tadi,” balas Clark sengit.
“Kalian, cukup.” Niels menengahi. Dia berdiri dan berkomentar, “Dia hanya pingsan, tentu saja. Dan wajahnya... sepertinya dia orang Indonesia.”
“Apa?” tanya Clark. “Orang negara ini menyerangku di asrama?”
“Belum tentu.” Niels menggeleng. “Siapa yang bisa menjamin orang ini yang menyerangmu dulu? Lagipula dia membawa parang, bukan sabit. Kau juga bilang yang menyerangmu itu tinggi kurus, kan?”
“Itu...” Clark jadi ragu-ragu. Niels menghela nafas dan menyeka keningnya.
“Sekarang kita bawa ke staf keamanan. Dan Joe. Mungkin dia tahu sesuatu.”
Hendrik mengangkut tubuh pingsan di penyusup di bahunya dengan mudah. Niels yang berdiri di belakang Hendrik melihat ada simbol kecil di punggung atas jubah si penyusup. Heran, Niels mengamati simbol itu lebih dekat. Sebuah heksagram unikursal dengan simbol seperti ular yang melingkarinya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Clark.
Niels menggeleng. “Bukan apa-apa. Ayo.”
Dengan susah payah, mereka kembali menerobos semak-semak dan menanjak naik, sesekali tergores dedaunan tajam. Clark menggerutu soal ini, sementara Niels menyuruhnya tidak banyak komplain mengenai alam.
“Bersyukurlah sekolah ini masih menjaga lingkungan alamnya dengan baik,” ketus Niels. “Sydney panasnya seperti neraka, tahu.”
Lima menit kemudian, mereka akhirnya berhasil sampai di jalan setapak dan berjalan kelelahan ke Gerbang Selatan. Di sana, Ji, Haruka Masakawa, Riza Santoso, dan Joe sudah menunggu, berdebat satu sama lain. Saat Riza menengok ke arah The Epic, staf keamanan bertubuh agak tambun itu memberitahu ketiga rekannya dan mereka menghampiri The Epic.
“Kalian berhasil menangkapnya?” mata Riza berbinar-binar melihat tubuh pingsan si penyusup yang dibanting Hendrik begitu saja ke tanah.
“Merepotkan. Kemana kalian?” Hendrik menepuk-nepuk tangannya dengan jengkel.
Gomennasai,” Haruka membungkuk minta maaf, lalu satuan keamanan perempuan ini berjongkok di samping tubuh si penyusup. “Kami kecolongan, dua dari kami ada di Gerbang Utara.”
“Dan rekanmu ini benar-benar nggak berguna,” Clark mendelik pada Ji, yang balas melotot.
Niels teringat sesuatu, lalu berpaling pada Joe. “Joe, apa kau kenal orang ini?”
Joe yang sedari tadi berdiri tanpa ekspresi menunduk, melihat wajah si penyusup. Dua detik kemudian dia menggeleng. “Tidak pernah lihat.”
“Kau yakin?” Niels terpikir ide aneh di kepalanya. “Mungkinkah... dia yang membunuh Professor Morello?”
Hampir semua terkejut mendengar perkataan Niels, tapi Joe dengan sigap menggeleng.
“Kenapa? Dia, kan, bisa menyusup masuk sekolah begitu saja!” Niels menuntut, heran dengan sikap Joe. Kecurigaan baru muncul di kepalanya.
“Pembunuh Professor Morello pasti cerdas sekali.” Joe ikut berjongkok di dekat si penyusup, menatap wajahnya. “Tindakan orang ini bodoh sekali.”
“Lantas bagaimana caranya dia bisa menembus sistem keamanan sekolah?” Kazuki mendelik pada Ji. “Hoe, omae, kenapa orang ini bisa lolos?”
Ji tidak menjawab, hanya membuang muka dengan sebal. Kazuki berdecak dan menggumam dalam bahasa Jepang—tampaknya kasar, sebab Haruka merengut tidak setuju.
“Tetap bukan.” Joe menggeleng lagi. Dia merogoh bagian dalam jubah, mencari-cari sesuatu, lalu menarik keluar sebuah kartu identitas. Kartu Staf milik Dr. Maulana, asisten Laboraturium Alkimia. Dia mengacungkannya pada The Epic. Keempatnya tersentak.
“Benar, dia bisa masuk menggunakan itu. Tapi...” Niels tersentak. “Dr. Maulana!”
Joe mengangguk. “Masakawa, Ji, Santoso, tolong ke Lab Alkimia sekarang.” Ketiganya mengangguk dan buru-buru menghambur ke arah Taman Biologi. Tinggal mereka berlima.
“Kami akan urus orang ini. kalian kembali saja ke kelas. Dan terima kasih.” Kata Joe kaku.
The Epic bertukar pandang satu sama lain, mengangkat bahu, lalu melangkah pergi.
“Satu lagi.” Joe menyela, menghentikan langkah The Epic. “Jangan beritahukan ini pada Kepala Sekolah. Tolong.”
Kazuki mendengus sinis. “Nani? Kepala Sekolah? Ha! Siapa juga yang mau mencari masalah baru? Ano yarou, dia muncul saja sudah cukup jadi masalah besar hari ini.”
“Beruntung kami muncul, Joe. Kalau tidak kau pasti sudah mati.” cetus Clark. “Ayo.”
The Epic meninggalkan Joe yang membisu tanpa ekspresi. Mereka mampir dulu ke toilet, membersihkan pakaian mereka yang kotor dan membasuh lecet-lecet di tubuh mereka.
