Dua
minggu berlalu sejak Professor Douglas menggantikan tugas Professor Morello.
Patut diakui, kualitas pengajaran Professor Douglas memang baik, tidak jauh
berbeda dengan pendahulunya. Bahkan, apa yang tidak diajarkan oleh Professor
Morello karena pertimbangan tertentu malah diajarkan olehnya, utamanya tentang
tanaman beracun dan berbagai jenis tanaman langka yang bahkan namanya baru kali
ini didengar siswa. Salah satunya adalah Asam Jawa, tanaman asli Indonesia yang
nyaris punah dua puluh tahun yang lalu, tapi Professor Douglas meyakinkan para
siswa bahwa Professor Morello telah berhasil menyelamatkannya. Walter, yang
sangat antusias dengan khasiatnya, bertanya dimana Professor Morello memelihara
tanaman itu, tapi berakhir dengan kekecewaan karena Professor Douglas tidak
akan memberitahukannya sampai beberapa minggu lagi.
Namun, para siswa tidak begitu menyukai sikapnya. Selain
dingin dan tidak ramah, Professor Douglas tidak pernah ragu mengeluarkan kritik
pedas pada para siswa. Memang, Professor Douglascukup menghargai mereka yang
mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugasnya dengan baik. Namun, untuk yang
tidak maksimal, dia tidak segan-segan menghukumnya dengan poin E bahkan F. Dia
bahkan bisa tahu jika seseorang mengerjakan tugas hanya dengan menyalin dari
temannya, yang berimbas poin buruk juga baginya. Malvina lagi-lagi menjadi
korban, disamping Tiffany, Susanti, dan untuk pertama kalinya, Clark.
Professor Douglas pun benar-benar membuktikan
perkataannya. Pada pertemuan kedua dan ketiga di kelas Kompas, Malvina diusir
keluar karena—lagi-lagi—tertidur dan tidak juga mengubah gaya berpakaiannya.
Pada pertemuan ketiga, Professor Douglas tanpa ragu-ragu mengatakan akan
memberinya nilai F di laporan semester. Namun, setelah lobi-lobi memelas dari
Maribel dan Mudiwa, Professor Douglas akhirnya dengan enggan memberi
kelonggaran dengan memberikan hukuman berupa mengerjakan setumpuk tugas yang harus
diselesaikan dalam waktu seminggu. Efeknya, seminggu kemudian, Malvina terlihat
seperti zombi yang kurang tidur.
Dalam sekejap, Metabiologi jadi momok baru bagi para
siswa.
“That bloody Scot
must be nuts! Aku disuruh membuat essai empat belas halaman tentang
Ekosistem Gurun Australia! Tulis tangan pula!” gerutu Gavin Bradbrook, siswa
kelas Posfor di kantin sekolah.
“Salah sendiri. Malah tidur di kelas.” timpal temannya,
Angga Saputra.
“Hei! Aku nyaris tidak tidur semalaman untuk mengerjakan
tugas Professor Nurdiantoro! Apa dia tidak bisa memaklumi sedikit?” sungut Gavin.
Angga menghela nafas. “Tahu sendiri Professor Douglas
tidak setoleran Professor Morello. Kau ini memang tidak pernah belajar.”
The Epic mendengarkan keluhan-keluhan Gavin dari meja di
sebelahnya. Mereka pasang telinga soal topik pembicaraan di kantin, yang
sebagian besarnya sama: Professor Douglas.
“Kalian dengar itu? Bahkan kelas lain pun banyak yang
tidak menyukainya.” kata Kazuki.
“Hampir semua, mungkin. Cuma yang pakar di Metabiologi
saja yang tidak bermasalah dengannya.” sambung Clark, melirik Niels dan Hendrik.
“Hei, vente,
aku juga tidak suka orang itu! Cara mengajarnya memang bagus, tapi sikapnya
membuatku jengah.” sergah Niels. Hendrik mengangguk setuju.
