Tuesday, 31 October 2017

The Hunting Game, Episode 1

“Apa kamu pikir dunia paralel itu nyata?”

Pertanyaan Hasanah yang tiba-tiba itu mengejutkan Andika. Cowok berkacamata itu menoleh ke Hasanah, yang sudah duduk di kursi di sebelahnya.

“Eh… Kenapa kamu tiba-tiba nanya itu?” Andika bertanya balik, keningnya berkerut. Fokusnya untuk menurunkan persamaan Fisika mendadak buyar.

“Nggak, aku kepikiran itu aja dari dulu.” ujar Hasanah. “Alam semesta ini ini, kan, luas. Banyak yang belum bisa kita jamah, belum kita ketahui. Barangkali ada jutaan misteri yang belum terpecahkan. Ada, tapi kita nggak tahu keberadaannya.”

Andika melirik coretan di kertas buramnya yang hampir memenuhi setengah halaman, lalu mendesah dan menaruh pulpennya. Dia berpaling pada Hasanah.

“Dari seluruh misteri alam semesta yang mungkin ada, kenapa kamu mikir soal dunia paralel? Kenapa nggak penjelajahan waktu atau kehidupan di planet lain, gitu?”

Hasanah menggeleng. “Nggak tertarik. Udah terlalu banyak yang ngomongin. Lagian, dunia paralel itu lebih dekat sama kita.” Dia merendahkan suaranya. “Siapa tahu ada versi lain dari Bumi kita ini, yang tersembunyi dibalik lipatan dimensi tak-terlihat.”

Andika mempertimbangkan sejenak perkataan siswi tercerdas di kelasnya itu, kelas X-1. Dari seluruh penghuni X-1, hanya Andika dan Nadiya yang paling mampu memahami alur berpikirnya. Saat Nadiya tidak ada di kelas, seperti saat itu, Andika menjadi sasaran utama Hasanah untuk bertukar pandangan.

“Kalaupun benar dunia paralel itu ada, kita nggak bisa membuktikannya, bukan?” sahut Andika pada akhirnya. “Well, belum. Bukan berarti nggak bisa juga, sih. Tapi sejujurnya, aku nggak tahu gimana caranya membuktikan keberadaan dunia paralel yang kamu maksud.”

Hasanah berdecak. Dia memuntir-muntir ujung kerudung segiempat lebarnya, matanya menoleh ke samping kanan-kirinya dengan waswas. Andika merengut. Hasanah seperti menyembunyikan sesuatu.

“Yah, aku… aku juga nggak tahu…” bola mata Hasanah kini lebih lama terpaku ke sisi kirinya, ke belakang kelas. “Aku cuma mikir… mungkin kamu pernah baca atau sesuatu mengenai itu.”

“Kamu tahu, kan, aku lebih tertarik dengan time travel?” Andika mengangkat bahu. “Ya ampun, kayaknya aku benar-benar terpengaruh Doctor Who. Aku bahkan punya kotak pensil berbentuk TARDIS!” untuk membuktikannya, Andika mengeluarkan kotak pensil berbentuk kotak polisi biru ala Britania dari kolong mejanya.

Hasanah tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Dia masih memuntir-muntir ujung kerudungnya, terpekur beberapa lama. Tidak ada kecurigaan dalam benak Andika—Hasanah memang sering seperti itu. Kadang-kadang dia merasa temannya itu terlalu sering berpikir kejauhan.

“Nanti pulang sekolah jangan pergi dulu, ya.” Katanya. “Kamu sama Nadiya.”

“Ya kamu, lah, yang kasih tahu Nadiya. Aku, sih, nggak masalah. Nggak ada kerjaan juga di rumah.”

“Bukan, maksudku… ah, nggak. Bukan apa-apa. Pokoknya jangan pulang dulu, ya!” dan Hasanah pun menghambur pergi keluar kelas. Andika cuma menatapnya skeptis campur tidak mengerti.

