“Apa kamu pikir dunia paralel itu nyata?”
Pertanyaan Hasanah
yang tiba-tiba itu mengejutkan Andika. Cowok berkacamata itu menoleh ke
Hasanah, yang sudah duduk di kursi di sebelahnya.
“Eh… Kenapa kamu
tiba-tiba nanya itu?” Andika bertanya balik, keningnya berkerut. Fokusnya untuk
menurunkan persamaan Fisika mendadak buyar.
“Nggak, aku kepikiran
itu aja dari dulu.” ujar Hasanah. “Alam semesta ini ini, kan, luas. Banyak yang
belum bisa kita jamah, belum kita ketahui. Barangkali ada jutaan misteri yang
belum terpecahkan. Ada, tapi kita nggak tahu keberadaannya.”
Andika melirik coretan
di kertas buramnya yang hampir memenuhi setengah halaman, lalu mendesah dan
menaruh pulpennya. Dia berpaling pada Hasanah.
“Dari seluruh misteri
alam semesta yang mungkin ada, kenapa kamu mikir soal dunia paralel? Kenapa
nggak penjelajahan waktu atau kehidupan di planet lain, gitu?”
Hasanah menggeleng.
“Nggak tertarik. Udah terlalu banyak yang ngomongin. Lagian, dunia paralel itu
lebih dekat sama kita.” Dia merendahkan suaranya. “Siapa tahu ada versi lain
dari Bumi kita ini, yang tersembunyi dibalik lipatan dimensi tak-terlihat.”
Andika
mempertimbangkan sejenak perkataan siswi tercerdas di kelasnya itu, kelas X-1.
Dari seluruh penghuni X-1, hanya Andika dan Nadiya yang paling mampu memahami
alur berpikirnya. Saat Nadiya tidak ada di kelas, seperti saat itu, Andika
menjadi sasaran utama Hasanah untuk bertukar pandangan.
“Kalaupun benar dunia
paralel itu ada, kita nggak bisa membuktikannya, bukan?” sahut Andika pada
akhirnya. “Well, belum. Bukan berarti nggak bisa juga, sih. Tapi
sejujurnya, aku nggak tahu gimana caranya membuktikan keberadaan dunia paralel
yang kamu maksud.”
Hasanah berdecak. Dia
memuntir-muntir ujung kerudung segiempat lebarnya, matanya menoleh ke samping
kanan-kirinya dengan waswas. Andika merengut. Hasanah seperti menyembunyikan
sesuatu.
“Yah, aku… aku juga
nggak tahu…” bola mata Hasanah kini lebih lama terpaku ke sisi kirinya, ke
belakang kelas. “Aku cuma mikir… mungkin kamu pernah baca atau sesuatu mengenai
itu.”
“Kamu tahu, kan, aku
lebih tertarik dengan time travel?” Andika mengangkat bahu. “Ya
ampun, kayaknya aku benar-benar terpengaruh Doctor Who. Aku bahkan punya kotak
pensil berbentuk TARDIS!” untuk membuktikannya, Andika mengeluarkan kotak
pensil berbentuk kotak polisi biru ala Britania dari kolong mejanya.
Hasanah tidak
menunjukkan ketertarikan sama sekali. Dia masih memuntir-muntir ujung
kerudungnya, terpekur beberapa lama. Tidak ada kecurigaan dalam benak
Andika—Hasanah memang sering seperti itu. Kadang-kadang dia merasa temannya itu
terlalu sering berpikir kejauhan.
“Nanti pulang sekolah
jangan pergi dulu, ya.” Katanya. “Kamu sama Nadiya.”
“Ya kamu, lah, yang
kasih tahu Nadiya. Aku, sih, nggak masalah. Nggak ada kerjaan juga di rumah.”
“Bukan, maksudku… ah,
nggak. Bukan apa-apa. Pokoknya jangan pulang dulu, ya!” dan Hasanah pun
menghambur pergi keluar kelas. Andika cuma menatapnya skeptis campur tidak
mengerti.