Clark menyeruput jus mangganya. “Yang membuatku heran,
kenapa Professor Morello meminta Professor Douglas untuk menggantikannya?
Kenapa tidak yang lain, Sabilah misalnya?” dia berdecak sebal. “Anak kecil itu
nggak akan mempermasalahkan dari mana aku dapat jawaban tugasku.”
“Sabilah diberi tugas di Tingkat Dua. Biar bagaimanapun,
Sabilah dan Professor Douglas sama-sama punya tugas lain yang tidak mudah. Kau
pikir Taman Biologi itu berapa besar?” terang Niels.
Kazuki berdecak gusar. “Mattaku, kenapa bukan Sabilah saja yang ditugaskan di Tingkat Tiga?
Lebih kekanakkan daripada Nia, memang, tapi setidaknya lebih menyenangkan
daripada Professor Douglas.”
“Tingkat Dua. Mengeluh. Pasti. Lingkaran tak terbatas.”
gumam Hendrik.
“Materi untuk Tingkat Tiga pun cukup kompleks. Pihak
sekolah pasti memperhitungkan itu juga. Mereka pasti ambil yang terbaik untuk
Tingkat Tiga.” Niels menambahkan. “Mau bagaimana lagi? Berharap saja Kepala
Sekolah cepat menemukan guru Metabiologi baru.”
Mereka membayar makanan dan kembali ke kelas. Di koridor
dekat Perpustakaan, mereka melihat Pavel berjalan ke arah mereka. Dia membawa
setumpuk buku usang dan mengapit bergulung-gulung perkamen tua kecoklatan di
tangannya. Mata abu-abunya mendelik sinis pada The Epic saat mereka berpapasan.
“Kau mau apa dengan tumpukan kertas usang itu, kepala
landak? Cari mantra untuk mengubah rambutmu?” sindir Clark.
Pavel menyeringai dingin. “Barangkali aku bisa nemu
s’suatu buat m’ubahmu jadi tongkat pel sungguhan. S’gaknya itu bikin kau s’dikit
l’bih b’guna.”
Clark melotot. Pavel memberinya tatapan sinis terakhir
dan melengos pergi, melanjutkan langkahnya ke perpustakaan.
“Ada yang pakai sektor A-3, Nita?” tanyanya pada penjaga
perpustakaan di meja registrasi.
Nita Ernawati, penjaga perpustakaan berwajah gepeng dan
beralis tebal dengan raut wajah cemberut permanen menggeleng. “Buat apa kau
kesana? Kalau butuh privasi khusus, kau,‘kan, bisa pakai Ruang Diskusi.”
“’gak, makasih. Aku mau cek s’suatu d’sana.” sahut Pavel
sambil menuju sektor itu.
Nita menggelengkan kepala bosan. “Apa yang ada di
pikirannya? Berkutat dengan sejarah super membosankan seperti itu.”
Sektor ini berupa ruang cukup luas yang dikelilingi empat
rak buku besar berisi ratusan buku tebal, sebagian besarnya bersampul kusam.
Rak dekat koridor perpustakaan lebih sempit, menyisakan jalan masuk kecil di
sudut. Di tengahnya, terdapat sebuah meja kayu segiempat dan empat kursi di
masing-masing sisi. Pavel menaruh buku dan perkamen yang dibawanya di atas
meja, lalu meraih empat buku dari rak di dekat dinding. Dia membuka gulungan
salah satu perkamen dan mulai menelusuri isinya.
Lima menit kemudian, Professor Hartmann masuk ke dalam
sektor itu dan menelusuri rak buku di sebelah kanannya. Dia baru menyadari
keberadaan Pavel saat dia berpaling ke rak berikutnya.
“Ah, Koutnik!” sapa Professor Hartmann ramah. “Sedang apa
di sini? Kelasmu sedang kosong?”
Pavel mendelik pada Professor Hartmann. Tatapannya sinis
dan jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan.
“Professor Hummels ‘gak datang.” sahutnya malas. Dia
menggulung perkamen yang tergelar dan membuka perkamen baru.