Apa Hasanah mau menunjukkan sesuatu lagi? Sejak pertama kali mereka bertemu di awal kelas X, terhitung sudah enam kali Hasanah membawa dirinya, Nadiya, dan kadang-kadang siswa X-1 lain macam Halida, Agus, Yolanda, dan Tyas untuk memperlihatkan sesuatu yang menurutnya menarik. Dari enam kesempatan itu, hanya dua yang membuat Andika benar-benar terkesan. Yang pertama, waktu dia, Nadiya, dan Tyas menemukan terowongan bawah tanah terselubung di belakang masjid sekolah, tersembunyi di sebelah tempat wudhu’. Terowongan itu, menurut perkiraan Tyas, sudah berumur lima puluh tahun—seusia dengan sekolahnya sendiri. Terowongan itu berujung di salah satu rumah yang ditinggalkan jauh di dalam Kampung Cipanas, tepat di ruangan yang penuh artefak kuno bernilai ratusan milyar rupiah. Walau begitu, ketiganya memilih untuk tidak mengusiknya dulu, kebingungan mau diapakan peninggalan-peninggalan kuno itu. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu soal keberadaan terowongan itu selain mereka bertiga.

Yang kedua adalah waktu Hasanah menemukan satu area pertanahan kosong di sebelah selatan sekolah yang memiliki kadar radiasi lebih tinggi dibanding area lainnya. Hasanah pertama menyadari itu ketika dia iseng menggunakan dosimetri radiasi yang dimiliki kakaknya dan melewati area itu. Pengukuran dosis radiasi di dosimetrinya jauh diatas normal, plus dia mengalami sedikit pusing ketika berdiri di area itu selama beberapa menit. Andika, yang mendatangi area itu bersama Nadiya, dengan mudah mengetahui tanah itu mengandung unsur radioaktif dengan konsentrasi tinggi, dan setelah mengambil sampel tanah untuk diteliti, tanah itu ternyata mengandung Uranium. Seminggu kemudian, tanah itu langsung diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah melalui BATAN. Hasanah, Andika, dan Nadiya mendapat kompensasi lumayan atas penemuan tersebut.

Tapi, sisa empat lainnya tidak begitu mengesankan. Usaha Hasanah untuk mereplikasi percobaan Schrodinger secara nyata (tangan Nadiya dicakar habis-habisan oleh kucing yang mau dijadikan bahan percobaan), penemuan setumpuk Abalone di rumah hijau dekat perpustakaan (yang ternyata sengaja diletakkan di sana oleh Pak Chandra, guru Biologi), penemuan sarang lebah masif di bekas ruang fotokopi (Hasanah, Andika, Nadiya, dan Agus terkena minimal dua sengatan sebelum benar-benar bebas dari kejaran lebah dengan sembunyi di toilet guru), dan ikan-ikan di kolam dekat kelas XI yang mendadak mati (dua menit kemudian diketahui bahwa botol berisi obat nyamuk cair yang diletakkan terbuka di pinggir kolam tumpah dan sontak meracuni seluruh ikan di sana).

Mengingat hal-hal itu, Andika tersenyum sendiri. Hasanah memang sulit diprediksi.

Kali ini dia mau nunjukin apa? Mudah-mudahan bukan sinyal wifi yang cuma hilang di satu petak area di koridor samping. Pikir Andika, sembari menertawakan pemikirannya sendiri dalam hati.

Dia meraih lagi pulpennya dan bersiap melanjutkan penurunan persamaan Fisika-nya yang tertunda. Sebelum mulai menulis, matanya menoleh sejenak ke belakang kelas, ke tempat Hasanah tadi menoleh. Dimas, Fauzan, Ryan Gusti dan Arbiarso sedang mengobrol berisik di deretan kursi belakang. Retakan horizontal merambat sepanjang hampir satu meter di tembok di sebelah mereka.

Retakan itu tadi pagi tidak ada.
***

“Udah berapa lama kamu nemu penemuan barumu ini, apapun itu?”

Pertanyaan Andika memecah kesunyian saat Hasanah membawa mereka ke belakang sekolah—tempat favoritnya untuk mencari sesuatu yang aneh. Nadiya berjalan di sampingnya. Cewek berkulit coklat dan beralis tajam ini asyik memainkan smartphone-nya, abai sama sekali terhadap jalan. Sampai saat itu saja, Nadiya sudah dua kali tersandung.