Seriously, apa yang orang itu pikirkan? Apa dia sudah gila?” tanya Clark saat mereka sudah kembali berjalan ke kelas. “Menyerang orang CIS siang-siang begini? Dan dia punya kartu identitas Dr. Maulana...”
“Dia? Baik-baik saja? Apa?” tanya Hendrik.
“Mudah-mudahan. Seingatku dia harusnya memandu Praktikum Alkimia kelas Posfor di jam ini—Rizki Kurniawan yang memberitahuku—tapi tidak ada kerusuhan apa-apa. Mungkin penyusup itu hanya mencuri kartu identitasnya saja.” Niels berspekulasi.
“Menyerang Joe. Untuk apa? Lagipula.”
“Entahlah. Tapi orang itu tentunya bukan yang mengincarmu kemarin, Clark. Bukan juga yang membunuh Professor Morello.”
“Kau percaya begitu saja apa yang dikatakan Joe?” tanya Kazuki.
Niels mengangkat bahu. “Aku tidak bisa bilang begitu. Tapi apa yang dikatakannya logis juga. Paling tidak aku berspekulasi kalau pembunuh Professor Morello tidak bekerja sendiri. Pasti berkelompok.”
“Kau yakin? Apa berarti anak ini ada kaitannya dengan kasus Professor Morello?” Kazuki menunjuk Clark.
“Apa maksudmu?” tuntut Clark.
“Itu suatu kemungkinan. Tapi kita masih tidak tahu apa kaitannya, jadi sebaiknya tidak usah dipikirkan dulu.”
“Ngomong-ngomong, kau masih yakin mau meminta salinan buku digital itu pada si kembar?” tanya Kazuki malas. “Anak-anak itu selalu bikin repot, tahu.”
“Ya, lakukan saja. Aku yakin itu pasti berguna. Mungkin kita bisa dapat petunjuk soal simbol aneh itu di salinan digitalnya.” Tiba-tiba Niels teringat simbol yang dilihatnya di jubah si penyusup tadi.
Di depan kelas Nasa, mereka berpapasan dengan The Dream Team. Walter melihat kedatangan The Epic dan melemparkan tatapan dingin pada Niels, yang dibalas sama dingin selama beberapa detik, sebelum keduanya membuang muka satu sama lain. The Epic melewati The Dream Team begitu saja, tidak menyadari mereka sedang bicara dengan siswa nyentrik kelas Nasa, Pavel Koutnik.
“Aku ‘gak p’nah li’at,” Pavel menatap simbol di layar iComp Hanifah dengan kening berkerut. Rambut merahnya masih berdiri runcing layaknya landak seperti biasa. “K’lian dapat ini dari mana?”
“Buku,” sahut Walter cepat. “Aku dapat kemarin dari perpustakaan. Kelihatannya aneh, makanya aku tanya.”
Pavel merengut, menatap ketiga orang di depannya tidak yakin. “K’lau k’lian tahu, t’rus mau diapakan?”
Well...” Walter mendelikkan mata ke langit-langit koridor. “Intinya kami ingin tahu apa simbol itu ada hubungannya dengan apa yang kami baca. Soalnya tidak ada keterangan sama sekali. Kau tahulah, Professor Munajat. Dia akan merasa sia-sia mengajar kalau tidak memberikan tugas aneh.”
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Pavel menatap bolak-balik antara layar iComp dan Walter, seolah menimbang-nimbang apakah Walter layak dipercaya atau tidak. Nia, sementara itu, menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Hanifah—apapun itu, Hanifah menggeleng tidak nyaman.
Akhirnya, Pavel menghela nafas dan mengangguk. “Oke, aku akan coba cari. Aku punya rekap data t’ntang ilmu sihir Eropa dari nenek moyangku, dan s’bagian dari Afrika juga Asia.” Dia kembali melirik Walter kaku. “Kau ‘gak akan bantu The Epic, kan? Buat tugas ini?”
“The Epic? Oh, untuk apa aku membantu mereka?” Walter mengangkat bahu.
“Oke,” Pavel mengeluarkan keping iComp dari sakunya dan menyalakannya. “Kirim gambarnya. Oh, untuk t’man k’cilmu ini, tolong kasih ta’u biar ‘gak bicara miring. Cuma kar’na terdengar ‘gak logis, bukan b’arti sihir itu ‘gak ada.”
Nia terkesiap kaget dan menatap Hanifah yang sama bingungnya.
“Itu bukan sihir,” Walter meyakinkan kedua temannya ketika mereka berjalan kembali ke kelas. Sebagian siswa Reiga dan Nasa berlari-lari kecil melewati mereka, tertawa-tawa. “Kudengar dia punya pendengaran diatas normal. Itu saja.”
“Anta yakin?” Hanifah tampak skeptis.
“Memang apa lagi? Simbol itu bisa jadi simbol dari Underworld Citron sendiri. Tanaman itu pertama ditemukan tahun 1372, pada Abad Pertengahan. Tentu ada kemungkinan simbol itu muncul pada masa itu juga. Dan apa lagi yang dianggap mistis pada saat itu kalau bukan ilmu sihir?”
“Aku tidak bisa memercayai orang yang memercayai sihir,” ujar Nia kaku. Dia memeluk buku Metabiologi Lanjut-nya erat-erat. “Aku tetap tidak percaya sihir.”
Walter menghela nafas. “Aku heran kenapa manusia cuma percaya dengan apa yang bisa dilihatnya saja. Percayalah sedikit padanya. Penyakitmu yang suka meremehkan itu menyedihkan, kau tahu. Omong-omong, kalau kau begitu terus dalam waktu dua bulan, bisa-bisa kau jadi psikopat. Mau kubantu carikan dokter saraf yang handal?”
Nia memberikan Walter tatapan beracun.