Professor Hartmann menghampirinya dan melihat isi
perkamen yang tergelar di meja. Puluhan simbol dan tulisan dalam kuruf kuno
yang sebagian sudah mengabur tersebar di sana. Professor Hartmann menatapnya
dengan penuh ketertarikan.
“Kamu suka simbologi, Koutnik?” tanyanya sambil
tersenyum. “Tampaknya ini simbol-simbol tua. Dari zaman mana?”
“Dark Age. Transilvania.” jawab Pavel ketus.
“Hmmm. Tugas dari Professor Munajat?”
Pavel menggeleng, lalu menggulung perkamen dan membuka
lagi yang baru.
Professor Hartmann menarik kursi ke dekat Pavel dan
duduk. Dia menatap siswanya lembut, tetap tersenyum. “Lalu apa? Kamu pasti
punya alasan untuk membuka rekaman lama seperti ini.”
Jari telunjuk Pavel berhenti menelusuri permukaan
perkamen, matanya kembali mendelik tidak suka pada guru yang duduk di
sebelahnya. Tatapan Professor Hartmann masih tetap hangat, biar begitu. Mereka
bertukar pandang beberapa saat, dengan Pavel berusaha mencari tahu apa yang ada
di dalam pikiran gurunya. Sampai kemudian, Pavel berdecak jengkel dan kembali
menelusuri simbol-simbol.
“Cocok’in simbol. Baru p’tama li’at. Bukan tugas.”
Jawabnya kaku.
“Wah, simbol apa itu? Dapat dari mana?”
“Dari t’man k’las lain. Dia n’mu simbol aneh.”
“Simbol seperti apa?”
Pavel kembali menatap gurunya. Dia menatap lekat-lekat
mata coklat gelap Professor Hartmann. Mata yang dalam dan sulit ditebak—aneh,
Pavel biasanya mudah menebak niat seseorang cukup dengan mengamati tatapan matanya.
Namun, Pavel tidak bisa menghilangkan kecurigaannya begitu saja hanya karena
dia tidak bisa membaca niat.
“Simbol kuno. Kaya’nya simbol sihir tua. Eropa, mungkin.
Zaman pertenga’an.” Dia menjawab cuek.
Demi mendengar soal itu, mata Professor Hartmann agak
melebar. Meski sedikit sekali, tapi wajahnya menegang. Pavel menyadari
perubahan sikap ini dan mulai curiga—dia selalu
curiga pada perubahan sikap seseorang.
“Simbol sihir? Zaman pertengahan? Wah, kedengarannya
menarik.” Kata Professor Hartmann, tetap tenang. Tapi Pavel tahu, nada suaranya
berubah lebih tegang, meski sedikit sekali. “Simbol seperti apa, itu?”
Pavel mendengus. “Anda s’diri ‘napa nanya-nanya so’al
ini? Saya yakin ini ‘gak ada hubungannya sama subyek Anda. Apa yang guru
Alkimia laku’in di sektor buku Sejarah, k’lo boleh ta’u? Pastinya ‘gak ada
apa-apa so’al Alkimia di t’mpat b’gini.”
Professor Hartmann terdiam sejenak, raut wajah dan sorot
matanya sulit ditebak. Lalu, Pavel melihatnya. Dibalik senyumnya yang kembali
terkembang, sorot matanya berubah—samar, tapi itu sorot mata yang mengancam.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu tidak ada
salahnya, bukan?” jawab Professor Hartmann. Dia berdiri dan mengembalikan kursi
ke tempatnya. “Saya mencari buku tentang sejarah Alkimia di zaman pertengahan
juga, tapi mungkin saya salah sektor. Saya tidak menemukannya di rak.” Dia
memberi Pavel senyuman terakhir dan beranjak keluar dari sektor itu.
Pavel menatapnya sampai sang guru hilang dari pandangan.