Hasanah, tidak seperti biasanya, diam. Sejak berbicara dengan Andika tadi saja, dia sudah terlihat gelisah. Berulang kali dia melirik ke kanan-kirinya untuk memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka. Apapun yang mengganggu pikirannya kali ini, yang jelas itu cukup untuk membuat Andika bertanya dua kali untuk menyadarkannya.

“Apa? Dari—dari kapan? Eh…” Hasanah ragu. “Tadi… pagi.”

Nadiya mendengus. “Jangan bohong. Aku tahu kalau kamu lagi bohong. Paling nggak kamu udah tahu ini dari dua hari yang lalu, kan?”

Andika menoleh ke Nadiya. “Dua hari? Dari mana kamu bisa narik kesimpulan gitu?”

“Kebiasaan dari SMP. Anah selalu butuh paling dua hari buat mikirin sesuatu yang menurutnya bener-bener penting, sebelum dia ngasih tahu orang.” Nadiya mengantongi smartphone-nya, lalu menyeringai pada Hasanah. “Iya, kan?”

Hasanah memuntir-muntir ujung kerudungnya tanpa sadar. “Iya. Sebenernya udah seminggu. Aku… aku cuma takut kalau aku cuma berhalusinasi.”

Kali ini Andika memasang perhatian penuh. Nggak ada yang bisa bikin Hasanah gelisah dan ragu-ragu seperti itu kecuali yang ditemukannya benar-benar membuatnya ngeri. Dan halusinasi… Baru kali ini Hasanah bilang begitu.

Sebuah pikiran berkelebat di benak Andika.

“Kasih tahu aku, apa yang kamu mau tunjukin itu—”

“—retakan?” Andika dan Nadiya mengucapkannya berbarengan. Keduanya bertukar pandang.

“Aku tadi lihat ada retakan di tembok perpus. Padahal sebelumnya nggak ada. Penjaga perpus juga baru sadar ada retakan itu pas aku ngasih tahu.” Terang Nadiya.

“Juga di belakang kelas, tembok belakang mejanya Dimas sama Fauzan. Kamu pasti lihat.” Timpal Andika. Nadiya mengangguk. “Pasti itu juga alasan kenapa kamu ngelirik ke sana tadi.”

Hasanah hanya mengangguk pelan. Langkahnya dipercepat menyusuri koridor barat, melewati beberapa siswa kelas X lain yang baru saja keluar kelas, sesekali membalas sapaan mereka dengan singkat. Ketiganya berbelok ke kiri, lalu menyusuri pinggir kelas X-4 sampai tiba di area belakang sekolah.

Tempat itu tidak bisa disebut halaman belakang, karena area tanahnya sempit dan banyak tumpukan bekas bahan bangunan di mana-mana. Walau begitu, ada beberapa pohon pepaya dan petak-petak rumput jarum yang tumbuh di sana. Hasanah menoleh pada kedua teman sekelasnya—sorot matanya jelas-jelas ragu. Nadiya mendengus lagi, lalu kembali memainkan smartphone-nya.

Andika mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencari-cari keberadaan retakan asing di sekitar sana. Masalahnya, ada banyak retakan di tembok pembatas area sekolah.

“Er… Jadi, mana yang sebenarnya mau kamu tunjukin?” ujarnya.

Hasanah terdiam sejenak. Lalu, dia menarik napas dalam-dalam.

“Kamu nggak dengar itu?”

Andika mengernyit. “Aku nggak dengar apa-apa selain notifikasi LINE tanpa henti dari hp Nadiya. Dan demi Tuhan, Nadiya, bisa kamu berhenti mainin hp-mu sebentar?”

Nadiya mengantongi smartphone-nya dan nyengir tanpa dosa. “Sori.”

Andika menghela napas.  Hasanah melirik dirinya dan Nadiya bolak-balik. Menyadari mereka berdua menunggu dirinya, Hasanah akhirnya menghampiri lembaran seng atap yang disusun menyandar ke tembok. Dia menarik lembaran seng paling dekat, dan tiba-tiba apa yang dimaksud Hasanah jadi menjadi jelas.