Apa Hasanah mau
menunjukkan sesuatu lagi? Sejak pertama kali mereka bertemu di awal kelas X,
terhitung sudah enam kali Hasanah membawa dirinya, Nadiya, dan kadang-kadang
siswa X-1 lain macam Halida, Agus, Yolanda, dan Tyas untuk memperlihatkan
sesuatu yang menurutnya menarik. Dari enam kesempatan itu, hanya dua yang membuat
Andika benar-benar terkesan. Yang pertama, waktu dia, Nadiya, dan Tyas
menemukan terowongan bawah tanah terselubung di belakang masjid sekolah,
tersembunyi di sebelah tempat wudhu’. Terowongan itu, menurut perkiraan Tyas,
sudah berumur lima puluh tahun—seusia dengan sekolahnya sendiri. Terowongan itu
berujung di salah satu rumah yang ditinggalkan jauh di dalam Kampung Cipanas,
tepat di ruangan yang penuh artefak kuno bernilai ratusan milyar rupiah. Walau
begitu, ketiganya memilih untuk tidak mengusiknya dulu, kebingungan mau
diapakan peninggalan-peninggalan kuno itu. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu
soal keberadaan terowongan itu selain mereka bertiga.
Yang kedua adalah
waktu Hasanah menemukan satu area pertanahan kosong di sebelah selatan sekolah
yang memiliki kadar radiasi lebih tinggi dibanding area lainnya. Hasanah
pertama menyadari itu ketika dia iseng menggunakan dosimetri radiasi yang
dimiliki kakaknya dan melewati area itu. Pengukuran dosis radiasi di
dosimetrinya jauh diatas normal, plus dia mengalami sedikit pusing ketika
berdiri di area itu selama beberapa menit. Andika, yang mendatangi area itu
bersama Nadiya, dengan mudah mengetahui tanah itu mengandung unsur radioaktif
dengan konsentrasi tinggi, dan setelah mengambil sampel tanah untuk diteliti,
tanah itu ternyata mengandung Uranium. Seminggu kemudian, tanah itu langsung
diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah melalui BATAN. Hasanah, Andika, dan
Nadiya mendapat kompensasi lumayan atas penemuan tersebut.
Tapi, sisa empat
lainnya tidak begitu mengesankan. Usaha Hasanah untuk mereplikasi percobaan
Schrodinger secara nyata (tangan Nadiya dicakar habis-habisan oleh kucing yang
mau dijadikan bahan percobaan), penemuan setumpuk Abalone di rumah hijau dekat
perpustakaan (yang ternyata sengaja diletakkan di sana oleh Pak Chandra, guru
Biologi), penemuan sarang lebah masif di bekas ruang fotokopi (Hasanah, Andika,
Nadiya, dan Agus terkena minimal dua sengatan sebelum benar-benar bebas dari
kejaran lebah dengan sembunyi di toilet guru), dan ikan-ikan di kolam dekat
kelas XI yang mendadak mati (dua menit kemudian diketahui bahwa botol berisi
obat nyamuk cair yang diletakkan terbuka di pinggir kolam tumpah dan sontak
meracuni seluruh ikan di sana).
Mengingat hal-hal itu,
Andika tersenyum sendiri. Hasanah memang sulit diprediksi.
Kali ini dia mau
nunjukin apa? Mudah-mudahan bukan sinyal wifi yang cuma hilang di satu petak
area di koridor samping. Pikir Andika, sembari menertawakan pemikirannya
sendiri dalam hati.
Dia meraih lagi
pulpennya dan bersiap melanjutkan penurunan persamaan Fisika-nya yang tertunda.
Sebelum mulai menulis, matanya menoleh sejenak ke belakang kelas, ke tempat
Hasanah tadi menoleh. Dimas, Fauzan, Ryan Gusti dan Arbiarso sedang mengobrol
berisik di deretan kursi belakang. Retakan horizontal merambat sepanjang hampir
satu meter di tembok di sebelah mereka.
Retakan itu tadi pagi
tidak ada.
***
“Udah berapa lama kamu
nemu penemuan barumu ini, apapun itu?”
Pertanyaan Andika
memecah kesunyian saat Hasanah membawa mereka ke belakang sekolah—tempat
favoritnya untuk mencari sesuatu yang aneh. Nadiya berjalan di sampingnya.
Cewek berkulit coklat dan beralis tajam ini asyik memainkan smartphone-nya,
abai sama sekali terhadap jalan. Sampai saat itu saja, Nadiya sudah dua kali
tersandung.