Rasa curiga terus memenuhinya. Dia tahu persis kalau Professor Hartmann tidak
mungkin salah sektor begitu mudahnya—ada katalog perpustakaan. Dan sejarah
Alkimia, itu terkesan terlalu dibuat-buat.
Pavel mengeluarkan iTelph dari sakunya dan menghubungi
seseorang.
“Hati-hati d’ngan Hartmann.” ujarnya singkat, lalu
menutup telponnya.
***
Di kelas Kompas, The Epic sedang menebak-nebak apa yang
dilakukan Pavel saat Professor Douglas masuk. Dia meletakkan iComp-nya di meja
guru dan berdiri menghadap para siswa.
“Apa tugas terakhir yang diberikan Silvana pada kalian?”
tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, para siswa berbisik-bisik tidak
nyaman.
“Er... anu, tugas essai, Professor.” jawab Clark.
Professor Douglas menatap Clark tajam. “Tentunya kita
tahu bahwa Professor Morello selalu memberikan tugas berupa essai. Saya
mengharapkan jawaban yang lebih cerdas darimu, Henderson. Saya dengar ini kelas
unggulan, apa benar?”
Tiba-tiba semua siswa jadi tertarik dengan sepatunya
sendiri. Clark mencaci dirinya sendiri dalam hati.
“Walter Tuanzebe,” Professor Douglas menoleh pada Walter.
“Sebagai ketua kelas, kau seharusnya masih ingat.”
Walter menjawab ragu-ragu. “Eh, tugas itu essai
tentang... emm... Underworld Citron.”
Sekilas, mata Professor Douglas berkilat terkejut.
“Underworld Citron?”
“Iya, Professor.”
Professor Douglas merengut, raut mukanya tampak tidak
mengerti campur berpikir keras. Seisi kelas menegang, seolah-olah Professor Douglas
akan memberi mereka tugas menulis jurnal ilmiah.
“Baiklah,” Professor Douglas memecah keheningan dan duduk
di kursi guru. “Sepertinya saya kurang teliti. Dalam arsipnya, Silvana
memberikan tugas pada tanggal 2 September dan dikumpulkan tanggal 4 September.
Sementara, tugas terakhir yang saya temukan dari arsip Silvana adalah tanggal
14 Agustus. Bicara soal itu, apa alasan Silvana menyuruh kalian mencarinya?”
Seisi kelas tertunduk tegang lagi.
“Mengesankan sekali,” ketus Professor Douglas. “Dan
sebagian guru mengatakan ini kelas terbaik? Biasanya Silvana memberitahu apa
alasannya menugaskan kalian sesuatu, saya yakin. Tentunya ada setidaknya, satu
atau dua orang yang kapasitas otaknya agak mencukupi, yang menyadari bahwa
Silvana tidak memberikan alasan seperti biasanya?”
Kelas hening sama sekali. Mata Professor Douglas menyapu
seluruh kelas.
“Tidak ada yang menjawab?” nadanya tambah berbahaya.
“Dia... dia sedang terburu-buru, Professor.” jawab Walter,
setengah memaksakan diri. “Segera setelah memberikan kami tugas, dia langsung
pergi.”
“Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa Silvana tidak akan
menjawab pertanyaan tentang itu jika ditanya, Tuanzebe?” Professor Douglas
bertanya balik. “Saya tahu Silvana seringkali pelupa, tapi dia tidak pernah
mengeluh saat diingatkan.”
Dan Walter pun kembali tertunduk, bergabung dengan
teman-temannya.
“Saya tidak punya hobi menghukum di kesempatan pertama,
jadi anggap ini peringatan.” Professor Douglas menggeser layar iComp ke bawah
dan membuka sebuah e-book. “Mengenai tugas itu, kirim ke e-mail saya,” sebuah
alamat e-mail muncul di Digital Board. “Paling lambat pukul 20.00. Tidak ada
toleransi waktu.”
Setengah kelas menghela nafas lega.