“Suara apa itu?” tanya Nadiya.

Suara desisan seperti puluhan ular kelaparan menyeruak keluar dari balik seng. Tercengang, Andika dan Nadiya perlahan mendekati Hasanah, yang tampak kesulitan menarik lembaran tersebut sampai lepas. Andika segera membantu Hasanah, tapi dia melakukannya tanpa perhitungan. Tarikannya terlalu kuat, sampai membuat dirinya dan Hasanah jatuh terjengkang.

“Anah! Dika!” pekik Nadiya.

“Ugh… Sori, Nah, kukira seng tadi macet. Makanya kutarik kencang.” Ujar Andika sembari membantu Hasanah berdiri. Dia menepuk-nepuk celana abu-abunya yang kotor. “Kamu tadi salah sudut pas nariknya, harusnya dengan tiga susunan begitu—”

“Bahasnya nanti aja, Ndik,” potong Hasanah, tatapannya terpaku di tempat lembaran seng tadi berdiri, “yang ini…”

Andika membalikkan tubuh dan spontan matanya melebar.

Dugaannya sama sekali salah. Yang satu ini bukan retakan tembok biasa. Retakan horizontal ini membentang sepanjang satu setengah meter, dan cahaya putih menyeruak keluar dari celah retakannya yang berukuran sekitar setengah senti. Asap tipis mendesis keluar dari celah bersinar itu, tapi segera menghilang pada jarak lima senti dari mulut celah.

Bahkan Nadiya pun tampak terperangah. Dia dan Andika bertukar pandang, lalu perlahan mendekati celah itu.

“Jangan!” seru Hasanah.

Nadiya dan Andika spontan menoleh, menuntut penjelasan.

“Aku… aku ngerasa ada yang aneh dari retakan itu… Sesuatu yang bahaya kalau kita dekat-dekat…” terangnya. Suaranya agak gemetar.

Andika mengangkat bahu. “Well, bukannya itu alasannya kamu manggil kami biar datang ke sini? Karena ini aneh, kan?”

Lalu keduanya berjongkok di dekat retakan, dengan Hasanah memekik di belakangnya. Mata Andika menyusuri retakan dari ujung ke ujung, telinganya difokuskan kuat-kuat, mencoba mendengarkan desisan yang terdengar baik-baik. Nadiya, sementara itu, melambaikan tangannya di depan retakan, dalam jarak yang berbeda-beda. Saat tangannya terkena asap, Nadiya memekik kesakitan.

“Kenapa, Nad?” tanya Andika.

“Duh, kan aku udah bilang jangan dekat-dekat!” sergah Hasanah, yang spontan menghampiri Nadiya yang mengusap-usap tangannya. Dia mengecek tangan Nadiyya, tapi tidak ada bekas luka atau apapun.

“Tadi nggak kerasa kayak kebakar,” kata Nadiya, agak meringis. “tapi kayak ditusuk-tusuk dari dalam.”

Andika memicingkan mata. “Lalu apa lagi?”

“Sinarnya.” Nadiya melirik ke celah retakan. “Itu nggak kayak sinar lampu. Berhenti di jarak yang sama kayak asapnya. Kamu?”

“Suara desisan itu pasti dari asapnya. Itu aja. Aku nggak dapat apa-apa.” Andika bangkit berdiri.

“Sama. Yang tadi itu nggak ngejelasin apa-apa juga.” sahut Nadiya, ikut berdiri diikuti Hasanah. Ketiganya menatap retakan bercahaya itu tidak yakin.

“Ini bisa jadi apapun.” Hasanah kembali bersuara. “Tapi, mungkinkah…”

Andika mengambil sepotong kayu kecil dari tanah dan dengan hati-hati menyelipkannya masuk ke dalam retakan. Dia cepat-cepat menarik tangannya ketika celah itu menyedot kayu tersebut, melenyapkannya dengan hanya menyisakan gelombang tipis warna-warni pudar di tempatnya diselipkan. Nadiya dan Hasanah tersentak, Andika mundur perlahan. Dia menelan ludah.

“Retakan di alam semesta.”


(bersambung…)

0 comments:

Post a Comment