Hasanah, tidak seperti
biasanya, diam. Sejak berbicara dengan Andika tadi saja, dia sudah terlihat
gelisah. Berulang kali dia melirik ke kanan-kirinya untuk memastikan tidak ada
orang yang mengikuti mereka. Apapun yang mengganggu pikirannya kali ini, yang jelas
itu cukup untuk membuat Andika bertanya dua kali untuk menyadarkannya.
“Apa? Dari—dari kapan?
Eh…” Hasanah ragu. “Tadi… pagi.”
Nadiya mendengus.
“Jangan bohong. Aku tahu kalau kamu lagi bohong. Paling nggak kamu udah tahu
ini dari dua hari yang lalu, kan?”
Andika menoleh ke
Nadiya. “Dua hari? Dari mana kamu bisa narik kesimpulan gitu?”
“Kebiasaan dari SMP.
Anah selalu butuh paling dua hari buat mikirin sesuatu yang menurutnya
bener-bener penting, sebelum dia ngasih tahu orang.” Nadiya mengantongi smartphone-nya,
lalu menyeringai pada Hasanah. “Iya, kan?”
Hasanah
memuntir-muntir ujung kerudungnya tanpa sadar. “Iya. Sebenernya udah seminggu.
Aku… aku cuma takut kalau aku cuma berhalusinasi.”
Kali ini Andika
memasang perhatian penuh. Nggak ada yang bisa bikin Hasanah gelisah dan
ragu-ragu seperti itu kecuali yang ditemukannya benar-benar membuatnya ngeri.
Dan halusinasi… Baru kali ini Hasanah bilang begitu.
Sebuah pikiran
berkelebat di benak Andika.
“Kasih tahu aku, apa
yang kamu mau tunjukin itu—”
“—retakan?” Andika dan
Nadiya mengucapkannya berbarengan. Keduanya bertukar pandang.
“Aku tadi lihat ada
retakan di tembok perpus. Padahal sebelumnya nggak ada. Penjaga perpus juga
baru sadar ada retakan itu pas aku ngasih tahu.” Terang Nadiya.
“Juga di belakang
kelas, tembok belakang mejanya Dimas sama Fauzan. Kamu pasti lihat.” Timpal
Andika. Nadiya mengangguk. “Pasti itu juga alasan kenapa kamu ngelirik ke sana
tadi.”
Hasanah hanya
mengangguk pelan. Langkahnya dipercepat menyusuri koridor barat, melewati
beberapa siswa kelas X lain yang baru saja keluar kelas, sesekali membalas
sapaan mereka dengan singkat. Ketiganya berbelok ke kiri, lalu menyusuri
pinggir kelas X-4 sampai tiba di area belakang sekolah.
Tempat itu tidak bisa
disebut halaman belakang, karena area tanahnya sempit dan banyak tumpukan bekas
bahan bangunan di mana-mana. Walau begitu, ada beberapa pohon pepaya dan
petak-petak rumput jarum yang tumbuh di sana. Hasanah menoleh pada kedua teman
sekelasnya—sorot matanya jelas-jelas ragu. Nadiya mendengus lagi, lalu kembali
memainkan smartphone-nya.
Andika mengedarkan
pandangan ke sekelilingnya, mencari-cari keberadaan retakan asing di sekitar
sana. Masalahnya, ada banyak retakan di tembok pembatas area sekolah.
“Er… Jadi, mana yang
sebenarnya mau kamu tunjukin?” ujarnya.
Hasanah terdiam
sejenak. Lalu, dia menarik napas dalam-dalam.
“Kamu nggak dengar
itu?”
Andika mengernyit.
“Aku nggak dengar apa-apa selain notifikasi LINE tanpa henti dari hp Nadiya. Dan
demi Tuhan, Nadiya, bisa kamu berhenti mainin hp-mu sebentar?”
Nadiya
mengantongi smartphone-nya dan nyengir tanpa dosa. “Sori.”
Andika menghela napas.
Hasanah melirik dirinya dan Nadiya bolak-balik. Menyadari mereka berdua
menunggu dirinya, Hasanah akhirnya menghampiri lembaran seng atap yang disusun
menyandar ke tembok. Dia menarik lembaran seng paling dekat, dan tiba-tiba apa
yang dimaksud Hasanah jadi menjadi jelas.