Professor Douglas mendelik kepada siswanya. “Masih tidak
ada yang bertanya kenapa saya menyuruh kalian tetap mengumpulkannya?”
Ketegangan kali ini lebih buruk dari sebelumnya.
“Maaf, Professor?” Maribel mengangkat tangan hati-hati.
“Boleh saya bertanya... tapi bukan tentang alasan atau apa...”
“Ya?”
“Saya menemukan... di referensi... kalau tanaman itu...
Underworld Citron...” Maribel menelan
ludah, menimbang dengan hati-hati. “Ter—terkutuk. Apa—apa benar?”
“Terkutuk?” Professor Douglas menyipitkan matanya, lalu
menatap Maribel lekat-lekat. Wajah Maribel mendadak dipenuhi horor. “Kalau
boleh saya tahu, apa referensi yang kau pakai?”
“Eh? I—itu... er...” lidah Maribel mendadak kelu.
“Miller Sheringham, Professor.” Hanifah yang menjawab.
Wajahnya juga tegang, tidak seperti biasanya.
“Saya tidak ingat menanyaimu, Al Jaziri,” Professor Douglas
memberikan delikan tajam pada Hanifah, yang kembali menatap sepatunya. “Walau
begitu, Miller Sheringham, benar begitu, Martinez?”
Maribel mengangguk kaku, seperti lupa bagaimana
melakukannya dengan benar.
“Sekarang jelaskan, apakah dia ilmuwan Metabiologi atau
penulis buku sejarah?”
Maribel tiba-tiba lupa caranya bicara.
“Saya tahu kau tidak benar-benar mengerjakan tugas itu,
Martinez. Kau dan teman-temanmu yang namanya berawalan huruf-M. Saya sudah
menganalisis tugas-tugas kalian terdahulu.” The Great M gemetaran. “Kau tahu Gavin
Bradbrook dan Hendra Nugroho dari kelas Reiga, bukan? Keduanya sangat senang
tidur di kelas, tapi mereka selalu profesional dalam menyelesaikan kewajiban
mereka. Tidak menghalangi saya dari memberi mereka tugas tambahan, tentu saja,
tapi apa kau yakin tidak tertukar kelas dengan mereka?”
Maribel hampir tidak bisa menahan diri—dia hampir
terisak.
Professor Douglas menghela nafas. “Saya akan
mempertimbangkan hal menyedihkan ini baik-baik untuk evaluasi semester kalian
berempat. Bicara soal Miller Sheringham, jika kalian tidak tahu siapa dia, saya
akan terkejut jika Munajat memberi kalian sekadar poin B.”
Professor
Douglas lalu membuka sebuah file di iCompnya. Digital Board menampilkan foto
hitam putih seorang laki-laki paruh baya dengan rambut bergelombang yang
dibelah samping.
“Miller
Sheringham,” katanya. “Terkenal karena keberpihakannya yang luar biasa pada
Kerajaan Inggris, buku sejarah yang ditulisnya banyak sekali mengandung omong
kosong. Ratusan kritik sudah menghujamnya selama bertahun-tahun, tapi bukunya
masih saja beredar di berbagai belahan dunia. Barangkali kalian belum ada yang
membacanya, di halaman dua puluh tiga, kalian akan menemukan tulisan tentang
penindasan Sultan Mehmed Al Fatih saat dia dan pasukannya menaklukkan kota
Konstantinopel pada tahun 1453. Apa ini fakta? Puluhan sejarawan lain
membantahnya dan mengatakan bahwa rakyat Konstantinopel ketika itu justru hidup
jauh lebih baik di bawah kekuasaannya, sebagaimana dia memerintah Kesultanan
Ottoman.”
“Atau
Kerusuhan Nottingham pada halaman seratus empat. Nama Perdana Menteri Inggris
pada saat itu, David Cameron, dihilangkan dari daftar terduga. Padahal, Cameron
adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kerusuhan dan pembunuhan massal
yang terjadi. Dia yang menerima perintah langsung dari Pangeran William untuk
melenyapkan para protestan di Nottingham.”
“Halaman
lima ratus tiga, disebutkan bahwa Tragedi Stoke-on-Trent yang menimpa keluarga
Huddersville adalah ulah dari keturunan Stewart Huddersville. Tentu saja ini
omong kosong besar. Yang melakukan pembantaian itu adalah Craig Huddersville,
keturunan Hugo Huddersville yang memiliki ikatan darah yang jauh dari Stewart.”
Professor
Douglas berhenti sejenak, memerhatikan seisi kelas yang tampak terguncang akan
informasi yang diberikannya.
“Kalian
akan tahu lebih banyak penyimpangan orang ini kalau kalian mau menyisihkan
waktu sedikit saja untuk membaca,” gambar Miller Sheringham lenyap dari Digital
Board. “Kalian terlalu banyak ditipu oleh sejarah. Termasuk soal Underworld
Citron. Apa kalian pikir, setelah mendengar apa yang saya katakan tadi, kalian
bisa percaya begitu saja pernyataan Sheringham?”
Tidak
ada yang menjawab.
Niels
memberanikan diri bertanya. “Tapi Professor, kalau benar buku itu banyak
penyimpangan, lalu—”
“Kenapa
pihak sekolah masih menyimpannya di perpustakaan?” potong Professor Douglas.
“Apa Munajat belum menguji kalian masalah selektivitas dalam memilih sumber
sejarah?”
Kelas
sunyi total. Tidak ada yang mau menambah buruk suasana dengan mengatakan sudah.
“Tidak
perlu lagi mengirimkan omong kosong Sheringham itu. Tapi jika kalian bersikeras
dengan data itu, saya tidak keberatan. Akan saya pertimbangkan untuk memberinya
poin E, paling tidak. Tapi, jika kalian ingin tahu soal tanaman-tanaman langka
yang tidak banyak diketahui, sebagaimana saya jelaskan sebelumnya tentang
Sensivore Zanzabil dan Herpedian Jackfruit, kalian akan mencarinya dari sumber
yang lebih reliabel. Dua minggu dari hari ini pada jam yang sama. Sekarang,
buka handbook kalian halaman empat ratus
lima puluh.”
Para
siswa bertukar pandang dengan teman-teman kelompoknya, sama-sama tidak yakin,
lalu membuka handbook masing-masing
dengan lemas. Katrijn memberi Professor Douglas tatapan beracun, tapi untungnya
sang guru tidak melihatnya.
Selepas
pelajaran, Clark dan Kazuki bertanya pada Niels.
“Apa
kami masih perlu meminta salinan itu? Setelah pembantaian Douglas tadi?” tanya
Clark gusar.
“Ya.”
Niels menjawab spontan. “Kita tidak cuma mengincar soal data itu, tapi juga
soal simbolnya. Siapa tahu, siapa tahu ada penjelasan soal simbol itu di sana.”
“Yare yare, kau memang susah sekali
menyerah untuk usahamu, Niels-kun.
Nah, tapi itu sisi baiknya. Barangkali kau nggak akan menyerah kelak kalau baru
ditolak sekali oleh Maribel.” Kazuki dan Clark tertawa.
Niels
menggeleng-gelengkan kepala, lalu memijit-mijit dahinya. “Uanset. Yang pasti, peluang adanya petunjuk dari salinan itu masih
ada. Kita tidak boleh menyia-nyiakannya.” Dia mendesah. “Hari ini gila dan juga
menyebalkan.”
“Kuharap
besok cepat datang,” Clark merebahkan punggungnya di kursi elektrik, matanya
menatap ke langit-langit, sementara pikirannya melayang-layang. “Seenggaknya,
Professor Hartmann bisa mengembalikan semangat kita.”
“Kita?”
Hendrik merengut skeptis. “Kau saja. Aku biasa. Niels. Kazuki. Naksir? Kau?”
Niels dan Kazuki terkikik pelan membayangkan
kemungkinan itu.