“Suara apa itu?” tanya
Nadiya.
Suara desisan seperti
puluhan ular kelaparan menyeruak keluar dari balik seng. Tercengang, Andika dan
Nadiya perlahan mendekati Hasanah, yang tampak kesulitan menarik lembaran
tersebut sampai lepas. Andika segera membantu Hasanah, tapi dia melakukannya
tanpa perhitungan. Tarikannya terlalu kuat, sampai membuat dirinya dan Hasanah
jatuh terjengkang.
“Anah! Dika!” pekik
Nadiya.
“Ugh… Sori, Nah,
kukira seng tadi macet. Makanya kutarik kencang.” Ujar Andika sembari membantu
Hasanah berdiri. Dia menepuk-nepuk celana abu-abunya yang kotor. “Kamu tadi
salah sudut pas nariknya, harusnya dengan tiga susunan begitu—”
“Bahasnya nanti aja,
Ndik,” potong Hasanah, tatapannya terpaku di tempat lembaran seng tadi berdiri,
“yang ini…”
Andika membalikkan
tubuh dan spontan matanya melebar.
Dugaannya sama sekali
salah. Yang satu ini bukan retakan tembok biasa. Retakan horizontal ini
membentang sepanjang satu setengah meter, dan cahaya putih menyeruak keluar
dari celah retakannya yang berukuran sekitar setengah senti. Asap tipis
mendesis keluar dari celah bersinar itu, tapi segera menghilang pada jarak lima
senti dari mulut celah.
Bahkan Nadiya pun
tampak terperangah. Dia dan Andika bertukar pandang, lalu perlahan mendekati
celah itu.
“Jangan!” seru
Hasanah.
Nadiya dan Andika
spontan menoleh, menuntut penjelasan.
“Aku… aku ngerasa ada
yang aneh dari retakan itu… Sesuatu yang bahaya kalau kita dekat-dekat…”
terangnya. Suaranya agak gemetar.
Andika mengangkat
bahu. “Well, bukannya itu alasannya kamu manggil kami biar datang ke
sini? Karena ini aneh, kan?”
Lalu keduanya
berjongkok di dekat retakan, dengan Hasanah memekik di belakangnya. Mata Andika
menyusuri retakan dari ujung ke ujung, telinganya difokuskan kuat-kuat, mencoba
mendengarkan desisan yang terdengar baik-baik. Nadiya, sementara itu,
melambaikan tangannya di depan retakan, dalam jarak yang berbeda-beda. Saat
tangannya terkena asap, Nadiya memekik kesakitan.
“Kenapa, Nad?” tanya
Andika.
“Duh, kan aku udah
bilang jangan dekat-dekat!” sergah Hasanah, yang spontan menghampiri Nadiya
yang mengusap-usap tangannya. Dia mengecek tangan Nadiyya, tapi tidak ada bekas
luka atau apapun.
“Tadi nggak kerasa
kayak kebakar,” kata Nadiya, agak meringis. “tapi kayak ditusuk-tusuk dari
dalam.”
Andika memicingkan
mata. “Lalu apa lagi?”
“Sinarnya.” Nadiya
melirik ke celah retakan. “Itu nggak kayak sinar lampu. Berhenti di jarak yang
sama kayak asapnya. Kamu?”
“Suara desisan itu
pasti dari asapnya. Itu aja. Aku nggak dapat apa-apa.” Andika bangkit berdiri.
“Sama. Yang tadi itu
nggak ngejelasin apa-apa juga.” sahut Nadiya, ikut berdiri diikuti Hasanah.
Ketiganya menatap retakan bercahaya itu tidak yakin.
“Ini bisa jadi
apapun.” Hasanah kembali bersuara. “Tapi, mungkinkah…”
Andika mengambil
sepotong kayu kecil dari tanah dan dengan hati-hati menyelipkannya masuk ke
dalam retakan. Dia cepat-cepat menarik tangannya ketika celah itu menyedot kayu
tersebut, melenyapkannya dengan hanya menyisakan gelombang tipis warna-warni
pudar di tempatnya diselipkan. Nadiya dan Hasanah tersentak, Andika mundur
perlahan. Dia menelan ludah.
“Retakan di alam
semesta.”
(bersambung…)


0 comments:
Post a Comment